Bayi Rewel (?)

1 Apr

Kalau saya ditanya apakah Haniya termasuk bayi yang rewel? Maka dengan tegas, cepat, keras, saya akan menjawab : TIDAK.

Ya, selama ini saya amat PD untuk mengatakan bahwa Haniya tidak pernah rewel. Waktu sakit? habis imunisasi? biasa saja. Sungguh, tidak pernah sedikit pun saya menganggap bahwa Haniya sedang rewel. Haniya itu selalu tenang, ceria, bermain seperti biasa.

Kalaupun kadang merengek-rengek saat saya sedang memasak, bersih-bersih, itu tandanya dia hanya sedang mengajak berkomunikasi saja. Wajar, Haniya kan belum bisa ngomong. Jadi hanya itu yang bisa dia lakukan.

Kalau diterjemahkan rengekannya, kira-kira begini : “Ibu.. main terus dong, jangan bersih-bersih..” atau “Ibu..itu ngapain di dapur, kok lama.. Haniya mau main lagi..” begitu. Dengan nada yang sama yang Haniya keluarkan saat merengek.

Kalau sudah begitu, paling saya tinggal menyanyikan lagu kesukaannya yang langsung dibalas dengan tawa ceria, atau menghampiri lalu mencium gemas pipinya, memberi Haniya ‘pegangan’ untuk bermain, kemudian melanjutkan kembali aktifitas saya. Alhamdulillah selama ini berhasil.

Kalau belum berhasil membuatnya tenang, tinggal disusui sebentar. Kalau mengantuk, pasti langsung tertidur. Begitu setiap hari.

Lihat, Haniya selalu ceria kok..🙂

Sempat, atau sering malah, saya merasa khawatir juga kalau saat-saat harus mengajak keluar. Belanja, pengajian, ke dokter, atau umroh misalnya. Sebelum berangkat saya sudah ‘parno’ dan deg-degan sendiri. “Kalau nanti Haniya rewel gimana?” “Kalau nanti nangis terus ga berhenti-berhenti gimana?” “Kalau..kalau.. bla..bla..”

Padahal, kenyataannya, Haniya enjoy. Di mobil tidur, di Mall anteng, di RS tenang, bahkan yang paling saya khawatirkan waktu umroh kemarin, “Gimana kalau waktu sholat Jum’at jama’ah di Masjidil Haram Haniya nangis, teriak-teriak. Seluruh masjidil Haram dengar, trus  bikin imamnya lupa bacaan, kacau jum’atannya. Padahal kan disiarkan langsung di berbagai negara?” eh.. lebay abis ya?:mrgreen: hihi..

Benar, belum apa-apa saya khawatir. Dan tahu tidak, sodara-sodara? Haniya malah tertawa-tawa waktu sholat Jum’at. Saya baringkan di depan saya, Haniya malah sibuk sendiri. Mungkin senang karena di hadapannya banyak orang yang sedang kompak mengerjakan gerakan sholat.

Apalagi waktu thawaf. Cuaca paanas..berdesak-desakan, saya nya yang khawatir setengah mati, melihat Haniya disikut-sikut bule-bule berbadan besar, ee.. Haniyanya tidur puleees di gendongan saya, meski keringat mengucur deras di wajahnya dan dari balik jilbabnya, bahkan wajah imutnya memerah karena panas. Subhanallah anak ini..

Dan kalau saya renungkan, sebenarnya bukan bayinya yang rewel. Tapi ibunya. Kenapa? Ini beberapa analisa saya.

Analisa saya, pertama, stigma negatif pada bayi yang merengek-rengek, menangis, dan ‘ingin diperhatikan’ yang kadang membuat kita menyebut ‘bayi rewel’. Padahal dia hanya mengajak komunikasi saja. Tinggal kita pandai-pandainya menanggapi ajakan komunikasi si bayi. Berusahalah setenang dan sesantai mungkin menanggapi ‘rengekan’ dari sosok lemah tak berdaya yang sedang mencoba meminta perhatian kita ini.

Biasanya, jika ibunya sudah bingung duluan, panik, mengeluh, yang paling parah marah-marah (na’udzubillah) bayi akan semakin panik. Bayi panik, ibunya tambah panik. Duh.. ga selesai-selesai, kan?

Padahal tidak mungkin bayi yang mengalah “Aduh, ibu kok ikutan panik, sih? aku aja lah yang mengalah.. ibu..cup..cup..” mau begitu? mimpi, kali yee..:mrgreen:

Bayi menangis tidak akan mungkin selamanya, ibu-ibu.. Pahami, peluk, ajak berbicara, tenangkan, pasti ada kalanya dia akan lelah, kemudian mengantuk..🙂

Analisa kedua, ketika bayi sedang butuh ditenangkan, ibu sibuk memperhatikan dunia sekitar. Maksud saya terlalu ‘mengkhawatirkan’ pandangan orang. “Aduh, kalau tetangga dengar bayi saya menangis gimana, ya..”

“Sst.. diam, dek.. nanti ayah bangun loh..”

“Kok nggak diem diem sih, kalo mertua bangun,.. ntar dikira saya ga bisa ngurus anak nih..”
ujung-ujungnya bayi kita yang akan disalahkan. “Ih.. rewel ni anak..”

Padahal itu adalah pembenaran dari ibunya yang ‘gagal’ menenangkan diri, dan membangun energi positif untuk disalurkan ke bayi kita. Sebenarnya simpel saja yang harus dilakukan. Kalau ditanyai orang, atau tetangga, atau mungkin mertua dan orang tua kita, jawab saja sambil senyum “Nggak papa, kok.. baru capek dan ingin diperhatikan saja..” lalu kembalilah menenangkan bayi kita..

Yang sering saya lihat ketika ibu ditanyai “Bayinya kenapa?”

“Nggak tahu nih, rewel terus dari tadi. Nangis nggak berhenti-berhenti.. bla..bla..” mengeluh, menambah energi negatif yang akan di tangkap oleh si bayi, dan bayipun bertambah gelisah. Kasihan, kan?

Ketiga, karena ibu sendiri pun tidak mengerti makna kata ‘rewel’. Baru nangis sedikit saja dibilang rewel. Baru mengeluarkan suara sedikit saja langsung lapor sana sini bayi nya rewel.

Saya saja, sampai sekarang pun tidak tahu parameter ‘rewel’ itu apa. Sini kalau ada yang bisa, kasih tahu ke saya..!! (Loh, kok malah nantang? hihi:mrgreen: ) Dan menyesalkan adanya kata yang sangat negatif ini.

Perenungan ini semua sebenarnya berawal dari SMS dari Solo, yang menanyakan ke saya “Haniya rewel nggak?” Mungkin pertanyaan ini hanya basa basi. Tapi salah-salah kita menjawab bisa fatal juga. Saat itu jelas saya langsung menjawab “Ndak.. Haniya anak baik kok.. anteng..”

Bayangkan kalau saya menjawab “Iya, rewel banget, nih.. nangis kalo ditinggal, ditaruh nggak mau..bla..bla…” Adakah manfaatnya? tidak.

Lagian, ngapain juga ditinggal? ya kalau ditaruh nggak mau digendong saja,..

Hmm.. kadang gemes juga dengan yang sering me’lapor’kan bayinya rewel. Kenapa tidak diganti dengan ‘sedikit gelisah’, atau ‘sedang minta diperhatikan’ atau yang saya suka ‘lagi iseng sama bundanya’.. Hangat, bukan?

Kasihan, kalau bayi kita mendengar dan paham ketika dia dikatakan rewel. Pasti dia akan berpikir

“Ibu, aku tidak rewel, cuma aku pengen sesuatu, tapi belum bisa mengatakannya.. sementara ini ibu sabar dulu, ya…🙂 ”

Jadi, salurkan energi positif selalu pada bayi kita, ibu-ibu.. Jangan pernah sekalipun menjudge negatif pada bayi kita. Sebab mereka hanya butuh ‘sedikit kesabaran’ saja dari kita.

Be a better Mom, always… :-) 

10 Tanggapan to “Bayi Rewel (?)”

  1. Harbun Gandi Subekti April 6, 2012 pada 11:27 am #

    Wah, jadi bukunya terbit kapan ini?:mrgreen:

    • Sonia Atika April 10, 2012 pada 11:16 am #

      haha… aamiiiiin. insya Allah tunggu saja launchingnya #eh, berasa artis😀

  2. Connie C. Khan April 16, 2012 pada 8:32 am #

    Does this site have a page on Facebook?

  3. indah Mei 1, 2012 pada 1:31 pm #

    mbak bagi2 pengalaman jd ibu “n istri yg salehah dungs? hehhehehee

    • Sonia Atika Juni 4, 2012 pada 6:37 am #

      eh? mba juga mau ituuh. hihi…:mrgreen:

  4. ummumimosa Solo Juni 4, 2012 pada 3:28 am #

    super sekali!!! sepakat denganmu Sonia….
    sebenarnya tidak ada bayi rewel, yang ada hanya perbedaan frekuensi komunikasi antara orang tua dan bayinya…
    dan akhirnya menyimpulkan biar singkat menjadi: “bayi rewel!” terkesan bayi yang disalahkan ya…

    • Sonia Atika Juni 4, 2012 pada 6:39 am #

      betul, ayu..
      iya, seringnya bayi yg disalahkan. padahal juga tidak ada sama sekali sisi positif atau manfaat menyebut bayi kita ‘rewel’. ya gak?

  5. lica Mei 11, 2013 pada 12:54 pm #

    hehehe…. enak ya lo kita terus berpikir positif..

    • Sonia Atika Juni 9, 2013 pada 4:19 am #

      Dalam segala hal mb.. harus🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: