Hidup yang Sebenarnya; Sebuah Fenomena Sosial di Sekitar Kita

11 Nov

This is the real life. Inilah hidup yang sebenarnya.” Hm.. tapi, benarkah? kalimat yang sering saya dengar dari orang yang selesai bercerita tentang kisah yang keras. Identik dengan kepalsuan, kemaksiatan, kebodohan, kejahatan.

Itukah ‘hidup’ yang sebenarnya?

Kenapa tidak setelah bercerita tentang kejujuran, keimanan, kepedulian, lalu diikuti kalimat “itulah hidup..”

Mata saya terbuka, pandangan saya yang dulu benar-benar sempit, menjadi sangat luas sejak remaja tanggung itu menceritakan semuanya pada saya.

Hidup di lingkungan yang hanif, meski tidak terlalu agamis, tapi ‘terpelajar’ saya pikir. Membuat cakrawala saya tentang ‘hidup’ itu lumayan lurus. Padahal dulu saya kira ini sudah sangat ‘rusak’ atau kata orang ‘real life’. Tapi saya salah. Salah besar.

Remaja yang belum genap 17 tahun itu polos sekali bercerita pada saya, tentang temannya yang tinggal di sebuah kos-kosan yang sekamar ditinggali dua pasang muda mudi! Bayangkan, satu kamar kos, ditinggali 2 perempuan, dan dua laki-laki.

Laki-laki pertama pengangguran, laki-laki kedua sebentar lagi jadi guru. Dan dua remaja putri adalah siswa SMK.. Anda kaget? saya kaget jika anda tidak kaget.

“..Astaghfirullah.. apa-apaan ini….😦 ” batin saya.

Tinggal sekamar dengan status ‘tidak menikah’ itu saja sudah mengerikan. Apalagi sekamar dua pasang. Haduh…. naudzubillahimindzalik…

Ini belum apa-apa. Remaja tanggung yang belum genap 17 tahun ini pun bercerita pada saya, yang tidak sanggup meninggalkan pacarnya yang masih kelas 1 SMA, karena dialah yang telah ‘memerawani’ ceweknya. Hmm… anda pasti paham kata yang saya beri tanda kutip tadi.

Dan cerita itu cukup membuat saya istighfar berkali-kali.. “Ya Rabb…. apa ini..?”

Masih banyak cerita yang saya peroleh dari remaja tanggung ini, sebenarnya. tapi menuliskannya sudah cukup membuat dada saya sesak.

Inikah ‘hidup’ itu? Is it the real life?

Apakah memang saya saja yang benar-benar ‘kuper’, kurang pergaulan, ngga gaul, cupu.. atau apalah itu…

Waduh, tambah pusing lagi saya tentang makna ‘gaul’ kalau begitu……😀

3 Tanggapan to “Hidup yang Sebenarnya; Sebuah Fenomena Sosial di Sekitar Kita”

  1. ihsan November 11, 2010 pada 5:47 pm #

    ya. saya juga kerap merasa terlambat mengikuti hidup yang sebenarnya….

    • Sonia Atika November 15, 2010 pada 2:55 pm #

      antum juga akh?

      ya, sekali-kali memang kita keluar dari tempurung. tapi sekali2 saja. Soalnya semakin sering dengan mereka, membuat kita merasa menyalahkan ‘fitrah’ yang dimiliki manusia.

      dan membuat kita sadar, bahwa Islam itu memiliki aturan yang benar2 beralasan.🙂

  2. john Februari 18, 2012 pada 12:16 pm #

    hidup yang berkualitas..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: