Skenario, Peran dan Cerita

25 Jul

Saya ingin bercerita tentang kisah beberapa wanita.

Yang pertama adalah Bu Im (nama samaran). Beliau berusia sekitar 36 tahun. Orangnya bersemangat, ceplas ceplos, dan apa adanya. Beliau telah menikah dan dikaruniai seorang putri. Usia putrinya 3 tahun, yang lahir setelah 10 tahun pernikahan. Bayangkan, menunggu selama itu. Subhanallah. Beliau dan suami menjalani bisnis yang cukup sukses.

Kedua, sebut saja Mbak Supirah (nama palsu). Beliau buruh pabrik. Wanita berusia 33 tahun, yang lugu dan polos. Belum menikah. Beberapa kali sudah mencoba untuk dijodohkan dengan ikhwan, tapi si Ikhwan selalu mundur dengan alasan tidak siap menerima Istri yang harus kerja shift-shift an, tanpa hari libur. Mbak Supirah sudah coba dibujuk untuk mencari mata pencaharian lain, karena rejeki Allah bisa dari berbagai cara. Dan tentu saja, supaya tidak ada lagi penghalang baginya untuk mendapat jodoh. Tapi beliau tidak mau, karena masih harus membiayai orang tua, dan adiknya yang sudah dewasa, tapi hanya mengandalkannya.

Yang ketiga, Mbak Solihah (nama samaran juga). Usianya setahun di atas saya, 26 tahun. Berasal dari keluarga yang kurang mampu. Demi bertahan hidup, beliau tinggal dengan ummahat yang seorang dokter. Oleh ummahat tersebut, Mbak Solihah diminta membantunya menjaga anak-anaknya yang masih kecil. Dua Putranya yang masih TK dan kelas 4 SD, serta seorang putri yang baru saja lahir. Selain menjaga anak-anaknya, Mbak Solihah juga mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Mencuci, memasak, menyapu, dsb. Sebagai imbalannya, Mbak Solihah boleh tinggal gratis, diberi uang saku dan dibiayai kuliah tahsin. Mbak Sholihah ini belum menikah, tapi sudah ingin sekali. Tapi nampaknya Allah masih belum memberinya Jodoh hingga saat ini.

Keempat adalah Bu Pun (juga nama samaran). Seorang ibu rumah tangga, yang kadang bekerja serabutan. Usianya 34 tahun. Sudah menikah lebih dari 10 tahun, tapi belum juga dikaruniai anak. Sudah mencoba ikhtiar berbagai cara. Berobat ke dokter, terapi, dengan biaya tiap terapi Rp 2 juta. Cukup berat bagi Bu Pun yang tergolong ekonominya pas-pasan. Tapi saya lihat Bu Pun tegar, meski kurang tahu sebenarnya.

Mereka semua adalah sahabat saya di pengajian dulu. Dengan latar belakang yang berbeda-beda, dan kisah yang berbeda pula.

Kenapa saya tuliskan disini? karena bagi saya menarik. Skenario Allah bagi masing-masing orang sangat berbeda. Dan masing-masing kita tidak bisa memilih, mau jadi apa dan siapa.

Tentu kalau boleh memilih, kita akan memilih terlahir dari keluarga berada, sholeh, memiliki wajah cantik, jodoh datang di waktu yang kita inginkan. Tapi ternyata? kita terima jadi. Skenario sudah ada, dan kita menjalankan. Setiap manusia memiliki peran utama atas kisahnya sendiri. Menjadi lakon utama atas jatah skenario dariNya sendiri. Tidak ada yang menjadi figuran, pemeran pengganti, atau bintang tamu.

Kalaupun ada antagonis atau protagonis, itu pilihan. Yang jelas tetap alur itu di tangan kita. Bahagia atau tidak itu kita yang menentukan.

Kita tidak perlu berharap bisa menjadi si A atau si B. Tidak perlu bertanya kenapa si A bisa begitu, kenapa kita tidak. Itu sia-sia. Membuang energi percuma.

Menjalankan peran yang Allah berikan, menjaga tetap dalam koridor yang benar, sehingga kita menjadi pemeran utama yang bahagia, beruntung dunia akhirat. That’s it. Simple.

Apalagi setiap manusia itu diberi oleh Allah masing-masing kelebihan, tinggal kita menyukurinya atau tidak. Dan masing masing pun diberi ujian oleh Allah sesuai kesanggupannya, tinggal mau bersabar atau tidak.

Berprasangka baik terus pada Allah, karena Allah sesuai prasangka hambaNya. Karena Allah selalu tahu yang terbaik bagi hambaNya.

Selamat menjalani peran utama di setiap skenario masing-masing.

Semoga kita selalu menjadi manusia yang beruntung, dan memiliki akhir yang indah dan khusnul khotimah di ujung cerita. aamiiin..

3 Tanggapan to “Skenario, Peran dan Cerita”

  1. Myra Anastasia Juli 27, 2012 pada 4:39 pm #

    masing2 org udh ada skenarionya ya mbak🙂

    • Sonia Atika Juli 28, 2012 pada 9:48 pm #

      iya betuul.. jadi buat skenario kita spesial..🙂

  2. Firman Agustus 1, 2012 pada 12:52 am #

    subhanallah. menangis saya baca ini. simple but touching.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: