Selamat Hari Guru . . .

26 Nov

Guru. kata yang bermakna. Bukan karena bapak saya yang juga seorang guru. Atau bukan juga karena saya yang seorang guru les. tapi.. makna itu. Saya jadi teringat guru-guru yang berkesan bagi saya. Guru SD saya, SMP sampe SMA. Mungkin dari sekian puluh, hanya beberapa yang berkesan.

Saya kurang tau kenapa saya mengenang beberapa dari beliau. Tapi kalau saya coba mengkategorikan mereka, saya hanya mengingat guru yang bagi saya tidak hanya formalitas untuk mengajar. Tapi lebih dari itu. Ya, ternyata menjadi seorang guru yang mengesankan tidak mudah. Bagaimana mengajar bukan hanya formalitas keseharian saja. Hanya datang, mengulas beberapa materi, bel berbunyi, selesai.

Tapi, murid menunggu sebuah nilai yang lebih dari sekedar itu semua. Moral, motivasi, support, cerita lucu. Tentang yang terakhir, saya jadi ingat guru SMA saya. Beliau memang memiliki keunikan dari yang lain. Beliau wanita yang sangat lucu. Seperti sebuah tradisi saja, beliau memiliki cerita yang ‘turun temurun’. Kakak kelas saya (yang juga kebetulan kakak kandung saya, hehehe) mengatakan ‘kalau diajar bu wewah, pasti beliau akan cerita soal ini.’ dan memang benar, beliau mencritakan kisah yang disampaikan kakak saya. Tetap saja saya tertawa terbahak-bahak, meskipun pernah dengar cerita tersebut. Mungkin karena gaya penyampaian yang berbeda, lain dari yang lain.

Beralih ke nasib guru, apa yang saya lihat di televisi tadi pagi, tentang seorang guru yang juga seorang supir becak, yang penghasilan per bulan hanya 80.000 rupiah. Beliau seorang guru honorer, yang jam kerjanya pun sama dengan pegawai kantoran, atau buruh. Gila, hanya dengan uang sebesar itu, harus menghidupi beberapa anak, dan mengajar murid sebanyak 900an siswa! subhanallah. Uang yang bagi beberapa orang akan habis tidak sampai beberapa detik hanya untuk service HP, atau beli junk food, atau pergi ke salon!

Itu hanya satu sampel. belum teman saya SD, yang sekarang menjadi seorang guru TK, yang gajinya sebulan hanya 50.000 rupiah. Padahal dalam seminggu dia mengajar 6 hari, pagi sampai siang. Ya Rabb, ajari aku untuk selalu bersyukur..

Nasib guru di negara kita ini, memang layak untuk dikaji ulang. Pertama, sebandingkah dengan pengorbanannya, serta kelelahannya? Tapi, apakah variabel gaji menjadi jaminan untuk meningkatkan kualitas pengajarannya?
Kedua, ketika kesejahteraan dijamin, sanggupkah setiap guru tersebut tidak hanya menjadi seorang ‘pengajar’, tapi juga ‘pendidik’? yang menyampaikan ilmu tidak sekedar catatan di buku, PR, atau ulangan saja. Tapi nilai-nilai moral, akhlak, support bagi muridnya, serta nilai-nilai yang harus ditanamkan pada generasi penerus bangsa kita.

Tapi, tetap saja, ukuran sebuah imbalan dunia tidak akan dapat mengukur ilmu-ilmu yang telah guru berikan pada kita. Ilmu tersebut akan menjadi investasi di akherat, ketika terus menerus digunakan oleh generasi berikutnya.

Kepada bapak dan ibu guru, “Selamat Hari Guru…🙂 “

10 Tanggapan to “Selamat Hari Guru . . .”

  1. deeast November 26, 2008 pada 6:29 am #

    “slmt hari Pengabdian”

    nuwun mb, sdh mampir dan say hi,,
    InsyaAllah deeast baek2 aj mb,
    sdg mengelana aj mncri jwbn, atz ap yg membwt pikiran sy bentrok dg sesuatu yg bernama ‘prinsip’ mba,,,
    ad satu hal yg tiba2 mbwt sya ‘jiper’ dan mempertanyakan ‘ketulusan’, mnrt mba apa arti ‘tulus’ mba???

    hehhee,
    mdh2an masa2 spt ini segera lewat mba!!!!
    hiiii^_^

  2. imam er November 26, 2008 pada 8:46 am #

    mampir…
    Bersyukur dengan yang ada
    Gunakan Nikmat-Nya dgn sebaik-baiknya
    Itu Yang Utama…
    (taken from Saujana)

  3. fauzansigma November 27, 2008 pada 2:57 am #

    iya Son, makanya itu guru itu harusnya mendapat tempat yang luar biasa lho di negara ini, gila ajah, lha wong, wis susah uripe gajine cuma semono, anake akeh, jam kerja ne ra mesti. Kalo ada ujian atau semacamnya pasti ngasih jam tambahan. HIDUP GURU!

    eh , btw cerita gurumu itu apa SOn?

  4. fauzansigma November 27, 2008 pada 2:58 am #

    son, tau “rien” yg komen di tulisanku itu siapa? ririen ribut bukan? hehe

  5. agus cuprit November 27, 2008 pada 6:34 am #

    ada tulisan di blogku untukmu dan kawan lainnya

  6. s H a November 27, 2008 pada 12:12 pm #

    Aku jadi kangen Bu Wewah dan ceritanya juga ne Mba . Hahahaha. . .

    Ada guru yang makan gaji buta, ada guru yang kekurangan gaji . Huuuufh. . .

  7. nunik November 28, 2008 pada 9:36 am #

    ada juga mba guru yang kebetulan menjabat jadi kepala sekolah tapi kebetulan juga menjabat jadi pemulung. terharu dan malu. dan berusaha bangkit untuk bisa memberi yang terbaik bagi guru-guru itu. supaya jangan sekedar empati. 10 tahun lagi. semoga ya…

  8. ressay November 28, 2008 pada 10:08 am #

    Hymne guru pun liriknya ada yang diganti.

  9. agunk agriza November 29, 2008 pada 2:13 am #

    gr2 hari guru, temen ak ada yg ga masuk, dikira libur.
    padahal ada ulangan. hha.

    kasian dy

  10. Sonia Atika Desember 2, 2008 pada 9:02 am #

    @ Diaz
    dah baikan kan, sekarang, dek..?
    @ Imam er
    iya, mas.. siap!
    @ fauzansigma
    betul sig…
    ceritanya? ada deh… iya, itu ririn ribut. hehe.. juga😀
    @ sHa
    nisa diajar beliau juga ya. tuh, beda 4 tahun juga masih diceritakan to? mbakku aja angkatan 2000 loh. berarti emang everlasting story tuh..
    @ nunik
    amin… tak dukung, dek
    @ ressay
    apa iya mas?
    @ agunk agriza
    dia aja tuh dek, yang mengklaim sendiri kalo hari guru libur.. hihihi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: