Arsip Bulanan: Desember 2011
When I’m Going to 25
Mumpung lagi ulang tahun, posting dobel ah.. hehe
25 tahun. Dulu, saat masih kecil, membayangkan orang yang usianya 25, apalagi 25 ke atas, rasanya tuaa sekali. Bayangan saya kalau di lukiskan, ibu-ibu, dengan rambut dikucir ke belakang seadanya, memakai blus, rok span, wajah lebih ke paruh baya, wanita ‘dewasa’ banget lah pokoknya. haha…
Sekarang setelah merasakannya, ternyata kenyataannya saya masih merasa dan terlihat seperti 17 tahun tuuh.. qiqiqi
Apalagi untuk orang yang beruntung bisa menempuh pendidikan hingga bangku kuliah seperti saya ini, 27 tahun pun rasanya masih oke tuh jalan-jalan dengan teman, makan di warung bersama-sama, ngomongin film..di tambah lagi kawan-kawan saya yang di usia 25-26 baru jadi sarjana.. (ups maaf….
)
Jadi persepsi saya sekarang otomatis berubah.. Bahwa usia 25 masih belum terlalu tua, secara fisik, maksudnya.. (actually..
)
Di usia ini alhamdulillah, meskipun merasa seperti masih ABG saja, saat ini saya sudah memiliki suami dan satu orang putri. Ibu-ibu doong? iya.. saya memang sudah menjadi ibu.. tapi ‘ibu-ibu’ bukan kata lain dari tua kan? haha teteep…
Alhamdulillah juga, dua target dalam hidup saya terpenuhi. Menikah di usia 23 tahun dan memiliki anak di usia 24 tahun. Ini target yang rahasia, sebenarnya. Hanya Allah, saya, dan guru ngaji saya yang tahu, dulu. Karena rahasia, maka tidak ada beban publik untuk mengejarnya. Jadi ketika itu terpenuhi, rasa syukur ini luar biasa. Banyak akhwat-akhwat yang mengoarkan target menikah umur sekian, tapi ketika terus menerus terlewatkan, saya yakin dia akan mengalami yang saya sebut tadi, ‘beban publik’. Sehingga niat menikah bukan lagi untuk ibadah, dan menjaga kehormatan, tapi lebih kepada supaya terbebas dari pertanyaan :”Mbak..katanya usia sekian mau nikaah, kok belum..?” Aw.. dalem..
Selama 24 tahun saya hidup, dimulai dari 29 Desember 1986 lalu, di bu Bidan dekat rumah, banyak sekali yang saya alami. Meski memori itu sepotong-sepotong saja saya ingat, kecuali yang terdokumentasikan.
Masa kecil, termasuk anak yang.. mm.. saya lupa..haha
yang jelas bahagia. Suka bermain boneka barbie, rumah-rumahan, bola bekel, panjat pohon hingga baju robek. ..hihi
SD, termasuk murid yang lumayan pandai (ehem)., lugu, polos, baik hati.. (yes!
) imut..
Renungan di Seperempat Abad Saya
Suatu hari ada yang mengatakan iri pada kehidupan saya. Menikah, memiliki anak, dan sudah menginjakkan kaki di Baitullah. Saya termenung. Sejenak merasa sangat tertohok. Bukan bangga, ataupun merasa lebih, tapi justru saya tersadar seketika itu. Read the rest of this entry
Your Mother
Di suatu sore, saya sedang bermain dengan Haniya. Berpikir untuk mencarikan lagu yang bisa saya nyanyikan saat menghibur dan mengajak belajar Haniya, biar tidak mati gaya
.
Akhirnya saya ingat dulu di kampus sering diputar lagu-lagu Yusuf Islam di sekretariat BEM (hah..? di sekre BEM muter nasyid?). Ya memang begitulah, keren, daripada diputar lagu-lau cinta bikin galau? hebat kan? hihi. Yup, berbekal netbook saya, dan koneksi wifi internet di rumah, searchinglah di youtube.. menemukan lagu Your Mother plus liriknya… Hitung-hitung, biar Haniya juga belajar Bahasa Inggris dari kecil..
Berasa karaoke dan konser tunggal, dengan Haniya saya tidurkan di kaki saya yang saya luruskan, kepala diberi bantal menghadap saya, mulailah saya menyanyi.
Baru beberapa bait, ternyata saya tidak kuat. hihi. Subhanallah, baru sadar liriknya ‘so touching’.. hiks. Mungkin Haniya bingung, kok ibu nyanyinya terputus.. padahal terlihat Haniya begitu menikmati, dan senyum-senyum lebar sekali (Yes!
)
Iya, saya jadi ingat ibu saya di Solo. Setelah jadi ibu bagi Haniya sekarang, membayangkan dulu berada di posisi Haniya. hiks.. *ngelap air mata
Read the rest of this entry
Kini, dia mengajariku..
Kini, dia mengajariku untuk bersyukur
Bersyukur bahwa kehadirannya adalah anugerah tak terkira, bersyukur bahwa kesehatannya, kesempurnaan fisiknya adalah hadiah terindah dari Nya.
Kini, dia mengajariku untuk bersabar
karena dia tidak begitu saja terlahir menjadi wanita cerdas, tangguh dan sholehah. Tapi dia berawal dari bayi kecil tak berdaya..
Kini, dia mengajariku untuk tenang
Dia hanyalah makhluk kecil yang polos. Tapi juga ratu kecil yang manja. Biarkan dia merajuk, menangis, tertawa, karena semua adalah proses belajarnya..
Kini, dia mengajariku untuk kuat
dia menggantungkan semua padaku, melakukan semuanya, bahkan bagian dari dirikulah yang membuatnya bertambah gemuk dan besar.. aku kuat maka begitupun ia..
Kini dia mengajariku untuk ikhlas
meski kadang raga lelah, mengantuk, tapi tidak ada waktu untuk mengeluh. biarkan lelah-lelah itu menjadi pemberat amal, biarkan Allah menggantinya dengan kenikmatan surga yang kekal, dan inilah saat yang tepat untuk menggapai pahala sebanyak-banyaknya.. Read the rest of this entry










