Pernikahan, Madrasah Kehidupan

22 Jun

Mendengar curhatan beberapa teman yang telah menikah, rasanya membuat pandangan saya sedikit terbuka. Tentang universitas kehidupan yang luar biasa ini. Yang saya jalani hampir 5 bulan lamanya, bersama seorang pria dengan karakter yang luar biasa asing bagi saya. Karakter yang unik, dan seumur hidup baru saya temui hanya dari satu orang, suami saya.

Seorang teman mencoba membagi kisahnya dengan saya, “Jadi, dek, waktu saya nikah sama suami saya dulu, bayangan saya itu muluk-muluk. Menikah dengan ikhwan tarbiyah, amanahnya dulu segudang, sering memimpin rapat, jadi pembina beberapa halaqah, pikir saya bakalan menjadi istri pualing penak sejagad raya.” hm.. nampaknya kisah yang menarik. Saya pun mulai khusyuk mendengarkan. ” Tapi, beberapa hari di awal pernikahan, saya itu benar-benar merasa aneh. Suami saya ternyata tipe yang tidak bisa sama sekali mengungkapkan ‘sayang’. Bagi beberapa orang itu sepele, tapi tau sendiri, kan, wanita itu pengennya dimanja, diperhatikan,.. apalagi kalo sedang sensitif.. Beberapa waktu saya menangis terus tanpa dia ketahui… ” hmm.. Seketika saya ingat suami saya, dan merasa betapa beruntungnya saya..

Kemudian teman saya melanjutkan “Tapi, pada akhirnya saya sadar, saya sedang mengharapkan sesuatu yang sia-sia. Bukankah hakikat tarbiyah adalah memberi? lagipula, saya tidak sedang menikah dengan malaikat. Dan barangkali Allah memang ingin saya mencintainya dari sisi yang lain”

“Dan ternyata benar dek, suami saya adalah orang yang tidak pernah mempersoalkan kesalahan saya. Justru dia mengingatkan saya dengan cara yang saya paling bisa terima. Ternyata beliau orang yang paling mengerti saya.. Meski proses memahami itu juga sempat meremukkan hati, tapi sekarang saya begitu mencintainya, dengan segala kekurangan beliau..”

Subhanallah, saya tersentuh.. Kesabaran teman saya tersebut, dan sikap positive thinking nya luar biasa.. dan satu hal yang saya tangkap dari statement beliau, tentang ‘memberi’.. Ya, pada hakikatnya adalah memberi. Mungkin kita tidak menerima sesuatu sekarang, tapi setidaknya kita bisa memberi semuanya sekarang. Dan, mungkin saja kita tidak menerima sesuatu yang kita inginkan, tapi ternyata Allah memberi yang kita butuhkan.. Biarkan saat-saat menyesuaikan diri itu menjadi pelajaran bagi kita..

Hal yang menarik yang juga saya tangkap dari teman saya, beliau tidak langsung kecewa karena ‘pangeran’ yang dia idamkan selama ini tidak sesempurna yang dia bayangkan dulu. Tapi dia tetap mengambil segi positifnya, ‘Allah ingin saya mencintainya dari sisi yang lain’.. senantiasa berpositif thinking pada Allah, dan pasangan kita tentunya.

Sebab, pernikahan itu bukan mempertemukan dua manusia yang sempurna, tapi dua insan yang tidak sempurna, yang pada akhirnya saling menyempurnakan satu sama lain.

Allah menyediakan madrasah luar biasa dalam pernikahan. Universitas seumur hidup. Dengan SKS kesabaran, pengertian, penghormatan, pengabdian, kesetiaan, pengorbanan.. Tinggal bagaimana kita berusaha untuk mencapai nilai terbaik dalam SKS-SKS tersebut. Selalu ada remidiasi, kesempatan perbaikan saat hasil dirasa belum maksimal. Selalu ada waktu, selalu ada kesempatan..

Melalui madrasah ini pulalah pada akhirnya saya menyadari, fithrah perempuan yang begitu kuat dan terasa.. seperti lagu nasyid yang lumayan terkenal dari Maidany

Ia ibarat kaca yang berdebu
Jangan terlalu keras membersihkannya
Nanti ia mudah retak dan pecah

Ia ibarat kaca yang berdebu
Jangan terlalu lembut membersihkannya
Nanti ia mudah keruh dan ternoda

Ia bagai permata keindahan
Sentuhlah hatinya dengan kelembutan
Ia sehalus sutera di awan
Jagalah hatinya dengan kesabaran

Lemah-lembutlah kepadanya
Namun jangan terlalu memanjakannya
Tegurlah bila ia tersalah
Namun janganlah lukai hatinya

Bersabarlah bila menghadapinya
Terimalah ia dengan keikhlasan
Karena ia kaca yang berdebu
Semoga kau temukan dirinya
Bercahayakan iman

“Kaca yang berdebu”.. ya,, perumpamaan bagi kaum wanita.. saya juga, ternyata. Ego saya dulu menyangkal ini semua, ingin berbeda dari akhwat kebanyakan. Pada akhirnya saya menyerah, mengakui, saya pun seperti kaca yang berdebu…

this article is dedicated to my beloved

“I’m sorry, I’m not an angel, I’m only a human.. with so many foolishness.. .”

5 Tanggapan to “Pernikahan, Madrasah Kehidupan”

  1. fauzansigma Juli 25, 2010 pada 6:39 am #

    emmhh…emhhh

  2. Sonia Atika Agustus 10, 2010 pada 7:17 pm #

    hemm.. hemmm.. suara hati perempuan, sigma..🙂

  3. nella Agustus 9, 2011 pada 9:34 am #

    subhanallah suka banget dengan tulisan bunda sonia, mohon ijin share ke tmn2 muslimah ya…🙂

    • Sonia Atika Agustus 24, 2011 pada 11:28 pm #

      oke…. di share saja…semoga bermanfaat ya..🙂

Trackbacks/Pingbacks

  1. Pernikahan, Madrasah Kehidupan « Erik At Zain - Agustus 23, 2011

    […] Sonia Zone Bagikan:FacebookTwitterEmailPrintLike this:SukaBe the first to like this […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: