Inisiatif, Kerendahan Hati, dan Pengorbanan…

1 Jul

depluku

Saya tidak merasakan apapun di lembaga ini… saya ingin setiap orang yang saya temui bisa menjadi teman diskusi. Saya merasa tidak ada yang bisa menjadi tempat keluh kesah saya. Jadi, kalaupun lembaga ini selesai, biasa saja..”

Saya dapat apa di sini? Tidak ada yang bisa memberikan APAPUN pada saya di sini..”

“I have no meaning… lebih baik saya berhenti saja, dan kemudian saya bisa mengurus diri saya sendiri

Orang-orangnya nggak asik, jadi ya sudah, saya nggak mau aktif aja…”

Saya dateng, tapi nggak ada yang bisa saya kerjakan, jadi mending saya mengerjakan hal yang lebih bermanfaat sajalah. Tidur, nyuci baju, PS-an, di kos ngobrol sama temen, ngalamun di mana…gitu..”

Barangkali itulah yang beberapa waktu ini sering saya dengar. Kata-katanya berbeda, intonasinya juga berbeda. Yang mengatakan pun berbeda-beda. Tapi rasanya sama saat mendengarnya. Sakit, dan marah!

Saya yakin, kalimat2 di atas pasti ada dalam setiap periode di lembaga. Setiap tahun, dengan orang yang berganti pula. Kalau boleh saya bilang, inilah penyakit menular yang paling berbahaya dalam sebuah roda pergerakan lembaga. Dan parahnya lagi, kalo ini sampai menular, dan membuat orang yang mendengarnya berkata

Iya, ya.. saya juga. ikut pulang ah… “ malah kalau parah,

Iya, ya… ikut berhenti ah…”

Tanpa beban, kemudian pulang, atau malah berhenti.

Lazimkah ini terus menerus ada? Ketika SEMUA berpikiran seperti yang di atas, kalau dalam lembaga ada 150 an orang dan disana yang 150 berpikiran seperti itu semua, sekarang pertanyaannya : Siapa yang akan bersedia menjadi tempat keluh kesah, siapa yang bisa memulai untuk mengajak diskusi, siapa yang bisa ‘memberi’ apa yang dia miliki…..? sekedar ilmu, sekedar informasi, sekedar penyemangat, sekedar senyum….. Siapa yang bisa menjadi inisiator bergerak… dan yang terpenting adalah :

SIAPA YANG MAU BERKORBAN…?

Berkorban untuk menjadi pendengar, bukan yang ingin didengar, berkorban menjadi inisiator, bukan yang menunggu perintah, berkorban untuk menjadi yang memberi, tanpa berharap menerima… berendah hati untuk lebih dulu tersenyum dan menyapa…

Apa susahnya? Bayangkan ketika ini ada dalam setiap jiwa-jiwa 150 orang tadi.. betapa indahnya. Akan ada ukhuwah, akan ada semangat untuk terus berkarya, akan ada RUH UNTUK BERJUANG!

Saya kembali ingin menelisik lebih jauh niat orang-orang yang pernah mengeluhkan hal-hal tersebut : Apakah keberadaan kalian dalam sebuah lembaga karena ingin MENDAPATKAN sesuatu?

Kenapa tidak dibalik dengan

Karena ingin MEMBERIKAN sesuatu…?

Itu yang sebenarnya menjadi inti dari setiap permasalahan turun temurun dalam setiap periode saya beramanah di lembaga. Sudah 4 tahun saya bergelut, dan empat lembaga saya tekuni. BEM UNS, BEM MIPA, SKI MIPA, dan partai Gerbang. Hampir seluruhnya terdapat konflik internal yang berakar pada permasalahan yang sama. Di luar konteks memang terlalu banyak amanah, tapi saya pikir paradigma ‘semakin banyak amanah akan semakin keren’ tidak tepat. Justru di mata saya dia semakin tidak punya keinginan untuk benar-benar ‘total’ dan mau berkorban dalam amanah itu. Kecuali dia bisa memberikan porsi pada salah satu amanah, menurut saya tidak apa-apa. Tapi kalo tidak semuanya..? payah!

Tetapi memang mutlak saya tidak menyalahkan stiap orang yang berpikiran seperti yang paling atas tadi, terutama bagi yang memiliki angkatan paling muda di situ. Sebab waktu bagi mereka memang diarahkan, dibimbing, dan didengar. Sebab saya pernah berada pada posisi mereka, dan saya adalah anak kecil yang paling agresif menuntut. Untung saja saat itu ada yang bisa mengakomodir tuntutan saya yang radikal, dan kadang berlebihan. Tapi, tetap dalam koridor aplikatif. Bukan menuntut tapi tidak berbuat apa apa…..

Nah, kalo yang berpikiran seperti itu adalah orang yang seharusnya mulai belajar untuk itu, apalagi orang yang seharusnya dan memang wajib untuk berperan seperti itu… Luar Biasa Mengerikan…

Inisiatif bukan suatu hal yang sulit ketika kita berada pada posisi yang paling berhak dan tepat untuk berinisiatif… Top Leader, atau Pemimpin… jadi, harus menunggu inisiatif dari siapa lagi…

Rendah hati tidak akan membuat kita menjadi tampak bodoh ataupun tampak tidak berharga, tapi akan sangat tampak lebih mulia… Jadi bukan saatnya lagi malas untuk memulai menyapa,

Pengorbanan… tidak akan ada yang mengejek atapun mencela pengorbanan kita… tidak akan ada yang menganggap kita hina dengan pengorbanan itu, justru itulah yang membuat amanah ini menjadi ladang amal yang besar bagi kita. Kunci menggapai surga.

Apalagi yang menghalangi untuk bangkit…? Jika usia kita masih sampai ke sana, maka apalagi yang membuat kita masih kukuh untuk menjadi penuntut dan peminta-minta..? sedang kita punya sesuatu untuk diberikan, sedang kita masih diberi kesempatan Allah untuk berjuang. Berikan yang terbaik yang kita miliki, karena balasan dariNya juga pasti terbaik… wallahu’alam…

(Semoga keyboard saya tidak rusak setelah saya menulis artikel ini. Karena saking emosinya, saya menekannya keras-keras. Semoga dapat tersampaikan kegelisahan ini. Dan saya mohon maaf bagi yang tersindir. …)

Cukup, kawan, mari kita buka ladang amal, dan mari bersama-sama berjuang!

Sabtu, 28 Juni 2008

7 Tanggapan to “Inisiatif, Kerendahan Hati, dan Pengorbanan…”

  1. Nunik Juli 1, 2008 pada 5:49 am #

    Hehehe..
    Mb sonia..mb sonia.. Dirimu memang ciri2 wanita tangguh yg akan mgunakan bnyk cara utk mnyampaikn dn mrealisasikan kgelisahan dan harapan mu. Trmasuk mnuliskan ny dlm blog ini stlh sblmny bbg cara sdh dikau lakukan. Teruslah brjuang tanpa ad kata putus asa. Walaupun sendiri. Berat memang. Smg qt smua dberi kekuatan oleh Allah swt utk mngarungi ini dn mcapai cita qt.. Saling mendoakn y mba

  2. Nunik Juli 1, 2008 pada 5:55 am #

    Oia,klo wordpres daku tak tau mba. Sigma ahlinya. Jd,tnykan pada ny sgala yg brkaitan dgn wordpress. Met jd blogger! Smg qt bs mrubah dunia mjd lbh baik dgn tulisan2 qt.. Qt sambut tiap subuh qt dgn senyuman dan mngatakn “assalamualaikum dunia, aq akan terus brjuang utk mrubah mu mjd lbh baik bersama Allah swt dn shabat2 perjuangan ku,ikhwah fillah rohimahumullah..”
    keep smile n struggle. =)

  3. Donzjuan Juli 2, 2008 pada 4:00 am #

    Biasa sajalah.
    Hidup adalah Perbuatan (Soetrino Bakhir)

  4. Nunik Juli 3, 2008 pada 11:51 pm #

    Mba,daku ud smpe rmh ini..tinggal pilih mkan bu2r ayam,nasi uduk,atw lntong syr yg gak ad dsolo..hehe. Anggep aj ni brhenti sjenak y mb..padhal amanah lg booming2nya. Gmn lg mb?keadaan yg memaksa. Oia,sigma knp lg tu mba?? Kyny lg bete abis

  5. agus cuprit Juli 4, 2008 pada 4:20 am #

    hemm…
    ini sonia (twin sister?), gmana kabar? masih sibuk di kampus? semoga tetap semangat.

    NB: seperti itulah dulu kami mengurus kalian, repot, melelahkan, tapi menyenangkan. Dan itulah nilai tantangannya. Akhirnya kalian sekarang juga merasakan apa yang dulu kami rasakan. Semoga semakin arif dalam bersikap. keep istiqomah!!! karena dunia kampus belumlah se keras dunia masyarakat.pelajari semuanya, kelak pasti ada manfaatnya…

    wassalam

    saudaramu yang jauh di Batam

  6. soniazone Juli 4, 2008 pada 7:06 am #

    hmm… pak in, pak in… di mata antum semua terliht biasa.
    gak nyambung..

  7. Donz Juan Juli 6, 2008 pada 1:12 am #

    Sharusnya kamu ganti comment di t4 saya bukan di sini. Piye tho.
    Konteksnya bukan nyambung & tidaknya. Kalopun kalian pikir teus-menerus jg tdk akan ada habisnya. Korban perasaanlah, yg beratlah mending kalian pikirkan u/ bergerak dan menyiapkan agenda so jauh lbh bisa produktif shngg pd akhirnya arus bawah akan dpt mengikuti berbagai aktivitas dg baik mreka tdk “sibuk” untuk gosiplah, menggerutulah dsb.
    Gitu Son.
    Kl kamu tdk sepakat monggo saja.
    Saya kahan terlahir sbg Mars so more rational in thinking and acting.
    More spirit-More action.
    Salam Roso-Roso

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: