Merah = Marah ?

2 Apr

” Berjuang tanpa Kekerasan”
tulisan yang tercetak pada kertas A4 putih yang tertempel di bagian belakang motor kader partai yang berbasis massa terbanyak di Solo itu benar-benar saya baca berulang-ulang. Dalam hati, saya tertawa saja… Bagaimana tidak? seharian tadi perjalanan yang mengiringi saya dari rumah sampai ke rumah lagi benar-benar melatih kesabaran saya. Sampai akhirnya, saya membuat keputusan, daripada ‘muring-muring’ ga jelas, dan memberikan tatapan mata sinis tanda terganggu ke mereka hanya menambah kejengkelan saya, dan itu pun sia-sia, lebih baik saya mengikuti saja mereka, sambil mencoba untuk berpikir. Meski kadang agak prihatin juga dengan gaya para ‘pangeran merah’ itu, yang… ah… speechless.
Ya, saya mencoba berpikir dan menganalisa. Hingga akhirnya muncul pertanyaan-pertanyaan  di kepala saya.
“Apa sih yang ada dalam pikiran mereka sekarang? bangga, keren, menang, mempesona, atau apa..?”
yah, mungkin iya. Tapi, pada siapa, dan kenapa? wallahu’alam bishowab.
Saya hanya kasihan saja dengan orang-orang yang merasa terdzolimi dengan kekacauan kecil ini.

Salah satunya murid saya, Via, yang masih kelas 6 SD. Hari ini hari terakhir dia Ujian. Saat saya cek gimana ujian matematikanya, balasannya berbunyi “Lumayan.tapi tadi keganggu sama pawai, trus aku ke UKS ngambil kapas tak sumpeli di telinga biar ga berisik.” hahaha.. dasar murid saya yang satu ini. Via memang saya akui aneh. Salah satu wujud keanehannya, suatu hari saya datang ke rumah dia mau ngelesi, tiba-tiba saat les akan dimulai dia mengeluarkan sesuatu dari tasnya : Sepatu Sekolah! hihihi.. mending-mending ditaruh dalam kresek, lha ini enggak..🙂

HH…. Dan barangkali masih banyak korban-korban penderitaan sesaat efek kampanye tidak bermutu ini.
Kalau harus meratapi, ini kenyataan. Beginilah kondisi rakyat kita. Kita mau dengan canggih bicara demokrasi, tapi kita punya PR besar, atas mereka, yang jumlahnya tidak sedikit dan terus menerus berkembang biak.
Menjadi perhatian bagi kita semua, mau terus menerus mengeluh dengan kebisingan ini, tanpa ada solusi, dan berusaha menjadi ‘penyelamat’ meski hanya satu.. saja?.  Itu sudah luar biasa.
Mereka harus segera dibina, siapa mau mencoba..?

9 Tanggapan to “Merah = Marah ?”

  1. greenmtc April 6, 2009 pada 6:45 pm #

    Q kemarin tanggal 4 april pagi sampai di jakarta, kulihat banyak spanduk lucu yang bertuliskan:
    Emang merah bisa PKS?
    Emang hijau bisa PKS?
    Emang kuning bisa PKS?
    Emang biru bisa PKS?
    teta positif thinking aja. Semangat..

  2. Indah April 12, 2009 pada 2:07 am #

    Iy tuch si merah kalo kampanye mbwd derita org laenx. Skalipun sy tmsk pnyuka wrn merah,tp sy tak sk partaì merah,swebel malahan!! Cara2 yg dgunakan untk mnarik massa tdk intelek,he..
    Wkt hr itu,sy jg mrasakan dmpkx,mpe ruang kul tdengar suara tak nyaman thu *mnyebalkan skali* pdhl sy sdg dnìnabobokkan o/ kul yg bqn ngantk,hehe

  3. Manusia Biasa April 12, 2009 pada 4:10 pm #

    Assalamu alikum.
    Afwan sepertinya tidak baik membicarakan orang lain.
    Disyukuri saja semuanya.
    Ketika kamu mulai terganggu karena mendengar kebisingan, maka bersyukurlah, karena kamu masih bisa mendengar
    Ketika kamu mulai Bosan menunggu macet, bersyukurlah kamu karena kamu masih bisa berjlan.
    Sepertiny akurang baik kalau menularkan kebencian kepada orang lain.

    Afwan.
    Wassalamu alaikum.

  4. obe April 15, 2009 pada 1:54 am #

    pernah berpapasan dg mereka…, emosi…so pasti kadang, takut juga ada…sy pernah mbayangin punya pedang laser kayak di starwars, jika papasan dg rombongan itu pedang laser itu ku arahkan keleher mereka. lalu sambil memenggal kepala mereka….cles-cles…dan hilanglah kebisingan itu….ha…ha…

  5. family man April 17, 2009 pada 9:01 am #

    ah.. mau merah kek,mau putih kek, dari dulu saya benci kampanye pawai2, bikin macet, ribut, ngga adab, kasian yg lagi keburu waktu, ato supir angkot yang gara2 macet setoran jadi ngga kekejar. Massa dan energi segitu banyak mendingan buat ngebersihin kali citarum yg dari dulu mampet daripada buat teriak2 ngga jelas…

  6. agus raharjo April 18, 2009 pada 7:41 am #

    duh….Son, kayak gitu dipikirin???!!!!
    Menurutku, sekarang ini lebih mendingan daripada dulu. sangat-sangat mendingan. kalau kamu bicara tentang apa yang mereka rasakan, jangan make sudut pandangmu. Aku yakin kamu meremehkan. Tapi cobalah berpikir dengan cara mereka. dan ingatlah, suatu hari nanti, mereka akan jenuh dengan yang mereka lakukan itu. Coba cari perbedaannya Aksi Massa dengan Massa-Aksi nya Tan Malaka.
    eits….jangan tanya saya!!! Tanya tuh PRESIDEN BEM!!!

  7. ivan April 24, 2009 pada 4:05 am #

    hem,udah lama gak di up date ni ya?
    skrang kan lagi ceritanya merah,kuning,biru.yang pada mumet mau nyapres.kira2,nek gak menang,solo aman gak y?

  8. Sonia Atika April 28, 2009 pada 12:07 pm #

    @ greenmtc
    ya, kalo ada spanduk kayak gt, tinggal dijawab aja…
    @ indah.
    nah ada hikmahnya dek,, biar indah ga tidur saat kuliah!…🙂 ya kan?
    @ Manusia biasa
    ini nih, kebiasaan kita.. baca blog ga sampe tuntas, tapi sudah ngasih komentar. di akhir kan saya sampaikan siapa yang mau dan bersedia membina mereka? mereka kan berhak dibina juga… termasuk tuh, yg ngakunya partai dakwah…😛
    @ obe
    kejam.. kejam… ! hiiii
    @ family man
    nah, makanya itu mas,, ada solusi?
    @ agus raharjo
    idih,,, agus ni ya sama aja. tuh, makanya aku mencoba tidak ‘berteriak’ tapi menyelami pemikiran mereka. dan mencoba memahami, kenapa mereka kayak gitu. tapi emang belum dapat ‘objek’ langsung. mungkin suatu saat nanti, pengen ‘berbaur’ dan menyelami. kamu juga, siap gak?
    @ ivan
    heheh betul van. kamu juga toh?
    itu dia, dicoba aja pilpres besok.. coba aja mereka ga menang, apa kerusuhan ya? ah,, semoga tidak…. amin

  9. agus raharjo Mei 4, 2009 pada 4:52 pm #

    Kalau aku mah, dari dulu berbaurnya dari kalangan mereka. hehehe…. min di rumah.
    Jadi kalau tanya siap ga, kamu jawab sendiri aja. menurutmu gmn.
    hanya saja kalau dah bergaul dnegan orang-orang itu, masih takut. Takut apa yang saya yakini jadi dipandang jelek kalo nanti saya khilaf. dan itu pasti melekat seterusnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: