Arsip Blog

Pantaskah aku disebut “akhwat”? (Catatan kecil saksi hijrah saya)

Pertanyaan itu terus menerus menghantuiku. Dalam setiap perjalanan aktivitasku, dalam interaksiku dengan orang lain, dan dalam keyakinanku untuk memilih jalan dakwah yang panjang ini.

Pantaskah aku menyandang kata ‘Ukh’ di depan namaku?

Aku ingat sekali percakapanku dengan seorang ikhwan. Dia bilang “Wah, kalo akhwat itu sholat gak perlu bawa kayak gini ya.” Sambil menunjuk ke mukenaku.

“Lho, mas, aku kan juga akhwat.”

“Iya, ya.”

Itu dulu. Saat aku masih belum pada tahap ini. Saat hatiku belum terketuk untuk selalu memakai rok ke kampus. Jilbabku pun belum ‘selebar’ sekarang. Walaupun sekarangpun jilbabku tidak selebar jilbab ‘akhwat-akhwat’ itu.

Berarti…ukuran akhwat itu tergantung ukuran jilbabnya? Benarkah? Selebar apa? Apakah batas kelebaran itu sudah ditentukan? Apakah jilbab harus menyentuh siku dulu baru bisa dikatakan ‘akhwat’?

Selama ini, aku masih belum terbiasa untuk memanggil seorang ikhwan dengan kata ‘Akh.” di depan namanya, walaupun aku ingin, tapi ada rasa malu saat kata-kata itu keluar dari mulutku. Dan aku masih merasa nyaman dengan memanggil mereka ‘mas’ atau langsung menyebut nama mereka. Mungkin nanti saat aku berada di SKI, atau organisasi yang memang murni berbasis Islam, aku akan leluasa berkomunikasi dengan bahasa itu. Tapi belum sekarang, dalam organisasi heterogen ini.

Aku merasa seperti berada di tengah-tengah. Antara ‘cewek’ dan ‘akhwat’. Cewek, karena jilbabku belum menyentuh siku, dan akhwat, sebab aku selalu memakai rok sekarang.

Aku ingin bertanya pada seseorang, tapi siapa?

Banyak sekali yang ingin aku tanyakan. Sebab aku ingin mendapatkan suatu kepastian. Pantaskah aku menyebut diriku ‘akhwat’?

Ah….pentingkah itu? Label ‘akhwat’ tidak akan menghalangiku untuk menempuh jalan ini, jalan dakwah. Aku tidak perduli dengan orang-orang yang menilaiku. Seorang ‘cewek’ juga bisa ikut andil dalam jalan dakwah, setidaknya pakaian syar’i telah aku kenakan, sesuai dengan tuntutan Rosul, menutupi dada, dan tidak menampakkan bentuk tubuh. Seberti kata seorang ustadzah, yang penting jilbab itu menutupi dada, dan tidak tipis. Walaupun memang suatu saat aku ingin jilbabku lebih lebar, pasti.

Jadi, sekarang ini, aku tidak ingin mengklaim diriku adalah ‘akhwat’ dan menyuruh orang orang memanggilku ‘Ukhti..’, memanggil ikhwah dengan sebutan ‘Akh’ atau ‘Ukh’… Read the rest of this entry

Sekedar Puasa?

Apa yang anda lakukan jika mendapati sebuah toko mengadakan diskon besar-besaran? Obral berlipat lebih murah dari harga semula? anda pasti akan menyerbunya, bukan?

Itulah perumpamaan bulan Ramadhan. Yang biasanya ibadah bernilai 10 derajat pahala, dilipatkan menjadi 10 kali lipat (artinya sekali ibadah di bulan ini, sama dengan 10 kali ibadah yang sama di bulan lain).

Hmm.. menggiurkan! apalagi iming-iming DoorPrize Lailatul Qadar, yang jika kita mendapatkannya, pahalanya sama dengan ibadah 1000 bulan!! berapa tahun itu? 1000 dibagi 12 = 83 tahun!! , hanya dengan satu malam, euy.. subhanallah.. Siapa yang tidak kepengen, ya?

Saya sejenak berpikir, kalau Ramadhan adalah bulan untuk melipatkan pahala, kenapa Allah tidak menyediakan juga bulan melipatkan dosa? maka saya pun menyadari, Allah Maha Pengasih. Kasih sayang dan CintaNya tidak akan habis, meski seluruh makhluk memintanya. Sungguh, ini adalah salah satu bukti cinta Allah pada manusia.

Maka sia-sia sekali manusia yang tidak mengetahui ini.

Ramadhan hakikatnya bukan hanya sekedar berlapar-lapar dahaga. There are more wonderful things that only can be realized by a thinking people. Hanya orang-orang yang berpikir yang menyadarinya. Bahwa Ramadhan bukan menahan haus dan lapar, kawan!!

Merasa banyak dosa? minta ampunlah!!

Merasa banyak harapan dan cita-cita? berdoalah!!

Merasa kurang beruntung? Berpuasalah!! dan rasakan penderitaan orang-orang yang tidak lebih beruntung darimu!

Merasa sendirian? Sholat berjama’ahlah di masjid, rasakan betapa banyak saudaramu!!

Merasa miskin? bersedekahlah..!!

Di bulan ini Allah akan memberimu LEBIH!

Sebab yang sedang memberi janji padamu bukan seorang caleg yang butuh dukungan, atau capres yang ingin berkuasa. Tapi Allah, yang Maha Memiliki Segalanya, yang janjiNya adalah keniscayaan.

Barang siapa berpuasa pada bulan Ramadhan dan mengetahui batas-batasnya dan ia menjaga diri dari segala apa yang patut dijaga, dihapuskanlah dosa yang sebelumnya.(HR. Ahmad dan Baihaqi)

Jadi, tetap ingin hanya ‘Sekedar Puasa’?

*Ditulis di tengah malam menjelang 1 Ramadhan 1431 H

Untuk sebuah kebersamaan

Keimanan benar-benar telah mengikat hati para hamba Allah dalam kasih sayang yang menggetarkan. Saya memang salah satu pengagum berat pada yang namanya ukhuwah, kebersamaan. Dan saya paling menghindari kesendirian. Sendiri itu menyakitkan. Walaupun kadang ada ruang dimana kita butuh sendiri, dan menyepi, memikirkan diri sendiri.

Dalam buku Salim A Fillah ‘Saksikan Bahwa Aku Seorang Muslim’ yang saya baca di Bab Kebersamaan, ada beberapa makna kebersamaan : Bersaudara, dan Berjuang.

Bersaudara.. secara otomatis orang akan melakukan apapun untuk saudaranya. Bersedia membantu, mendengarkan, memberi nasehat, memberi sekedar senyum saat bertemu saudaranya. Kalau saya sering mengistilahkan ‘menghancurkan tembok-tembok besar yang menghalangi’. Itulah saudara. Saat sudah tidak ada sekat, sudah saling memahami, sudah bisa membantu tanpa diminta..

Coba tengok hadits ini

“Allah ’Azza wa Jalla Berfirman, “Mereka yang saling mencintai karena keagunganKu mempunyai mimbar-mimbar dari cahaya yang diinginkan oleh para Nabi dan para Syuhada” (HR At Tirmidzi dari Mu’adz ibn Jabal)

Subhanallah.. siapa yang tidak pengin?? Mimbar-mimbar dari cahaya…

Saya baru saja memberi sedikit petuah kepada saudari saya

“ukhti, anti mungkin bisa risau dengan hasil akademis yang anti capai, tapi cobalah untuk tidak berlarut-larut. Karena mungkin sebentar lagi anti akan terjebak dengan egoisme pribadi. Segeralah anti bersama dengan saudara anti, dan bantulah mereka sebisa mungkin, bermanfaatlah bagi mereka. Maka anti akan segera bangkit… Buat apa jadi orang hebat kalau tidak bermanfaat bagi orang lain?” (tausiyah ini memang hasil perenungan saya beberapa kali. Dan cukup manjur). Jika setiap orang berusaha bermanfaat bagi orang lain, maka siapa yang akan merasa kekurangan?

Read the rest of this entry

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 30 pengikut lainnya.