Arsip Blog

Ibu dan Komentar Negatif pada Bayinya

Mothers are special

Kalau diambil kesimpulan, apa yang sebenarnya paling meresahkan para ibu yang memiliki bayi?

Kesehatan bayinya kah? bayi menangis kah?

hmm.. saya kira masing-masing ibu sebenarnya punya solusi bagi bayinya sendiri. Berdasarkan naluri seorang ibu, kontak batin, dan rasa ‘cinta’ ibu terhadap bayinya membuat masalah-masalah pada bayi dirasa masih teratasi bagi ibu, dan tidak membuat ibu gelisah.

Tapi, ada yang jauh lebih meresahkan seorang ibu, yaitu : pendapat orang tentang bayinya!

Ya, riset membuktikan (halah padahal pengamatan dan pengalaman pribadi) ibu akan merasa tidak tenang setelah mendengar orang berkomentar negatif terhadap bayinya. Sesepele apapun itu. Dan dampaknya jauh lebih ‘meresahkan’ daripada ketika ibu mendapati sendiri bayinya sakit, gangguan tidur, dll.

Contoh saja, ketika bertemu orang. Awalnya si Ibu merasa yakin bayinya sehat,   pertumbuhan baik, berat badan ideal. Tapi, orang melihat bayinya berkomentar “Eh, umur berapa ini, sudah bisa guling-guling belum? Belum? wah.. padahal juga gak terlalu gemuk, ya?” Read the rest of this entry

Waktu yang tak berulang..

Sekitar sepekan yang lalu saya baru mengetahui bahwa putri kecil saya mulai tumbuh gigi. Suprise rasanya. Wah.. bayi mungilku sudah besar. Berlebihan sih, untuk mengatakan bahwa dia sudah besar.
Tapi rasanya tetap benar-benar takjub.
Bulan ini memang Haniya sudah saya perkenalkan dengan makanan, karena usianya sudah menginjak 6 bulan. Kombinasi antara MPASI (Makanan Penunjang ASI) dan BLW (Baby Led Weaning). Walaupun Haniya belum sanggup untuk duduk sendiri, tapi saya tetap mengusahakan untuk BLW. Saya pikir, daripada dia mengigiti sembarang benda, lebih baik buah-buahan saja. Begitu.
Bukan cuma gigi yang tumbuh, tapi Haniya juga mulai mengangkat pantatnya ketika tengkurap. Artinya dia mulai belajar untuk merangkak dan duduk..
Waw..
Mengamati sejak dia mulai miring, kemudian tengkurap, guling-guling, lalu sekarang mulai akan merangkak semuanya alami..
Bayi sebenarnya tahu kapan dia harus melalui semua tahap itu. Saya yakin itu.
Saya melihatnya ketika Haniya mulai menaruh-naruh kepalanya ke sisi samping tubuhnya saat dia tengkurap. Saya pikir “Ini anak ngapain.. apa mau merasakan kerasnya lantai atau karpet?”
Dan dia terus mengulanginya.
Beberapa kali mencoba, tangan mulai dia angkat, lalu kakinya mendorong hingga tubuhnya berbalik. Hap. Dari posisi tengkurap sukses balik menjadi telentang.
Alami! ya.. Subhanallah.
Sempat dulu saya mengira bahwa bayi belajar seperti kita, melihat, atau memahami teori dulu, baru praktek. Tapi dengan melihat Haniya, saya paham, itu namanya insting.
Jadi, ibu-ibu, jangan khawatir kalau melihat umur sekian bayi kita belum ini atau itu.. Sebab artinya memang dia belum ingin. Dan belum saatnya. Tetap saja beri perhatian yang cukup, suasana lingukungan yang ceria, motivasi, serta reward setiap berhasil melakukan sesuatu. Dia pasti akan berlatih dengan instingnya.. benar-benar Maha Besar Allah dengan segala ciptaanNya..

Dan masa-masa ini, tidak akan pernah bisa kita ulang. Saat ini mungkin Haniya baru bisa mengoceh “Abbuw wa..wa..wa..” tapi suatu saat dia bisa berbeda pendapat dengan kita tentang hidup.

Saat ini dia baru berlatih untuk merangkak, suatu hari nanti dia akan menjelajah dunia dengan pasangan hidupnya, teman-temannya..

Saat ini dia hanya bisa tertawa dengan hiburan yang kita beri, tapi nanti dia mungkin akan membuat kita menangis terharu karena prestasi-prestasinya..

Singkatnya menjadi orang tua. Read the rest of this entry

Bayi Rewel (?)

Kalau saya ditanya apakah Haniya termasuk bayi yang rewel? Maka dengan tegas, cepat, keras, saya akan menjawab : TIDAK.

Ya, selama ini saya amat PD untuk mengatakan bahwa Haniya tidak pernah rewel. Waktu sakit? habis imunisasi? biasa saja. Sungguh, tidak pernah sedikit pun saya menganggap bahwa Haniya sedang rewel. Haniya itu selalu tenang, ceria, bermain seperti biasa.

Kalaupun kadang merengek-rengek saat saya sedang memasak, bersih-bersih, itu tandanya dia hanya sedang mengajak berkomunikasi saja. Wajar, Haniya kan belum bisa ngomong. Jadi hanya itu yang bisa dia lakukan.

Kalau diterjemahkan rengekannya, kira-kira begini : “Ibu.. main terus dong, jangan bersih-bersih..” atau “Ibu..itu ngapain di dapur, kok lama.. Haniya mau main lagi..” begitu. Dengan nada yang sama yang Haniya keluarkan saat merengek.

Kalau sudah begitu, paling saya tinggal menyanyikan lagu kesukaannya yang langsung dibalas dengan tawa ceria, atau menghampiri lalu mencium gemas pipinya, memberi Haniya ‘pegangan’ untuk bermain, kemudian melanjutkan kembali aktifitas saya. Alhamdulillah selama ini berhasil.

Kalau belum berhasil membuatnya tenang, tinggal disusui sebentar. Kalau mengantuk, pasti langsung tertidur. Begitu setiap hari.

Lihat, Haniya selalu ceria kok.. :-)

Sempat, atau sering malah, saya merasa khawatir juga kalau saat-saat harus mengajak keluar. Belanja, pengajian, ke dokter, atau umroh misalnya. Sebelum berangkat saya sudah ‘parno’ dan deg-degan sendiri. “Kalau nanti Haniya rewel gimana?” “Kalau nanti nangis terus ga berhenti-berhenti gimana?” “Kalau..kalau.. bla..bla..”

Padahal, kenyataannya, Haniya enjoy. Di mobil tidur, di Mall anteng, di RS tenang, bahkan yang paling saya khawatirkan waktu umroh kemarin, “Gimana kalau waktu sholat Jum’at jama’ah di Masjidil Haram Haniya nangis, teriak-teriak. Seluruh masjidil Haram dengar, trus  bikin imamnya lupa bacaan, kacau jum’atannya. Padahal kan disiarkan langsung di berbagai negara?” eh.. lebay abis ya? :mrgreen: hihi..

Benar, belum apa-apa saya khawatir. Dan tahu tidak, sodara-sodara? Haniya malah tertawa-tawa waktu sholat Jum’at. Saya baringkan di depan saya, Haniya malah sibuk sendiri. Mungkin senang karena di hadapannya banyak orang yang sedang kompak mengerjakan gerakan sholat.

Apalagi waktu thawaf. Cuaca paanas..berdesak-desakan, saya nya yang khawatir setengah mati, melihat Haniya disikut-sikut bule-bule berbadan besar, ee.. Haniyanya tidur puleees di gendongan saya, meski keringat mengucur deras di wajahnya dan dari balik jilbabnya, bahkan wajah imutnya memerah karena panas. Subhanallah anak ini..

Dan kalau saya renungkan, sebenarnya bukan bayinya yang rewel. Tapi ibunya. Kenapa? Ini beberapa analisa saya. Read the rest of this entry

Selamat ulang bulan ke lima, Haniya…

Alhamdulillah, putri kecilku tepat 5 bulan hari ini. Usia sekarang, menurut saya adalah masa-masa paling lucu. Sejak bayi lucu, sih, tapi setidaknya sekarang sudah sangat longgar untuk merawatnya. Sudah bisa mainan sendiri, bisa menonton TV, mengamati mainan musik yang diletakkan di atasnya, bisa tengkurap dan berguling-guling. Bagi ibu full time yang juga harus mengerjakan pekerjaan rumah yang lain, tentu ini sangat menyenangkan.

Masih ingat masa-masa menantang ketika Haniya baru lahir. Sama sekali tidak bisa ditinggal. Tidur pun saat siang tidak nyenyak, masih sangat sensitif terhadap suara. Dikit-dikit kaget. Hanya tidur nyenyak kalau dipangku. Setiap ditaruh, dalam kondisi bangun terus menerus memanggil-manggil bahkan menangis. Jujur saja, saya tidak tenang melihat bayi gelisah. Dan menurut saya, jika bayi dibiarkan saja saat gelisah, nantinya dia akan cengeng. Jadi sebisa mungkin saya usahakan Haniya tenang. Apalagi, bayi yang baru lahir masih terbawa ‘suasana’ saat masih dalam perut, hangat, seperti ditimang-timang.

Alhasil, karena kondisi tersebut, saya jadi memliki kemampuan ‘terpendam’. halah. :mrgreen: . Bagaimana tidak? memasak, menyapu, menjemur baju, beres-beres rumah, semua hanya dilakukan dengan tangan kanan. Tangan kiri tetap menggendong Haniya. Mungkin sedikit banyak, saya mulai mengamalkan wasiat Almh. Ustadzah Yoyoh Yusroh, “Tangan kirimu untuk menggoyang ayunan, dan tangan kanan untuk mengguncang dunia”. Alhamdulillah… hihi, maksa.

Lalu, bagaimana dengan aktivitas pribadi? hmm.. saya hanya butuh waktu setidaknya 5-15 menit saja, mencuri waktu saat Haniya tidur. Walaupun seringnya di tengah-tengah waktu tetap Haniya bangun, karena mendengar suara air. Seluruh aktifitas dari pagi, hingga suami pulang kerja saya kerjakan sambil menggendong Haniya. Dan ini berlangsung hingga hampir menginjak bulan ke dua. Sebab sejak itu, Haniya mulai nyenyak tidur siangnya, bisa bermain tangan sendiri, dan jauh lebih tenang.

Seru sekali masa-masa itu. Sibuk, tapi senang. Repot, tapi bahagia. Dari awal saya berpikiran, bahwa masa-masa itu pasti terlewati. Jadi tugas kita hanya bersabar dulu, merawat semaksimal mungkin yang kita bisa.

Dan subhanallah, di usia 5 bulan ini, Haniya benar-benar semakin menggemaskan. Tertawa, tengkurap, mengeluarkan suara yang terdengar seperti memanggil “Ibu.. Ibu..” yaah.. walau aslinya “hiibbbuuww… bbuuww..” :mrgreen:
Lucuu…sekali. Alhamdulillah.

berbagai ekspresi Haniya

(lagi…)

Kini, dia mengajariku..

terimakasih, Haniya... :-)

Kini, dia mengajariku untuk bersyukur
Bersyukur bahwa kehadirannya adalah anugerah tak terkira, bersyukur bahwa kesehatannya, kesempurnaan fisiknya adalah hadiah terindah dari Nya.

Kini, dia mengajariku untuk bersabar
karena dia tidak begitu saja terlahir menjadi wanita cerdas, tangguh dan sholehah. Tapi dia berawal dari bayi kecil tak berdaya..

Kini, dia mengajariku untuk tenang
Dia hanyalah makhluk kecil yang polos. Tapi juga ratu kecil yang manja. Biarkan dia merajuk, menangis, tertawa, karena semua adalah proses belajarnya..

Kini, dia mengajariku untuk kuat
dia menggantungkan semua padaku, melakukan semuanya, bahkan bagian dari dirikulah yang membuatnya bertambah gemuk dan besar.. aku kuat maka begitupun ia..

Kini dia mengajariku untuk ikhlas
meski kadang raga lelah, mengantuk, tapi tidak ada waktu untuk mengeluh. biarkan lelah-lelah itu menjadi pemberat amal, biarkan Allah menggantinya dengan kenikmatan surga yang kekal, dan inilah saat yang tepat untuk menggapai pahala sebanyak-banyaknya.. Read the rest of this entry

New Mom’s Challenges

New mom, with a new born baby, itulah saya. :mrgreen:

Alhamdulillah sejauh ini, tiga minggu menangani Haniya, semua  lancar. Intinya setiap hal baru yang saya hadapi adalah sebuah tantangan. Yup.. ini adalah pengalaman pertama dengan bayi ‘newborn’ atau bayi yang baru lahir. Saya memang punya banyak  keponakan, dan begitu lahir tinggal sementara di rumah, tapi saya tidak pernah ‘menangani’ langsung mereka. Hanya melihat saja. Tapi ternyata bekal melihat itu berguna sekali :-)

Semua yang saya lihat dulu benar-benar terekam dalam memori saya, dan menjadi modal saya menangani Haniya. Saya menyebut hal-hal baru itu adalah ‘tantangan’. Yup, it’s a challenge, New Mom’s challenge. Mau tidak mau harus dihadapi. Begitu Haniya sampai rumah setelah dari rumah sakit, tantangan pertama adalah membuat dia tidur. Mudah? mm.. awalnya memang belum begitu. Bingung juga, ketika mendapati bayi kita menangis dan tidak kunjung tidur. Tapi, pada dasarnya bayi menangis tidak jauh-jauh dari 4 hal; haus, pup, terlalu dingin atau terlalu panas, dan ingin ditimang-timang. Tidak jauh dari itu. Jadi, kalau penanganan satu per satu sudah, kok masih melek-melek saja, itu tandanya memang waktu bayi untuk bangun. Begitu… (sejauh ini siy berlaku.. :mrgreen: insya Allah seterusnya lah..)

hmm,, while she was sleeping.. :-)

Tantangan ke dua adalah memandikan. Jika saya ditanya, sudah pernah memandikan bayi sebelumnya? jawabannya : belum. Haniya adalah ‘bahan praktek’ pertama saya. Tapi ya itu tadi, saya sudah sering melihat keponakan-keponakan saya dimandikan, ketika masih bayi sekali. Ibarat teksbook, rekaman peristiwa yang saya ingat, jadi nara sumber yang saya pakai untuk melewati tantangan ini. Bagaimana memegang, mengusap, memberi sabun, dsb. Sambil mencoba tenang, enjoy, dan sambil bernyanyi-nyanyi. Ternyata, beberapa hari Read the rest of this entry

Teringat Mereka

Box bayi itu terlalu sempit…!

itulah kata yang berkali-kali terlontar di benak saya. Rasanya ingin sekali mengambil bayi laki-laki putih dan tampan itu keluar dari sana, kemudian menggendongnya, dan meletakkan dia di tempat yang lebih layak. di tempat yang cukup untuk dia berguling-guling dan belajar tengkurap.

Tapi memang mereka dilarang digendong, dan di sana tidak ada tempat khusus bagi bayi usia 3 atau 4 bulan an untuk bermain. Saya tidak melihat ada mainan. Yang saya lihat hanyalah botol susu yang hampir habis isinya, guling dan bantal yang tidak cukup untuk melindungi kepala Ari, nama bayi tadi, saat dia berguling-guling. Berkali-kali kepalanya terbentur terali sampai-sampai mengeluarkan suara yang cukup keras.

Ah.. boks bayi itu terlalu kecil…

Sejenak saya termenung ke arah Ari kecil, kemudian ke sekeliling dia. Beberapa boks bayi ada di sana. Di dalamnya? tentulah bayi-bayi yang lain, dengan berbagai usia. Saya membayangkan, ketika saya keluar dari ruangan itu, mereka akan bermain dengan siapa? atap saja yang bisa mereka lihat. kecuali mereka ingin suasana baru, kemudian tengkurap. tapi selebihnya? Padahal si Zaki dan Hamzah (dua keponakan saya) saat seusia mereka tidak pernah sedetikpun terlepas dari timang-timang maupun sekedar diajak tertawa. Huhh.. Tapi barangkali ada malaikat yang berbaik hati menemani mereka saat tidak ada orang.. :-)

itulah kondisi Yayasan Penitipan Anak dan Balita saat saya ke sana beberapa waktu yang lalu. Sungguh, saya dan kawan saya begitu berat untuk beranjak dari sana. Begitu berat untuk meninggalkan Ahmad, bayi berusia hampir satu tahun yang mengigau karena badannya yang panas. Dan hanya boks bayi dan sebotol susu yang menemani dia. (apa saya yang berlebihan ya?) Tapi, begitulah kondisinya. Tempat penitipan bayi dan balita. Entahlah, apakah istilah ‘penitipan’ bisa menjadi sebuah pembenaran. Pembenaran bagi orang tua mereka yang ‘melepaskan’ mereka, dengan alasan tidak siap merawat lah, sibuk lah, atau mungkin lebih parah tidak mengharapkan kehadiran mereka (na’udzubillah..). Read the rest of this entry

Hamzah

hamzah

hamzah

Tingginya tidak sampai satu meter. Ya jelas, usianya saja baru 16 bulan tanggal 18 besok. Artinya, masih usia lucu-lucunya untuk kelas balita cowok kecil yang baru saja menikmati dunia. Tapi, dia memiliki berat yang berlebih. 13 kilo. Standar di atas normal lah untuk anak kecil seusia dia. Maklum, selera makannya memang luar biasa.

Bagian yang paling saya sukai dari dia adalah matanya. Entahlah, saat bercanda dan melihat matanya, saya seperti sedang berdiskusi dengan teman sekampus, atau kerabat dekat yang sudah terbiasa saya ajak membicarakan banyak hal. Meskipun dia menanggapi bahasa saya dengan kalimat yang terlontar sekenanya dari bibir kecilnya.

“Ham, itu kura-kura.. dia baru seneng nih berenang bareng temen-temennya.”

“Ajtca.. atja ca ca..”

Read the rest of this entry

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 30 pengikut lainnya.