Hey Kau..

hey kau yang di ujung sana..

mengapa hanya terdiam, dan terdiam..

hey, kau yang sedang terpaku menatapku..

apa yang kamu tunggu? tanpa kau bilang, mana mungkin ku tahu maksudmu..

hey, kau…
tersenyumlah.. karena Allah telah berjanji pada kita, semua kan indah pada waktunya..,, :-)

Laki-laki itu Bernama Iltizam

Perawakannya begitu tenang. Ekspresinya meneduhkan. Baru kali ini saya mengakui, bahwa saya sedang mengagumi seseorang..
Penghujung Ramadhan tahun ini telah mempertemukan kami. Saya, dan laki laki baik itu.
Matanya besar, alisnya tebal, kulitnya coklat kehitaman. Hm…Manis, tapi juga tampan.
Saat berkenalan, barus saya ketahui bahwa nama dia adalah Iltizam.

Banyak hal yang membuat perhatian saya tersita pada dia. Sehari yang lalu, saat perkenalan itu, begitu biasa. Namun, saya mulai tersadarkan pada sebuah keteguhan (sesuai namanya).. Subhanallah, laki-laki itu tidak pernah mengeluh. Kami mengetahui bahwa dia sakit, tapi dia tidak mengeluh. Ekspresinya masih tetap sama, namun dia berubah menjadi lebih pendiam. Tapi tidak ada kata-kata yang terucap sebagai sebuah keluhan darinya.  Hari-hari berikutnya, dia tetap saja mempesona. Tutur bicaranya, cara dia berjalan, tersenyum, berbicara… Ah… Iltizam ini….

Baca selebihnya »

Wajah Baru, Semangat Baru…

rasanya….. sudah teramat lama tidak mengobrak abrik blog kepunyaan saya. Huufh… Skripsi…skripsi…skripsi…..

benar-benar sukses ‘mengalihkan dunia saya‘… hehehe :-)

nampaknya untuk bisa lebih membangkitkan rasa kenyamanan memandangi blog ini, perlu dilakukan sebuah revolusi pada blog ini……. jadi….berubahlah blog yang anda lihat menjadi seperti sekarang.

Baca selebihnya »

Berbahagia, merayakan Cinta

C12

hmm...

langit Solo pagi ini benar-benar terang sebelum waktunya. Membuat saya begitu tergesa. Huufh,,, hari yang lumayan penting. Hari ini satu step lagi terlewati. Barangkali memang belum waktunya saya untuk ‘menyegalakan’ hari ini. Karena masih banyak hari-hari penting yang nantinya akan saya lewati kembali. Tapi biarlah,, saya menunggu hari ini.

Menyiapkan seluruh perbekalan,, nampaknya sudah banyak yang siap. Tapi.. astaghfirullah, presensi belum ada, artikel belum di kopi, materi juga belum sepenuhnya terbaca. Aduh… tapi bismillah, Allah tetap bersama saya hari ini, dan selalu…

Akhirnya setelah dirasa siap, meluncurlah saya ke kampus. Pamitan dengan ibu bapak tersayang, sambil tidak ketinggalan yang paling penting : mohon doa mereka. Saya yakin seratus persen doa itu pasti sangat, saangat membantu..

Bismillah, saya pacu kendaraan, meski bukan si kendaraan perang yang biasa. Setelah sampai..hm.. dpt SMS dari teman “Iya, Son, kita sendiri yang mbuat presensinya. Isinya ini..ini..ini…” Buset, banyak juga. dan setengah jam menuju acara, saya belum buat sama sekali. tapi kemudian temen saya menambahkan “Gini aja, Sonia SMS kan NIM sama pembimbing semuanya. Tak buatkan di sekre BEM MIPA”.. Ah… Allahumma… saya jawab saja “Aku di parkiran kok,,, kita mbuat aja yuk..” Selesai menaruh artikel ke poto kopian, saya menuju BEM MIPA, rumah saya dulu..

Dan tak berapa lama, presensi itu sudah jadi. Alhamdulillah, ternyata teman saya masih ada file nya. Leganya.. segera sahabat saya yang lain datang. “Son, apa lagi yang bisa dibantu?”
“Foto kopian, ukh..”. “Oke, aku ambil..”
Tapi, jreng…. ternyata saya salah memasukkan file yang seharusnya di kopi. Allahu Rabbi… kaget, tapi saya mencoba tenang. “Ya udah deh mas, di kopi nih, artikel yang bener..”.. saya menyerahkan artikel asli saya ke mas-mas poto kopi.
“Son, anti ambil LCD, aku tak nyeting tempatnya ya..”
“Iya,, tapi, aku belum ada uang sewa LCDnya.. anti ada?” Yup, sekali lagi saya melupakan satu hal, sewa LCD ada kontribusinya. Sedang uang saya hanya cukup untuk foto kopi.. Itu pun pake salah ngopi segala..”Ada, nih pake dulu..”.. Ah.. sekali lagi..pertolongan itu datang… ” :-)
Menuju lantai dua, saya terpisah dengan teman saya tadi. Saya ambil LCD, mereka ke lantai tiga, ke ‘tempat eksekusi’ dan… ups… nampaknya survei membuktikan bahwa saya benar-benar sedang gugup! bagaimana tidak? saya masuk labkom dengan sepatu tetap menempel di kaki saya. Padahal berratus kali saya masuk Labkom, saya tahu peraturannya adalah melepas sepatu. payah.. untung ga ada yang tau.. hehehe :P Baca selebihnya »

Kepada para wanita…

Khusus untuk renungan dan pengingatan semua akhwat, wanita, perempuan semuanya, Semoga Allah meletakkan secercah hidayahNya ke dalam hati kita….

Hawa… Sadarkah engkau sebelum datangnya sinar islam, kita dizalimi, hak kita dirampas, kita ditanam hidup-hidup, tiada penghormatan walau sedikit oleh kaum adam, sama sekali tidak bernilai.. kita hanya sebagai alat untuk memuaskan hawa nafsu mereka.

Tapi kini sejak rahmat Islam menyelubungi alam, saat sinar Islam berkembang, derajat kita diangkat,kehormatan kita terpelihara, kita dihargai dan di pandang mulia, dan mendapat tempat di sisi Allah sehingga tiada sebaik-baik hiasan didunia ini melainkan wanita solehah..

Wahai Hawa… Kenapa engkau tak menghargai nikmat iman dan islam itu? Kenapa mesti engkau kaku dalam mentaati ajaranNya, kenapa masih segan mengamalkan isi kandungannya dan kenapa masih was-was dalam mematuhi perintahNya?

Wahai Hawa.. Tangan yang menggoncang buaian bisa mengoncang dunia, sedarlah hawa kau bisa mengoncang dunia dengan melahirkan manusia yang hebat yakni yang soleh solehah, kau bisa mengalahkan dunia dengan menjadi isteri yang taat serta memberi dorongan dan sokongan pada suami yang sejati dalam menegakkan islam di mata dunia.

Tapi hawa… jangan sesekali kau coba menggoncang keimanan lelaki dengan lembut tuturmu,dengan ayu wajahmu, dengan lengguk tubuhmu. Jangan kau menghentak-hentak kakimu untuk menyatakan kehadiranmu.
Jangan Hawa, jangan sesekali cuba menarik perhatian kaum adam yang bukan suamimu.
Jangan sesekali mengoda lelaki yang bukan suamimu, karena aku kuatir ia mengundang kemurkaan dan kebencian Allah. Sebab memberi kegembiraan pada syaitan karena wanita adalah jala syaitan, alat yang di eksploitasikan oleh syaitan dalam menyesatkan Adam.

Hawa,.. Andai engkau masih remaja, jadilah anak yang solehah buat kedua ibubapakmu, andai engkau sudah bersuami jadilah isteri yang meringankan beban suamimu, andai engkau seorang ibu didiklah anakmu sehingga ia tak gentar memperjuangkan ad-din Allah.

Hawa,.. Andai engkau belum menikah, jangan kau risau akan jodohmu, ingatlah hawa janji Tuhan kita, wanita yang baik adalah untuk lelaki yang baik. Jangan mengadaikan kehormatanmu hanya semata-mata kerana seorang lelaki, jangan memakai pakaian yang menampakkan lekuk tubuhmu hanya untuk menarik perhatian dan memikat kaum lelaki, kerana kau bukan memancing hatinya tapi merangsang nafsunya.
Jangan memulai pertemuan yang tidak bermanfaat dengan lelaki yang bukan muhrim karena aku kawatir dari mata turun ke hati, dari senyuman membawa ke salam, dari salam cenderung kepada pertemuan dan dari pertemuan.. takut lahirnya nafsu kejahatan yang menguasai diri.

Hawa, lelaki yang baik tidak melihat paras rupa, lelaki yang soleh tidak memilih wanita melalui keseksiannya, lelaki yang baik tidak menilai wanita melalui keayuaannya, kemanjaannya, serta kemampuannya mengoncang iman mereka. Tetapi hawa, lelaki yang baik akan menilai wanita melalui akhlaknya, peribadinya, dan ad-dinnya. Lelaki yang baik tidak menginginkan sebuah pertemuan dengan wanita yang bukan muhrimnya karena dia takut memberi kesempatan pada syaitan untuk menggodanya.

Oleh karena itu Hawa, jagalah pandanganmu,
jagalah pakaianmu, jagalah akhlakmu, kuatkan pendirianmu.

Andai kata ditakdirkan tiada cinta dari Adam untukmu, cukuplah hanya cinta Allah menyinari dan memenuhi jiwamu, biarlah hanya cinta kedua ibubapakmu yang memberi hangatan kebahagiaan buat dirimu, cukuplah sekadar cinta kakak adik serta keluarga yang akan membahagiakan dirimu.

Hawa, Cintailah Allah dikala susah dan senang karena kau akan memperoleh cinta dari insan yang juga mencintai Allah. Cintailah kedua ibubapakmu karena kau akan mendapatkan keridhaan Allah. Cintailah keluargamu kerana tiada cinta selain cinta keluarga. Baca selebihnya »

Nyanyian Senja

“Seandainya masih ada Rasulullah di sini, tentu saya akan menangis sejadi jadinya di hadapan beliau. Tapi sekarang, itu hanya bisa kulakukan pada Allah..”

begitulah yang barangkali ada di benak saya saat itu. Suatu sore yang indah di sudut kampus. Meski begitu, benak saya sudah tidak lagi se sesak dulu, dan anehnya saya justru tersenyum. Senyum yang menggambarkan sebuah rasa dilematis yang teramat sangat. Perlakuan ‘tidak manusiawi’ yang saya terima dari orang yang harusnya bisa saya hormati saat itu membuat batin saya bergolak. Sekarang pada siapa saya bisa ’segan’?

Tapi, kemudian saya berpikir kembali. Bukankah itu selama ini alasan saya bertahan di sini? Sebuah motivasi yang luar biasa saat melihat seseorang yang seharusnya bertindak benar di posisinya, tapi beliau tidak melakukannya. Motivasi yang besar untuk bisa lebih baik dari dia. Motivasi untuk mencari ilmu yang lebih, ‘kemampuan menempatkan diri’ yang lebih, dan rasa kemanusiaan yang lebih. Mungkin begitu.

Dan Senja itu, justru saya dihadapkan pada situasi yang benar-benar membuat bahagia. Dihadapkan pada sebuah ukhuwah yang tulus, dan menggetarkan. hingga akhirnya saya mengatakan, pada dunia, pada mereka, dan pada semuanya..bahwa saya bahagia. Ya Rabbi, untuk semuanya, saya bahagia……

Bila kebaikan itu terhenti di sini

Pemilu legislatif selesai..

Suasana Solo tercinta menjadi biasa lagi sekarang, sudah bersih tanpa ‘wajah-wajah’ asing lagi. Barangkali diikuti selesainya juga ‘kemunafikan-kemunafikan’ di setiap sudut perkampungan-perkampungan masyarakat. Miris juga sih, bila seluruh kebaikan-kebaikan itu juga terhenti.

Bila tiap sudut masjid juga terhenti pengajiannya karena sang ustadz/ustadzah tidak lagi berkepentingan promosi. Bila agenda bakti sosial pekan atau setiap bulan juga terhenti karena partai tidak lagi membutuhkan massa, bila tidak ada lagi yang rela menyumbangkan hartanya untuk membangun tempat ibadah, panti asuhan, yayasan.

Lebih mengenaskan, ada yang sempat saya lihat di berita elektronik seorang caleg mengambil kembali tikar, bahan bangunan, bahkan piring.. karena ternyata suaranya tidak signifikan di desanya. naudzubillah..

Sekarang biarkan semua berpikir dengan logika yang paling rasional. Benarkah kebaikan itu bisa diukur hanya dengan ‘jumlah suara’? hm.. kalau seperti itu, mau jadi apa bangsa ini. Siapa lagi yang mau berbuat baik lagi sekarang. Jika ‘topeng’ kepentingan itu tidak ada lagi. Padahal, jika mereka mau berpikir, hati tetap tidak bisa dielakkan. Meski memang semua tidak dapat diperoleh secara instan. Butuh proses.

Jika dari sekarang dan sampai 5 tahun lagi kebaikan itu tetap ditanam, maka saya yakin semua akan memilih tanpa paksaan. Tapi ya harus rela juga amal kebaikan itu tidak mendapat apapun di mata Allah. Lha niat bukan mengharap ridhoNya..

Saya berharap, masjid tetap tidak sepi dengan ustadz/ustadzah yang tetap ikhlas berbagi ilmu, para dermawan tetap ikhlas memberi sedekah, rakyat miskin masih berhak mendapatkan pengobatan gratis, setiap orang masih senang berbagi.. Berbagi harta, berbagi ilmu, berbagi rezeki.. Sebab balasannya lebih dari sekedar suara yang tidak seberapa, lebih dari itu.

Maka, jangan biarkan kebaikan-kebaikan itu terhenti di sini….

Baca selebihnya »

Merah = Marah ?

” Berjuang tanpa Kekerasan”
tulisan yang tercetak pada kertas A4 putih yang tertempel di bagian belakang motor kader partai yang berbasis massa terbanyak di Solo itu benar-benar saya baca berulang-ulang. Dalam hati, saya tertawa saja… Bagaimana tidak? seharian tadi perjalanan yang mengiringi saya dari rumah sampai ke rumah lagi benar-benar melatih kesabaran saya. Sampai akhirnya, saya membuat keputusan, daripada ‘muring-muring’ ga jelas, dan memberikan tatapan mata sinis tanda terganggu ke mereka hanya menambah kejengkelan saya, dan itu pun sia-sia, lebih baik saya mengikuti saja mereka, sambil mencoba untuk berpikir. Meski kadang agak prihatin juga dengan gaya para ‘pangeran merah’ itu, yang… ah… speechless.
Ya, saya mencoba berpikir dan menganalisa. Hingga akhirnya muncul pertanyaan-pertanyaan  di kepala saya.
“Apa sih yang ada dalam pikiran mereka sekarang? bangga, keren, menang, mempesona, atau apa..?”
yah, mungkin iya. Tapi, pada siapa, dan kenapa? wallahu’alam bishowab.
Saya hanya kasihan saja dengan orang-orang yang merasa terdzolimi dengan kekacauan kecil ini. Baca selebihnya »

