Arsip Blog
Bila kebaikan itu terhenti di sini
Pemilu legislatif selesai..
Suasana Solo tercinta menjadi biasa lagi sekarang, sudah bersih tanpa ‘wajah-wajah’ asing lagi. Barangkali diikuti selesainya juga ‘kemunafikan-kemunafikan’ di setiap sudut perkampungan-perkampungan masyarakat. Miris juga sih, bila seluruh kebaikan-kebaikan itu juga terhenti.
Bila tiap sudut masjid juga terhenti pengajiannya karena sang ustadz/ustadzah tidak lagi berkepentingan promosi. Bila agenda bakti sosial pekan atau setiap bulan juga terhenti karena partai tidak lagi membutuhkan massa, bila tidak ada lagi yang rela menyumbangkan hartanya untuk membangun tempat ibadah, panti asuhan, yayasan.
Lebih mengenaskan, ada yang sempat saya lihat di berita elektronik seorang caleg mengambil kembali tikar, bahan bangunan, bahkan piring.. karena ternyata suaranya tidak signifikan di desanya. naudzubillah..
Sekarang biarkan semua berpikir dengan logika yang paling rasional. Benarkah kebaikan itu bisa diukur hanya dengan ‘jumlah suara’? hm.. kalau seperti itu, mau jadi apa bangsa ini. Siapa lagi yang mau berbuat baik lagi sekarang. Jika ‘topeng’ kepentingan itu tidak ada lagi. Padahal, jika mereka mau berpikir, hati tetap tidak bisa dielakkan. Meski memang semua tidak dapat diperoleh secara instan. Butuh proses.
Jika dari sekarang dan sampai 5 tahun lagi kebaikan itu tetap ditanam, maka saya yakin semua akan memilih tanpa paksaan. Tapi ya harus rela juga amal kebaikan itu tidak mendapat apapun di mata Allah. Lha niat bukan mengharap ridhoNya..
Saya berharap, masjid tetap tidak sepi dengan ustadz/ustadzah yang tetap ikhlas berbagi ilmu, para dermawan tetap ikhlas memberi sedekah, rakyat miskin masih berhak mendapatkan pengobatan gratis, setiap orang masih senang berbagi.. Berbagi harta, berbagi ilmu, berbagi rezeki.. Sebab balasannya lebih dari sekedar suara yang tidak seberapa, lebih dari itu.
Maka, jangan biarkan kebaikan-kebaikan itu terhenti di sini….
Parade Caleg
Pemandangan Solo beberapa waktu ini cukup ramai. Wajah-wajah asing bertebaran menghiasi angkutan umum, bus, baliho, poster, stiker, spanduk, media massa. Barangkali memang masa-masa kampanye partai cukup dimanfaatkan para caleg tersebut untuk memperkenalkan diri. Mereka memiliki jargon serta ‘image building’ yang berbeda. Tapi pertanyaannya, cukupkah gambar-gambar plus jargon tersebut membuat orang tertarik memilih mereka?Saya kurang yakin.
Apabila kita mencoba memahami bahwa keberadaan seorang calon legislatif ke depan adalah sebagai wakil rakyat, orang yang akan duduk di kursi DPR maupun DPRD. Artinya, beliau beliau inilah yang akan menggantikan posisi anggota legislatif yang sekarang. Bursa Caleg yang sekarang berkembang bagi saya cukup menarik untuk diikuti. Saya kurang tau apakah setiap partai politik memiliki standard yang ‘layak’ untuk menjadikan seseorang sebagai Caleg. Sebab, yang saya lihat pada baliho maupun media yang menampilkan sosok Caleg Partai Politik tidak ada informasi apapun yang dapat saya serap sebagai sebuah ‘pemantapan’ untuk saya memilih beliau.
Bahkan ada yang menyandingkan nama panggilan di samping nama lengkap Caleg tersebut yang membuat saya bertanya-tanya “Memangnya penting ya kita tau nama panggilan dia???” Malahan saya melihatnya tak ubahnya iklan warung Mie Ayam atau Warung Bakso yang sering kita lihat di sepanjang jalan. Aneh.
Atau barangkali ini adalah sebuah langkah yang mungkin ‘menyesuaikan selera pasar’. Tapi saya justru menyayangkan hal yang seperti ini. Masyarakat selalu disuguhi iklan-iklan politik yang ‘selera pasar’ tadi, yang justru tidak membuat ‘selera’ nya berkembang. Jadi semacam seperti pembodohan persepsi yang berlarut-larut.








