Pantaskah aku disebut “akhwat”? (Catatan kecil saksi hijrah saya)

10 Agu

Pertanyaan itu terus menerus menghantuiku. Dalam setiap perjalanan aktivitasku, dalam interaksiku dengan orang lain, dan dalam keyakinanku untuk memilih jalan dakwah yang panjang ini.

Pantaskah aku menyandang kata ‘Ukh’ di depan namaku?

Aku ingat sekali percakapanku dengan seorang ikhwan. Dia bilang “Wah, kalo akhwat itu sholat gak perlu bawa kayak gini ya.” Sambil menunjuk ke mukenaku.

“Lho, mas, aku kan juga akhwat.”

“Iya, ya.”

Itu dulu. Saat aku masih belum pada tahap ini. Saat hatiku belum terketuk untuk selalu memakai rok ke kampus. Jilbabku pun belum ‘selebar’ sekarang. Walaupun sekarangpun jilbabku tidak selebar jilbab ‘akhwat-akhwat’ itu.

Berarti…ukuran akhwat itu tergantung ukuran jilbabnya? Benarkah? Selebar apa? Apakah batas kelebaran itu sudah ditentukan? Apakah jilbab harus menyentuh siku dulu baru bisa dikatakan ‘akhwat’?

Selama ini, aku masih belum terbiasa untuk memanggil seorang ikhwan dengan kata ‘Akh.” di depan namanya, walaupun aku ingin, tapi ada rasa malu saat kata-kata itu keluar dari mulutku. Dan aku masih merasa nyaman dengan memanggil mereka ‘mas’ atau langsung menyebut nama mereka. Mungkin nanti saat aku berada di SKI, atau organisasi yang memang murni berbasis Islam, aku akan leluasa berkomunikasi dengan bahasa itu. Tapi belum sekarang, dalam organisasi heterogen ini.

Aku merasa seperti berada di tengah-tengah. Antara ‘cewek’ dan ‘akhwat’. Cewek, karena jilbabku belum menyentuh siku, dan akhwat, sebab aku selalu memakai rok sekarang.

Aku ingin bertanya pada seseorang, tapi siapa?

Banyak sekali yang ingin aku tanyakan. Sebab aku ingin mendapatkan suatu kepastian. Pantaskah aku menyebut diriku ‘akhwat’?

Ah….pentingkah itu? Label ‘akhwat’ tidak akan menghalangiku untuk menempuh jalan ini, jalan dakwah. Aku tidak perduli dengan orang-orang yang menilaiku. Seorang ‘cewek’ juga bisa ikut andil dalam jalan dakwah, setidaknya pakaian syar’i telah aku kenakan, sesuai dengan tuntutan Rosul, menutupi dada, dan tidak menampakkan bentuk tubuh. Seberti kata seorang ustadzah, yang penting jilbab itu menutupi dada, dan tidak tipis. Walaupun memang suatu saat aku ingin jilbabku lebih lebar, pasti.

Jadi, sekarang ini, aku tidak ingin mengklaim diriku adalah ‘akhwat’ dan menyuruh orang orang memanggilku ‘Ukhti..’, memanggil ikhwah dengan sebutan ‘Akh’ atau ‘Ukh’…

Sebab aku takut ada yang menertawaiku ‘Idih…jilbab masih segitu sudah sok pake Akh-Akh an..’

Biarlah. Semua pasti terjawab, banyak hal yang akan membantuku menemukan jawabannya.

12 July 2005

saat-saat penuh pertanyaan

(Menemukan tulisan ini di antara file-file lama.. geli juga membacanya.🙂 )

8 Tanggapan to “Pantaskah aku disebut “akhwat”? (Catatan kecil saksi hijrah saya)”

  1. wachud Agustus 15, 2010 pada 2:28 am #

    mbak sonia dudul………….

  2. anung Agustus 21, 2010 pada 2:04 am #

    gak bisa dikatakan sunnah apalagi wajib manggil akh ukht, pake mas atau mbak juga boleh nggak berdosa, gitu juga penamaan akhwat n ikhwan nggak mesti harus pake jilbab lebar atau pake jenggot(untuk laki2), itu sekedar penamaan aja dari sebagian “aktfis” dakwah aja dan nggak ada dalilnya dari alquran dan assunnah. Sebaiknya mbak sibukan aja dengan menuntut ilmu syar’i dan nggak usah dipusingkan dengan istilah2 gitu.

    • Zeni April 5, 2011 pada 5:03 am #

      setuju mba anung…

      • Sonia Atika Mei 22, 2011 pada 11:59 am #

        saya juga setuju kok.. ^_^

  3. doNa Oktober 10, 2010 pada 2:13 am #

    asalamu’alaikum mba sonia,,, salam kenal, saya lagi jalan2 blogwalking eh nyasar mpe sini hehehe

    entahlah blog ini masih aktif gak ya???

    geli juga baca tulisan lama mbak,,:) cz saya juga pernah mengalaminya..
    saya penasaran sekarang apakah gelar ukht.sudah mbak mantapkan?hehehe,
    sebenernya yg paling penting adalah yg di dalam hati, yaitu keistiqomahan.
    smg qt tetap istiqomah di jalanNya. amin..

    klo blog ini masih aktif, harap kunjungi saya balik ya,,,,

  4. Sonia Atika Oktober 12, 2010 pada 3:36 pm #

    @ wachid (wachud), dudul juga…😛

    @ Anung, ahahhaa,,.. namanya juga lagi masa pencarian pak. Insya Allah sekarang saya lumayan mengerti semuanya…😀

    @ Dona, masih aktif, insya Allah..
    iya, ini tulisan saya waktu masih ‘lucu-lucunya’. mm…sekarang, saya justru menganggap panggilan itu sempit sekali. bukan jaminan… ^_^, oke, segera ke TKP…

  5. Bahra Desember 30, 2010 pada 3:24 pm #

    mbak,boleh yaaa saya tag untuk catetan di FB???

    karena bagus..
    afwan kalo sudah saya copy duluan…
    afwan ya mbak..
    tapi saya berharap supaya ini bermanfaat…

    • Sonia Atika Januari 8, 2011 pada 3:31 am #

      iya dek bahra.. monggo2…. semoga bermanfaat yaa..🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: