Karena Merawat Bayi bukan Ilmu Pasti

3 bulan lebih saya menjadi ibu. Sejauh ini, benar-benar menarik. Saya masih ingat suatu hari, sebelum berangkat ke Jeddah, ayah mertua saya mengatakan “Kamu kan sarjana, jadi pasti ndak masalah merawat bayi sendirian tanpa bantuan orang lain..” Saat itu kalimat tersebut cukup menguatkan saya, yang nantinya akan benar-benar sendiri, hanya dengan suami di negeri orang. Ya, saya kan sarjana, pasti bisa.

Tapi kemudian sekarang saya memikirkannya lagi, apa hubungan antara sarjana dan merawat bayi? Saya lulusan matematika sains, bukan kebidanan, atau psikologi, atau mungkin keperawatan.
Apa lalu hubungan dengan ilmu saya dan merawat bayi?
Sebenarnya ini sama dengan ketika saya pertama awal-awal menikah. Saat suami sudah berada di negeri orang, praktis saya sering sendirian terlibat interaksi dengan keluarga besar suami. Saat itu saya merasa tenang, karena : saya kan sarjana, harusnya mudah bersosialisasi dengan hal dan orang-orang baru. Ya, padahal saya kan sarjana sains matematika, bukan sosial politik atau sosiologi.
Artinya, pendidikan bukan hanya perkara ilmu yang sebidang dengan spesialisasi kita, tapi juga kemampuan-kemampuan yang lain. Kemampuan-kemampuan alami yang dimiliki karena sering berinteraksi dengan orang yang juga tenang, sering dituntut memecahkan masalah, mencari solusi cepat, dan lebih realistis. Alhamdulillah, dulu selain kuliah saya juga ikut organisasi, jadi dalam beberapa masalah bisa mencoba tenang, bahkan malah tidak menganggapnya sebagai masalah.
Dan ternyata itu semua penting sekarang. Jelas, merawat anak pertama sendirian, tanpa baby sitter, asisten rumah tangga, tanpa punya tetangga juga, benar-benar hal baru. Tapi ibarat kuis ataupun ujian semester saat kuliah, jadwal sudah ditetapkan, tinggal bagaimana kita persiapkan diri menuju hari H. Belajar, mencari referensi, bertanya ke orang yang juga sudah ujian. Sama, sebelum akhirnya praktek merawat bayi, ada waktu untuk belajar. Googling, baca artikel, melihat video cara memandikan, menenangkan, cara menyusui, dan sebagainya.
Meskipun banyak juga hal-hal spontan yang terjadi. Tapi kan kita sudah punya modal awal, tenang. Baru kemudian saat sempat kita cari di internet solusinya. Pasti banyak pembahasannya.
Tersedia, lengkap, dan tinggal membaca.
Nampaknya saya setuju saat ada di sebuah forum, mengatakan bahwa “Salah satu alat doraemon yang terealisasi adalah -mesin tahu segalanya- dengan wujud yang ada sekarang : google
hahaha.. :mrgreen:
Iya, mau tanya permasalahan apapun bisa tanya google. Sampai-sampai, saya menyebut Haniya memiliki eyang satu lagi setelah eyang-eyang di Solo : Eyang Gugel. Karena setiap mengalami hal baru dengan Haniya, saya langsung konsultasi ke Eyang Gugel. Dan pasti ada. Alhamdulillah.. Yah, walaupun jelas, terkait takdir Allah tidak bisa ditanyakan di Google. Meski saya pernah
menemukan orang menemukan blog saya karena menulis kata kunci : Siapa jodoh Tr* S*b*k** Read more »

Categories: artikel, tips | Tags: , , , | 16 Komentar

When I’m Going to 25

Mumpung lagi ulang tahun, posting dobel ah.. hehe :mrgreen:

25 tahun. Dulu, saat masih kecil, membayangkan orang yang usianya 25, apalagi 25 ke atas, rasanya tuaa sekali. Bayangan saya kalau di lukiskan, ibu-ibu, dengan rambut dikucir ke belakang seadanya, memakai blus, rok span, wajah lebih ke paruh baya, wanita ‘dewasa’ banget lah pokoknya. haha… :lol:

Sekarang setelah merasakannya, ternyata kenyataannya saya masih merasa dan terlihat seperti 17 tahun tuuh.. qiqiqi

Apalagi untuk orang yang beruntung bisa menempuh pendidikan hingga bangku kuliah seperti saya ini, 27 tahun pun rasanya masih oke tuh jalan-jalan dengan teman, makan di warung bersama-sama, ngomongin film..di tambah lagi kawan-kawan saya yang di usia 25-26 baru jadi sarjana.. (ups maaf…. :-P )

Jadi persepsi saya sekarang otomatis berubah.. Bahwa usia 25 masih belum terlalu tua, secara fisik, maksudnya.. (actually.. :mrgreen: )

Di usia ini alhamdulillah, meskipun merasa seperti masih ABG saja, saat ini saya sudah memiliki suami dan satu orang putri. Ibu-ibu doong? iya.. saya memang sudah menjadi ibu.. tapi ‘ibu-ibu’ bukan kata lain dari tua kan? haha teteep… :lol:

Alhamdulillah juga, dua target dalam hidup saya terpenuhi. Menikah di usia 23 tahun dan memiliki anak di usia 24 tahun. Ini target yang rahasia, sebenarnya. Hanya Allah, saya, dan guru ngaji saya yang tahu, dulu. Karena rahasia, maka tidak ada beban publik untuk mengejarnya. Jadi ketika itu terpenuhi, rasa syukur ini luar biasa. Banyak akhwat-akhwat yang mengoarkan target menikah umur sekian, tapi ketika terus menerus terlewatkan, saya yakin dia akan mengalami yang saya sebut tadi, ‘beban publik’. Sehingga niat menikah bukan lagi untuk ibadah, dan menjaga kehormatan, tapi lebih kepada supaya terbebas dari pertanyaan :”Mbak..katanya usia sekian mau nikaah, kok belum..?” Aw.. dalem..

Selama 24 tahun saya hidup, dimulai dari 29 Desember 1986 lalu, di bu Bidan dekat rumah, banyak sekali yang saya alami. Meski memori itu sepotong-sepotong saja saya ingat, kecuali yang terdokumentasikan.

Masa kecil, termasuk anak yang.. mm.. saya lupa..haha :mrgreen: yang jelas bahagia. Suka bermain boneka barbie, rumah-rumahan, bola bekel, panjat pohon hingga baju robek. ..hihi

SD, termasuk murid yang lumayan pandai (ehem)., lugu, polos, baik hati.. (yes! :-D ) imut..

SMP, Read more »

Categories: curhat, hanya ingin berbagi | Tags: , | 6 Komentar

Renungan di Seperempat Abad Saya

saatnya bermuhasabah...

Suatu hari ada yang mengatakan iri pada kehidupan saya. Menikah, memiliki anak, dan sudah menginjakkan kaki di Baitullah. Saya termenung. Sejenak merasa sangat  tertohok. Bukan bangga, ataupun merasa lebih, tapi justru saya tersadar seketika itu. Read more »

Categories: artikel | Tags: , | 4 Komentar

Your Mother

Di suatu sore, saya sedang bermain dengan Haniya. Berpikir untuk mencarikan lagu yang bisa saya nyanyikan saat menghibur dan mengajak belajar Haniya, biar tidak mati gaya :mrgreen: .

Akhirnya saya ingat dulu di kampus sering diputar lagu-lagu Yusuf Islam di sekretariat BEM (hah..? di sekre BEM muter nasyid?). Ya memang begitulah, keren, daripada diputar lagu-lau cinta bikin galau? hebat kan? hihi. Yup, berbekal netbook saya, dan koneksi wifi internet di rumah, searchinglah di youtube.. menemukan lagu Your Mother plus liriknya… Hitung-hitung, biar Haniya juga belajar Bahasa Inggris dari kecil.. :-)

Berasa karaoke dan konser tunggal, dengan Haniya saya tidurkan di kaki saya yang saya luruskan, kepala diberi bantal menghadap saya, mulailah saya menyanyi.

Baru beberapa bait, ternyata saya tidak kuat. hihi. Subhanallah, baru sadar liriknya ‘so touching’.. hiks. Mungkin Haniya bingung, kok ibu nyanyinya terputus.. padahal terlihat Haniya begitu menikmati, dan senyum-senyum lebar sekali (Yes! :mrgreen: )

Iya, saya jadi ingat ibu saya di Solo. Setelah jadi ibu bagi Haniya sekarang, membayangkan dulu berada di posisi Haniya. hiks.. *ngelap air mata
Read more »

Categories: artikel, hanya ingin berbagi | Tags: , | 6 Komentar

Kini, dia mengajariku..

terimakasih, Haniya... :-)

Kini, dia mengajariku untuk bersyukur
Bersyukur bahwa kehadirannya adalah anugerah tak terkira, bersyukur bahwa kesehatannya, kesempurnaan fisiknya adalah hadiah terindah dari Nya.

Kini, dia mengajariku untuk bersabar
karena dia tidak begitu saja terlahir menjadi wanita cerdas, tangguh dan sholehah. Tapi dia berawal dari bayi kecil tak berdaya..

Kini, dia mengajariku untuk tenang
Dia hanyalah makhluk kecil yang polos. Tapi juga ratu kecil yang manja. Biarkan dia merajuk, menangis, tertawa, karena semua adalah proses belajarnya..

Kini, dia mengajariku untuk kuat
dia menggantungkan semua padaku, melakukan semuanya, bahkan bagian dari dirikulah yang membuatnya bertambah gemuk dan besar.. aku kuat maka begitupun ia..

Kini dia mengajariku untuk ikhlas
meski kadang raga lelah, mengantuk, tapi tidak ada waktu untuk mengeluh. biarkan lelah-lelah itu menjadi pemberat amal, biarkan Allah menggantinya dengan kenikmatan surga yang kekal, dan inilah saat yang tepat untuk menggapai pahala sebanyak-banyaknya.. Read more »

Categories: hanya ingin berbagi | Tags: , , , | 9 Komentar

New Mom’s Challenges

New mom, with a new born baby, itulah saya. :mrgreen:

Alhamdulillah sejauh ini, tiga minggu menangani Haniya, semua  lancar. Intinya setiap hal baru yang saya hadapi adalah sebuah tantangan. Yup.. ini adalah pengalaman pertama dengan bayi ‘newborn’ atau bayi yang baru lahir. Saya memang punya banyak  keponakan, dan begitu lahir tinggal sementara di rumah, tapi saya tidak pernah ‘menangani’ langsung mereka. Hanya melihat saja. Tapi ternyata bekal melihat itu berguna sekali :-)

Semua yang saya lihat dulu benar-benar terekam dalam memori saya, dan menjadi modal saya menangani Haniya. Saya menyebut hal-hal baru itu adalah ‘tantangan’. Yup, it’s a challenge, New Mom’s challenge. Mau tidak mau harus dihadapi. Begitu Haniya sampai rumah setelah dari rumah sakit, tantangan pertama adalah membuat dia tidur. Mudah? mm.. awalnya memang belum begitu. Bingung juga, ketika mendapati bayi kita menangis dan tidak kunjung tidur. Tapi, pada dasarnya bayi menangis tidak jauh-jauh dari 4 hal; haus, pup, terlalu dingin atau terlalu panas, dan ingin ditimang-timang. Tidak jauh dari itu. Jadi, kalau penanganan satu per satu sudah, kok masih melek-melek saja, itu tandanya memang waktu bayi untuk bangun. Begitu… (sejauh ini siy berlaku.. :mrgreen: insya Allah seterusnya lah..)

hmm,, while she was sleeping.. :-)

Tantangan ke dua adalah memandikan. Jika saya ditanya, sudah pernah memandikan bayi sebelumnya? jawabannya : belum. Haniya adalah ‘bahan praktek’ pertama saya. Tapi ya itu tadi, saya sudah sering melihat keponakan-keponakan saya dimandikan, ketika masih bayi sekali. Ibarat teksbook, rekaman peristiwa yang saya ingat, jadi nara sumber yang saya pakai untuk melewati tantangan ini. Bagaimana memegang, mengusap, memberi sabun, dsb. Sambil mencoba tenang, enjoy, dan sambil bernyanyi-nyanyi. Ternyata, beberapa hari Read more »

Categories: artikel | Tags: , , , | 6 Komentar

Selamat Datang, Putri Kecilku….

Hari pertama hanya berdua dengan si kecil, suami sudah mulai masuk kerja. Mumpung si pipi tembem sedang tidur, saatnya ibunya ngeblog. hehe.. :mrgreen:

Hari ini putri kecil saya genap berusia satu minggu. Alhamdulillah, akhirnya yang ditunggu-tunggu hadir juga.. Tanggal 8 Oktober 2011, sepekan yang lalu, dia lahir ke dunia, melihat kami, orang tuanya, memulai lembaran hidup dan kisahnya yang penuh warna..

Selamat datang, putri kecilku…

Seperti kebanyakan ibu, saya pikir, pasti ingin melahirkan dengan proses normal. Biar bisa cepat pulih, dan beraktifitas kembali, katanya. Begitupun saya. Hingga minggu ke 39 kehamilan, saya masih optimis akan melahirkan tanpa operasi. Terakhir periksa ke Polyclinic Ibnu Sina, tempat saya kontrol selama kehamilan di Jeddah ini, dokter mengatakan posisi bayi bagus, kondisi ibu juga bagus. Meski sempat harus tranfusi empat kali karena HB saya jauh dibawah normal. Tapi tanggal 1 Oktober 2011 setelah cek darah dan urin, kondisi saya bagus. Kata dr. Mervat, obgyn langganan saya di Polyclinic tersebut, dokter wanita yang ramah berkewarganegaraan Mesir, saya siap untuk melahirkan normal. Kira-kira satu minggu lagi, insya Allah. Leganya hati kami saat itu. Sebab saya khawatir HB saya masih rendah, yang efeknya sangat berbahaya bagi ibu dan bayi.

Karena saya dan suami sepakat untuk melahirkan di Rumah Sakit saja, akhirnya kami minta surat rujukan dari Dr. Mervat. Harapan kami, pelayanan lebih bagus, administrasi si kecil juga nantinya akan mudah.

Surat rujukan kami terima, lima hari kemudian, kamis, 6 Oktober 2011 kami menuju Saudi German Hospital. Menemui dokter kandungan disana, supaya nanti tiba saatnya melahirkan, kami sudah bertemu sebelumnya. Kami memilih dokter wanita, biar nyaman, tentunya. Disana kami akhirnya bertemu dr. Ameera. Lumayan masih muda. Kata suami, nampaknya sang dokter orang Lebanon. Iya, soalnya kelihatan bukan wajah lokal Saudi.  Oleh dokter saya diperiksa, USG, dan… lingkar kepala bayi saya terlalu besar!!!. “Your baby’s head it too large for your Pelvis..” begitu kata dokter. Panjang, sih penjelasannya, tapi itu intinya. hehe.. (maklum, konsultasinya pake bahasa Inggris..   :mrgreen:  )
Kata dokter tidak berani untuk berspekulasi. Bayi juga masih terlalu atas, sedang due date saya tinggal beberapa hari lagi. Untuk meyakinkan, saya diminta tes USG lebih detail. Dan setelah tahu hasilnya, ternyata benar, tercatat berat bayi saya 3,86 kg! yup, dokter semakin yakin, saya harus caesar.
Kaget juga waktu itu, pikiran kemana-mana, yang paling membuat saya khawatir adalah lama pemulihan. Tapi mau bagaimana lagi, kalau mau memaksa dokter, gimana kalo saya disuruh melahirkan sendiri coba? dan yang jelas, sugesti positif yang selama ini terbangun untuk melahirkan normal akhirnya runtuh.. Bismillah, akhirnya kami membuat janji untuk caesar..

Dokter memilih untuk secepatnya, takutnya saya sudah mengalami ‘pain for labor’ sebelum operasi. jadi lebih baik secepatnya. Toh, due date nya sudah dekat. Akhirnyaa… ditentukanlah sabtu pagi jam 10. Tapi Jumat malam saya diminta sudah check in di RS. Untuk persiapan operasi.

Hari Jumat, pas suami libur kerja, jadi pagi kami bisa packing, persiapan, malamnya kami menuju ke RS. Alhamdulillah, pelayanan di RS Saudi German oke sekali. Jadi saya dan suami tenang untuk menyambut waktu operasi. Malam itu saya sudah harus puasa, dan perawat sudah wira-wiri, untuk mengecek kondisi saya, memasangkan baju operasi, memberi tempat infus di tangan, dsb. Sedikit insiden kecil malam itu, karena mungkin tangan saya sudah tidak fleksibel untuk bergerak, jari saya sempat terkena silet waktu di kamar mandi. Darah segar mengucur ke mana-mana. Sampai ke lantai kamar mandi. Hiiiy.. ngeri juga waktu itu. tapi alhamdulillah hanya luka kecil. Fiuh…. And time for sleeping.. prepare for the important Saturday.

sampai rumah sakit, sempatin memfoto diri.. hari terakhir hamil pertama :-)

berasa hotel.. hehe.. padahal mau operasi :D

Hari Sabtu. Yang ditunggu-tunggu. Sholat subuh, tilawah, minta doa orang tua di rumah, dan bersiap operasi.

Jam 10 tepat saya akhirnya dijemput suster menuju ruang operasi. Sambil menaiki kursi roda, saya diantar dua suster. Dari Filipina, tentunya. Disini memang hampir semua perawat adalah orang filipina. Menuju ruang operasi, saya mencoba tenang. Suami cuma mengantar sampai kamar, hiks, karena memang tidak diperbolehkan masuk ruang operasi. Lagipula barang-barang di kamar tidak ada yang menunggu.. Tiga jam, kata suster proses saya melahirkan dan recovery nantinya.
Sampai kamar operasi, saya lihat dr. Ameera sudah menunggu disitu. Beliau menyapa saya sambil tersenyum”How are you? ready?” “I’m fine.. ready insya Allah..

Saya mulai berbaring di kasur operasi, lampu besar sudah terpasang di atas saya,, perawat, dokter-dokter mulai bersiap, sibuk sekali mereka saat itu. Saya yang sudah berbaring, mulai pasrah dan siap untuk dieksekusi. Seorang dokter laki-laki tinggi besar menginterogasi saya. Pake bahasa inggris, pokoknya intinya ditanyai ada riwayat hipertensikah, pernah operasi sebelumnya kah, dsb. Setelah itu, tangan saya kanan kiri mulai dibentangkan disamping, dipasang infus dan darah tranfusi, mungkin, dan tiba-tiba dari atas ada dokter yang memasangkan oksigen ke wajah saya, menuntun saya mengucap basmallah, dan doa-doa apa saya kurang tau. Itu doa atau beliau ngomong bahasa Arab juga ga da bedanya.. hehe :mrgreen: yang saya tau basmallahnya saja. Daripada saya bingung menirukan ato bilang “aamiin..aamiin..” mending saya doa sendiri. Saya mengucap syahadat berkali-kali, kemudian nafas saya mulai teratur..dan… saya tidak ingat lagi.

Tiba-tiba wajah saya sudah ditepuk-tepuk, dan dipanggil “Madam Sonia..Madam Sonia…” dan badan saya langsung menggigil. Tangan saya mengepal kencang. Terasa sekali saat tiba-tiba orang disekitar menghitung “one.. two.. three..” dan badan saya langsung terangkat, dipindah ke kasur sebelah. Dan saya langsung sadar, perut saya nyeriiiiii sekali. Subhanallah rasanya. Benar-benar nyeri. Luar biasa.. Sampai saya mengerang kesakitan..
Akhirnya saya di bawa ke sebuah bilik. Nampaknya saya bukan satu-satunya pasien disitu. Soalnya di samping saya, dibalik tirai terdengar ibu-ibu yang teriak-teriak “Ya Allah.. Ya Habibi.. Ya Rasul.. ” sambil terus mengerang.. deuh,,, mungkin beliau juga habis dioperasi kayak saya. Di kejauhan juga saya dengar wanita yang berteriak-teriak, bapak-bapak juga. (loh??) entahlah, yang jelas, saat itu saya juga ingin berteriak. Tapi sakit juga kalo teriak. Akhirnya saya memilih dzikir saja. pelan.. Alfatikhah, 3 surat terakhir albaqarah, istighfar, dsb. Dan ternyata cukup sedikit menghilangkan sakit yang luar biasa di perut saya.
Sambil mengerang juga, saya memohon-mohon pada suster untuk minta obat. Soalnya saya kira bius saya habis waktu itu. Dalam hati : tega bener, ni.. ga dibius kali ya.. Saya mencoba bilang ke suster : “please give me medicine.. it’s painfull..” berkali-kali. (btw, dalam kondisi kayak gitu structure bahasa inggris boleh kacau doong.. hehe :mrgreen: ) jawab suster “yes, madam.. bla..bla..bla.. ” seterusnya saya gak mudeng artinya apa. hihi
sempat juga saya menanyakan : “where is my baby..?” sebab saya yakin perut saya sudah tidak ada bayinya waktu itu. jadi pasti saya sudah melahirkan.. jawab suster : “your baby is in the recovery room now.. she’s fine..” ah… lega.. ternyata saya benar-benar sudah melahirkan… alhamdulillah, Ya Rabb….. Saat itu saya juga menggigil, saya bilang ke suster “I’m cold..” dan suster pun menyelimuti saya hingga dobel 2 selimut, plus memberi lampu penghangat ke tubuh saya.

beberapa menit kemudian, akhirnya saya dibawa ke kamar. Disana sudah menunggu suami saya yang berkali-berkali mengucapkan “alhamdulillah,, Ya Allah.. kau benar-benar pahlawanku, sayang..” hihihi.. jadi malu.. kayaknya sih bilangnya begitu. Nggak tau kalau saya salah dengar.
Yang jelas setelah saya bertemu suami saya langsung bilang.. “Mas,.. sakit...” :-D Read more »

Categories: artikel, hanya ingin berbagi | Tags: , , | 14 Komentar

Hari-hari yang Mendebarkan

Tinggal beberapa hari lagi, insya Allah. Atau mungkin.. beberapa jam lagi? seminggu, dua minggu? wallahu’alam…

Yang jelas, beberapa hari ini, saya dan suami bertanya-tanya.. “Si kecil lahir kapan, ya..” :-)

Campur aduk rasanya saat-saat ini.  Kadang terpikirkan, “Ternyata, manusia itu untuk memasuki babak baru dalam hidup harus melewati masa-masa yang menegangkan ya..”

Contoh saja, saat kita SD, melihat anak SMP jadi kepengen, tapi untuk menuju SMP harus melewati Ujian Nasional. Sekolah bagus ataukah tidak, ditentukan di ujian itu.. Saat menanti hasil, rasanya menegangkan. Tapi mau tidak mau harus dilewati.

Begitu pula dari SMP ke SMA, SMA ke kuliah. Kuliah menuju sarjana..

Dari lajang ke menikah juga sama,. Melewati masa menegangkan menuju sampai melewati Aqad.. Selalu seperti itu. Subhanallah..

Dan sekarang, untuk menjadi seorang ibu, bisa  menimang bayi buah cinta dengan suami, yang merupakan perpaduan kami berdua juga harus melewati saat-saat menegangkan. Persalinan. Kapan waktunya, hanya Allah yang tahu. Tapi insya Allah terbaik menurutNya.. aamiin..

Sekarang usia kehamilan saya sudah menginjak minggu ke 38. Sudah bulan ke sembilan. Wow.. mengandung selama 9 bulan ternyata luar biasa. Setelah melewati masa-masa mual sampai bulan ke empat, tidak doyan makan, pusing seperti orang masuk angin, ditambah jauh dari suami (hehe..lengkap sudah) hingga akhirnya menginjak trimester ke dua yang dihadapkan dengan cuaca Jeddah, bolak-balik rumah sakit karena demam tinggi, dan sekarang sampailah di trimester ke 3. Perut sudah membesar, kaki dan tangan kesemutan, pegal-pegal, hanya tinggal berdua dengan suami, apa-apa sendiri. Ah..luar biasa.. Read more »

Categories: curhat | Tags: , , , , | 4 Komentar

Akhwat Galau

Tiba-tiba ingin menuliskan ini. Sebenarnya sudah sejak lama mengamati, tapi baru terketuk sekarang.

Ketika pagi ini saya login facebook dan mendapati wall dipenuhi dengan para lajang (akhwat) yang mengupdate status tentang pernikahan.

Ah, tema itu. Tema sensitif. Tema yang cukup menarik bagi para lajang.

Mereka memang tidak langsung mengatakan “Aku pengen nikah, looh..”

Tapi mereka memang mengemasnya sedemikian rupa, sehingga tidak langsung mengarah ke maksud di atas.

Akhwat galau, ya, saya menyebutnya begitu. Bahasa masa kini, siy. Kalo jaman dulu mungkin lebih halus ‘akhwat gelisah’.  Tapi karena biar up to date, saya menyebutnya fenomena akhwat galau :mrgreen: .

Di satu sisi saya merasa kasihan pada mereka. Saya pun sempat merasakannya. Sudah lulus, sudah bekerja, apa lagi? Ditambah lagi, dikejar usia..

Tapi di sisi lain, saya heran. Heran, bukankah status-status mereka dibaca para ikhwan juga? Apakah tidak malu mengumbar keinginan suci, seolah-olah mengatakan “Hei, kalian laki-laki lajang, kumohon bacalah statusku, aku ingin menikah, tapi belum ada yang melamarku..Read more »

Categories: artikel, kritik | Tags: , , | 10 Komentar

Dapur

Cuma ilustrasi :-)

Ibu rumah tangga, dan dapur.

Dua hal yang berkaitan erat, saya pikir. Kenapa? karena apalah arti seorang housewife, jika setiap hari beli makanan di luar? :mrgreen: logis, kan?

Kalau ada yang pernah menonton serial barat ‘Desperate Housewife‘, yang konflik pembuat ‘desperate‘ nya hanya berputar masalah pria, selingkuh, cerai, dan sejenisnya. Bagi saya, kenapa tidak ada yang mengangkat masalah ‘dapur’? hehe…

Tapi urusan dapur ini menarik, kok. Desperate mungkin sedikit, kalau idealisme kita mengatakan setiap hari menu makanan itu harus berbeda-beda dan bervariasi, dan enak, dan suami suka. Tapi realitanya (ah, sudah jadi ibu-ibu tetap terbentur idealita dan realita), realitanya bahan makanan menipis. Sedangkan di Jeddah ini tidak seperti di Indonesia sana.

Di Indonesia, setiap pagi, sebelum memasak, kita bisa ke pasar, atau ke warung, ngobrol dengan ibu-ibu, membicarakan harga sayur, menu makanan, basa basi tentang anaknya yang sedang sekolah, ngrumpiin tetangga… (ups, ga boleh ya?) sambil belanja, tentunya..

Disini semua itu cuma mimpi. Belanja harus sekalian untuk 2 minggu atau sebulan, itupun harus naik taksi ke tempat jauh. Ke Mall, atau toko Indonesia yang lengkap. Kalau butuh bawang putih atau bawang merah, dan bahan-bahan umum nitip suami yang pulang kerja. Yap, disini memang tidak biasa wanita keluar sendirian. Berbeda, memang. Read more »

Categories: artikel, hanya ingin berbagi | Tags: , | 6 Komentar

Blog pada WordPress.com. Theme: Adventure Journal by Contexture International.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.