Akhwat Galau

24 Agu

Tiba-tiba ingin menuliskan ini. Sebenarnya sudah sejak lama mengamati, tapi baru terketuk sekarang.

Ketika pagi ini saya login facebook dan mendapati wall dipenuhi dengan para lajang (akhwat) yang mengupdate status tentang pernikahan.

Ah, tema itu. Tema sensitif. Tema yang cukup menarik bagi para lajang.

Mereka memang tidak langsung mengatakan “Aku pengen nikah, looh..”

Tapi mereka memang mengemasnya sedemikian rupa, sehingga tidak langsung mengarah ke maksud di atas.

Akhwat galau, ya, saya menyebutnya begitu. Bahasa masa kini, siy. Kalo jaman dulu mungkin lebih halus ‘akhwat gelisah’.  Tapi karena biar up to date, saya menyebutnya fenomena akhwat galau:mrgreen:.

Di satu sisi saya merasa kasihan pada mereka. Saya pun sempat merasakannya. Sudah lulus, sudah bekerja, apa lagi? Ditambah lagi, dikejar usia..

Tapi di sisi lain, saya heran. Heran, bukankah status-status mereka dibaca para ikhwan juga? Apakah tidak malu mengumbar keinginan suci, seolah-olah mengatakan “Hei, kalian laki-laki lajang, kumohon bacalah statusku, aku ingin menikah, tapi belum ada yang melamarku..

Apa satu pun dari kalian tidak terenyuh dan kasihan padaku? Lihat, sudah berapa orang yang menyindirku untuk segera menikah..

Begitulah yang secara tersirat ada di benak saya ketika intens membaca status yang saya kira berulang-ulang untuk menyiratkan demikian.

Anda tidak sepakat dengan saya? boleh saja. Ini hanya pengamatan saya.

Setiap lajang, dewasa, pasti ingin menikah. Siapa yang tidak ingin dipilih dari sekian milyar gadis? Tapi mengumbarnya? Mengulang-ulang keinginan itu di jejaring sosial, di facebook, di twitter, di blog.. Membuat semua orang tahu, betapa inginnya kita menikah… Hmm.. apa gunanya?

Saya pikir orang hanya akan merasa iba dan kasihan. Ya, iba, dan kasihan. “Wah, mbaknya dah pengen nikah,, kasihan ya belum ada yang datang..” Jika itu membuahkan doa, sih alhamdulillah. Tapi siapa yang tahu kalau itu mambuahkan turunnya Izzah. Di mata ikhwan barangkali? Memberi komentar menggoda..

Kalo sama saya aja gimana?”

Kayaknya ukhti sudah siap, ya.. tuh, saya baca di fb.. keluarga juga udah nanyain. Kriterianya juga saya udah tau, dari fb. Anti kan targetnya tahun ini, ukh..” Aduuh… sampe tahu targetnya kapan juga…..

Kadang saya juga heran (heran terus niy :mrgreen:) seorang akhwat yang menuliskan target usia sekian dan tahun sekian untuk menikah, di jejaring sosial! Bagi saya itu aneh. Sungguh aneh. Kecuali dia punya planning untuk melamar ikhwan, dan mempunyai cadangan beberapa. Bukankah begitu? Tapi akhwat kan menunggu… targetnya hanya menjadi jauh lebih baik dari hari ke hari.

Menjadi Sholehah dari hari ke hari.. Jikalau pun ada target, hanya Allah, Murobbiyah, dan keluarga yang tahu.

Kecuali ikhwan, punya target wajar.. mereka bisa hunting, dan memiliki banyak cadangan jika satu target meleset. Dan pun ikhwan wajar, mempublikasikan target waktunya..

Menurut saya, biarkan Allah yang mengetahui betapa gelisahnya masa penantian itu. Menerka-nerka sesuatu yang abstrak luar biasa.

Menjaganya, menyimpannya, dan mengusahakannya.. Kecuali jika ternyata mengumbarnya adalah ikhtiar.. maka yang dituai pun akan seperti apa yang diikhtiarkan.

Wallahu’alam bishowab…

11 Tanggapan to “Akhwat Galau”

  1. Sofa Nurdiyanti Agustus 25, 2011 pada 5:24 am #

    hem…..
    bagus, makasih ya:)

    • Sonia Atika September 6, 2011 pada 3:04 am #

      sama-sama.. semoga bermanfaat…🙂

  2. Harbun Gandi Subekti Agustus 26, 2011 pada 4:35 am #

    saya juga pernah membaca update status akhwat galau seperti itu,..
    sejujurnya, sebagai laki-laki, saya menilai itu menjadi sesuatu yang akan menjadikan orang lain (baca : laki-laki) underestimate sama sang akhwat,…
    jadi, sebaiknya memang seorang wanita harus lebih super cautious dalam menjaga setiap tindakannya, karena menurut saya, wanita memiliki urusan yang lebih complicated dalam hal kehormatan,…

    • Sonia Atika September 6, 2011 pada 3:20 am #

      betul3x.. saya pikir juga itu malah membuat laki2 jadi underestimate…
      cenderung tabu untuk di share kan hal2 seperti itu..
      hmm… apa bedanya dgn ‘mengobral diri’? astaghfirullah….

  3. awan putih September 5, 2011 pada 3:49 am #

    Bagaimana dengan ikhwan mbak?🙂
    -afwan, sy mendapati fenomena yg sama-

    • Sonia Atika September 6, 2011 pada 3:17 am #

      ahahaha,, ikhwan galau maksudnya?
      biasanya yg nimbrung di status akhwat galau adalah sesama akhwat galau, atau juga ikhwan galau..
      ikhwan galau menurut saya kebanyakan hanya mengumbar wacana keinginan menikah. sedang kesiapan finansial, maupun pribadi tidak mengiringinya.. wallahu’alam…

      • Mita November 11, 2011 pada 2:39 am #

        Bener ukht. Ikhwan galau sukanya berandai2..berpuitis2 ria merindukan belahan jiwa…tapi tidak ada langkah2 kongkret menuju ke sana. Kebanyakan ‘tapi’. Ah…semoga saya tdk menjadi akhwat galau dan bertemu dengan ikhwan galau😀

        Salam ukhuwah🙂

        • Sonia Atika Desember 6, 2011 pada 7:16 am #

          aaamiiin Ya Rabb.. salam ukhuwah juga…🙂

  4. Green-ty September 5, 2011 pada 4:08 am #

    sepakat sama awan putih, tapi kalo ikhwan mungkin ga seribet akhwat.
    mengutip dari commentnya pak harbun, “wanita memiliki urusan yang lebih complicated dalam hal kehormatan,…” So…

    • Sonia Atika September 6, 2011 pada 3:20 am #

      yup,, betul sekali…
      it’s more complicated..
      cenderung dinilai, segala tindak tanduk diamati.. jd memang harus hati2 menjaga izzah/kehormatan..

  5. nana September 19, 2012 pada 3:01 am #

    suka mbak…
    salam kenal ^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: