Surat untuk Jiwa

1 Agu

Surat ini kutujukan untuk diriku sendiri dan saudara-saudaraku yang insya Allah akan tetap mencintai Allah dan rasul-Nya di atas segalanya, karena hanya dengan cinta itu yang dapat mengalahkan segalanya, cinta hakiki yang membuat manusia melihat segalanya dari sudut pandang yang berbeda, lebih bermakna, lebih indah…..

Surat ini kutujukan untuk hatiku dan hati saudaraku yang kerapkali terisi oleh cinta selain-Nya, yang mudah sekali terlena oleh indahnya dunia, yang terkadang melakukan segalanya bukan karena-Nya. Lalu di ruang hatinya yang kelam, merasa senang jika dilihat dan dipuji orang, entah dimana keikhlasan…, meski saat itu kurasakan kekecewaan dan kelelahan, padahal Allah tidak pernah menanyakan hasil. Dia hanya melihat kesungguhan dalam berproses.

Surat ini kutujukan pula untuk jiwaku dan jiwa saudara-saudaraku yang mulai lelah menapaki jalan-Nya, yang mulai seringkali mengeluh, merasa terbebani bahkan terpaksa untuk menjalankan tugas yang mulia. Padahal tiada kesakitan, kelelahan serta kepayahan yang dirasakan oleh seorang hamba melainkan allah mengampuni dosanya.

Surat ini kutujukan untuk ruhku dan ruh saudara-saudaraku yang mulai terkikis oleh dunia yang menipu, serta membiarkan fitrahnya tertutup oleh maksiat yang dinikmati, lalu dimanakah kejujuran diletakkan..? dan kini terabaikan sudah secara nurani yang bersih, saat ibadah hanya rutinitas belaka, saat fisik dan fikiran disibukkan oleh dunia, saat wajah menampakkan kebahagiaan yang semu. Coba lihatlah… apakah hatimu tertawa? Menangis? Atau merana..?

Surat ini kutujukan untuk diriku sendiri dan saudaraku yang sombong, yang terkadang bangga pada dirinya sendiri . sungguh tiada satupun yang membuat kita lebih dihadapan-Nya selain ketaqwaan. Padahal kita menyadari bahwa tiap-tiap jiwa pasti akan mati, namun kita masih bergulat dengan kefanaan.

Surat ini kutujukan untuk hatiku dan hati saudara-saudaraku yang mulai mati, saat tiada getar saat asma Allah disebut, saat tiada sesal ketika kebaikan terlewatkan begitu saja, saat tiada rasa dosa ketika mendzolimi diri dan saudaranya.

Akhirnya surat ini kutujukan untuk jiwa yang masih memiliki cahaya meskipun sedikit. Jangan biarkan cahaya itu padam. Maka terus kumpulkan cahaya itu hingga ia dapat menerangi wajah-wajah disekililing, memberikan keindahan Islam yang sesungguhnya , hanya dengan kekuatan dari-Nya…

Wallahu’alam bishowab

5 Tanggapan to “Surat untuk Jiwa”

  1. agus cuprit Agustus 1, 2008 pada 1:50 pm #

    sayang banget, alamat yang dituju tidak jelas…

    Nih, ane kasih alamat ane:
    Bengkong Harapan II No. L 151 Bengkong Indah
    Bengkong – Batam

  2. Sonia Atika Agustus 4, 2008 pada 9:25 am #

    dasar pak cuprit ini….
    aneh…
    iya pak, sampe2 saya bingung nulis apa. buntu, buntu buntu,,,

  3. fauzansigma Agustus 6, 2008 pada 6:29 am #

    lha suratnya mana?
    *hehe, bercanda son..*

    sms aja lah drpada surat2an..
    *kabur … takut ditimpuk sonia pake megaphone*

  4. fauzansigma Agustus 6, 2008 pada 6:30 am #

    pada intinya… sy tertohok… siapa yg tidak tertohok bukan manusia.

  5. inungyasha Agustus 11, 2008 pada 4:35 pm #

    surat?? dari mana bu?? perasaan ini blog deh..😀😀
    hehe..

    ———————————————– kabooooooorrrrrrrrrrrrr

    @ fauzansigma
    semudah itukah membedakan manusia dan tidak?? bagaimana manusia yang masih “tertutup” ??

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: