Untuk ‘mereka’ dan ‘kita’

1 Sep

Ramadhan tahun ini istimewa, sungguh istimewa. Karena sebelum menyambutnya, saya diberikan kesempatan untuk bertemu orang-orang luar biasa. Hanya skenario Allah lah yang dapat mempertemukan kami.

Bukan tanpa alasan kemudian kami bertemu, bukan hanya satu ataupun dua hari saja proses ’brain storming’ bagi kami untuk berkumpul dan menyadari, bahwa kami sama…

Kami memiliki sejarah yang sama, kami memiliki rasa yang sama, dan yang terpenting adalah kami memiliki pelogikaan yang sama.

Saya tidak peduli dengan persepsi manusia. Saya pun tidak peduli dengan manusia-manusia yang mereka berkumpul dengan data yang terbatas, analisa yang instant, logika berdasarkan asusmsi parsial, dan yang terparah adalah hati yang mati rasa dan tidak memanusiakan manusia kemudian menjustifikasi kami, membangun persepsi dan melihat perbedaan dengan kami adalah ancaman.

Yang jelas, proses tabayun itu sudah diupayakan. Kalau pun proses itu tidak dapat secepat penyebaran persepsi yang terjadi, hanya Allah yang berhak mengatur hati-hati manusia.

Dengan saya menulis di blog ini pun saya pikir ini adalah ikhtiar dari sebuah tabayun.

Akhi wa ukhti fillah, orang-orang terpilih yang seharusnya mengerti arti sebuah kedewasaan, harus disadari butuh tenaga ekstra untuk mengerti, butuh tenaga ekstra untuk mendengar, dan butuh tenaga ekstra untuk merasakan setiap hati-hati manusia yang menjalankan. Oleh karena itu, bukan tanpa alasan kemudian mereka berkehendak, dan mempertanyakan arti sebuah keputusan.

Kalau tidak ingin meluangkan waktu lebih untuk mendengar, mengerti, ataupun merasakan maka jangan merasa benar saat antum dikritik, ataupun ditumpahi oleh kekecewaan. Jujur, saya telah mencoba mati-matian untuk mematikan perasaan saya hanya sekedar untuk nyambung dengan kalian. Tapi Demi Allah… itu artinya saya sedang menyiksa batin saya sendiri.

Kalaupun saya disalahkan karena terlalu banyak mendengar, mengerti, dan merasakan karena saya sadar, bahwa saat di posisi mereka saya pun butuh untuk didengar, dimengerti, dan dirasakan. Hingga akhinya saya berharap antum semua mengerjakan seperti yang saya kerjakan, tapi jumlah kalian lebih banyak, dan kesibukan kalian membuat tiga hal itu begitu berat, dan menjadi beban.

Tapi cobalah renungkan, dakwah ini akan semakin menemui onak dan duri. Ini belum apa-apa dibanding tantangan ke depan. Keterlenaan selama ini, hanya akan membuat lembek, dan mudah terperdaya. Pada akhirnya, kita pun tersadarkan… kita butuh kekuatan lebih dan tenaga lebih untuk menjadi jamaah yang kuat. Akhirnya kita tersadar, bahwa ternyata kita selama ini terlena, pada hal-hal yang sebenarnya semakin menampakkan ketidak mampuan kita, ketidak seriusan kita…

Cobalah renungkan, menjadi orang-orang terpilih tidaklah mudah. Ini bukan sebuah kebanggaan, hingga akhirnya menuntut untuk ditaati, dihormati, dipatuhi. Tapi ini adalah sebuah tanggung jawab yang besar, yang memaksa kita untuk memanusiakan manusia……

Akhi wa ukhti fillah, yang hanya karenaNya kita dipertemukan..

Menemukan kalian seperti sebuah oase bagi saya. Ini adalah tarbiyah bagi kita. Kalaupun jalan yang kita tempuh mendapatkan persepsi berbeda, biarkan saja..

Bukan tanpa alasan, kita seperti ini. Panjang proses yang telah kita tempuh. Ada yang berkontemplasi dalam kesendiriannya, menangkap arus kegelisahan tapi malah dicap menyebarkan kegelisahan, mencoba bertahan meski tanpa arahan, berharap didengar tapi malah dipersalahkan.. Ah.. itu semua cukup untuk mengumpulkan kita. Sebenarnya pada dasarnya, pondasi cuma satu. Cinta.

Mencintai dua hal yang sebenarnya mencoba untuk kita temukan, bagaimana keduanya bisa berjalan beriringan, tanpa ada yang terdzolimi, tanpa ada yang merasa sesak, maupun penat lagi dalam dua wilayah itu.

Semoga segera, kita bisa menemukan formulasi terhadap dua hal yang kita cintai itu..

Ini adalah bagian kecil. Semoga ini tidak akan menghancurkan dua hal itu.

Sedikit orang yang memahami kita. Entah kenapa. Barangkali memang, butuh tenaga ekstra untuk memahami, mendengar, maupun merasakan perasaan kita. Yup, ini semoga menjadi batu loncatan bagi mereka untuk menambah tenaga ekstra, meski sedikit, untuk mengantisipasi ’kita kita’ yang lain di masa yang akan datang…

Intinya, saya beruntung menemukan kalian. Jazakumullah khairan katsiir..

Jangan pernah menyesal…

22 Tanggapan to “Untuk ‘mereka’ dan ‘kita’”

  1. agus cuprit September 1, 2008 pada 3:41 am #

    hemm, ada apa nih? kok keliatan gawat abiz…

  2. Nunik September 1, 2008 pada 11:46 am #

    Tulisan yg menggugah dan menyadarkn.. Menydarkn arti sbuah pemaknaan. Implementasi dr keserbasalahan. Keserbasalahan atas klarifikasi. Tulisan yg hny dmengerti oleh “kita” dn mgkn tdk dmengerti oleh “mereka”.

  3. Nunik September 1, 2008 pada 1:54 pm #

    Atw,tulsn ini bs dmengerti oleh org2 yg prnh mrskn spt “kita”.
    “KITA” yg seolah2 mjd komunits yg brposisi salah krn brusha mgungkpkn dn mmbuktikn cinta itu. Mgungkpn kpekaan, kgelisahn, dn mmberi solusi.

  4. Nunik September 1, 2008 pada 1:57 pm #

    tulsn ini pun bs dmngerti oleh org2 yg prnh mrskn spt “kita”.
    “KITA” yg seolah2 mjd komunits yg brposisi salah krn brusha mmbuktikn mkna cinta itu.Mgungkpn kpekaan,kgelisahn,&mmberi solusi.

  5. Yusuf September 2, 2008 pada 11:58 am #

    saya rasa ini bagian dari sekenario Allah untuk kita lebih dewasa lagi dalam mengambil keputusan… coba semua itu dibicarakan dengan baik-baik, ini karena kondisi yang memang memerlukan keseriusan dan kehati-hatian, ane memahami maksud dari yang disampaikan ukhti.

  6. Donz Juan September 2, 2008 pada 3:48 pm #

    Knapa hal sperti ini harus terus-menerus dibahas & t’bahas. Sudahlah, apa kalian tdk capek. Tidak adakah hal lain yg lebih penting untuk dibahas? Khusnudzon saya, tdk ada yg kemudian b’keinginan u/ tdk memanusiakan manusia, atau mungkin tdk ‘m’kaderkan kader’? Masing2 individu tumbuh pd lingk.yg b’beda yg kemudian m’bentuk preferensi b’pikir yg b’beda2.
    Kl memang kalian kader yg tangguh BUKTIKAN!!! Enough, OK! P’bahasan hal2 yg spetti ini tdk layak u/ terus diperpanjang karna kan m’ganggu konsentrasi yg pd akhirnya menguras energi & capek.
    Silahkan kalian pilih, capek dan lelah u/ bahas agenda ke dpn ataukah kelahan u/ menanggapi hal2 speti ini. Ke dpn saya tunggu peran & konstribusi kalian yg lebih progress.
    Come on, let’s Grow Up.

  7. Sonia September 2, 2008 pada 4:57 pm #

    Yup, kita tdk hanya berkutat pd ini,kok pak. ini penunjang sebuah kinerja.. kalopun yang tertumpahkan hanya ini, ya, tidak semua hal harus ditumpahkan to? OKE, WE’LL GROW UP..

  8. agus cuprit September 3, 2008 pada 4:47 am #

    Salah satu kelebihan yang kami (senior angkatan diatas kalian) miliki adalah kami pernah berada pada usia dan masa seperti kalian. Kami pernah dan (mungkin) sering mengalami seperti yang kalian alami.

    Merasa tersisih dan tidak dipahami oleh komunitas. Itu biasa, karena orang2 secerdas kalian memang tercipta untuk cerdas dan kritis, kalianlah bagian dari penyeimbang. Tapi…sepanjang saya dan mungkin kawan-kawan saya dulu hadapi, masalah seperti ini membutuhkan ketenangan berpikir dan ketsiqohan pada ketentuan yang sudah diputuskan oleh komunitas. Pernahkah rasulullah marah ketika dalam perdebatan apa yang dipilih dalam perang uhud, bertahan di madinah atau maju menyongsong musuh, yang kemudian menimbulkan kekalahan fisik di perang tersebut? apa sikap rasulullah? Dia menerima, meskipun secara posisi dia lebih tinggi, lebih cerdas dan dia wakil Allah SWT. Beliau, dengan segenap kerendahan hatinya, bersedia mengikuti keputusan itu.

    Bahkan, kekalahan perang uhud justru menjadi pembangkit di kemenangan-kemenangan berikutnya. Perang uhud akhirnya menjadi warning atas kebanggan kemenangan di Badar. Menjadi semacam pesan bahwa kemenangan bukan hanya peran kuantitas dan kualitas manusia. Ada peran dari Sang Pencipta Peran. Dan yakinilah bahwa setiap keputusan akan memberikan pembelajaran bagi semua yang berada dalam pusaran keputusan itu. Contoh mudahnya, seorang anak kecil tak akan pernah tahu kalau api itu panas tanpa dia merasakan panas tersebut, atau tak akan pernah tahu rasanya kalau jatuh itu sakit tanpa ia pernah jatuh. Keputusan itu membutuhkan pengalaman meskipun kita telah menggambarkan akibatnya. Ini bagian dari pendewasaan.

    Cobalah baca siroh…masih ingatkah kisah tentang penunjukan utsamah bin Zaid di usianya yang baru 17 tahun untuk menjadi panglima perang? padahal diantara pasukan itu berderet tokoh-tokoh senior seperti Abu bakar, Umar bin Khottob, Ali bin abi tholib yang lebih dewasa dan berpengalaman. Dalam membangun komunitas ini yang diperlukan bukan sekedar ketokohan dan kejeniusan personal. Komuitas ini dibangun berdasar peran tim, tiap orang adalah bagian yang tak terpisahkan dari setiap keberhasilan.

    Pasti, dalam setiap keputusan ada sisi kelebihan dan tidak menutup terselip juga bagian-bagian kelemahan yang mungkin jauh lebih besar dari keputusan itu. tapi keputusan itu harus tetap diterima dan dijalankan. Ini bagian dari keikhlasan dan totalitas kita bersama komunitas. dan jika ada pernyataan: Ini taklid buta, ini menjerumuskan! Maka jawabnya: akan menjadi taklid buta dan menjerumuskan jika kalian yang mengetahui sisi-sisi kelemahan itu tapi diam dan tidak mengambil peran menutupinya. Apalagi sampai membangun kerumunan sendiri. Mari belajar bertanggungjawab! Wallahu a’lam.

  9. Rifai saja September 3, 2008 pada 8:45 am #

    saya sepakat dengan apa yang di katakan abang saya agus cuprit. tau g orang ini bahkan lebih kritis cerdas dan lebih……………. (jawabannya tanya orangnya sendiri)tp yg harus kita sadari sebuah komunitas adalah satu bagian sistem yang harus di gerakan bersama-sama saling membantu, percaya dan saling melingkapi.

  10. Sonia Atika September 5, 2008 pada 12:51 pm #

    Saya trauma.. sungguh, akhi.. saya trauma. entah, barangkali karena kekurang dewasaan seorang sonia, ktidak pahaman,atau mungkin kekurang tsiqohan saya.. tapi yg jelas,saya trauma.. saya telah berteriak2 pada mereka, tentang kepenatan itu, sesak itu, keluh kesah itu.. dan CUKUP SAYA YANG MERASAKAN. tapi.. yah, karena mungkin, saya saja yang tidak dewasa.. adakah yang mau mengerti, itu semua MEMBUAT SAYA TRAUMA..

  11. agus cuprit September 6, 2008 pada 6:20 am #

    Trauma?hemm, mungkin karena sonia dilahirkan pada masa konflik. Bisa jadi itu menjadi landasan mengapa ada sikap-sikap yang sekarang sonia ambil. Bukan suatu masalah kalau sonia kritis, terlebih tujuan dari yang sonia lakukan karena untuk perbaikan masa depan. saya pun sepakat.

    Tapi setiap tindakan yang dilandasi trauma justru akan berdampak kurang baik, tidak akan optimal, karena dasarnya hanya luapan emosi. Cobalah apa yang sonia inginkan itu dilakukan dengan cara yang ahsan. Protes-protes dengan nada cinta, penuh sayang, sehingga yang keluar bukan benturan, tapi kebersamaan.

    Son, kami sangat mencintai orang-orang kritis seperti kamu dan yang lainnya. Karena kalian adalah mutiara. Dan sebagaimana mutiara, yang berasal dari butir pasir. Butuh waktu lama untuk menempanya.

    Son, kami sangat paham dengan gelisah kalian. Karena kami pun selalu ingin perbaikan. Dan tentunya setiap keputusan, pastilah memiliki tujuan untuk perbaikan.

    Ingatkah sonia tentang peristiwa Hudaibyah. Perjanjian yang tak menyenangkan bagi kaum muslimin saat itu. Bahkan Umar bin Khottob pun, yang terkenal cerdas, marah dan menyatakan penolakannya kepada Rasulullah. Tapi mereka menerima, mereka patuh, mereka tsiqoh dengan apa yang dilakukan Rasulullah. Proteslah terhadap setiap keputusan yang bagi kalian (orang-orang cerdas) merupakan kebijakan yang kurang tepat dengan protes yang santun, jaga ukuhwah, jangan sampai menimbulkan perpecahan, karena Allah SWT tidak menyukai perpecahan kaum muslimin. Bersikaplah sebagaimana orang-orang cerdas masa lalu, bersikaplah seperti Umar bin Khottob, keras tapi lembut, dan menerima keputusan dengan lapang dada.

    Insyaallah, sikap itu akan lebih baik dan bermanfaat bagi semua. Saya yakin terhadap sonia sebagaimana sonia yang saya kenal. saya yakin terhadap kecerdasan emosi yang selama ini sonia miliki. Ingatkah pada apa yang Mbak Wulan ajarkan pada kalian? Bekerjalah, dan bekerjalah…tanpa melihat siapa yang memberi perintah, karena kita bekerja untuk Allah SWT. Bukankah itu yang dikatakan Mbak Wulan pada kalian?

  12. agus cuprit September 6, 2008 pada 6:35 am #

    NB: Saya tidak pernah lari sebagaimana yang sonia katakan. bagi saya, jika memang ruang kita terlalu sempit untuk bergerak, maka carilah ruang lain. Seperti laut dan ikan. laut dangkal hanya untuk ikan-ikan kecil, sedang laut dalam, disana berada ikan-ikan besar. Maka jangan salah tempat, ok!

  13. sonia September 6, 2008 pada 8:01 pm #

    iya… mungkin benar. saya salah tempat. kultur kampus UNS mematikan potensi sodara2 saya dan saya. huwaaaa…. semoga segera menemukan tempat terbaik..

  14. agus cuprit September 7, 2008 pada 9:00 am #

    Percikan-percikan potensi itu jangan dikungkung, tapi tidak boleh juga dilepas selepas-lepasnya.

    Masalahnya adalah bagaimana menyalurkan secara terarah dan benar segenap potensi yang sonia miliki? ada beberapa hal yang harus disadari:

    Pertama, bahwa kita ini adalah kecil, pada dasarnya bukan apa-apa ataupun siapa-siapa sebelum bersama komunitas. Yang menjadikan semua ada karena adanya kerja individu-individu cerdas yang bersatu dalam komunitas. Dengan demikian, maka kerja-kerja kita adalah kerja-kerja ikhlas tanpa batas, dan tentunya bukan karena ego ke-aku-an yang didahulukan.

    Kedua, bahwa karena kita kecil, maka jangan pernah merasa bahwa semua harus sesuai dengan kehendak kita pribadi. Apa yang kita pikirkan, ide-ide cerdas kita bukanlah satu-satunya yang menggerakkan roda komunitas ini. dan tentunya kadang kita akan melihat dan merasakan sejauhmana kita menjadi orang besar dengan cara sabar dan tsiqoh terhadap keputusan jika keputusan itu bukan berasal dari ide cerdas kita.

    Ketiga dan terakhir, komunitas ini punya sistem. Ada syuro’ dan ada orang-orang yang secara sistem harus kita percaya, karena mereka merupakan yang dipercaya oleh komunitas. Maka, luapkan semua ide dan kehendak kita melalui sistem itu, bukan diluar atau ditempat-tempat yang tidak semestinya. Kuncinya: Arkan Al-bai’at.

    Nah, setelah sonia memahami tiga point diatas yang perlu didahulukan adalah:
    1. dahulukan ukhuwah sebelum kinerja. Basis kerja kita adalah kekuatan ukhuwah, jangan sampai karena ingin mencapai 100% hasil maksimal tapi kita meninggalkan saudara-saudara yang lain, karena seperti lidi, dia tak akan mampu membersihkan sampah secara efektif jika sendiri.
    2. dahulukan sikap husnudzon sebelum kinerja. Sikap baik sangka kepada setiap orang atau terhadap hasil-hasil keputusan merupakan asal dari keberkahan dakwah. Satu sisi, sikap ini memberikan ketenangan dalam setiap langkah. Sisi lainnya tentunya akan memberikan pahala, bukan!
    3. dahulukan tim bukan pribadi. Ah, kalau yang ini pasti sonia paham. Jadi tak perlu dijelaskan.
    4. Bukan berbeda tapi bersama. Sikap-sikap kritis itu wajib ada dalam setiap kerja. Namun sikap kritis bukan dengan cara-cara yang berbeda langkah, ikuti langkah sesuai dengan keputusan, namun tetaplah tambal atau tutupi celah-celah yang ada yang berpotensi menghancurkan komunitas

    Semoga bermanfaat.
    NB: Nggak perlu nangis…ok?! Allahu Akbar 3x

  15. konloen September 7, 2008 pada 9:11 am #

    blajarlah dari pengalaman,,..
    tabah, sabar dan tawakal..
    spirit.!

  16. Puji K September 7, 2008 pada 10:03 am #

    Bismillahirrahmanirrahiim.
    saudariku,……
    Memang tidak mudah untuk menjadi orang yang memahami dan dipahami.
    Setiap orang pasti pernah merasakan kekecewaan, penyesalan. Tapi menanggapi kekecewaan dan penyesalan bukanlah sebuah solusi dari permasalahan, justru akan menjadi beban yang menguras banyak energi.
    Kita menyadari, bergabung dalam sebuah komunitas tentunya ada konsekuensi yang pasti kita terima dan kita harus memahami konsekuensi itu. Tidaklah mungkin dalam sebuah komunitas dakwah akan bermaksud mematikan potensi yang kita miliki, tetapi yang ada adalah ” kita perlu bertanya pada pribadi kita, apakah kita sudah memahami dan memenuhi hak dan kewajiban dalam komunitas tersebut atau belum ??? “, tidak ada yang melarang kita berkreasi, berinovasi dan melakukan gebrakan untuk tujuan perbaikan asalkan tidak keluar dari etika kita dalam jamaah dan menyalahi syari’at.
    Tidak ada kesempurnaan dalam setiap manusia maupun komunitas, sebuah kewajaran dalam komunitas ada konflik, karena itu adalah sunatullah dan kesalahan dalam pribadi manusia. Marilah kita refleksi terhadap apa yang sudah, sedang dan akan kita lakukan, karena yang terpenting adalah keridhaan ALLAH terhadap apa yang kita lakukan.
    Semoga ALLAH memberikan sesuatu yang yang terbaik untuk kita semua.

  17. fauzansigma September 7, 2008 pada 4:29 pm #

    huaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa………

    KOMENYA LEBIH PANJANG DARI POSTINGNYAAAA….

    EH, BTW KALIAN LG NGOBROL APA2AN THO?

    *kabur dilempar sonia pake megapone*….

    damailah UNS ku….

    damailah kawan2ku…

    damailah…damailah…

    *kabur terbirit-birit ke gerbang belakang*….

  18. fauzansigma September 7, 2008 pada 4:34 pm #

    ini adalah bulan fuasa… marilah qita sodara-sodara seiman…sesama muslim utk saling memaafkan… afwan…afwan… masya Allah…

    Sonia… baru Fulang dari ‘Arab… Sonia baru datang… bawa onta…

  19. Sonia Atika September 7, 2008 pada 10:41 pm #

    Seru… seru…. ternyata masih banyak yang peduli padaku.
    he he he…

  20. ukhtie_ math_05 September 8, 2008 pada 2:25 am #

    aslmkm wr,wb

    mbak ealah..ternyata ngilang dr kampus lagi mikir masalah ini ta?
    peace mbak!!!

    ayo mbak katanya.pengin mencari lautan yang lebih dalam..yang bisa mengepakkan segenap potensi!!! gek ndang lulus ya…semangat!!!
    kursi-kursi kuliah sudah menunggu kedatanganmu (cie..hiperbolis banget)
    mbak sonia down? trauma? nggak banget…..

    mba sonia seperti aku..semangat setiap hari!!! pantang untuk mengeluh yo mbak….

    tak salip lho ya,,,,,

  21. Rifai Saja September 9, 2008 pada 8:21 am #

    wee.eee.eee tenyata lg cari perhatian nih?

  22. wati_unram September 21, 2008 pada 2:23 am #

    Assalamu’alikum wr wb.
    Salam kenal dari jauh…

    jgn terus menoleh ke belakang kalo itu membuatmu jatuh. tataplah masa depan karena harapan tu mash ada. Menjadi dewasalah dengan ujian yang Allah berikan!!
    Bangkitlah!!
    Laa tahzan!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: