Bila kebaikan itu terhenti di sini

28 Apr

Pemilu legislatif selesai..

Suasana Solo tercinta menjadi biasa lagi sekarang, sudah bersih tanpa ‘wajah-wajah’ asing lagi. Barangkali diikuti selesainya juga ‘kemunafikan-kemunafikan’ di setiap sudut perkampungan-perkampungan masyarakat. Miris juga sih, bila seluruh kebaikan-kebaikan itu juga terhenti.

Bila tiap sudut masjid juga terhenti pengajiannya karena sang ustadz/ustadzah tidak lagi berkepentingan promosi. Bila agenda bakti sosial pekan atau setiap bulan juga terhenti karena partai tidak lagi membutuhkan massa, bila tidak ada lagi yang rela menyumbangkan hartanya untuk membangun tempat ibadah, panti asuhan, yayasan.

Lebih mengenaskan, ada yang sempat saya lihat di berita elektronik seorang caleg mengambil kembali tikar, bahan bangunan, bahkan piring.. karena ternyata suaranya tidak signifikan di desanya. naudzubillah..

Sekarang biarkan semua berpikir dengan logika yang paling rasional. Benarkah kebaikan itu bisa diukur hanya dengan ‘jumlah suara’? hm.. kalau seperti itu, mau jadi apa bangsa ini. Siapa lagi yang mau berbuat baik lagi sekarang. Jika ‘topeng’ kepentingan itu tidak ada lagi. Padahal, jika mereka mau berpikir, hati tetap tidak bisa dielakkan. Meski memang semua tidak dapat diperoleh secara instan. Butuh proses.

Jika dari sekarang dan sampai 5 tahun lagi kebaikan itu tetap ditanam, maka saya yakin semua akan memilih tanpa paksaan. Tapi ya harus rela juga amal kebaikan itu tidak mendapat apapun di mata Allah. Lha niat bukan mengharap ridhoNya..

Saya berharap, masjid tetap tidak sepi dengan ustadz/ustadzah yang tetap ikhlas berbagi ilmu, para dermawan tetap ikhlas memberi sedekah, rakyat miskin masih berhak mendapatkan pengobatan gratis, setiap orang masih senang berbagi.. Berbagi harta, berbagi ilmu, berbagi rezeki.. Sebab balasannya lebih dari sekedar suara yang tidak seberapa, lebih dari itu.

Maka, jangan biarkan kebaikan-kebaikan itu terhenti di sini….

8 Tanggapan to “Bila kebaikan itu terhenti di sini”

  1. Mahendra April 28, 2009 pada 12:37 pm #

    Yang penting masjid jangan jadi tempat kampanye…

  2. dik yanti April 30, 2009 pada 7:19 am #

    Yupz, sepakat dengan Mahendra!!!

  3. zackyzuro Mei 1, 2009 pada 12:51 am #

    Aku mulai benci dengan semua partai, tak terkecuali, karena ternyata partai itu kader2nya sok jadi kader, sebuah posisi mengedepankan amanah, tapi amanah lainnya ditinggal, independensi organisasiku jadi TERGANGGU.

  4. ihsan Mei 2, 2009 pada 9:17 am #

    maka, mari kita pelihara harapan itu. kebaikan2 yang sempat disemai. pada rumah2 yang setiap minggu kita kunjungi dibulan2 yang lalu. pada orang2 yang sempat kita tawarkan harapan,…
    pada adik2 yang kita bina, pada para tetangga kita,
    tak usah menunggu siapa tak usah meminta siapa. biarkan kita yang memulainya…

  5. ielvanoin Mei 3, 2009 pada 6:37 am #

    membaca artikel ini rasanya tetap yakin masih ada yang menyemaikan harapan berpendarnya cahaya …

  6. mulki Mei 3, 2009 pada 10:13 am #

    ternyata waktu benar2 membuktikan…

  7. agus raharjo Mei 4, 2009 pada 4:39 pm #

    hahaha….Zuhud, omonganmu sitik tur nylekit?? Tapi aku sepakat! Ga ada yang profesional blas. Tak tambahi lagi… Banyak topeng-topeng ambisi berkeliaran dimana-mana. hati-hati aja!
    Tapi sekadar pembelaan juga sih, bukan salah partainya. salah setan yang masuk dalam orang-orang partai. maka kebodohan dan rasa sok pahlawan jadi bumerang. hihihi….

    Sonia, kalau keadaannya seperti ini terus, lihat saja kedepan. yang tampang alim dan kalem yang akan mimpin lagi.hehehe…
    Citra??? Bagiku itu juga omong kosong! sama halnya dengan kemunafikan. Ups, nanti pasti da yang komentar, kalau ga seperti itu trus harus seperti apa?? Nih tak kasih jawaban: PIKIR AJA SENDIRI!!!!

    Tapi aku yakin, suatu saat akan datang masanya, ketulusan itu ada. selama masih ada orang-orang yang masih jujur min pada dirinya sendiri.

  8. s H a Mei 16, 2009 pada 5:32 pm #

    Iya mba… semoga diikuti dengan kebaikan2 yang lain… Yang lebih tulus pastinya🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: