Ruangan Hijau itu Berubah

29 Jan

Pagi itu saya memang menyempatkan diri main ke fakultas, untuk menyelesaikan beberapa urusan. Tiba-tiba dari arah kejauhan saya mendengar nama saya dipanggil “Mbak Son…!!” hmm.. suara yang tidak asing. Adek saya di lembaga. Atau mungkin lebih tepatnya, junior saya. Tidak lama berselang tangan saya sudah ditarik, menuju ruangan kecil yang dulu pernah ‘menemani’ saya selama satu tahun, dan saya tercekat.

Wah.. semua sudah berubah. Warna hijau melon yang dulu menghiasi dinding-dinding ruangan kecil berukuran sedang itu kini sudah berubah menjadi biru, agak gelap. Dan ruangan itu kini terlihat nyaman sekali, bersih, rapi, ditambah hiasan bunga di setiap sudutnya (kata adeknya, itu malah anak-anak putra yang mbuat.🙂 )

Saya tersenyum, dan berdecak kagum. Subhanallah.. saya jadi ikut merasakan kehangatan itu.

Namun, sambil memandang sekeliling, kemudian saya mencoba mengingat-ingat ruangan itu sebelum berubah seperti ini. Hmm.. warna hijau cerah, inisiatif dari beberapa orang dulu. Saya juga ingat, perdebatan kecil antara saya dan presiden saya saat itu, perdebatan antara ‘sanggup’ dan ‘tidak sanggup’, antara ‘mungkin’ dan ‘tidak mungkin’ untuk menjalankan sebuah program kerja sepele tapi penting, make over office. Bagi saya, sekretariat adalah segalanya. Maksudnya, sebuah lembaga akan lebih produktif  jika ada ‘zona nyaman’ untuk bisa beraktualisasi. Sekedar bertemu, diskusi, dan berkembang menjadi konsolidasi. Itu pelajaran yang saya ambil dari universitas. Selayaknya porsima sebagai center bagi pengurus, fakultas juga butuh yang seperti itu. Akhirnya perdebatan itu dimenangkan oleh saya, dengan didukung beberapa pernyataan ‘sanggup’ dan ‘mungkin’ dari adek-adek.

Dan, akhirnya, berkat sebuah kerja sama yang solid, serta perjuangan beberapa orang pengurus, kami sukses menyulap sekre yang sebelumnya biasa saja, menjadi ‘rumah kedua’ yang sangat nyaman. Yang membuat setiap orang berkunjung kesana betah. Menjadi persinggahan di sela aktivitas kuliah.

Saat itu, saya memang hanya berharap kenyamanan saja bagi mereka. Minimal, ketika semua nyaman, kejenuhan maupun kelelahan akan sirna. Ukhuwah juga jadi terjaga. Ibarat pasukan akan maju perang, seluruh logistik telah tersedia dan mereka tinggal memikirkan bagiannya masing-masing untuk membuat karya yang hebat.

Dan sekarang, semua sudah berubah. Saya senang mereka masih menyimpan semangat itu. Mereka juga masih menyimpan ‘paham’ itu. Tapi, jika semua sudah berubah sekarang, saya jadi bertanya, apakah mereka masih menyimpan pigura kecil yang isinya gambar kartun ‘replika’ saya dan kawan presidium? ternyata… pigura kecil itu masih tergeletak rapi di rak bersama kenang-kenangan lembaga yang lain. Syukurlah…

Kartun Presidium BEM FMIPA UNS 2007

Kartun Presidium BEM FMIPA UNS 2007

semoga foto itu menjadi saksi perjalanan kami di kabinet peduli kemarin.  Foto yang unik, memang. Mbuatnya pun secara tidak sengaja. Kami menemukan lembar untuk lomba mewarnai yang masih kosong, dan kebetulan mewakili tokoh-tokoh presiden, lima menteri dan satu sekjend. Dengan sedikit penambahan warna, jadilah foto itu.

Meskipun generasi-generasi selanjutnya akan terus berganti, tapi semoga semuanya terjaga. Rasa nyaman, kebersamaan, perjuangan, tawa yang dulu pernah kami ukir di ruangan itu, semoga bisa menjadi cerita yang tetap terjaga. Salam, untuk seluruh pengurus kabinet Peduli BEM FMIPA UNS 2007 dan yang sekarang.

Our story will never end…

6 Tanggapan to “Ruangan Hijau itu Berubah”

  1. indah Januari 29, 2009 pada 2:55 am #

    thu foto mb2 mipa y??
    wew kartunny lucu ^^

  2. aryo aswati Januari 29, 2009 pada 5:12 am #

    masih memikirkan sekre Son? hahaha…
    masih penasaran dengan kaderisasi yao?
    hijau? warna yang mulai jadi perhatianku sejak menginjakkan kaki di porsima. and now it’s my spirit colour. with white and blue. nice…

  3. Arief Adi Januari 30, 2009 pada 6:42 am #

    mbak, ana dikasih mandat ngelola blog ukmi plus mromosiin…
    mbak sonia bantu yak…
    paling enggak dipasang linknya disini. ini alamatnya…
    http://jnukmi.ormawa.uns.ac.id/
    syukron mbak sonia…

    o ya mbak nia, artikelnya semakin hari semakin enak dibaca🙂

  4. mulki Januari 31, 2009 pada 8:37 am #

    kerinduan mbak son kembali berasa banget di tulisan ini.

  5. indah Februari 5, 2009 pada 12:51 am #

    makasih yaa mb ^^

  6. Sonia Atika Februari 8, 2009 pada 1:11 pm #

    @ indah
    mbak2 MIPA? kalo mb sonia sih iya..
    @ aryo aswati
    bukan memikirkan gus, mengingat!
    @ arief adi
    udah mb link dek…
    @ mulki
    benarkah??? hm…
    @ indah
    sama2….🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: