Arsip Penulis:

Anak ; Amanah dan Investasi

Anak itu investasi. Jadi wajar kalau saya, sebagai seorang ibu, begitu concern soal moral.

Bisakah kita membayangkan dua puluh tahun ke depan, tiga puluh tahun ke depan, apa yang terjadi dengan teknologi internet? gaya hidup anak muda? bahasa, gaya berpakaian?

Orang tua kita mungkin tidak terpikirkan sama sekali bahwa sekarang melihat video bisa di sembarang tempat melalui alat kecil bernama HP ato Ipad. Padahal dulu mereka nonton saja harus di bioskop. Atau kalau kaya dikit bisa menonton melalui piringan hitam dan kaset video.

Mereka juga tidak menyangka kalau berkomunikasi lintas negara bisa semudah sekarang. Dimanapun, kapanpun, bahkan bisa face to face. Sedang mereka dulu menunggu berminggu-minggu hanya sekedar bisa tahu kabar saudara mereka di luar pulau.

Jadi, bagaimana nanti dengan anak kita?

Kaget rasanya membaca tweet seorang aktivis liberal mengatakan “Sering ditanya, kalau anak anda gay, lesbian, Ahmadiyah dst, apakah anda akan biarkan. Jawaban saya pasti, ya, akan saya biarkan.”

Naudzubillahimindzalik.

Bersyukur saya tidak memiliki bapak seperti dia. Bahkan seorang anak pun sebenarnya ‘ingin’ di arahkan mana yang benar, mana yang salah. Mana yang Haq dan mana yang Bathil. Oleh siapa? orang tuanya sendiri.

Madrasah pertama seorang anak sebenarnya adalah orang tuanya. Bukan pesantren ataupun sekolah. Itu adalah penunjang, bukan utama. Pendidikan moral, akhlak, aqidah, bersikap jujur dan tanggung jawab, anak dapatkan dari orang tuanya.

Anak adalah harta berharga :)

Itulah mengapa sebenarnya pola pengasuhan terbaik bukan pada ‘seberapa sering nasihat diberikan pada anak’, tapi pada ‘seberapa baik teladan orang tua pada anak’.

Kelak, ‘anak yang sholeh yang mendoakan kedua orang tuanya’ adalah salah satu amal yang tidak akan terputus ketika kita sudah meninggal. Itulah investasi kita. Investasi akhirat. Pahalanya mengalir, meski kita sudah tidak bisa beramal. Kebaikannya akan menambah berat timbangan kita di Yaumul Hisab.

Anak juga amanah. Mereka dititipkan pada kita, untuk dimintai pertanggung jawaban nantinya. Baguskah pemeliharaannya, halalkah nafkah yang diberikan padanya.. Berat? memang. Tapi hasilnya manis, jika kita serius menjaganya.

Mungkin Read the rest of this entry

Ibu dan Komentar Negatif pada Bayinya

Mothers are special

Kalau diambil kesimpulan, apa yang sebenarnya paling meresahkan para ibu yang memiliki bayi?

Kesehatan bayinya kah? bayi menangis kah?

hmm.. saya kira masing-masing ibu sebenarnya punya solusi bagi bayinya sendiri. Berdasarkan naluri seorang ibu, kontak batin, dan rasa ‘cinta’ ibu terhadap bayinya membuat masalah-masalah pada bayi dirasa masih teratasi bagi ibu, dan tidak membuat ibu gelisah.

Tapi, ada yang jauh lebih meresahkan seorang ibu, yaitu : pendapat orang tentang bayinya!

Ya, riset membuktikan (halah padahal pengamatan dan pengalaman pribadi) ibu akan merasa tidak tenang setelah mendengar orang berkomentar negatif terhadap bayinya. Sesepele apapun itu. Dan dampaknya jauh lebih ‘meresahkan’ daripada ketika ibu mendapati sendiri bayinya sakit, gangguan tidur, dll.

Contoh saja, ketika bertemu orang. Awalnya si Ibu merasa yakin bayinya sehat,   pertumbuhan baik, berat badan ideal. Tapi, orang melihat bayinya berkomentar “Eh, umur berapa ini, sudah bisa guling-guling belum? Belum? wah.. padahal juga gak terlalu gemuk, ya?” Read the rest of this entry

(Baru) Setahun di Jeddah

Tanggal 2 Mei kemarin tepat satu tahun saya tinggal di Jeddah. Baru satu tahun! Belum apa-apa dibanding teman-teman saya disini. Mereka ada yang sudah lima tahun, sepuluh tahun, bahkan ada yang sudah 30 tahun! Artinya sejak saya belum lahir pun sudah disini..

Wow.. subhanallah… bayangkan sudah berapa kali beliau Haji dan Umroh? tak terhitung mungkin..

Kalau saya ditanya orang “Betah ga, Son, tinggal di Jeddah?”

“Betah bangeet… mau di Afrika, di Alaska, di Singapura saya juga pasti betah kok.. asal suami di samping..” Ihiiiy… alhamdulillah.

Terus kalau kalau ada yang bilang “Di Arab kan panas, berdebu, pasir doang, aturan ketat, nggak bebas..bla..bla..bla..”

Halo..memangnya kita mau tinggal di tengah gurun gitu? terus kalau aturannya ketat memang kenapa? takut dikit-dikit dipancung, dipotong tangan… dst..dst..??

Plis deh. Kalau kita berbuat baik kenapa takut? Lagipula bagi saya tidak ada ruginya kalau kita kemana-mana pakai Abaya, baju tertutup, bahkan cadar.

Tapi kalau merasa keberatan dengan baju abaya hitam, silahkan saja mencoba jalan-jalan di tempat umum di Jeddah memakai tanktop dan hotpant. Dijamin langsung digelandang Polisi Syariah. hehe..
Menurut saya, dengan memakai baju tertutup keberlangsungan hidup kita sebagai manusia, terutama muslimah masih sangat normal, kok. Bahkan jauh lebih baik bagi kita. Begitulah.

Alhamdulillah satu tahun ini bagi saya menyenangkan. Saya jadi benar-benar banyak belajar bagaimana menjadi istri yang baik bagi suami, ibu yang baik bagi anak, karena saya harus sangat mandiri disini. Tanpa saudara, tetangga (karena di flat yang dulu dan sekarang tetangga orang asing, belum pernah orang Indonesia). Jadi apa-apa harus sendiri.

Lalu, sudah ke mana saja saya selama setahun ini? Sudah banyak, sih. Tapi rasanya masih banyak juga tempat-tempat menarik yang belum saya kunjungi di Saudi ini. Saya belum ke Madinah dan Thaif. Dua kota bersejarah, dan saya benar-benar ingin bisa kesana. Selama ini kendala memang karena jarak dua kota itu sangat jauh. Dari kota Jeddah bisa sampai 3-5 jam naik kendaraan pribadi, dan ke Thaif 3 jam. Perlu waktu 2 hari semalam, karena harus ada jeda istirahat supaya tidak lelah mengemudi.

Setelah membuka-buka koleksi foto saya di komputer, inilah rekaman hasil ‘petualangan’ saya di bumi para nabi ini.

1. Mall of Arabia

Hah? kok Mall? ya, begitulah. Pertama saya diajak jalan-jalan suami, adalah untuk berbelanja. Lagipula, Jeddah ini memang terkenal dengan kota SuperMall. Banyak Mall-Mall besar. Ada Mall of Arabia, Hera Mall, Andalus Mall, dan lain-lain. Ukurannya? Besar. Yang jelas melelahkan lah kalau kita mengelilinginya.

Beristirahat sebentar, setelah lelah jalan-jalan menjelajahi Mall of Arabia

Read the rest of this entry

Bersikap Dewasa dalam Berjejaring Sosial

Kita menyebutnya Jejaring Sosial. Ada blog, twitter, facebook, dan sebagainya. Kalau jaman dulu ada friendster, tapi sejak facebook muncul, pelan-pelan orang meninggalkannya.
Saya mengamati, polanya sama. Hanya orang-orang tertentu memiliki akun friendster, lalu mewabah, sampai anak kecil pun punya. Akhirnya friendster pun ramai dengan akun-akun, dan aktifitas yang sangat tidak penting. “kok cuma nge view sih, coment dong..”
“Eh, coment aku balik ya..” begitu seterusnya.

Lalu, orang-orang yang melihat friendster mulai tidak sehat, dengan banyaknya akun ‘aneh’ dan nama-nama aneh, akhirnya pelan-pelan orang-orang tertentu beralih ke facebook. Supaya berbeda, lebih ‘tenang’, aktifitas sosial juga nyaman. Tapi apa yang terjadi? tetap saja, akhirnya facebook pun mewabah. Setiap orang memilikinya. Dari ustadz, hingga anak SD. Cuman memang hingga sekarang, facebook masih tetap diminati. Mungkin karena ternyata aplikasinya terus menerus berkembang.

Saya tidak ingin membahas tentang detail facebook, twitter dan sebagainya. Tapi saya ingin menyoroti tentang fungsinya.

Kalau saya tanya, untuk apa anda menggunakan jejaring sosial tersebut? Jawabannya saya pikir sebenarnya semua sama : Sosialisasi.
Walaupun kemudian prakteknya untuk berbisnis, berdakwah, meneror, eksistensi, pamer, dan sebagainya, tapi kerucutnya adalah sosialisasi bukan?

Sebab nantinya anda akan menambah banyak teman, mengirimi permintaan pertemanan, menerima permintaan pertemanan, seputar itu. Intinya berhubungan dengan orang lain.

Dan dalam berjejaring sosial tentu -meski tidak bertemu langsung- tetap ada interaksi sosial, dan tentu ada aturannya. Ya, ada aturan, meski tidak tertulis, ada norma dan etika yang harus dipahami oleh setiap orang. Karena ini adalah jejaring sosial. Ada kepentingan orang lain yang masuk. Bukan cuma kita berinteraksi dengan diri sendiri, tapi juga orang lain. Kecuali anda memprivate seluruh kiriman yang anda buat, khusus untuk anda sendiri.

Apakah anda berpikir seperti ini?

Read the rest of this entry

Waktu yang tak berulang..

Sekitar sepekan yang lalu saya baru mengetahui bahwa putri kecil saya mulai tumbuh gigi. Suprise rasanya. Wah.. bayi mungilku sudah besar. Berlebihan sih, untuk mengatakan bahwa dia sudah besar.
Tapi rasanya tetap benar-benar takjub.
Bulan ini memang Haniya sudah saya perkenalkan dengan makanan, karena usianya sudah menginjak 6 bulan. Kombinasi antara MPASI (Makanan Penunjang ASI) dan BLW (Baby Led Weaning). Walaupun Haniya belum sanggup untuk duduk sendiri, tapi saya tetap mengusahakan untuk BLW. Saya pikir, daripada dia mengigiti sembarang benda, lebih baik buah-buahan saja. Begitu.
Bukan cuma gigi yang tumbuh, tapi Haniya juga mulai mengangkat pantatnya ketika tengkurap. Artinya dia mulai belajar untuk merangkak dan duduk..
Waw..
Mengamati sejak dia mulai miring, kemudian tengkurap, guling-guling, lalu sekarang mulai akan merangkak semuanya alami..
Bayi sebenarnya tahu kapan dia harus melalui semua tahap itu. Saya yakin itu.
Saya melihatnya ketika Haniya mulai menaruh-naruh kepalanya ke sisi samping tubuhnya saat dia tengkurap. Saya pikir “Ini anak ngapain.. apa mau merasakan kerasnya lantai atau karpet?”
Dan dia terus mengulanginya.
Beberapa kali mencoba, tangan mulai dia angkat, lalu kakinya mendorong hingga tubuhnya berbalik. Hap. Dari posisi tengkurap sukses balik menjadi telentang.
Alami! ya.. Subhanallah.
Sempat dulu saya mengira bahwa bayi belajar seperti kita, melihat, atau memahami teori dulu, baru praktek. Tapi dengan melihat Haniya, saya paham, itu namanya insting.
Jadi, ibu-ibu, jangan khawatir kalau melihat umur sekian bayi kita belum ini atau itu.. Sebab artinya memang dia belum ingin. Dan belum saatnya. Tetap saja beri perhatian yang cukup, suasana lingukungan yang ceria, motivasi, serta reward setiap berhasil melakukan sesuatu. Dia pasti akan berlatih dengan instingnya.. benar-benar Maha Besar Allah dengan segala ciptaanNya..

Dan masa-masa ini, tidak akan pernah bisa kita ulang. Saat ini mungkin Haniya baru bisa mengoceh “Abbuw wa..wa..wa..” tapi suatu saat dia bisa berbeda pendapat dengan kita tentang hidup.

Saat ini dia baru berlatih untuk merangkak, suatu hari nanti dia akan menjelajah dunia dengan pasangan hidupnya, teman-temannya..

Saat ini dia hanya bisa tertawa dengan hiburan yang kita beri, tapi nanti dia mungkin akan membuat kita menangis terharu karena prestasi-prestasinya..

Singkatnya menjadi orang tua. Read the rest of this entry

Bayi Rewel (?)

Kalau saya ditanya apakah Haniya termasuk bayi yang rewel? Maka dengan tegas, cepat, keras, saya akan menjawab : TIDAK.

Ya, selama ini saya amat PD untuk mengatakan bahwa Haniya tidak pernah rewel. Waktu sakit? habis imunisasi? biasa saja. Sungguh, tidak pernah sedikit pun saya menganggap bahwa Haniya sedang rewel. Haniya itu selalu tenang, ceria, bermain seperti biasa.

Kalaupun kadang merengek-rengek saat saya sedang memasak, bersih-bersih, itu tandanya dia hanya sedang mengajak berkomunikasi saja. Wajar, Haniya kan belum bisa ngomong. Jadi hanya itu yang bisa dia lakukan.

Kalau diterjemahkan rengekannya, kira-kira begini : “Ibu.. main terus dong, jangan bersih-bersih..” atau “Ibu..itu ngapain di dapur, kok lama.. Haniya mau main lagi..” begitu. Dengan nada yang sama yang Haniya keluarkan saat merengek.

Kalau sudah begitu, paling saya tinggal menyanyikan lagu kesukaannya yang langsung dibalas dengan tawa ceria, atau menghampiri lalu mencium gemas pipinya, memberi Haniya ‘pegangan’ untuk bermain, kemudian melanjutkan kembali aktifitas saya. Alhamdulillah selama ini berhasil.

Kalau belum berhasil membuatnya tenang, tinggal disusui sebentar. Kalau mengantuk, pasti langsung tertidur. Begitu setiap hari.

Lihat, Haniya selalu ceria kok.. :-)

Sempat, atau sering malah, saya merasa khawatir juga kalau saat-saat harus mengajak keluar. Belanja, pengajian, ke dokter, atau umroh misalnya. Sebelum berangkat saya sudah ‘parno’ dan deg-degan sendiri. “Kalau nanti Haniya rewel gimana?” “Kalau nanti nangis terus ga berhenti-berhenti gimana?” “Kalau..kalau.. bla..bla..”

Padahal, kenyataannya, Haniya enjoy. Di mobil tidur, di Mall anteng, di RS tenang, bahkan yang paling saya khawatirkan waktu umroh kemarin, “Gimana kalau waktu sholat Jum’at jama’ah di Masjidil Haram Haniya nangis, teriak-teriak. Seluruh masjidil Haram dengar, trus  bikin imamnya lupa bacaan, kacau jum’atannya. Padahal kan disiarkan langsung di berbagai negara?” eh.. lebay abis ya? :mrgreen: hihi..

Benar, belum apa-apa saya khawatir. Dan tahu tidak, sodara-sodara? Haniya malah tertawa-tawa waktu sholat Jum’at. Saya baringkan di depan saya, Haniya malah sibuk sendiri. Mungkin senang karena di hadapannya banyak orang yang sedang kompak mengerjakan gerakan sholat.

Apalagi waktu thawaf. Cuaca paanas..berdesak-desakan, saya nya yang khawatir setengah mati, melihat Haniya disikut-sikut bule-bule berbadan besar, ee.. Haniyanya tidur puleees di gendongan saya, meski keringat mengucur deras di wajahnya dan dari balik jilbabnya, bahkan wajah imutnya memerah karena panas. Subhanallah anak ini..

Dan kalau saya renungkan, sebenarnya bukan bayinya yang rewel. Tapi ibunya. Kenapa? Ini beberapa analisa saya. Read the rest of this entry

Saya dan Hobi Menggambar

Sebenarnya saya sudah memiliki hobi ini sejak SD. Ya, sejak keciiil sekali saya sudah hobi menggambar. Saya ingat, saya suka sekali menggambar dasar laut, dilengkapi dengan ikan-ikan, karang, dan penyelam. Itu membuat saya berkhayal, bahwa ada kota di bawah laut dan penduduknya adalah ikan.

Kemudian saya juga suka menggambar seorang putri, dengan aksesoris baju yang macam-macam, dan aksesoris rambut yang saya buat mirip dengan serial silat Cina yang ada di Televisi, dengan konde dimana-mana. Dulu saya menganggap gambar saya sudah sangat bagus. Setiap buku tulis, hampir semua cover sebelah dalamnya saya gambari ‘princess’. Dan tahu tidak? badannya terdiri dari komposisi dua segitiga yang bertemu di satu sudut menjadi bagian perut. Bisa membayangkan? hihi..
Tinggal dilengkapi dengan dua tangan lurus ke bawah, leher, kepala yang juga berbentuk segitiga, rambut, dan sepatu high heels. Unik. Seandainya saya bisa menemukan gambar-gambar itu lagi, pasti saya akan tersenyum geli.
Saat itu saya hanya berfantasi tentang seorang putri, dan pakaian yang indah. Dan membayangkan jika saya menjadi mereka.

Lalu SMP, saya mulai suka membaca komik. Awalnya dengan mencontoh tokoh-tokoh komik yang saya sukai, lama-lama saya membuat karakter sendiri. Jadilah saya memiliki hobi menggambar karakter komik.

Hingga SMA, saya masih suka sekali menggambar karakter komik. Kadang, ada teman yang ingin dirinya digambar, atau cowok taksirannya, atau karakter by request. Saya sampai memiliki koleksi satu binder tebal khusus untuk mengumpulkan gambar-gambar saya.

Sayang waktu itu belum ada scanner. Kalau ada, sudah saya scan semua, kemudian saya edit pake photoshop. Dan saya juga tidak tahu kemana koleksi saya itu. Sudah menjadi satu dengan buku-buku jaman sekolah nampaknya.

Ketika kuliah, hobi ini sempat mandeg. Karena tidak sempat. Benar-benar tidak ada space di pikiran untuk menggerakkan tangan untuk menggambar. Hingga akhirnya, sewaktu saya sudah menikah, punya laptop, saya sempat mengunjungi blog dan profil fb nya dek Citra yang hobi menggambar juga. Gambar-gambarnya bagus, akhirnya saya beranikan untuk bertanya, software apa yang dipakainya. Ternyata dek Citra memakai ‘Inkscape’.

Langsung saja saya bertanya pada Eyang Gugel, sedikit tutorial, dan link download gratisnya.  Install, coba-coba dikit. Dan ternyata gampang sekali. Inilah gambar pertama saya menggunakan Inkscape otodidak dalam waktu beberapa menit.

Kartun pertama saya dengan Inkscape, hasil coba-coba

Sejak itu, setiap ada waktu senggang, dan ada ide, saya langsung mengunjungi software itu dan berkreasi. It’s fun. Lumayan, menyalurkan hobi lama yang sempat terlupakan.

Ini gambar yang paling lama mbikinnya. Agak ruwet

Hingga akhirnya saya cukup PD untuk menguploadnya di fb maupun di blog. Bahkan saya membuat akun khusus flickr, untuk mengupload kartun-kartun saya.

Karena memang hanya iseng, saya tidak begitu ‘narsis’ dengan gambar-gambar saya. Maksudnya tidak begitu aktif untuk menshare, mempublikasikan, ataupun tidak begitu berharap karya saya dilihat orang banyak. Hanya ingin menyalurkan hobi saja.
Tapi kadang senang juga kalau ada yang mengapresiasi, mengcopy, bahkan ada yang dijadikan foto profil. Rasanya gimana, gitu.. hehe :mrgreen:

Jadi bagi saya tidak ada masalah kalau ada yang menggunakan gambar-gambar saya. Yang masalah kalau karya saya diakui sisi. Hehe. Tapi namanya juga dunia maya, siapapun bebas mengcopy, edit, simpan, dan sebagainya. Saya ikhlas, kok. Ikhlaas.. :mrgreen:

Dengan hobi saya ini juga akhirnya menambah statistik blog saya ini menjadi gila-gilaan. Duh, jadi ga enak, pada nyasar ke sini. :mrgreen: . Ya sudah, ga pa-pa. Semoga gambar saya bisa digunakan sebagaimana mestinya. Aamiin.

Oh iya, di page yang saya pasang khusus untuk hasil iseng saya, ada juga yang bukan murni buatan saya pribadi. Hanya ambil di internet, kemudian tokoh ibu saya beri jilbab. Awalnya melihat kartun tersebut menarik sekali. Ada ayah, ibu, dan anaknya. Tapi sayangnya sang Ibu tidak memakai jilbab. Berawal dari iseng, lama-lama saya mencari gambar yang lain, dari wallcoo, lalu saya edit. Ini nih editan pertama yang saya buat. Read the rest of this entry

Badai Debu di Jeddah

Hari Ahad yang lalu, tanggal 18 Maret 2012 saya dikagetkan dengan suara pintu yang cukup berisik, padahal kondisi tertutup. Karena penasaran, saya buka sedikit jendela flat. Whuuss.. langsung angin masuk ke dalam rumah. Angin bercampur debu. Saya lihat ke luar jendela, ternyata memang sedang badai debu.

Jarak pandang terbatas sekali. Langit tertutup debu. Segera saya ambil Camdig, mengambil momen itu.

Kondisi badai debu dari jendela flat

Ini badai debu kali kedua saya setelah di Jeddah. Badai debu pertama waktu Haniya masih berusia beberapa minggu. Cukup panik saya waktu itu. Bagaimana tidak, Haniya yang sedang terlelap tiba-tiba sudah tersiram debu di wajah. Ya Rabb.. langsung saya bersihkan dengan tissu basah. Alhamdulillah Allah masih menjaganya, karena saat itu mata Haniya terpejam, jadi aman.

Waktu itu kami masih di flat yang lama. Dan rumah jadi sangat berdebu. Lantai, piring-piring, alat masak. Fiuh.. untungnya saat itu saya belum sempat cuci piring. Hehe..jadi tidak percuma. Ada hikmahnya lah.. :mrgreen:

Dan badai debu yang kemarin ini cukup besar. Sebab suara angin benar-benar keras. Menderu-deru. Pintu-pintu saya ganjal dengan barang yang berat. Soalnya meski tertutup, masih ada sela-sela yang membuatnya bersuara. Badai debu berlangsung hingga keesokan harinya. Jadi sepanjang malam itu di luar angin bercampur debu masih bertiup kencang.

Haniya akhirnya begadang, karena suara pintu berisik

Read the rest of this entry

Curahan Hati Perantau

Tinggal, dan menetap di perantauan memang memiliki banyak kesan. Apalagi di luar negeri. Saya memang baru sepuluh bulan tinggal di Saudi. Masih belum apa-apa dibanding teman-teman saya yang sudah bertahun-tahun tinggal disini. Tapi sedikit banyak saya sudah cukup mengenal dan terbiasa dengan budaya dan kebiasaan orang-orang Arab. Sayangnya saya masih belum bisa bahasa Arab. Kebanyakan saya menggunakan bahasa Inggris untuk komunikasi. Saat periksa di Rumah Sakit, atau bertemu orang di Mall.

Kenapa memilih Jeddah, Saudi Arabia? Sebenarnya selain memang rejekinya di sini, insya Allah, saya dan suami dulu memilih untuk memberanikan diri menetap di Saudi karena dekat dengan Baitullah. Ya, itulah yang membuat kami yakin. Siapa sih, yang tidak kepengin umroh kapan saja. Tanpa memikirkan harus mengeluarkan biaya puluhan juta. Bahkan hanya ditempuh seperti jarak Solo-Jogja. Itupun dengan harga bensin yang sangat murah, jika dengan kendaraan pribadi. Haji, tanpa memusingkan antrian bertahun-tahun. Meskipun saya juga belum berani haji, karena tahun kemarin  baru beberapa minggu melahirkan, kemudian kalaupun haji, akan membawa serta Haniya yang masih sangat kecil. Belum lagi kalau mau menambah anak. Umroh kemarin saja saya sudah tidak tega mengajak Haniya berpanas-panasan, dan berdesak-desakan. Apalagi nantinya pasti menambah momongan.

Tapi saya tetap sangat bersyukur, bisa mengunjungi Baitullah, tempat yang menjadi impian setiap muslim. Sebuah hal yang sangat tidak terbayangkan sebelumnya. Terlepas dari masalah cuaca yang lumayan ekstrim disini.

Senja, dari balik jendela flat baru kami

Pagi hari, dari jendela flat baru, sisi yang lain

Read the rest of this entry

Selamat ulang bulan ke lima, Haniya…

Alhamdulillah, putri kecilku tepat 5 bulan hari ini. Usia sekarang, menurut saya adalah masa-masa paling lucu. Sejak bayi lucu, sih, tapi setidaknya sekarang sudah sangat longgar untuk merawatnya. Sudah bisa mainan sendiri, bisa menonton TV, mengamati mainan musik yang diletakkan di atasnya, bisa tengkurap dan berguling-guling. Bagi ibu full time yang juga harus mengerjakan pekerjaan rumah yang lain, tentu ini sangat menyenangkan.

Masih ingat masa-masa menantang ketika Haniya baru lahir. Sama sekali tidak bisa ditinggal. Tidur pun saat siang tidak nyenyak, masih sangat sensitif terhadap suara. Dikit-dikit kaget. Hanya tidur nyenyak kalau dipangku. Setiap ditaruh, dalam kondisi bangun terus menerus memanggil-manggil bahkan menangis. Jujur saja, saya tidak tenang melihat bayi gelisah. Dan menurut saya, jika bayi dibiarkan saja saat gelisah, nantinya dia akan cengeng. Jadi sebisa mungkin saya usahakan Haniya tenang. Apalagi, bayi yang baru lahir masih terbawa ‘suasana’ saat masih dalam perut, hangat, seperti ditimang-timang.

Alhasil, karena kondisi tersebut, saya jadi memliki kemampuan ‘terpendam’. halah. :mrgreen: . Bagaimana tidak? memasak, menyapu, menjemur baju, beres-beres rumah, semua hanya dilakukan dengan tangan kanan. Tangan kiri tetap menggendong Haniya. Mungkin sedikit banyak, saya mulai mengamalkan wasiat Almh. Ustadzah Yoyoh Yusroh, “Tangan kirimu untuk menggoyang ayunan, dan tangan kanan untuk mengguncang dunia”. Alhamdulillah… hihi, maksa.

Lalu, bagaimana dengan aktivitas pribadi? hmm.. saya hanya butuh waktu setidaknya 5-15 menit saja, mencuri waktu saat Haniya tidur. Walaupun seringnya di tengah-tengah waktu tetap Haniya bangun, karena mendengar suara air. Seluruh aktifitas dari pagi, hingga suami pulang kerja saya kerjakan sambil menggendong Haniya. Dan ini berlangsung hingga hampir menginjak bulan ke dua. Sebab sejak itu, Haniya mulai nyenyak tidur siangnya, bisa bermain tangan sendiri, dan jauh lebih tenang.

Seru sekali masa-masa itu. Sibuk, tapi senang. Repot, tapi bahagia. Dari awal saya berpikiran, bahwa masa-masa itu pasti terlewati. Jadi tugas kita hanya bersabar dulu, merawat semaksimal mungkin yang kita bisa.

Dan subhanallah, di usia 5 bulan ini, Haniya benar-benar semakin menggemaskan. Tertawa, tengkurap, mengeluarkan suara yang terdengar seperti memanggil “Ibu.. Ibu..” yaah.. walau aslinya “hiibbbuuww… bbuuww..” :mrgreen:
Lucuu…sekali. Alhamdulillah.

berbagai ekspresi Haniya

(lagi…)

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 30 pengikut lainnya.