Arsip Blog
Bersikap Dewasa dalam Berjejaring Sosial
Kita menyebutnya Jejaring Sosial. Ada blog, twitter, facebook, dan sebagainya. Kalau jaman dulu ada friendster, tapi sejak facebook muncul, pelan-pelan orang meninggalkannya.
Saya mengamati, polanya sama. Hanya orang-orang tertentu memiliki akun friendster, lalu mewabah, sampai anak kecil pun punya. Akhirnya friendster pun ramai dengan akun-akun, dan aktifitas yang sangat tidak penting. “kok cuma nge view sih, coment dong..”
“Eh, coment aku balik ya..” begitu seterusnya.
Lalu, orang-orang yang melihat friendster mulai tidak sehat, dengan banyaknya akun ‘aneh’ dan nama-nama aneh, akhirnya pelan-pelan orang-orang tertentu beralih ke facebook. Supaya berbeda, lebih ‘tenang’, aktifitas sosial juga nyaman. Tapi apa yang terjadi? tetap saja, akhirnya facebook pun mewabah. Setiap orang memilikinya. Dari ustadz, hingga anak SD. Cuman memang hingga sekarang, facebook masih tetap diminati. Mungkin karena ternyata aplikasinya terus menerus berkembang.
Saya tidak ingin membahas tentang detail facebook, twitter dan sebagainya. Tapi saya ingin menyoroti tentang fungsinya.
Kalau saya tanya, untuk apa anda menggunakan jejaring sosial tersebut? Jawabannya saya pikir sebenarnya semua sama : Sosialisasi.
Walaupun kemudian prakteknya untuk berbisnis, berdakwah, meneror, eksistensi, pamer, dan sebagainya, tapi kerucutnya adalah sosialisasi bukan?
Sebab nantinya anda akan menambah banyak teman, mengirimi permintaan pertemanan, menerima permintaan pertemanan, seputar itu. Intinya berhubungan dengan orang lain.
Dan dalam berjejaring sosial tentu -meski tidak bertemu langsung- tetap ada interaksi sosial, dan tentu ada aturannya. Ya, ada aturan, meski tidak tertulis, ada norma dan etika yang harus dipahami oleh setiap orang. Karena ini adalah jejaring sosial. Ada kepentingan orang lain yang masuk. Bukan cuma kita berinteraksi dengan diri sendiri, tapi juga orang lain. Kecuali anda memprivate seluruh kiriman yang anda buat, khusus untuk anda sendiri.
Curahan Hati Perantau
Tinggal, dan menetap di perantauan memang memiliki banyak kesan. Apalagi di luar negeri. Saya memang baru sepuluh bulan tinggal di Saudi. Masih belum apa-apa dibanding teman-teman saya yang sudah bertahun-tahun tinggal disini. Tapi sedikit banyak saya sudah cukup mengenal dan terbiasa dengan budaya dan kebiasaan orang-orang Arab. Sayangnya saya masih belum bisa bahasa Arab. Kebanyakan saya menggunakan bahasa Inggris untuk komunikasi. Saat periksa di Rumah Sakit, atau bertemu orang di Mall.
Kenapa memilih Jeddah, Saudi Arabia? Sebenarnya selain memang rejekinya di sini, insya Allah, saya dan suami dulu memilih untuk memberanikan diri menetap di Saudi karena dekat dengan Baitullah. Ya, itulah yang membuat kami yakin. Siapa sih, yang tidak kepengin umroh kapan saja. Tanpa memikirkan harus mengeluarkan biaya puluhan juta. Bahkan hanya ditempuh seperti jarak Solo-Jogja. Itupun dengan harga bensin yang sangat murah, jika dengan kendaraan pribadi. Haji, tanpa memusingkan antrian bertahun-tahun. Meskipun saya juga belum berani haji, karena tahun kemarin baru beberapa minggu melahirkan, kemudian kalaupun haji, akan membawa serta Haniya yang masih sangat kecil. Belum lagi kalau mau menambah anak. Umroh kemarin saja saya sudah tidak tega mengajak Haniya berpanas-panasan, dan berdesak-desakan. Apalagi nantinya pasti menambah momongan.
Tapi saya tetap sangat bersyukur, bisa mengunjungi Baitullah, tempat yang menjadi impian setiap muslim. Sebuah hal yang sangat tidak terbayangkan sebelumnya. Terlepas dari masalah cuaca yang lumayan ekstrim disini.
Hidup Baru di Jeddah
Alhamdulillah, puji syukur pada Allah yang menyampaikan saya pada hari ke sepuluh tinggal di tanah para nabi ini. Kenapa baru hari ke sepuluh saya menulis? karena memang sedang menyesuaikan diri dengan di sini. Menyesuaikan dengan kehidupan rumah tangga yang setelah hampir satu setengah tahun menikah baru saya alami juga (dan inilah trend yang disebut menikah dahulu, berumah tangga kemudian. hehe). Benar-benar tinggal berdua dengan suami, di rumah sendiri, bersama calon buah hati yang sudah 4 bulan di rahim saya. Ah.. akhirnya…
Sempat merasakan tidak percaya juga saya sampai di negri orang. Meninggalkan Sukoharjo, dan Solo, tempat saya dari lahir, kanak-kanak, hingga menemukan jodoh.. Berproses menemukan jati diri.. 24 tahun… Meninggalkan orang-orang yang menemani saya berproses dalam waktu yang cukup lama. Tapi saya lega, sebab bersama suami, it’s more than enough…
Jujur, ini perjalanan terjauh saya. Seumur-umur, sebelumnya, terjauh adalah Jakarta!! hahaha… ke Bali? belum pernah. Jadi ini memang ekstrim. Ke-ekstriman yang luar biasa. Alhamdulillah…
Penyesuaian diri dengan cuaca, makanan, bahasa, budaya, orang-orang… semoga saya bisa, insya Allah. Sebab nantinya saya pun akan membimbing anak-anak saya untuk beradaptasi dengan lingkungan di sini. Jadi, ibunya belajar dulu dooong….. Semangat!!!! Pasti Bisaaa!!!!!!!!!
Remaja dan Membaca
Mampir ke toko buku, ingatan saya jadi kembali ke masa-masa remaja. Masa-masa masih sekolah di SMP dan SMA. Dulu, saya senang sekali berkunjung ke persewaan buku setiap hari Sabtu, pulang sekolah. Kenapa hari Sabtu? karena bisa meminjam buku 2 hari dengan bayaran sehari. Hari Minggu persewaan libur.
Saya memang penggemar komik dan novel. Bukan novel percintaan atau teenlit. Saya tidak selera.
Saya suka komik jepang jadul yang tokohnya masih lugu-lugu. Bukan komik jepang sekarang, yang diwakili ‘nakayoshi’, dengan ‘ciuman dan pelukan’ sebagai tema utama. Kebanyakan. Tokohnya pun tidak berkarakter. Tidak menarik.
Saya juga suka novel-novel remaja lucu. Kalo jaman dulu ada Lupus, Olga, yang konyol, tapi humornya cerdas. Saya suka.
Dulu masa-masa remaja saya memang hanya seputar sekolah, persewaan buku, dan rumah teman. Belum ada facebook, twitter, Mall, dan sebagainya. Kuper ya? memang. Dan saya bangga ![]()
Setidaknya, meski bukan aktifis rohis, saya jauh dari gaya hidup hedonis, cewe-cewe gaul, nongkrong di Mall, kenalan sama cowok, kencan, dsb. Alasan simpel : uang jajan saya terbatas. Jadi, gimana mau nongkrong di Mall ato ke internet terus-terusan?
alhamdulillah…
Bisa dibilang, saya dulu ‘kutu buku’. Saya senang membaca. Meski bukan sejenis Harry Potter maupun Lord of the Ring, ato science fiction yang njelimet dan tebal, tapi waktu luang saya sibuk dengan membaca.
Kadang, saya membayangkan, jika saya remaja di jaman sekarang, apakah saya juga seperti ABG-ABG yang saya amati di facebook itu. Dengan bahasa alay yang susah dimengerti, yang membacanya membutuhkan konsentrasi penuh untuk mengartikan. Apakah juga akan memasang pose alay di foto profil, yang benar-benar membuat wajahnya sama satu sama lain. Melihatnya saja saya capek. Apalagi yang foto. Bibirnya dimonyong-monyongin gitu. Memang ngga PeDe ya dengan wajah asli?hihihi ![]()
Ah,.. saya yakin tidak. Sampai kapan pun, saya senang menjadi diri saya sendiri. Dengan identitas yang lain, yang tidak sama dengan kebanyakan. Seperti sekarang. Insya Allah..
Apa yang remaja sekarang alami, kadang saya juga tidak mengerti. Mungkin setiap masa sama, mereka terbagi menjadi bermacam-macam jenis. Nah, yang sering terlihat adalah mereka yang mayoritas. Mereka yang semakin lama semakin banyak. Entah karena takut dikatakan ‘berbeda’ sendiri, takut kehilangan komunitas, takut dicap kuper, ngga gaul, akhirnya membuat mereka seperti bunglon. Mereka beranjak menyerupai kawan-kawan yang lain. Padahal barangkali mereka pun tidak mengerti dengan apa yang mereka dapatkan dari yang mereka lakukan.
Menjadi ‘asing’ memang tidak mudah. Disaat teman-teman yang lain pulang sekolah jalan-jalan ke Mall, memasang foto alay di fb, menulis dengan bahasa alay di SMS ataupun di internet, nongkrong di tempat-tempat tak jelas, mereka mampir ke toko buku atau persewaan buku.
Tempat yang asing. Ya, toko buku atau persewaan buku. Nampaknya dua tempat ini sangat ‘aneh’ bagi remaja. Kecuali mereka yang tidak teramat memperdulikan eksistensi, kebutuhan untuk diperhatikan, ataupun ‘pengakuan’.
Level yang semakin parah adalah jika sudah sampai pada pengakuan kalau punya pacar itu hebat. Ini yang paling memprihatinkan. Mereka berlomba-lomba menjadi seperti yang lain, agar diperhatikan lawan jenis, dan mendapat pasangan.
Level terparah, adalah jika tidak berbuat macam-macam dengan pacarnya, maka mereka ‘aneh’.
Hmm… tidak heran kalau banyak ditemui di jejaring sosial status mereka paling tidak pasti ‘berpacaran dengan’ atau ‘in relationship with’. Dengan foto-foto adegan berpelukan, cium pipi, diumbar ke publik. Naudzubillah..
Read the rest of this entry
Hidup yang Sebenarnya
“This is the real life. Inilah hidup yang sebenarnya.” Hm.. tapi, benarkah? kalimat yang sering saya dengar dari orang yang selesai bercerita tentang kisah yang keras. Identik dengan kepalsuan, kemaksiatan, kebodohan, kejahatan.
Itukah ‘hidup’ yang sebenarnya?
Kenapa tidak setelah bercerita tentang kejujuran, keimanan, kepedulian, lalu diikuti kalimat “itulah hidup..”
Mata saya terbuka, pandangan saya yang dulu benar-benar sempit, menjadi sangat luas sejak remaja tanggung itu menceritakan semuanya pada saya.
Hidup di lingkungan yang hanif, meski tidak terlalu agamis, tapi ‘terpelajar’ saya pikir. Membuat cakrawala saya tentang ‘hidup’ itu lumayan lurus. Padahal dulu saya kira ini sudah sangat ‘rusak’ atau kata orang ‘real life’. Tapi saya salah. Salah besar.
Remaja yang belum genap 17 tahun itu polos sekali bercerita pada saya, tentang temannya yang tinggal di sebuah kos-kosan yang sekamar ditinggali dua pasang muda mudi! Bayangkan, satu kamar kos, ditinggali 2 perempuan, dan dua laki-laki.
Laki-laki pertama pengangguran, laki-laki kedua sebentar lagi jadi guru. Dan dua remaja putri adalah siswa SMK.. Anda kaget? saya kaget jika anda tidak kaget.
“..Astaghfirullah.. apa-apaan ini….
” batin saya.
Tinggal sekamar dengan status ‘tidak menikah’ itu saja sudah mengerikan. Apalagi sekamar dua pasang. Haduh…. naudzubillahimindzalik…
Ini belum apa-apa. Remaja tanggung yang belum genap 17 tahun ini pun bercerita pada saya, yang tidak sanggup meninggalkan pacarnya yang masih kelas 1 SMA, karena dialah yang telah ‘memerawani’ ceweknya. Hmm… anda pasti paham kata yang saya beri tanda kutip tadi.
Dan cerita itu cukup membuat saya istighfar berkali-kali.. “Ya Rabb…. apa ini..?”
Masih banyak cerita yang saya peroleh dari remaja tanggung ini, sebenarnya. tapi menuliskannya sudah cukup membuat dada saya sesak. Read the rest of this entry
Memangnya kalo nggak pacaran, kenapa sih?
Penasaran saya.
Wara wiri di jejaring sosial membuat saya jadi melihat ‘timbul tenggelamnya’ status anak muda jaman sekarang.
Status disini bukan postingan, tapi status yang berupa ‘in relationship with, engaged with, married with,..” ato bahasa Indonesianya “berpacaran dengan, bertunangan dengan, menikah dengan..”
apa ya yang dibanggakan oleh orang yang di fb nya terpampang “berpacaran dengan fulan/fulanah” (di luar kasus mereka yang sebenarnya sudah menikah, tapi ingin lebih asyik sengaja memasangnya sebagai ‘berpacaran’).
Apakah bangga, apakah keren, apakah terlihat lebih laku daripada mereka yang memasang status ‘lajang’, dengan usia yang masih belasan ato dua puluhan? hmm.. apakah seperti itu membanggakan?
Kalo saya justru menganggap itu bahan olok2an saja. Bayangkan, kalau sebulan statusnya berubah-rubah, lajang-berpacaran-lajang-berpacaran dst.. dengan nama yang berbeda-beda pula. Beuh… kayak piala aja digilir…
Dan seluruh dunia tau (minimal orang-orang di daftar friendlistnya), kalo si A sudah “BEKAS” nya si B, si C, si D,…
itu membanggakankah?hmm…….
Sungguh, besar sekali efek yang ditimbulkan media, infotainment, sinetron, film, majalah. Yang berkali-kali memblow up pasangan yang berpacaran, yang digambarkan enak-enak, ada yang memberi perhatian, menemani kemana-mana, ‘yank-yank’ an di wall, biar seluruh dunia tahu,, (haduh….)
Ini penyakit menurut saya. Bukan perkara pacaran yang ada batasannya ataukah masih nggak neko2, kalo pada yang pengen beralasan. Tapi ini masalah etika, moral dan kebiasaan.
Apa yang anda pikirkan tentang pacaran?
berduaan.Boncengan. Gandengan. Cium-an. Pegang-pegangan. Peluk-pelukan. dan yang sampai pada batas maksimal adalah : mamah-papah an (lebih dari panggilan, tentunya)
astaghfirullah….
Tidak heran kalau baru saja teman saya, seorang bidan memberi kesaksian langsung pada saya : Read the rest of this entry
Rahasia Jodoh, Rahasia Allah SWT
Kadangkala aku bertanya di mana cinta berada
Tersembunyi tiada kunjung menghampiri
Dua angsa memadu rindu di danau biru bercumbu
Pagut sepi ku di sini letih hati
Begitu jauh waktu kutempuh
Sendiri mengayun biduk kecil
Hampa berlayar, akankah berlabuh
Hanya diam menjawab kerisauan
Kadangkala aku berkhayal seorang di ujung sana
Juga tengah menanti tiba saatnya
Begitu ingin berbagi batin
Mengarungi hari yang berwarna
Di mana dia pasangan jiwaku
Ku mengejar bayangan
Begitu jauh waktu kutempuh
Sendiri mengayun biduk kecil
Hampa berlayar, akankah berlabuh
Hanya diam menjawab kerisauan
(Katon Bagaskara, Pasangan Jiwa)
Mendengar curhatan kawan saya akhir-akhir ini, meresapi tema-tema diskusi yang menghiasi obrolan santai akhwat-akhwat seangkatan… nampaknya lagu ini lumayan mewakili..
Sebuah keresahan yang mendalam, sebuah penantian yang seolah tanpa ujung,.. dan yang terpenting.. sebuah pertanyaan yang benar-benar membuat penasaran setengah mati : Kapan, dimana, dan DENGAN SIAPA???
Barangkali itu pula yang juga saya rasakan 4 bulan yang lalu, ketika sebuah nama yang sekarang menghiasi cincin di jari saya belum hadir dalam kehidupan saya. Ketika doa-doa sebagai ikhtiar utama telah teramat sering terpanjatkan, namun tak juga muncul sebuah NAMA.. (nama saja belum, apalagi kapan dan dimana..???
) hmm,… kalau mengingat-ingat masa itu, rasanya gemes, dan berfikir, “Ya Rabb,…sungguh.. jodoh itu adalah rahasiaMu yang paling luar biasa..”
Bagaimana tidak? sebagai seorang yang aktif untuk mengikuti pengajian rutin, dan paham batasan interaksi laki-laki dan perempuan, gambaran pasangan hidup benar-benar tidak terpikirkan sama sekali. Gambaran bahwa nantinya akan ada lawan jenis yang halal bagi kita, setiap saat bersama kita, yang boleh kita cintai, boleh kita sentuh, boleh berkhalwat.. hiiiiiiy…..
Dan sekali lagi manusia tidak dapat mengintip takdir itu. Sedikitpun.
Ibarat jawaban dalam ujian, hanya mengintip ‘inisial huruf awal’ saja tidak bisa, benar-benar tidak bisa.. bahkan jawaban itu hanya akan diketahui sesaat setelah penghulu mengucapkan kata : “Sah..?Sah…? SAH…..!!!! “
saat itulah batasan yang sebelumnya haram menjadi halal, yang sebelumnya meresahkan menjadi sangat indah… luar biasa….
Saya memahami perasaan kawan-kawan saya yang sampai sekarang masih menanti. Apalagi yang benar-benar menjaga prinsip bahwa “makanan yang paling nikmat adalah makanan saat berbuka puasa” (kata makanan di sini tentu saja diartikan sebagai penyaluran fithrah seseorang sebagai manusia biasa). Mereka melaluinya dengan sikap yang berbeda-beda. Ada yang memang terang-terangan memperlihatkan keresahannya, lewat update status di facebook, lewat notes, lewat sindiran-sindiran, dan sebagainya.. Ada juga yang tampak santai dan bersahaja, namun dalam hati juga mulai gelisah dan berharap, ada yang telah melalui ikhtiar untuk ‘meminta’ pada Murobbi, ada yang telah merasa siap tapi tidak tahu bagaimana cara untuk melangkah….
Bila kebaikan itu terhenti di sini
Pemilu legislatif selesai..
Suasana Solo tercinta menjadi biasa lagi sekarang, sudah bersih tanpa ‘wajah-wajah’ asing lagi. Barangkali diikuti selesainya juga ‘kemunafikan-kemunafikan’ di setiap sudut perkampungan-perkampungan masyarakat. Miris juga sih, bila seluruh kebaikan-kebaikan itu juga terhenti.
Bila tiap sudut masjid juga terhenti pengajiannya karena sang ustadz/ustadzah tidak lagi berkepentingan promosi. Bila agenda bakti sosial pekan atau setiap bulan juga terhenti karena partai tidak lagi membutuhkan massa, bila tidak ada lagi yang rela menyumbangkan hartanya untuk membangun tempat ibadah, panti asuhan, yayasan.
Lebih mengenaskan, ada yang sempat saya lihat di berita elektronik seorang caleg mengambil kembali tikar, bahan bangunan, bahkan piring.. karena ternyata suaranya tidak signifikan di desanya. naudzubillah..
Sekarang biarkan semua berpikir dengan logika yang paling rasional. Benarkah kebaikan itu bisa diukur hanya dengan ‘jumlah suara’? hm.. kalau seperti itu, mau jadi apa bangsa ini. Siapa lagi yang mau berbuat baik lagi sekarang. Jika ‘topeng’ kepentingan itu tidak ada lagi. Padahal, jika mereka mau berpikir, hati tetap tidak bisa dielakkan. Meski memang semua tidak dapat diperoleh secara instan. Butuh proses.
Jika dari sekarang dan sampai 5 tahun lagi kebaikan itu tetap ditanam, maka saya yakin semua akan memilih tanpa paksaan. Tapi ya harus rela juga amal kebaikan itu tidak mendapat apapun di mata Allah. Lha niat bukan mengharap ridhoNya..
Saya berharap, masjid tetap tidak sepi dengan ustadz/ustadzah yang tetap ikhlas berbagi ilmu, para dermawan tetap ikhlas memberi sedekah, rakyat miskin masih berhak mendapatkan pengobatan gratis, setiap orang masih senang berbagi.. Berbagi harta, berbagi ilmu, berbagi rezeki.. Sebab balasannya lebih dari sekedar suara yang tidak seberapa, lebih dari itu.
Maka, jangan biarkan kebaikan-kebaikan itu terhenti di sini….
Merah = Marah ?
” Berjuang tanpa Kekerasan”
tulisan yang tercetak pada kertas A4 putih yang tertempel di bagian belakang motor kader partai yang berbasis massa terbanyak di Solo itu benar-benar saya baca berulang-ulang. Dalam hati, saya tertawa saja… Bagaimana tidak? seharian tadi perjalanan yang mengiringi saya dari rumah sampai ke rumah lagi benar-benar melatih kesabaran saya. Sampai akhirnya, saya membuat keputusan, daripada ‘muring-muring’ ga jelas, dan memberikan tatapan mata sinis tanda terganggu ke mereka hanya menambah kejengkelan saya, dan itu pun sia-sia, lebih baik saya mengikuti saja mereka, sambil mencoba untuk berpikir. Meski kadang agak prihatin juga dengan gaya para ‘pangeran merah’ itu, yang… ah… speechless.
Ya, saya mencoba berpikir dan menganalisa. Hingga akhirnya muncul pertanyaan-pertanyaan di kepala saya.
“Apa sih yang ada dalam pikiran mereka sekarang? bangga, keren, menang, mempesona, atau apa..?”
yah, mungkin iya. Tapi, pada siapa, dan kenapa? wallahu’alam bishowab.
Saya hanya kasihan saja dengan orang-orang yang merasa terdzolimi dengan kekacauan kecil ini. Read the rest of this entry
Nona cantik, pake cadar dong
Berawal dari kisah seorang akhwat, sebut saja namanya Fulanah. Pada suatu pagi dia mampir di sebuah warnet untuk browsing. Beberapa menit kemudian, dia pikir urusannya untuk browsing dan sebagainya telah selesai. Akhirnya dia pun membayar ke penjaga warnet. Tanpa diduga, si penjaga warnet memberinya sebuah lembaran kertas yang tergulun. Si Fulanah bertanya “Apa nih mas?” dengan tanpa ekspresi Mas itu menjawab “Dibaca saja, itu katalog buku.” Iya sih, memang itu terdapat katalog buku yang sepertinya didownload dari internet, kemudian di print dengan tinta yang hampir habis. “Tidak menarik” batin si akhwat sambil beranjak pergi, tapi tak lupa berucap “Makasih ya mas..”
Tapi saat lembaran itu dibukanya kembali sesampai di tempat parkir, ternyata itu tidak hanya katalog buku saja. Halaman sebaliknya, terketiklah tulisan yang lebih rapi, sebuah puisi. Cukup panjang. Tapi yang paling menarik adalah bait terakhir puisi tersebut.
Sebuah pantun “Buah salak buah kedondong. Nona cantik, pake cadar dong.. “
Deg. Antara rasa malu, merasa bersalah, dan sedikit membuat kepikiran, Fulanah pun pergi meninggalkan Warnet tersebut dengan beribu pemikiran yang muncul di kepalanya.
Dan memang, setelah diresapi kembali, dan mencoba membaca puisi tersebut, Fulanah tersadar, puisi itu isinya tentang pesan moral, betapa kehancuran itu, kerusakan moral itu bisa berasal dari paras cantik seorang wanita… Subhanallah…












