Arsip Blog

Anak ; Amanah dan Investasi

Anak itu investasi. Jadi wajar kalau saya, sebagai seorang ibu, begitu concern soal moral.

Bisakah kita membayangkan dua puluh tahun ke depan, tiga puluh tahun ke depan, apa yang terjadi dengan teknologi internet? gaya hidup anak muda? bahasa, gaya berpakaian?

Orang tua kita mungkin tidak terpikirkan sama sekali bahwa sekarang melihat video bisa di sembarang tempat melalui alat kecil bernama HP ato Ipad. Padahal dulu mereka nonton saja harus di bioskop. Atau kalau kaya dikit bisa menonton melalui piringan hitam dan kaset video.

Mereka juga tidak menyangka kalau berkomunikasi lintas negara bisa semudah sekarang. Dimanapun, kapanpun, bahkan bisa face to face. Sedang mereka dulu menunggu berminggu-minggu hanya sekedar bisa tahu kabar saudara mereka di luar pulau.

Jadi, bagaimana nanti dengan anak kita?

Kaget rasanya membaca tweet seorang aktivis liberal mengatakan “Sering ditanya, kalau anak anda gay, lesbian, Ahmadiyah dst, apakah anda akan biarkan. Jawaban saya pasti, ya, akan saya biarkan.”

Naudzubillahimindzalik.

Bersyukur saya tidak memiliki bapak seperti dia. Bahkan seorang anak pun sebenarnya ‘ingin’ di arahkan mana yang benar, mana yang salah. Mana yang Haq dan mana yang Bathil. Oleh siapa? orang tuanya sendiri.

Madrasah pertama seorang anak sebenarnya adalah orang tuanya. Bukan pesantren ataupun sekolah. Itu adalah penunjang, bukan utama. Pendidikan moral, akhlak, aqidah, bersikap jujur dan tanggung jawab, anak dapatkan dari orang tuanya.

Anak adalah harta berharga :)

Itulah mengapa sebenarnya pola pengasuhan terbaik bukan pada ‘seberapa sering nasihat diberikan pada anak’, tapi pada ‘seberapa baik teladan orang tua pada anak’.

Kelak, ‘anak yang sholeh yang mendoakan kedua orang tuanya’ adalah salah satu amal yang tidak akan terputus ketika kita sudah meninggal. Itulah investasi kita. Investasi akhirat. Pahalanya mengalir, meski kita sudah tidak bisa beramal. Kebaikannya akan menambah berat timbangan kita di Yaumul Hisab.

Anak juga amanah. Mereka dititipkan pada kita, untuk dimintai pertanggung jawaban nantinya. Baguskah pemeliharaannya, halalkah nafkah yang diberikan padanya.. Berat? memang. Tapi hasilnya manis, jika kita serius menjaganya.

Mungkin Read the rest of this entry

Saya malu, ukhti…

Saya benar-benar malu pada nya. Ketika saya terpuruk, dan protes pada nasib, Allah mempertemukan saya dengan akhwat  ini.

Kadang saya berpikir “Ya, Allah.. saya hanya ingin segera bertemu dengan suami saya. Secepatnya. Toh, bumi akan tetap berputar jika kami segera bertemu.. tapi kenapa Kau siksa kami dengan jarak dan waktu ini,.. Ya Rabb..”

hmm.. rintihan putus asa, yang tidak berguna ternyata. Dibandingkan akhwat yang saya temui, saya jaaauh lebih beruntung. Ada batas waktu. Dan ruang.

Sebenarnya saya tidak tega untuk menuliskan ini. Tapi padanya, saya merasa malu. Padanya, saya merasa saya bukan orang yang bersyukur.

Ketika saya mengatakan 3 bulan itu sangat lama, dia mengatakan “Hidup ini singkat, ukh..” ya… betapa tidak bersyukurnya saya..

Saya masih memiliki hitungan bulan, hari, tanggal.. untuk bertemu lagi dengan belahan hati saya. Saya masih bisa mendengar suaranya, menatap wajahnya meski terbatasi layar, merencanakan masa depan yang masih bisa kami tatap, merasakan kehadirannya..nyata..

hm.. saya tetap tidak berani menuliskannya, ternyata..

“Terima kasih, ukhti.. kau membuatku merasa lebih menghargai nikmat ini….” Read the rest of this entry

Memangnya kalo nggak pacaran, kenapa sih?

Penasaran saya.

Wara wiri di jejaring sosial membuat saya jadi melihat ‘timbul tenggelamnya’ status anak muda jaman sekarang.

Status disini bukan postingan, tapi status yang berupa ‘in relationship with, engaged with, married with,..” ato bahasa Indonesianya “berpacaran dengan, bertunangan dengan, menikah dengan..”

apa ya yang dibanggakan oleh orang yang di fb nya terpampang “berpacaran dengan fulan/fulanah” (di luar kasus mereka yang sebenarnya sudah menikah, tapi ingin lebih asyik sengaja memasangnya sebagai ‘berpacaran’).

Apakah bangga, apakah keren, apakah terlihat lebih laku daripada mereka yang memasang status ‘lajang’, dengan usia yang masih belasan ato dua puluhan? hmm.. apakah seperti itu membanggakan?

Kalo saya justru menganggap itu bahan olok2an saja. Bayangkan, kalau sebulan statusnya berubah-rubah, lajang-berpacaran-lajang-berpacaran dst.. dengan nama yang berbeda-beda pula. Beuh… kayak piala aja digilir…

Dan seluruh dunia tau (minimal orang-orang di daftar friendlistnya), kalo si A sudah “BEKAS” nya si B, si C, si D,…

itu membanggakankah?hmm…….

Sungguh, besar sekali efek yang ditimbulkan media, infotainment, sinetron, film, majalah. Yang berkali-kali memblow up pasangan yang berpacaran, yang digambarkan enak-enak, ada yang memberi perhatian, menemani kemana-mana, ‘yank-yank’ an di wall, biar seluruh dunia tahu,, (haduh….)

Ini penyakit menurut saya. Bukan perkara pacaran yang ada batasannya ataukah masih nggak neko2, kalo pada yang pengen beralasan. Tapi ini masalah etika, moral dan kebiasaan.

Apa yang anda pikirkan tentang pacaran?

berduaan.Boncengan.  Gandengan. Cium-an. Pegang-pegangan. Peluk-pelukan. dan yang sampai pada batas maksimal adalah : mamah-papah an (lebih dari panggilan, tentunya)

astaghfirullah….

Tidak heran kalau baru saja teman saya, seorang bidan memberi kesaksian langsung pada saya : Read the rest of this entry

Saya manusia biasa…

Saya itu, cuma manusia biasa..

Bukan tukang hipnotis yang bisa mempengaruhi orang setiap bertemu..

Bukan sutradara tangguh yang dengan mudah meminta orang berakting seperti yang dia inginkan

Bukan seorang yang sempurna untuk dapat mengerti dengan mudah setiap hal yang orang sampaikan..

Saya juga bukan robot, yang harus bisa menjalankan titah seketika itu juga, tanpa ada penjelasan..

Saya itu, cuma manusia biasa..

Yang juga memiliki perasaan, kehendak, keinginan, cita-cita serta angan-angan untuk masuk surga

Bukan seonggok batu yang tidak akan merespon apapun pada suhu, cahaya, maupun suara..

Itu saja yang ingin saya jelaskan tentang saya..

Semoga semua bisa mengerti, bahwa di balik semua skenario ini, bukan saya yang berperan, tapi DIA…

wallahualam bishowab…

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 30 pengikut lainnya.