Arsip Blog

Waktu yang tak berulang..

Sekitar sepekan yang lalu saya baru mengetahui bahwa putri kecil saya mulai tumbuh gigi. Suprise rasanya. Wah.. bayi mungilku sudah besar. Berlebihan sih, untuk mengatakan bahwa dia sudah besar.
Tapi rasanya tetap benar-benar takjub.
Bulan ini memang Haniya sudah saya perkenalkan dengan makanan, karena usianya sudah menginjak 6 bulan. Kombinasi antara MPASI (Makanan Penunjang ASI) dan BLW (Baby Led Weaning). Walaupun Haniya belum sanggup untuk duduk sendiri, tapi saya tetap mengusahakan untuk BLW. Saya pikir, daripada dia mengigiti sembarang benda, lebih baik buah-buahan saja. Begitu.
Bukan cuma gigi yang tumbuh, tapi Haniya juga mulai mengangkat pantatnya ketika tengkurap. Artinya dia mulai belajar untuk merangkak dan duduk..
Waw..
Mengamati sejak dia mulai miring, kemudian tengkurap, guling-guling, lalu sekarang mulai akan merangkak semuanya alami..
Bayi sebenarnya tahu kapan dia harus melalui semua tahap itu. Saya yakin itu.
Saya melihatnya ketika Haniya mulai menaruh-naruh kepalanya ke sisi samping tubuhnya saat dia tengkurap. Saya pikir “Ini anak ngapain.. apa mau merasakan kerasnya lantai atau karpet?”
Dan dia terus mengulanginya.
Beberapa kali mencoba, tangan mulai dia angkat, lalu kakinya mendorong hingga tubuhnya berbalik. Hap. Dari posisi tengkurap sukses balik menjadi telentang.
Alami! ya.. Subhanallah.
Sempat dulu saya mengira bahwa bayi belajar seperti kita, melihat, atau memahami teori dulu, baru praktek. Tapi dengan melihat Haniya, saya paham, itu namanya insting.
Jadi, ibu-ibu, jangan khawatir kalau melihat umur sekian bayi kita belum ini atau itu.. Sebab artinya memang dia belum ingin. Dan belum saatnya. Tetap saja beri perhatian yang cukup, suasana lingukungan yang ceria, motivasi, serta reward setiap berhasil melakukan sesuatu. Dia pasti akan berlatih dengan instingnya.. benar-benar Maha Besar Allah dengan segala ciptaanNya..

Dan masa-masa ini, tidak akan pernah bisa kita ulang. Saat ini mungkin Haniya baru bisa mengoceh “Abbuw wa..wa..wa..” tapi suatu saat dia bisa berbeda pendapat dengan kita tentang hidup.

Saat ini dia baru berlatih untuk merangkak, suatu hari nanti dia akan menjelajah dunia dengan pasangan hidupnya, teman-temannya..

Saat ini dia hanya bisa tertawa dengan hiburan yang kita beri, tapi nanti dia mungkin akan membuat kita menangis terharu karena prestasi-prestasinya..

Singkatnya menjadi orang tua. Read the rest of this entry

Selamat ulang bulan ke lima, Haniya…

Alhamdulillah, putri kecilku tepat 5 bulan hari ini. Usia sekarang, menurut saya adalah masa-masa paling lucu. Sejak bayi lucu, sih, tapi setidaknya sekarang sudah sangat longgar untuk merawatnya. Sudah bisa mainan sendiri, bisa menonton TV, mengamati mainan musik yang diletakkan di atasnya, bisa tengkurap dan berguling-guling. Bagi ibu full time yang juga harus mengerjakan pekerjaan rumah yang lain, tentu ini sangat menyenangkan.

Masih ingat masa-masa menantang ketika Haniya baru lahir. Sama sekali tidak bisa ditinggal. Tidur pun saat siang tidak nyenyak, masih sangat sensitif terhadap suara. Dikit-dikit kaget. Hanya tidur nyenyak kalau dipangku. Setiap ditaruh, dalam kondisi bangun terus menerus memanggil-manggil bahkan menangis. Jujur saja, saya tidak tenang melihat bayi gelisah. Dan menurut saya, jika bayi dibiarkan saja saat gelisah, nantinya dia akan cengeng. Jadi sebisa mungkin saya usahakan Haniya tenang. Apalagi, bayi yang baru lahir masih terbawa ‘suasana’ saat masih dalam perut, hangat, seperti ditimang-timang.

Alhasil, karena kondisi tersebut, saya jadi memliki kemampuan ‘terpendam’. halah. :mrgreen: . Bagaimana tidak? memasak, menyapu, menjemur baju, beres-beres rumah, semua hanya dilakukan dengan tangan kanan. Tangan kiri tetap menggendong Haniya. Mungkin sedikit banyak, saya mulai mengamalkan wasiat Almh. Ustadzah Yoyoh Yusroh, “Tangan kirimu untuk menggoyang ayunan, dan tangan kanan untuk mengguncang dunia”. Alhamdulillah… hihi, maksa.

Lalu, bagaimana dengan aktivitas pribadi? hmm.. saya hanya butuh waktu setidaknya 5-15 menit saja, mencuri waktu saat Haniya tidur. Walaupun seringnya di tengah-tengah waktu tetap Haniya bangun, karena mendengar suara air. Seluruh aktifitas dari pagi, hingga suami pulang kerja saya kerjakan sambil menggendong Haniya. Dan ini berlangsung hingga hampir menginjak bulan ke dua. Sebab sejak itu, Haniya mulai nyenyak tidur siangnya, bisa bermain tangan sendiri, dan jauh lebih tenang.

Seru sekali masa-masa itu. Sibuk, tapi senang. Repot, tapi bahagia. Dari awal saya berpikiran, bahwa masa-masa itu pasti terlewati. Jadi tugas kita hanya bersabar dulu, merawat semaksimal mungkin yang kita bisa.

Dan subhanallah, di usia 5 bulan ini, Haniya benar-benar semakin menggemaskan. Tertawa, tengkurap, mengeluarkan suara yang terdengar seperti memanggil “Ibu.. Ibu..” yaah.. walau aslinya “hiibbbuuww… bbuuww..” :mrgreen:
Lucuu…sekali. Alhamdulillah.

berbagai ekspresi Haniya

(lagi…)

Happy 2nd Anniversary for us :)

Tanggal ini, dua tahun yang lalu..

Alhamdulillah, ternyata kami telah melalui hari-hari yang luar biasa selama 2 tahun lamanya.. bersama..

Dan kini, di tengah kami sudah ada putri kecil yang lucu, yang menambah lengkap seluruh rasa syukur yang ada..

Semoga tetap sakinah, selamanya.. aamiiiin…..

Jeddah, 6 Februari 2012

Semoga sakinah selamanya, yaaa... :-)

Selamat Datang, Putri Kecilku….

Hari pertama hanya berdua dengan si kecil, suami sudah mulai masuk kerja. Mumpung si pipi tembem sedang tidur, saatnya ibunya ngeblog. hehe.. :mrgreen:

Hari ini putri kecil saya genap berusia satu minggu. Alhamdulillah, akhirnya yang ditunggu-tunggu hadir juga.. Tanggal 8 Oktober 2011, sepekan yang lalu, dia lahir ke dunia, melihat kami, orang tuanya, memulai lembaran hidup dan kisahnya yang penuh warna..

Selamat datang, putri kecilku…

Seperti kebanyakan ibu, saya pikir, pasti ingin melahirkan dengan proses normal. Biar bisa cepat pulih, dan beraktifitas kembali, katanya. Begitupun saya. Hingga minggu ke 39 kehamilan, saya masih optimis akan melahirkan tanpa operasi. Terakhir periksa ke Polyclinic Ibnu Sina, tempat saya kontrol selama kehamilan di Jeddah ini, dokter mengatakan posisi bayi bagus, kondisi ibu juga bagus. Meski sempat harus tranfusi empat kali karena HB saya jauh dibawah normal. Tapi tanggal 1 Oktober 2011 setelah cek darah dan urin, kondisi saya bagus. Kata dr. Mervat, obgyn langganan saya di Polyclinic tersebut, dokter wanita yang ramah berkewarganegaraan Mesir, saya siap untuk melahirkan normal. Kira-kira satu minggu lagi, insya Allah. Leganya hati kami saat itu. Sebab saya khawatir HB saya masih rendah, yang efeknya sangat berbahaya bagi ibu dan bayi.

Karena saya dan suami sepakat untuk melahirkan di Rumah Sakit saja, akhirnya kami minta surat rujukan dari Dr. Mervat. Harapan kami, pelayanan lebih bagus, administrasi si kecil juga nantinya akan mudah.

Surat rujukan kami terima, lima hari kemudian, kamis, 6 Oktober 2011 kami menuju Saudi German Hospital. Menemui dokter kandungan disana, supaya nanti tiba saatnya melahirkan, kami sudah bertemu sebelumnya. Kami memilih dokter wanita, biar nyaman, tentunya. Disana kami akhirnya bertemu dr. Ameera. Lumayan masih muda. Kata suami, nampaknya sang dokter orang Lebanon. Iya, soalnya kelihatan bukan wajah lokal Saudi.  Oleh dokter saya diperiksa, USG, dan… lingkar kepala bayi saya terlalu besar!!!. “Your baby’s head it too large for your Pelvis..” begitu kata dokter. Panjang, sih penjelasannya, tapi itu intinya. hehe.. (maklum, konsultasinya pake bahasa Inggris..   :mrgreen:  )
Kata dokter tidak berani untuk berspekulasi. Bayi juga masih terlalu atas, sedang due date saya tinggal beberapa hari lagi. Untuk meyakinkan, saya diminta tes USG lebih detail. Dan setelah tahu hasilnya, ternyata benar, tercatat berat bayi saya 3,86 kg! yup, dokter semakin yakin, saya harus caesar.
Kaget juga waktu itu, pikiran kemana-mana, yang paling membuat saya khawatir adalah lama pemulihan. Tapi mau bagaimana lagi, kalau mau memaksa dokter, gimana kalo saya disuruh melahirkan sendiri coba? dan yang jelas, sugesti positif yang selama ini terbangun untuk melahirkan normal akhirnya runtuh.. Bismillah, akhirnya kami membuat janji untuk caesar..

Dokter memilih untuk secepatnya, takutnya saya sudah mengalami ‘pain for labor’ sebelum operasi. jadi lebih baik secepatnya. Toh, due date nya sudah dekat. Akhirnyaa… ditentukanlah sabtu pagi jam 10. Tapi Jumat malam saya diminta sudah check in di RS. Untuk persiapan operasi.

Hari Jumat, pas suami libur kerja, jadi pagi kami bisa packing, persiapan, malamnya kami menuju ke RS. Alhamdulillah, pelayanan di RS Saudi German oke sekali. Jadi saya dan suami tenang untuk menyambut waktu operasi. Malam itu saya sudah harus puasa, dan perawat sudah wira-wiri, untuk mengecek kondisi saya, memasangkan baju operasi, memberi tempat infus di tangan, dsb. Sedikit insiden kecil malam itu, karena mungkin tangan saya sudah tidak fleksibel untuk bergerak, jari saya sempat terkena silet waktu di kamar mandi. Darah segar mengucur ke mana-mana. Sampai ke lantai kamar mandi. Hiiiy.. ngeri juga waktu itu. tapi alhamdulillah hanya luka kecil. Fiuh…. And time for sleeping.. prepare for the important Saturday.

sampai rumah sakit, sempatin memfoto diri.. hari terakhir hamil pertama :-)

berasa hotel.. hehe.. padahal mau operasi :D

Hari Sabtu. Yang ditunggu-tunggu. Sholat subuh, tilawah, minta doa orang tua di rumah, dan bersiap operasi.

Jam 10 tepat saya akhirnya dijemput suster menuju ruang operasi. Sambil menaiki kursi roda, saya diantar dua suster. Dari Filipina, tentunya. Disini memang hampir semua perawat adalah orang filipina. Menuju ruang operasi, saya mencoba tenang. Suami cuma mengantar sampai kamar, hiks, karena memang tidak diperbolehkan masuk ruang operasi. Lagipula barang-barang di kamar tidak ada yang menunggu.. Tiga jam, kata suster proses saya melahirkan dan recovery nantinya.
Sampai kamar operasi, saya lihat dr. Ameera sudah menunggu disitu. Beliau menyapa saya sambil tersenyum”How are you? ready?” “I’m fine.. ready insya Allah..

Saya mulai berbaring di kasur operasi, lampu besar sudah terpasang di atas saya,, perawat, dokter-dokter mulai bersiap, sibuk sekali mereka saat itu. Saya yang sudah berbaring, mulai pasrah dan siap untuk dieksekusi. Seorang dokter laki-laki tinggi besar menginterogasi saya. Pake bahasa inggris, pokoknya intinya ditanyai ada riwayat hipertensikah, pernah operasi sebelumnya kah, dsb. Setelah itu, tangan saya kanan kiri mulai dibentangkan disamping, dipasang infus dan darah tranfusi, mungkin, dan tiba-tiba dari atas ada dokter yang memasangkan oksigen ke wajah saya, menuntun saya mengucap basmallah, dan doa-doa apa saya kurang tau. Itu doa atau beliau ngomong bahasa Arab juga ga da bedanya.. hehe :mrgreen: yang saya tau basmallahnya saja. Daripada saya bingung menirukan ato bilang “aamiin..aamiin..” mending saya doa sendiri. Saya mengucap syahadat berkali-kali, kemudian nafas saya mulai teratur..dan… saya tidak ingat lagi.

Tiba-tiba wajah saya sudah ditepuk-tepuk, dan dipanggil “Madam Sonia..Madam Sonia…” dan badan saya langsung menggigil. Tangan saya mengepal kencang. Terasa sekali saat tiba-tiba orang disekitar menghitung “one.. two.. three..” dan badan saya langsung terangkat, dipindah ke kasur sebelah. Dan saya langsung sadar, perut saya nyeriiiiii sekali. Subhanallah rasanya. Benar-benar nyeri. Luar biasa.. Sampai saya mengerang kesakitan..
Akhirnya saya di bawa ke sebuah bilik. Nampaknya saya bukan satu-satunya pasien disitu. Soalnya di samping saya, dibalik tirai terdengar ibu-ibu yang teriak-teriak “Ya Allah.. Ya Habibi.. Ya Rasul.. ” sambil terus mengerang.. deuh,,, mungkin beliau juga habis dioperasi kayak saya. Di kejauhan juga saya dengar wanita yang berteriak-teriak, bapak-bapak juga. (loh??) entahlah, yang jelas, saat itu saya juga ingin berteriak. Tapi sakit juga kalo teriak. Akhirnya saya memilih dzikir saja. pelan.. Alfatikhah, 3 surat terakhir albaqarah, istighfar, dsb. Dan ternyata cukup sedikit menghilangkan sakit yang luar biasa di perut saya.
Sambil mengerang juga, saya memohon-mohon pada suster untuk minta obat. Soalnya saya kira bius saya habis waktu itu. Dalam hati : tega bener, ni.. ga dibius kali ya.. Saya mencoba bilang ke suster : “please give me medicine.. it’s painfull..” berkali-kali. (btw, dalam kondisi kayak gitu structure bahasa inggris boleh kacau doong.. hehe :mrgreen: ) jawab suster “yes, madam.. bla..bla..bla.. ” seterusnya saya gak mudeng artinya apa. hihi
sempat juga saya menanyakan : “where is my baby..?” sebab saya yakin perut saya sudah tidak ada bayinya waktu itu. jadi pasti saya sudah melahirkan.. jawab suster : “your baby is in the recovery room now.. she’s fine..” ah… lega.. ternyata saya benar-benar sudah melahirkan… alhamdulillah, Ya Rabb….. Saat itu saya juga menggigil, saya bilang ke suster “I’m cold..” dan suster pun menyelimuti saya hingga dobel 2 selimut, plus memberi lampu penghangat ke tubuh saya.

beberapa menit kemudian, akhirnya saya dibawa ke kamar. Disana sudah menunggu suami saya yang berkali-berkali mengucapkan “alhamdulillah,, Ya Allah.. kau benar-benar pahlawanku, sayang..” hihihi.. jadi malu.. kayaknya sih bilangnya begitu. Nggak tau kalau saya salah dengar.
Yang jelas setelah saya bertemu suami saya langsung bilang.. “Mas,.. sakit...” :-D Read the rest of this entry

Menjadi Wanita

wahai manusia..

bayangkan jika tidak ada wanita yang bersedia menjadikan rahimnya tempatmu sebelum nyawa ditiupkan kepadamu, sebelum dunia menyambutmu..

bayangkan jika mereka malas dan enggan untuk merasakan betapa payahnya mengandung, betapa sakitnya melahirkan, betapa lelahnya merawatmu…

bayangkan jika mereka memilih untuk tetap langsing dan menarik selamanya, tanpa pernah menjadi gemuk dan tidak menarik ketika kau di rahimnya..

sebuah perenungan..

merasakan kondisi raga yang seakan asing… 24 tahun memilikinya, tapi belum pernah sepayah ini. alangkah luar biasanya..

jika mungkin bisa memilih, dan memotong waktu.. maka waktu antara pernikahan, dan memiliki anak bisa dilewatkan saja. bayangan memiliki bayi mungil yang keluar dari rahim kita, tidak sabar rasanya..

tapi bukan itu, ada rasa yang mengagumkan dari proses ini. menyadarinya hadir, meski dengan kepayahan, terselip rasa bangga. “aku akan menjadi ‘ibu’ dari dia yang nanti kusebut ‘anakku’…” merasakan denyut jantungnya, tendangannya, geli-geli kecil karena gerakannya, mengamati hari per hari pertumbuhannya.. Read the rest of this entry

Sejak Anugerah itu Hadir

Tepat setahun pernikahan kami, saya menyadari, bahwa sedang ada yang tumbuh di rahim saya.

Alhamdulillah. Anugerah luar biasa. Hingga bulan ke dua ini saya begitu menikmatinya (menikmati mual yang tak kunjung hilang, salah satunya. hehe).

Begitu nikmat, begitu bahagia. Hingga semua website-website tentang ibu hamil saya kunjungi. Mengamati artikel tentang perkembangan janin dari minggu ke minggu.

Di awal-awal begini, rasanya masih belum begitu menyadari bahwa saya sedang mengandung. Kecuali haid yang tidak lagi datang, selera makan bertambah, rasa kantuk yang semakin sering (lebih sering dari saat belum hamil..hehe.. hebat, kan? :-) ), dan tentu saja, yang sekarang sedang saya nikmati : m.u.a.l. Read the rest of this entry

Saya malu, ukhti…

Saya benar-benar malu pada nya. Ketika saya terpuruk, dan protes pada nasib, Allah mempertemukan saya dengan akhwat  ini.

Kadang saya berpikir “Ya, Allah.. saya hanya ingin segera bertemu dengan suami saya. Secepatnya. Toh, bumi akan tetap berputar jika kami segera bertemu.. tapi kenapa Kau siksa kami dengan jarak dan waktu ini,.. Ya Rabb..”

hmm.. rintihan putus asa, yang tidak berguna ternyata. Dibandingkan akhwat yang saya temui, saya jaaauh lebih beruntung. Ada batas waktu. Dan ruang.

Sebenarnya saya tidak tega untuk menuliskan ini. Tapi padanya, saya merasa malu. Padanya, saya merasa saya bukan orang yang bersyukur.

Ketika saya mengatakan 3 bulan itu sangat lama, dia mengatakan “Hidup ini singkat, ukh..” ya… betapa tidak bersyukurnya saya..

Saya masih memiliki hitungan bulan, hari, tanggal.. untuk bertemu lagi dengan belahan hati saya. Saya masih bisa mendengar suaranya, menatap wajahnya meski terbatasi layar, merencanakan masa depan yang masih bisa kami tatap, merasakan kehadirannya..nyata..

hm.. saya tetap tidak berani menuliskannya, ternyata..

“Terima kasih, ukhti.. kau membuatku merasa lebih menghargai nikmat ini….” Read the rest of this entry

Memangnya kalo nggak pacaran, kenapa sih?

Penasaran saya.

Wara wiri di jejaring sosial membuat saya jadi melihat ‘timbul tenggelamnya’ status anak muda jaman sekarang.

Status disini bukan postingan, tapi status yang berupa ‘in relationship with, engaged with, married with,..” ato bahasa Indonesianya “berpacaran dengan, bertunangan dengan, menikah dengan..”

apa ya yang dibanggakan oleh orang yang di fb nya terpampang “berpacaran dengan fulan/fulanah” (di luar kasus mereka yang sebenarnya sudah menikah, tapi ingin lebih asyik sengaja memasangnya sebagai ‘berpacaran’).

Apakah bangga, apakah keren, apakah terlihat lebih laku daripada mereka yang memasang status ‘lajang’, dengan usia yang masih belasan ato dua puluhan? hmm.. apakah seperti itu membanggakan?

Kalo saya justru menganggap itu bahan olok2an saja. Bayangkan, kalau sebulan statusnya berubah-rubah, lajang-berpacaran-lajang-berpacaran dst.. dengan nama yang berbeda-beda pula. Beuh… kayak piala aja digilir…

Dan seluruh dunia tau (minimal orang-orang di daftar friendlistnya), kalo si A sudah “BEKAS” nya si B, si C, si D,…

itu membanggakankah?hmm…….

Sungguh, besar sekali efek yang ditimbulkan media, infotainment, sinetron, film, majalah. Yang berkali-kali memblow up pasangan yang berpacaran, yang digambarkan enak-enak, ada yang memberi perhatian, menemani kemana-mana, ‘yank-yank’ an di wall, biar seluruh dunia tahu,, (haduh….)

Ini penyakit menurut saya. Bukan perkara pacaran yang ada batasannya ataukah masih nggak neko2, kalo pada yang pengen beralasan. Tapi ini masalah etika, moral dan kebiasaan.

Apa yang anda pikirkan tentang pacaran?

berduaan.Boncengan.  Gandengan. Cium-an. Pegang-pegangan. Peluk-pelukan. dan yang sampai pada batas maksimal adalah : mamah-papah an (lebih dari panggilan, tentunya)

astaghfirullah….

Tidak heran kalau baru saja teman saya, seorang bidan memberi kesaksian langsung pada saya : Read the rest of this entry

Rahasia Jodoh, Rahasia Allah SWT

Kadangkala aku bertanya di mana cinta berada
Tersembunyi tiada kunjung menghampiri
Dua angsa memadu rindu di danau biru bercumbu
Pagut sepi ku di sini letih hati

Begitu jauh waktu kutempuh
Sendiri mengayun biduk kecil
Hampa berlayar, akankah berlabuh
Hanya diam menjawab kerisauan

Kadangkala aku berkhayal seorang di ujung sana
Juga tengah menanti tiba saatnya

Begitu ingin berbagi batin
Mengarungi hari yang berwarna
Di mana dia pasangan jiwaku
Ku mengejar bayangan

Begitu jauh waktu kutempuh
Sendiri mengayun biduk kecil
Hampa berlayar, akankah berlabuh
Hanya diam menjawab kerisauan

(Katon Bagaskara, Pasangan Jiwa)

Mendengar curhatan kawan saya akhir-akhir ini, meresapi tema-tema diskusi yang menghiasi obrolan santai akhwat-akhwat seangkatan… nampaknya lagu ini lumayan mewakili.. :-)

Sebuah keresahan yang mendalam, sebuah penantian yang seolah tanpa ujung,.. dan yang terpenting.. sebuah pertanyaan yang benar-benar membuat penasaran setengah mati : Kapan, dimana, dan DENGAN SIAPA???

Barangkali itu pula yang juga saya rasakan 4 bulan yang lalu, ketika sebuah nama yang sekarang menghiasi cincin di jari saya belum hadir dalam kehidupan saya. Ketika doa-doa sebagai ikhtiar utama telah teramat sering terpanjatkan, namun tak juga muncul sebuah NAMA.. (nama saja belum, apalagi kapan dan dimana..??? :P ) hmm,… kalau mengingat-ingat masa itu, rasanya gemes, dan berfikir, “Ya Rabb,…sungguh..  jodoh itu adalah rahasiaMu yang paling luar biasa..”

Bagaimana tidak? sebagai seorang yang aktif untuk mengikuti pengajian rutin, dan paham batasan interaksi laki-laki dan perempuan, gambaran pasangan hidup benar-benar tidak terpikirkan sama sekali. Gambaran bahwa nantinya akan ada lawan jenis yang halal bagi kita, setiap saat bersama kita, yang boleh kita cintai, boleh kita sentuh, boleh berkhalwat.. hiiiiiiy…..

Dan sekali lagi manusia tidak dapat mengintip takdir itu. Sedikitpun.

Ibarat jawaban dalam ujian, hanya mengintip ‘inisial huruf awal’ saja tidak bisa, benar-benar tidak bisa.. bahkan jawaban itu hanya akan diketahui sesaat setelah  penghulu mengucapkan kata : “Sah..?Sah…? SAH…..!!!! “

saat itulah batasan yang sebelumnya haram menjadi halal, yang sebelumnya meresahkan menjadi sangat indah… luar biasa….

Saya memahami perasaan kawan-kawan saya yang sampai sekarang masih menanti. Apalagi yang benar-benar menjaga prinsip bahwa “makanan yang paling nikmat adalah makanan saat berbuka puasa” (kata makanan di sini tentu saja diartikan sebagai penyaluran fithrah seseorang sebagai manusia biasa). Mereka melaluinya dengan sikap yang berbeda-beda. Ada yang memang terang-terangan memperlihatkan keresahannya, lewat update status di facebook, lewat notes, lewat sindiran-sindiran, dan sebagainya.. Ada juga yang tampak santai dan bersahaja, namun dalam hati juga mulai gelisah dan berharap, ada yang telah melalui ikhtiar untuk ‘meminta’ pada Murobbi, ada yang telah merasa siap tapi tidak tahu bagaimana cara untuk melangkah….

Read the rest of this entry

Torehan Kata

Bismillahirrahmanirrahim…

Mencoba menjelajah dunia maya di sepertiga malam terakhir, kemudian izinkan saya untuk sedikit berekspresi lewat tulisan…

Hm..bicara tentang ‘penjelajahan malam’,  memori kembali ke peristiwa beberapa waktu yang lalu saat sebuah kalimat terlontar : “akhwat kok update blog jam 1 malam..” di depan sebuah forum. Tidak mengarah, tapi membuat saya tersindir.. Beribu pertanyaan mendera, “Mana yang salah ya? saya tidak keluar rumah sendirian.. tidak ada syariat yang melarangnya..” tapi kemudian saya mendapatkan jawaban : “Sonia, kan lebih baik jam segitu Qiyamu Lail… “

OOh… begitu  maksudnya… hm…. apa saya juga harus tuliskan juga ya : “Saya update blog di rumah, dan setelah itu saya qiyamul lail..” hehe.. :-) ah… tetap saja pembelaan apapun saya saat itu tetap saja saya salah.  Tapi tidak penting ding… itu masa lalu..

masa lalu yang melibatkan seluruh persepsi, berputar di sekeliling saya, dan saya hanya diam di tengahnya. Tak bisa berbuat apa-apa. Tidak ada tabayyun.. Sakit..

Ah… tapi tak apalah. Itu masa lalu.. Saya sudah lupa rasa saat itu. Yang tersisa hanya trauma saja, itu pun sedikit…

Dan sekarang yang terpenting adalah, ada satu fase kebahagiaan yang ingin saya ceritakan. Kebahagiaan yang teramat sangat. Bahagia yang belum pernah saya rasakan sebelumnya. Bahagia yang membuat saya tidak bisa tidur beberapa malam, dan akhirnya justru membuat saya takut dan berucap : Read the rest of this entry

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 30 pengikut lainnya.