Nona cantik, pake cadar dong

Berawal dari kisah seorang akhwat, sebut saja namanya Fulanah. Pada suatu pagi dia mampir di sebuah warnet untuk browsing. Beberapa menit kemudian, dia pikir urusannya untuk browsing dan sebagainya telah selesai. Akhirnya dia pun membayar ke penjaga warnet. Tanpa diduga, si penjaga warnet memberinya sebuah lembaran kertas yang tergulun. Si Fulanah bertanya “Apa nih mas?” dengan tanpa ekspresi Mas itu menjawab “Dibaca saja, itu katalog buku.” Iya sih, memang itu terdapat katalog buku yang sepertinya didownload dari internet, kemudian di print dengan tinta yang hampir habis. “Tidak menarik” batin si akhwat sambil beranjak pergi, tapi tak lupa berucap “Makasih ya mas..”

Tapi saat lembaran itu dibukanya kembali sesampai di tempat parkir, ternyata itu tidak hanya katalog buku saja. Halaman sebaliknya, terketiklah tulisan yang lebih rapi, sebuah puisi. Cukup panjang. Tapi yang paling menarik adalah bait terakhir puisi tersebut.

Sebuah pantun “Buah salak buah kedondong. Nona cantik, pake cadar dong.. “

Deg. Antara rasa malu, merasa bersalah, dan sedikit membuat kepikiran, Fulanah pun pergi meninggalkan Warnet tersebut dengan beribu pemikiran yang muncul di kepalanya.

Dan memang, setelah diresapi kembali, dan mencoba membaca puisi tersebut, Fulanah tersadar, puisi itu isinya tentang pesan moral, betapa kehancuran itu, kerusakan moral itu bisa berasal dari paras cantik seorang wanita… Subhanallah…

Baca selebihnya »

Warna yang baru

Bukan hidup yang sebenarnya kalau tanpa warna.
Saat ini, saya sedang amat sangat menikmati warna baru yang sedikit demi sedikit ditorehkan dalam buku gambar kecil kehidupan saya (hayyah… kok saya jadi mellow banget…)
Warna yang benar-benar tidak terduga. Peristiwa demi peristiwa menggiring saya untuk menemukan dunia baru ini. Benar, kalau saja saya masih diberi kepercayaan untuk berada di kampus, saya malah tidak akan ‘tahu’ bahwa ada dunia yang seperti ini.
Bersama sahabat saya, Putri (nama yang sebenarnya) kami mencoba menjadi seseorang yang ‘berbaur’ dengan masyarakat. Sedikit demi sedikit. Pelan pelan, tapi mungkin jangka panjang. Insya Allah, doakan kami istiqomah.
Kami adalah dua orang yang awam sekali tentang kemasyarakatan. Maklum, kampus cukup menyita waktu kami beberapa lama, meski saya akui, kampuslah yang mengenalkan jalan yang luar biasa ini.
Tapi apa yang telah kami dapatkan di kampus, coba untuk kami olah, kami desain menjadi sesuatu yang bisa mereka terima. Dan semuanya sebenarnya simpel, kami hanya ingin sedikit ‘memberi’ pada mereka apa yang kami punya. Dan juga, kami mengenalkan sesuatu yang berbeda. Bahwa masjid tidak hanya tempat sholat atau mengaji saja. tapi juga tempat untuk ‘mengkaji’, transfer ilmu, dan refreshing jiwa.
Dan yang coba untuk saya pahami, sebagai seseorang yang teramat minim dalam kepahaman, yang teramat naif untuk mengaku sebagai ‘aktivis dakwah’, bahwa sebenarnya inilah kehidupan yang nyata. Mau tidak mau, cepat atau lambat, kita akan menghadapinya.
Dan saat melihat wajah-wajah ‘yang haus ilmu’ itu menatap, rasanya yang sedikit ini bisa menjadi sesuatu yang bermanfaat.

Sejujurnya, Baca selebihnya »