Gak Usah Bawa-bawa Agama!

24 Jul

Bro: “Bray…”

Bray: “Naon bro?”

Bro: “Jangan bawa-bawa agama bray”

Bray: “Apanya?”

Bro: “Ya semuanyalah. Elu mah dikit-dikit bawa agama, dikit-dikit bawa agama, sampe-sampe urusan nyo blos aja masih aja bawa-bawa agama”

Bray: “Gitu ya bro?”

Bro: “Iya, ribet bray! Makanya udah gak usah bawa-bawa agamalah bray”

Bray: ”Ya udah sok atuh kasih tau ini Islam agama gw mesti ditaro dimana?”

Bro: “Maksudnya?” Baca lebih lanjut

ODOJ, Komunitas Anti Mainstream

5 Mei

Ini komunitas memang anti mainstream.
Komunitas kok menggalakkan anggotanya tilawah sehari 1 Juz! Aneh kan?

Mbok ya komunitas itu yg hepi hepi.. yg bikin fun gitu loh. Mana grupnya dipisah lagi laki-laki dan perempuan. Mana ada anak muda yg tertarik? qiqiqi

Ya begitulah..
Tapi jangan salah loh, faktanya, beberapa bulan ODOJ dimulai, membernya sudah puluhan ribu. Tersebar dari seluruh Indonesia, bahkan juga seluruh dunia (nyampe Jeddah juga buktinya ^_^).

Sebagai anggota, sy memang merasakan betapa dulu rasanya mustahil bisa konsisten menjaga tilawah sehari 1 juz, dan sekarang jd lumayan terbiasa. Alhamdulillah. Baca lebih lanjut

Dampak Negatif Dosa dan Maksiat

20 Apr

Malam itu kami selesai mendengarkan Taujih dari Ust. Mardani Ali Sera, jubir PKS yang khusus kami undang, mumpung beliau sedang menjadi pembimbing umroh.

Dengan nampan yang agak besar, kami melahap ayam bakar dan nasi kabsah yang super enak bersama-sama. Satu nampan untuk ber enam. Budaya amal-jama’i di Saudi yang satu ini memang asyik. Apalagi kalau sambil ngerumpi. hehe

Tapi insya Allah selama saya bersama ibu-ibu sholehah ini, ngerumpi santai pun padat berisi. Ghibah atau nggosip tidak ada sama sekali dalam kamus kami. Bisa dicek, atau disadap (niat banget :mrgreen: ).

Malam itu kami ngobrol, mulai dari berat badan (ups hihi),anak, sampai ke soal ibadah.

“Tahu nggak, kalo selama ini kita tuh ngga sadar, kalo maksiat itu berdampak langsung ke diri kita.” Seorang al-ukh memunculkan pembicaraan yang menarik. Baca lebih lanjut

Kenapa Harus Malu Menjadi Muslim?

19 Feb

Di banyak kesempatan, saya mendapati orang yang berusaha terlalu keras untuk terlihat pintar, cerdas dan berwibawa di mata orang.

Kemudian yang dilakukannya adalah berkata dengan mengambil sumber-sumber filsuf Barat, mengambil contoh kasus dari kasus di Eropa, Amerika.

Di lain kesempatan lagi, saya dapati teman mengunggulkan negara maju yang sama sekali tidak mencampur adukkan agama, tapi lihat betapa maju mereka. Betapa disiplin mereka.

Setelah puas, masih kurang rasanya jika belum mencoba membandingkan dengan negara muslim, yang sebagian besar warganya muslim, tapi attitude? Teknologi? ah sudahlah… paparnya. Padahal mereka ini seorang muslim. Kenapa?

Kontras dengan hal ini, saat beberapa orang mencoba menjelaskan secara ilmiah tentang suatu kasus dengan merujuk pada ilmuwan Islam, pada ayat Al Quran, pada sunnah Rasulullah, pada keyakinan spiritual yang diyakininya, maka cap yang disematkan adalah : “Alaah, bawa-bawa agama lo.”

“Sok ngerti agama aje…”

“Sok suci..”

“Jual agama..”

“Agama itu urusan kita dengan Tuhan saja Bung.”

Waduh..

Kenapa begitu? Seolah dengan kebarat-baratan lalu terlihat hebat. Seolah Buku-buku dari Barat tadi sudah jauh lebih layak dijadikan rujukan, seolah filsuf Barat yang namanya saja susah diingat sudah jauh melebihi Rasulullah.

Saya merasakan ada yang keliru disini. Rujukan pemikiran kenapa jadi diatur-atur?

Apa salahnya seseorang yang kesehariannya memang telah akrab dengan kitab sucinya sendiri, setiap hari dan setiap saat dia beraktivitas adalah memang bertujuan ibadah, lalu tanpa dipaksakan dia membawa identitas ke Islamannya.

Tanpa dipaksakan artinya, ya tidak dibuat-buat.

Pakaiannya berjilbab rapi untuk perempuan, misalkan. Atau untuk laki-laki memelihara jenggot, jidatnya hitam (yang ini juga alami loh, bukan karena sujudnya dilama-lamain terus jadi hitam. Tanya deh bapak-bapak :mrgreen: ), lalu sebagian ada yang celana di atas mata kaki.

Itu dari segi penampilan. Dari segi perkataan, dia sering mengucapkan kata-kata “Insya Allah, Alhamdulillah, Subhanallah, Masya Allah, dsb..” dibanding kata-kata umum yang menerjemahkan kata-kata tersebut.

Dari segi tingkah laku, dia lebih menjaga jarak dengan lawan jenis, lebih pendiam, atau yang lainnya.

Dibuat-buat? Sok sokkan gitu? Tidak. Sama halnya dengan orang yang tadi, yang setiap saat yag dibacanya buku-buku Barat, atau tontonannya film Barat. Coba amati, kadang dia bisa ceplas ceplos ‘nyeletuk’ dalam bahasa gaul barat juga kan?

Begitulah. Ini soal kebiasaan dan keyakinan, yang secara sadar dan tidak sadar terimplementasikan pada dirinya.

Okelah, bagaimana dengan attitude? amalan dengan orang lain?

Well, kita sebagai muslim memang jika sungguh tertanam dengan benar ilmu yang dipelajari, maka dia akan disiplin, ramah, menjaga kebersihan, baik kepada tetangga, dermawan dan hal-hal positif lain seperti yang dicontohkan Rasulullah..

Lalu bagaimana jika ada yang belum?

Salah Islamnya, gitu? Baca lebih lanjut

Sebelum Dia Halal Bagimu

13 Agu
kartun-ikhwan-akhwat-lucu

Bersabarlah, karena dia akan berbuah manis :-)

Sungguh menarik jika membahas tentang pernikahan. Tapi bagi saya, lebih menarik adalah membahas waktu-waktu menjelang hari H pernikahan.

Menarik, karena jangka waktu antara khitbah-menikah itu penuh warna.

Ada pusing karena persiapan ini itu menjelang pernikahan,

Ada deg-degan karena tak lama lagi sudah tidak sendiri,

Ada rasa canggung, malu-malu dan grogi ketika harus berkomunikasi dengan si dia, calon pendamping kita.

Ada rasa syukur tak terkira, karena selangkah lagi akan menghadapi salah satu ketentuanNya yang telah lama dinanti..

Waw.. masya Allah rasanya :-)

Berbagai cerita juga saya dapat dari sahabat saya tentang perasaan mereka menjelang pernikahan. Apalagi, sahabat-sahabat saya ini juga sebagian besar tidak melalui proses pacaran sebelumnya. Kebayang kan bagaimana menariknya cerita mereka? :mrgreen:

Di antara rasa yang nano-nano tadi, ada satu hal yang bagi saya begitu penting; Menjaga interaksi dengan sang calon.

Sungguh, meskipun jarak antara khitbah dan nikah kami waktu itu hanya berjarak satu minggu, tapi rasanya godaan itu begitu besarnya. Saya berpikiran, apalagi mereka yang jaraknya begitu lama. Rasanya gimana ya?

Apa sih godaan-godaan itu?

Banyak. Di antaranya berkhalwat, saling mengirim kata-kata yang belum pantas (sayang, kangen)

memanggil ‘Bunda/ayah’, atau kalau katanya ingin Islami ya Ummi/Abi sebelum waktunya, kalimat-kalimat ‘gombal’ dan pujian untuk menggoda..

Benar-benar disinilah celah setan untuk menghancurkan ibadah kita. Disinilah dibutuhkan ketegasan dari salah satu pihak, atau keduanya untuk membatasi komunikasi dan interaksi.

Disinilah sepenuhnya hati kita jaga, untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan.

Apa jaminan kita akan disampaikan usia hingga penghulu mengatakan “SAH..SAH..”

Apa jaminan bahwa tidak ada halangan saat hari H?

Jangan sampai semua yang semestinya bisa segera kita raih dengan penuh kebarokahan, tak lama lagi, hanya butuh sedikiiiit saja kesabaran, menjadi hambar tak bermakna, karena itu semua telah kita lakukan sebelum halal.

Dan apapun yang dilakukan sebelum itu dihalalkan, pasti ada rasa tidak tenang di hati. Betul tidak?

Ah.. sungguh sayang sekali, ‘makanan lezat’ yang sudah terhidang untuk ‘berbuka puasa’ sebentar lagi, menjadi hambar karena kita sudah tidak begitu lapar, sudah mencicipi sebelum waktunya.

Tahanlah lisanmu untuk mengatakan hal-hal yang belum waktunya.

Tahanlah jarimu untuk tidak mengetikkan kata-kata yang masih haram kau keluarkan.

Tahanlah dirimu, badanmu untuk tidak menyentuh hal-hal yang masih belum menjadi hakmu.

Sedikit lagi, semua akan menjadi begitu indah dan barokah jika kau bisa memenangkan godaan-godaan itu.

Jika kau ingin memuliakan calon ibu/ayah dari anak-anakmu, muliakan dia sejak sebelum menikah. Dengan menjaga hatinya, dan kehormatannya hingga saat itu tiba.

wallahua’lam bishowab.

Semoga bermanfaat :-)

Belajar dari Film Doraemon

24 Jun

Film pendek dari Doraemon. The Memories of Grandmother.

Berkali-kali saya menontonnya tidak juga bosan. Full of meaning..

Film pendek durasi 23 menitan ini bercerita tentang Nobita yang ingin kembali ke masa lalu. Nobita menemukan boneka kesayangannya, hadiah dari neneknya. Dan tiba-tiba Nobita rindu, ingin bertemu lagi dengan neneknya yang sudah meninggal.

Disitulah cerita dimulai.

Kembali ke masa lalu, saat Neneknya masih hidup, Nobita malah terkejut.

Ternyata Nobita kecil pernah memarahi Neneknya karena hal sepele. Nobita besar menyesal kenapa saat itu tega memarahi Neneknya hanya karena Nenek tidak bisa menunjukkan Kembang Api, yang hanya ada di musim panas, sedang saat itu musim gugur..

Hmm..

Nobita enak, dia punya mesin waktu. Saat merindukan seseorang, dia tinggal masuk laci lalu berjumpa dengan orang itu.

Kita? this is reality, brow..

Mana bisa kita punya laci yang bisa membawa kita ke masa lalu? Yang bisa kita lakukan hanyalah memendam rindu itu dalam hati. Mengingat memori-memorinya, atau melihat dokumentasinya.

Kenapa kita tidak berpikiran, someday.. orang-orang yang ada di dekat kita juga akan kita rindukan? Seperti Nobita merindukan neneknya.

Orang-orang di dekat kita akan pergi, entah karena usia atau jarak. Entah masih bisa melihatnya lagi atau tidak sama sekali..

Nobita masa depan, saat bertemu lagi dengan Nenek yang dirindukannya..  (sumber)

Nobita masa depan, saat bertemu lagi dengan Nenek yang dirindukannya..
(sumber)

Saat kehadirannya sekarang, nikmatilah..

Saat keberadaannya disampingmu sekarang, hargailah..

Karena kita tidak punya mesin waktu..

Yang kita punyai sekarang adalah kesempatan yang masih Allah berikan..

Gunakanlah, tanpa menyisakan sedikitpun penyesalan di kemudian hari..

Hingga nantinya kita tidak akan mengatakan kalimat

If only I could turn back the time..

Salah Satu Keunikan Saudi Arabia

31 Mei

Ada yang unik yang saya temui sewaktu belanja beberapa hari yang lalu di Hyper Panda Mall. Apa itu?

Ini dia..

Apa ini? hehe

Apa ini? hehe

Anda perhatikan itu gambar apa?

Itu adalah gambar bungkus kolam renang balon. Lalu apa yang menarik? Tentu saja, hitam-hitam dalam gambar tersebut.

Anda yang cerdas pasti langsung bisa menebak apa yang sebenarnya berusaha ditutupi oleh spidol hitam tersebut. Hehehe :mrgreen:

Betul, sebenarnya ada gambar ‘Ibu’ yang sedang menikmati kolam renang bersama anak-anaknya dan Suaminya.

Begitulah budaya di sini. Setiap ada gambar ; poster, kemasan produk, baliho, wallpaper dsb yang menampakkan wanita pasti disensor.

Jika sudah mengenakan jilbab, wajah biasanya dikotak-kotak.

Baca lebih lanjut

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 140 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: