Arsip Blog

Happy 2nd Anniversary for us :)

Tanggal ini, dua tahun yang lalu..

Alhamdulillah, ternyata kami telah melalui hari-hari yang luar biasa selama 2 tahun lamanya.. bersama..

Dan kini, di tengah kami sudah ada putri kecil yang lucu, yang menambah lengkap seluruh rasa syukur yang ada..

Semoga tetap sakinah, selamanya.. aamiiiin…..

Jeddah, 6 Februari 2012

Semoga sakinah selamanya, yaaa... :-)

Akhwat Galau

Tiba-tiba ingin menuliskan ini. Sebenarnya sudah sejak lama mengamati, tapi baru terketuk sekarang.

Ketika pagi ini saya login facebook dan mendapati wall dipenuhi dengan para lajang (akhwat) yang mengupdate status tentang pernikahan.

Ah, tema itu. Tema sensitif. Tema yang cukup menarik bagi para lajang.

Mereka memang tidak langsung mengatakan “Aku pengen nikah, looh..”

Tapi mereka memang mengemasnya sedemikian rupa, sehingga tidak langsung mengarah ke maksud di atas.

Akhwat galau, ya, saya menyebutnya begitu. Bahasa masa kini, siy. Kalo jaman dulu mungkin lebih halus ‘akhwat gelisah’.  Tapi karena biar up to date, saya menyebutnya fenomena akhwat galau :mrgreen: .

Di satu sisi saya merasa kasihan pada mereka. Saya pun sempat merasakannya. Sudah lulus, sudah bekerja, apa lagi? Ditambah lagi, dikejar usia..

Tapi di sisi lain, saya heran. Heran, bukankah status-status mereka dibaca para ikhwan juga? Apakah tidak malu mengumbar keinginan suci, seolah-olah mengatakan “Hei, kalian laki-laki lajang, kumohon bacalah statusku, aku ingin menikah, tapi belum ada yang melamarku..Read the rest of this entry

Menjadi Mak Comblang, Kenapa Tidak?

Bahagia, rasanya. Akhir-akhir ini mendengar beberapa kawan mulai beranjak meninggalkan masa lajang mereka. Alhamdulillah. Akhirnya fase penting akan mereka lalui juga.

Dan yang lebih membahagiakan lagi, ada dari mereka memang sengaja saya kenalkan. haha… mak comblang, ceritanya :-) . Baguslah. Meski saya yakin, dan saya percaya, tanpa saya kenalkan pun, jikalau mereka memang berjodoh, pasti juga akan dipertemukan. Entah kenal sendiri, atau dari orang lain. Tapi lumayan, lah, bisa menjadi ikhtiar dari pertemuan penting mereka.

Awalnya dua sahabat saya ini ‘secara iseng’ saya perkenalkan. Iseng bukan, ya? tapi, suatu peristiwa di kamar saya yang imut di Solo, ketika itu saya sedang online, dan chating dengan si akhwat. Pembicaraan standar. Provokasi dari yang sudah menikah, pada yang belum menikah. hehehe.. dan jujur ini memang hobi saya. Sebab, saya yakin mereka itu, yang lajang itu butuh motivasi untuk melangkah. Apalagi kawan akhwat saya satu ini. Yang terkenal super cuek.

Saat sedang asyiknya berchat-chat ria, datanglah sebuah SMS mendarat di HP saya.. “Bismillah… Son, kalau ada teman akhwat yang sudah siap menikah, minta tolong dikenalkan ya. Semoga ini bisa jadi ikhtiar untuk menuju niat baik itu.”  Aha! saya pikir, kenapa tidak? kenapa harus jauh-jauh searching teman akhwat yang mau dikenalkan kalau saat ini saya berada di tengah-tengah dua orang yang memenuhi syarat untuk dipertemukan.

Sama-sama lajang, ingin menikah dan siap menikah, lulusan sarjana, sudah sama-sama bekerja, domisili kota juga tidak terlalu jauh. Klaten dan Solo.

Hm… singkat cerita, Read the rest of this entry

Saat ini hanya ada ‘kita’

Beginilah berumah tangga. Jika anda membayangkan sebuah romantisme sejati, ada laki-laki, ada perempuan, ada cinta, ada ikatan, ada kepercayaan, ada kesetiaan.. Rumah tangga.

Ketika dulu saya hanya bisa berimajinasi, membayangkan, memprediksikan, dan inilah akhirnya saatnya.

Merencanakan berdua, merasakan pahit manis berdua, bercanda berdua… It’s more than relationship, right… Sebab nantinya juga akan ada buah cinta, yang juga akan dibesarkan, dididik, dibina, dicintai, berdua….

di Mall of Arabia

di Mall of Arabia

Semoga Allah senantiasa memberi barokah atas keluarga kami, menaungi dengan cahayaNya, memperkuat ikatannya,.. selamanya.. aamiin… :-)

Perbedaan Laki-laki dan Perempuan jika berbuat salah

dinamika rumah tangga :)

klik gambar untuk memperjelas :)

Bagi anda yang telah menikah, mungkin sering mengalami ini. Saat suami atau istri melakukan kesalahan, tetap saja akhirnya suami yang meminta maaf :-D

Ilustrasi di atas bukan sebuah pembenaran, melainkan hasil pengamatan. Potongan cerita nya pun bukan atas inspirasi saya pribadi, tapi saya dapatkan di sebuah forum jejaring sosial, yang kemudian saya dapati pada kehidupan saya. Untuk lebih menghayati, saya sesuaikan, dengan ilustrasi keluarga muslim.

Anda juga mengalaminya?

Sekali lagi, ini bukan pembenaran. Jika anda juga mengalaminya, ada baiknya mulai sedikit menyesuaikan dan memahami. Laki-laki dan perempuan adalah dua makhluk yang berbeda, bahkan bertentangan. Namun dibuat bukan untuk saling menentang, tapi saling melengkapi. Read the rest of this entry

Cinta (halal) Jarak Jauh

Fenomena unik. Harusnya ini memang saya tulis sejak dulu. Tapi, baru sekarang bisa saya ‘tumpahkan’, karena nampaknya kok makin populer saja.. :-)

Pasti para pembaca heran kenapa ada label ‘halal’ di judul saya. Alasan saya hanya satu. Sorotan atau pengamatan saya sama sekali tidak berlaku untuk cinta yang tidak halal (pacaran, HTS, tunangan, pesan2an, dll) tapi hanya berlaku untuk cinta yang telah diresmikan dalam ikatan suci yang bernama ‘pernikahan’. Sebab, cinta tanpa ikatan pernikahan hanyalah nafsu. Mutlak nafsu. Jadi jarak jauh kek, jarak dekat kek, kalau yang dipakai hanya nafsu yang ada ya cuma ‘rasa bersalah’, ‘kepalsuan’ dan dosa. Sama sekali tidak ada kenyamanan (tentram) disana.

Tidak usah membahas terlalu panjang untuk cinta (haram) jarak jauh, tapi kita bahas saja cinta (halal) jarak jauh. :-)

Beberapa saat yang lalu saya menghadiri walimahan atau pesta pernikahan teman sekelas saya kuliah. Ceritanya, teman saya ini juga akan bergabung dalam komunitas pelaku LDR (Long Distance Relationship). Sebab dia akan kembali ke Kalimantan, sedang istrinya masih harus kuliah di Solo. Alhasil, mereka hanya akan bertemu ketika sang istri libur semester.

Sebagai senior dalam kasus ini (bulan ini saya genap 8 bulan LDR-an dengan suami), saya mencoba membagi kisah dengan si ‘adik’, istri teman saya yang bakalan berpisah sementara setelah baru 2 minggu menikah (mirip juga dengan saya). Read the rest of this entry

Pernikahan, Madrasah Kehidupan

Mendengar curhatan beberapa teman yang telah menikah, rasanya membuat pandangan saya sedikit terbuka. Tentang universitas kehidupan yang luar biasa ini. Yang saya jalani hampir 5 bulan lamanya, bersama seorang pria dengan karakter yang luar biasa asing bagi saya. Karakter yang unik, dan seumur hidup baru saya temui hanya dari satu orang, suami saya.

Seorang teman mencoba membagi kisahnya dengan saya, “Jadi, dek, waktu saya nikah sama suami saya dulu, bayangan saya itu muluk-muluk. Menikah dengan ikhwan tarbiyah, amanahnya dulu segudang, sering memimpin rapat, jadi pembina beberapa halaqah, pikir saya bakalan menjadi istri pualing penak sejagad raya.” hm.. nampaknya kisah yang menarik. Saya pun mulai khusyuk mendengarkan. ” Tapi, beberapa hari di awal pernikahan, saya itu benar-benar merasa aneh. Suami saya ternyata tipe yang tidak bisa sama sekali mengungkapkan ‘sayang’. Bagi beberapa orang itu sepele, tapi tau sendiri, kan, wanita itu pengennya dimanja, diperhatikan,.. apalagi kalo sedang sensitif.. Beberapa waktu saya menangis terus tanpa dia ketahui… ” hmm.. Seketika saya ingat suami saya, dan merasa betapa beruntungnya saya..

Kemudian teman saya melanjutkan “Tapi, pada akhirnya saya sadar, saya sedang mengharapkan sesuatu yang sia-sia. Bukankah hakikat tarbiyah adalah memberi? lagipula, saya tidak sedang menikah dengan malaikat. Dan barangkali Allah memang ingin saya mencintainya dari sisi yang lain”

“Dan ternyata benar dek, suami saya adalah orang yang tidak pernah mempersoalkan kesalahan saya. Justru dia mengingatkan saya dengan cara yang saya paling bisa terima. Ternyata beliau orang yang paling mengerti saya.. Meski proses memahami itu juga sempat meremukkan hati, tapi sekarang saya begitu mencintainya, dengan segala kekurangan beliau..” Read the rest of this entry

Rahasia Jodoh, Rahasia Allah SWT

Kadangkala aku bertanya di mana cinta berada
Tersembunyi tiada kunjung menghampiri
Dua angsa memadu rindu di danau biru bercumbu
Pagut sepi ku di sini letih hati

Begitu jauh waktu kutempuh
Sendiri mengayun biduk kecil
Hampa berlayar, akankah berlabuh
Hanya diam menjawab kerisauan

Kadangkala aku berkhayal seorang di ujung sana
Juga tengah menanti tiba saatnya

Begitu ingin berbagi batin
Mengarungi hari yang berwarna
Di mana dia pasangan jiwaku
Ku mengejar bayangan

Begitu jauh waktu kutempuh
Sendiri mengayun biduk kecil
Hampa berlayar, akankah berlabuh
Hanya diam menjawab kerisauan

(Katon Bagaskara, Pasangan Jiwa)

Mendengar curhatan kawan saya akhir-akhir ini, meresapi tema-tema diskusi yang menghiasi obrolan santai akhwat-akhwat seangkatan… nampaknya lagu ini lumayan mewakili.. :-)

Sebuah keresahan yang mendalam, sebuah penantian yang seolah tanpa ujung,.. dan yang terpenting.. sebuah pertanyaan yang benar-benar membuat penasaran setengah mati : Kapan, dimana, dan DENGAN SIAPA???

Barangkali itu pula yang juga saya rasakan 4 bulan yang lalu, ketika sebuah nama yang sekarang menghiasi cincin di jari saya belum hadir dalam kehidupan saya. Ketika doa-doa sebagai ikhtiar utama telah teramat sering terpanjatkan, namun tak juga muncul sebuah NAMA.. (nama saja belum, apalagi kapan dan dimana..??? :P ) hmm,… kalau mengingat-ingat masa itu, rasanya gemes, dan berfikir, “Ya Rabb,…sungguh..  jodoh itu adalah rahasiaMu yang paling luar biasa..”

Bagaimana tidak? sebagai seorang yang aktif untuk mengikuti pengajian rutin, dan paham batasan interaksi laki-laki dan perempuan, gambaran pasangan hidup benar-benar tidak terpikirkan sama sekali. Gambaran bahwa nantinya akan ada lawan jenis yang halal bagi kita, setiap saat bersama kita, yang boleh kita cintai, boleh kita sentuh, boleh berkhalwat.. hiiiiiiy…..

Dan sekali lagi manusia tidak dapat mengintip takdir itu. Sedikitpun.

Ibarat jawaban dalam ujian, hanya mengintip ‘inisial huruf awal’ saja tidak bisa, benar-benar tidak bisa.. bahkan jawaban itu hanya akan diketahui sesaat setelah  penghulu mengucapkan kata : “Sah..?Sah…? SAH…..!!!! “

saat itulah batasan yang sebelumnya haram menjadi halal, yang sebelumnya meresahkan menjadi sangat indah… luar biasa….

Saya memahami perasaan kawan-kawan saya yang sampai sekarang masih menanti. Apalagi yang benar-benar menjaga prinsip bahwa “makanan yang paling nikmat adalah makanan saat berbuka puasa” (kata makanan di sini tentu saja diartikan sebagai penyaluran fithrah seseorang sebagai manusia biasa). Mereka melaluinya dengan sikap yang berbeda-beda. Ada yang memang terang-terangan memperlihatkan keresahannya, lewat update status di facebook, lewat notes, lewat sindiran-sindiran, dan sebagainya.. Ada juga yang tampak santai dan bersahaja, namun dalam hati juga mulai gelisah dan berharap, ada yang telah melalui ikhtiar untuk ‘meminta’ pada Murobbi, ada yang telah merasa siap tapi tidak tahu bagaimana cara untuk melangkah….

Read the rest of this entry

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 30 pengikut lainnya.