Arsip Blog

Perbedaan Laki-laki dan Perempuan jika berbuat salah

dinamika rumah tangga :)

klik gambar untuk memperjelas :)

Bagi anda yang telah menikah, mungkin sering mengalami ini. Saat suami atau istri melakukan kesalahan, tetap saja akhirnya suami yang meminta maaf :-D

Ilustrasi di atas bukan sebuah pembenaran, melainkan hasil pengamatan. Potongan cerita nya pun bukan atas inspirasi saya pribadi, tapi saya dapatkan di sebuah forum jejaring sosial, yang kemudian saya dapati pada kehidupan saya. Untuk lebih menghayati, saya sesuaikan, dengan ilustrasi keluarga muslim.

Anda juga mengalaminya?

Sekali lagi, ini bukan pembenaran. Jika anda juga mengalaminya, ada baiknya mulai sedikit menyesuaikan dan memahami. Laki-laki dan perempuan adalah dua makhluk yang berbeda, bahkan bertentangan. Namun dibuat bukan untuk saling menentang, tapi saling melengkapi. Read the rest of this entry

Memangnya kalo nggak pacaran, kenapa sih?

Penasaran saya.

Wara wiri di jejaring sosial membuat saya jadi melihat ‘timbul tenggelamnya’ status anak muda jaman sekarang.

Status disini bukan postingan, tapi status yang berupa ‘in relationship with, engaged with, married with,..” ato bahasa Indonesianya “berpacaran dengan, bertunangan dengan, menikah dengan..”

apa ya yang dibanggakan oleh orang yang di fb nya terpampang “berpacaran dengan fulan/fulanah” (di luar kasus mereka yang sebenarnya sudah menikah, tapi ingin lebih asyik sengaja memasangnya sebagai ‘berpacaran’).

Apakah bangga, apakah keren, apakah terlihat lebih laku daripada mereka yang memasang status ‘lajang’, dengan usia yang masih belasan ato dua puluhan? hmm.. apakah seperti itu membanggakan?

Kalo saya justru menganggap itu bahan olok2an saja. Bayangkan, kalau sebulan statusnya berubah-rubah, lajang-berpacaran-lajang-berpacaran dst.. dengan nama yang berbeda-beda pula. Beuh… kayak piala aja digilir…

Dan seluruh dunia tau (minimal orang-orang di daftar friendlistnya), kalo si A sudah “BEKAS” nya si B, si C, si D,…

itu membanggakankah?hmm…….

Sungguh, besar sekali efek yang ditimbulkan media, infotainment, sinetron, film, majalah. Yang berkali-kali memblow up pasangan yang berpacaran, yang digambarkan enak-enak, ada yang memberi perhatian, menemani kemana-mana, ‘yank-yank’ an di wall, biar seluruh dunia tahu,, (haduh….)

Ini penyakit menurut saya. Bukan perkara pacaran yang ada batasannya ataukah masih nggak neko2, kalo pada yang pengen beralasan. Tapi ini masalah etika, moral dan kebiasaan.

Apa yang anda pikirkan tentang pacaran?

berduaan.Boncengan.  Gandengan. Cium-an. Pegang-pegangan. Peluk-pelukan. dan yang sampai pada batas maksimal adalah : mamah-papah an (lebih dari panggilan, tentunya)

astaghfirullah….

Tidak heran kalau baru saja teman saya, seorang bidan memberi kesaksian langsung pada saya : Read the rest of this entry

Perempuan

Pernah mengamati artis-artis di televisi yang dimanajeri ibunya? Ada yang aneh tidak?

Saya merasa itu aneh sekali. Bukankah setiap ibu berharap kehormatan dan keselamatan anak gadisnya, ya? Sebab seorang ibu bertanggung jawab lebih untuk mendidik putri-putrinya, agar kelak menjadi wanita yang pandai menjaga kehormatan dirinya sendiri, suami, dan anak-anaknya. Itu yang saya pahami.

Kontras, dengan barusan yang saya dengar. Berprofresi sebagai teman belajar siswa sekolah memang memiliki ‘amal sampingan’. Njagani anak didik. Bukan hanya soal akademis, tapi kadang sampingannya adalah teman curhat.

Seorang ibu dari murid saya beberapa waktu yang lalu mengeluhkan kekhawatirannya pada saya. Tentang putrinya.”Mbak Sonia, ibu bener-bener khawatir sama Nurul, kalau Les di pondok jangan sampai mukanya keliatan orang banyak ya. Diusahakan menghadap ke arah yang jarang ada orang..”

Iya, ibu itu khawatir anaknya yang sengaja disekolahkan di sebuah Pesantren ternama di Solo, menjadi fitnah bagi lawa jenisnya. Alasanya jelas, memang putrinya tersebut cantik. Sungguh cantik. Saya saja yang juga perempuan benar-benar takjub dengan kecantikan si adek ini. Apalagi ikhwan? (kalo cowok iya nggak ya, soalnya si adek berjilbab rapih) Hmm.. Subhanallah..

Sang ibu sudah merasa benar-benar ingin menjaga putrinya, supaya tidak mendatangkan fitnah, yang jelas akan merusak masa depan anaknya, keluarganya juga.

Beda dengan yang sekarang sering kita jumpai. Ibu malah ‘mengkomersilkan’ putrinya. Dijadikan mesin pencetak uang, bahkan tulang punggung keluarga. Miris.

Sebab moral sebuah masyarakat, tergantung bagaimana kondisi perempuan di wilayah tersebut”  Sebuah hal yang sangat saya yakini kebenarannya.

Hingga saya temui juga sebuah petikan “Mendidik seorang laki-laki, artinya mendidik laki-laki itu sendiri. Mendidik satu orang perempuan, artinya kamu telah mendidik satu generasi.” Read the rest of this entry

Karena ilmu mu bukan untukmu sendiri

Seorang murid saya bercerita pada saya suatu sore, tentang kakeknya yang baru saja meninggal.

“Mbak Sonia, kakek saya itu ga suka dijenguk pas beliau kritis, soalnya semakin banyak yang njenguk, beliau merasa semakin banyak yang nyokorke (mencela)”

“Lho kok bisa, dek?” saya tanya penasaran. Bukannya orang sakit kalo dijenguk itu untuk didoakan? hmm..

“Lha kakek saya sering merasa dikunjungi banyak orang, mbak, trus mereka ngetawain gitu. Padahal aslinya sepi, mbak..”

Astaghfirullah.. kasihan sekali. Saat-saat terakhir kan seharusnya saat kita paling dekat dengan Allah. Ini malah diserang ketakutan luar biasa.

“Keluarganya apa nggak ngajiin, atau menenangkan kakekmu, dek?”

Kemudian, jawab murid saya, “Istrinya ga pernah sholat, mbak. Anak-anaknya juga ga pernah. Ngaji juga ga pernah. Katanya kalo disuruh ngaji di dekat kakek, ntar aja, disetelin kaset aja.”

kasihan… Padahal kata adek les saya itu, kakeknya dulu rajin sholat, rajin ngaji. Haji pula. Tapi, saat menjelang kematian beliau, saat beliau terkapar tak berdaya menjelang ajal, tidak ada satupun keluarga yang menenangkan hanya sekedar menuntun membaca istighfar.. Tidak ada yang mengaji di dekatnya, untuk mengusir rasa ketakutan ketika  sang malaikat maut bersiap-siap menjemput.

Akhirnya kemudian saya berpikir, sangat berpikir..

Keindahan Islam bukan hanya milik satu orang, dua orang, diri sendiri saja.. Ilmu itu tidak akan selesai hanya pada kita saja. Tapi juga hak orang-orang di sekitar kita.

Kisah sang kakek tadi barangkali jadi pelajaran untuk saya. “Sampaikan walau hanya satu ayat.” Jangan menunggu kita sempurna baru kita berdakwah, tapi berdakwahlah maka ilmumu akan lebih sempurna.

Bukankah salah satu cara menanam sebuah ilmu di hati kita, adalah dengan membaginya dengan orang lain? Mungkin suatu saat kita bisa salah, tapi suatu saat kita bisa diingatkan orang lain. Asal niat kita membagi itu adalah baik. Insya Allah.

Bahkan hal yang lebih parah lagi, kata murid saya itu lagi, setelah sang kakek wafat, yang terjadi adalah perebutan harta warisan oleh anak-anaknya! Read the rest of this entry

Sekedar Puasa?

Apa yang anda lakukan jika mendapati sebuah toko mengadakan diskon besar-besaran? Obral berlipat lebih murah dari harga semula? anda pasti akan menyerbunya, bukan?

Itulah perumpamaan bulan Ramadhan. Yang biasanya ibadah bernilai 10 derajat pahala, dilipatkan menjadi 10 kali lipat (artinya sekali ibadah di bulan ini, sama dengan 10 kali ibadah yang sama di bulan lain).

Hmm.. menggiurkan! apalagi iming-iming DoorPrize Lailatul Qadar, yang jika kita mendapatkannya, pahalanya sama dengan ibadah 1000 bulan!! berapa tahun itu? 1000 dibagi 12 = 83 tahun!! , hanya dengan satu malam, euy.. subhanallah.. Siapa yang tidak kepengen, ya?

Saya sejenak berpikir, kalau Ramadhan adalah bulan untuk melipatkan pahala, kenapa Allah tidak menyediakan juga bulan melipatkan dosa? maka saya pun menyadari, Allah Maha Pengasih. Kasih sayang dan CintaNya tidak akan habis, meski seluruh makhluk memintanya. Sungguh, ini adalah salah satu bukti cinta Allah pada manusia.

Maka sia-sia sekali manusia yang tidak mengetahui ini.

Ramadhan hakikatnya bukan hanya sekedar berlapar-lapar dahaga. There are more wonderful things that only can be realized by a thinking people. Hanya orang-orang yang berpikir yang menyadarinya. Bahwa Ramadhan bukan menahan haus dan lapar, kawan!!

Merasa banyak dosa? minta ampunlah!!

Merasa banyak harapan dan cita-cita? berdoalah!!

Merasa kurang beruntung? Berpuasalah!! dan rasakan penderitaan orang-orang yang tidak lebih beruntung darimu!

Merasa sendirian? Sholat berjama’ahlah di masjid, rasakan betapa banyak saudaramu!!

Merasa miskin? bersedekahlah..!!

Di bulan ini Allah akan memberimu LEBIH!

Sebab yang sedang memberi janji padamu bukan seorang caleg yang butuh dukungan, atau capres yang ingin berkuasa. Tapi Allah, yang Maha Memiliki Segalanya, yang janjiNya adalah keniscayaan.

Barang siapa berpuasa pada bulan Ramadhan dan mengetahui batas-batasnya dan ia menjaga diri dari segala apa yang patut dijaga, dihapuskanlah dosa yang sebelumnya.(HR. Ahmad dan Baihaqi)

Jadi, tetap ingin hanya ‘Sekedar Puasa’?

*Ditulis di tengah malam menjelang 1 Ramadhan 1431 H

Manusia Aneh

Suatu kali Rasulullaah SAW pernah bersabda, ‘Berbahagialah al-ghuraba, berbahagialah orang yang aneh ini.’
Siapa sih orang aneh di sini? Yaitu orang-orang yang  mencoba menimbulkan perbaikan ketika manusia sudah rusak. Mereka itu adalah al-insaan, manusia-manusia yang saleh, yang jumlahnya sedikit, di tengah-tengah manusia yang durhaka kepada Allah SWT.

‘Islam mulai dengan aneh, dan kembali lagi dengan aneh seperti permulaannya. Berbahagialah orang-orang yang aneh itu!’, bunyi sebuah hadits dari Ibnu Qayyim Al Jauziyah.

Benar sekali. Cerita-cerita tentang nabi maupun siroh yang sering kita dengar, bahwa permulaan adanya nabi adalah perlunya ’orang-orang aneh’ yang dijadikan pembawa pesan kebaikan, pesan bahwa kejahiliyahan yang sedang melanda umat kebanyakan adalah tidak benar.

Ya jelas dia aneh, karena saat yang lain berlomba dengan kemaksitan, yang lain berlomba dengan dunia, dia membawa berita serta ajaran yang sangat berlawanan dengan yang selama ini dijalankan.

Al-Ghuraba biasanya muncul di luar arus kebiasaan. Mereka mengatakan dengan benar apa yang benar, dan menegaskan yang salah apa yang salah, tanpa takut resiko menghadang. Ketika banyak manusia kehilangan identitasnya, mereka menunjukkannya. Ketika banyak manusia tidak memiliki pedoman, pribadi al-ghuraba menunjukkan tuntunan yang jelas.

Kalau semuanya ditarik ke jaman sekarang, kadang orang tidak berharap menjadi manusia yang menentang arus hanya karena mengamankan posisi atau kedudukan kemanusiaan dia. Pemikiran bahwa beban sosial yang akan dia hadapi membuat dia enggan untuk ’berbeda’. Read the rest of this entry

Tabayyun

Tabayyun adalah mengecek kebenaran suatu berita, agar tidak simpang siur dan menimbulkan fitnah. Setiap usaha utk membelokkan kebenaran dianggap fitnah, jadi yang namanya gosip, walaupun gak berbahaya, tetap saja fitnah, dan ini lebih kejam dari pembunuhan, jadi masalah ini sangat sensitif dalam Islam.

Suatu ketika, Abdullah bin Ubay, seorang pemuka kaum di Madinah yang merasa ‘tersingkir’ akibat keberadaan Nabi Muhammad saw. pernah berkata-kata buruk tentang umat Islam. Dia bicara di depan para pendukungnya yang tidak lebih dari 10 orang.

Zaid bin Arqam, yang waktu itu belum baligh (masih anak-anak), kebetulan lewat dan mendengarnya. Karena masih anak2, dia dibiarkan saja oleh Abdullah bin Ubay dan konco-konconya.

kemudian Zaid bin Arqam datang kepada Rasulullah saw. dan menyampaikan kata-kata buruk Abdullah bin Ubay tersebut. Rasulullah saw. memberikan 3 pertanyaan :
1. “Mungkin kamu marah padanya?” Zaid menjawab “tidak”
2. “Mungkin kamu tidak jelas mendengarnya?” Zaid menjawab “tidak”
3. “Mungkin ada kata-katanya yang kamu lupa?” Zaid kembali menjawab “tidak”
Disini ada pelajaran penting, tiga pertanyaan di atas mewakili tiga kemungkinan penyebab kesalahpahaman di tubuh umat. Tiga kemungkinan itu adalah :
1. Tidak objektifnya orang yang mendengar berita, mungkin karena marah, sedih, atau perasaan-perasaan subjektif lainnya, sehingga ia menanggapi suatu berita tidak sebagaimana mestinya. Itu sebabnya Rasulullah bertanya apakah Zaid sedang marah kepada Abdullah bin Ubay.
2. Pendengar tidak mendengar seluruh kata-kata sang pembicara (mungkin karena hanya sepintas lalu atau ada suara ribut di sekitarnya), sehingga makna yang ia tangkap pun sangat berbeda. Itu sebabnya Rasulullah bertanya apakah Zaid mendengar kata-kata Abdullah bin Ubay dengan sangat jelas atau hanya samar-samar.
3. Pendengar tidak mendengar seluruh kata-katanya si pembicara, hingga maknanya bisa sangat berubah. Kalimat “aku benci pada perbuatan dia” sangat berbeda dengan kalimat “aku benci pada dia”. Karena itu Rasulullah bertanya apakah ada kata-kata Abdullah bin Ubay yang lupa ia sampaikan kepada Rasulullah.
Zaid menjawab ketiga pertanyaan dengan mantap. Rasulullah saw. mengenal anak itu sebagai anak yang jujur. Tapi apa yang beliau lakukan selanjutnya? apakah beliau mengutus orang utk memenggal leher Abdullah bin Ubay?
Read the rest of this entry

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 30 pengikut lainnya.