Cemburu Terbit di Ufuk Cinta

18 Apr

Aku bermimpi melihatmu di dalam tidur

Engkau dibawa malaikat

dengan tabir sepotong kain sutera yang sangat bagus.

Lalu malaikat itu berkata padaku, “Ini isterimu!”

Setelah aku buka tabir itu, tampaklah wajahnya dan ternyata itu adalah engkau..

~Rasulullah, kepada ‘Aisyah~

Di antara semua gairah dalam cinta, kecemburuan mungkin sosok yang paling unik. Ia bagai api; membuat beku saat tiada, menghangatkan ketika tepat ukurannya, dan membakar saat meraksasa.

Mari kita berterimakasih pada rasa cemburu. Karena dengannya kita menjadi manusiawi. Atau tak menuntut kekasih yang kita cintai menjadi malaikat. Cemburu mengajari kita bahwa shalihah tak berarti tak bisa marah. ‘Aisyah misalnya. Karena cemburu ia pernah berkata kepada suaminya, “Engkau ini hanya mengaku-aku Nabi!” Bukan karena ia ragu tentang kenabian suaminya. Hanya karena ia sedang cemburu. Dan cemburu sedang mengajarinya sebuah perasaan, “Jika engkau memang seorang Nabi, saat ini aku tak sedang merasakan keadilanmu. Bukan karena engkau tak adil. Ini hanya perasaanku saja.”

Atau pernahkah engkau membayangkan, beristerikan seorang ‘Aisyah bisa berarti pada suatu malam yang dingin sepi, dan kau sedang shalat malam di kamarnya ia akan mengelus-elus kepalamu? Ketika itu Sang Nabi sedang menunaikan shalat malam sepulang dari kunjungannya kepada Mariyah Al Qibtiyah. Maka ‘Aisyah meraba-raba kepala beliau, menelusuri dengan seksama. Dia memeriksa adakah rambut beliau basah? Adakah beliau berjinabah dengan Mariyah? Dengan mengelus-elus kepalanya. Di saat beliau shalat!

“Wahai ‘Aisy, kau kedatangan syaithanmu lagi…” kata beliau saat itu.

Dan pernahkah engkau membayangkan sahabat, beristerikan seorang ‘Aisyah tak hanya seorang gadis jelita berparas menawan, cerdas, enerjik, manja, imut-imut dan menyejukkan? Ya. Sang Nabi pernah merasakan bagaimana ‘Aisyah membanting pinggan hidangan di depan tamunya. Hidangan itu, hais lezat buatan Shafiyah, telah menerbitkan cemburu ‘Aisyah. Dan ia merenggut lalu membantingnya tepat di saat para tamu mengulurkan tangan untuk mengambilnya. Lalu Sang Nabi hanya tersenyum di depan belalak para tamu. Senyum yang diikuti permintaan maaf, “Maafkan… Ibu kalian sedang cemburu…”

Betapa kita tahu, cemburu adalah hiasan hati dan pembakar jiwa yang tak mengecualikan orang-orang seperti mereka. Bahkan Allah Subhanaahu wa Ta’aalaa lebih agung lagi rasa cemburuNya. . (adapted from Jalan Cinta Para Pejuang by Salim A Fillah)

Solo, 18 April 2010

“Maafkan aku yang terlalu pencemburu… “

2 Tanggapan to “Cemburu Terbit di Ufuk Cinta”

  1. nunik April 20, 2010 pada 6:52 am #

    mba sooonnnnn… it’s me. the new page. back to nature. and I’m here.. center library. every day… lulus. doain ya mba………..

  2. Mbak Son April 20, 2010 pada 7:10 am #

    nuniiiiik…………… it’s the time,…
    jangan pernah bosen sama tuh tempat..
    aura kelulusan terpancar dari gedung itu (halah..)
    itu blogmu ku link ya nun,,,, good luck!!🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: