Sang Pemimpi

21 Mar

Saya ini bukan tipe pemimpi, saya sadar betul.

Jika ada yang bertanya apakah yang telah saya ‘lakukan’ hingga saya mencapai semua fase ini? saya hanya menjawab simpel, ini semua karena Allah..

Kadang saya berpikir, begitu gencarnya training motivasi, buku-buku motivasi, yang mewajibkan setiap orang untuk memiliki mimpi besar. Karena dengan begitu -katanya- mimpi kita akan membawa kita ke arah kesuksesan.

Percaya? ya, saya percaya itu. Karena saya lihat ternyata sudah banyak mereka yang membuktikan. (pastilah ya, membuktikan dulu, baru bisa memotivasi orang lain)

Hingga akhirnya saya jumpai banyak yang memasang impiannya di tembok kamarnya, di ruang kerjanya, di buku agendanya, dimanapun. Juga tak kalah banyak yang memasangnya di jejaring sosial. Membolehkan publik mengetahui mimpi-mimpinya.

Saya? seingat saya, saya tidak pernah memvisualisasikan mimpi saya.

Sering saya berpikir, kenapa saya seperti ini? apakah saya salah? Kadang juga terbesit “Apakah manusia yang bukan pemimpi seperti saya ini tercela? berdosa?”

Saya ingat, sejak saya SMA, hingga kuliah, saat saya sudah ‘memiliki jati diri’.. di setiap perkenalan tentang cita-cita, saya menyampaikan, bahwa cita-cita saya adalah ‘Ibu dan Istri yang baik’. Titik.

Itu saja. Tak bisa untuk dibelokkan, di iming-imingi apapun. Itu target saya. Saklek.

Ketika yang lain bermimpi untuk ke Baitullah, Haji, traveling ke Mekkah, apakah saya juga?

Saya balik bertanya, pun ketika iya, apa harus semua orang seluruh dunia harus tahu?

Jadi menurut saya, setiap orang memiliki hak untuk menafsirkan mimpi besarnya. Tidak ada salahnya jika ada orang yang memimpikan hal yang sangat general, contoh : Masuk surga. Hingga untuk mencapai mimpi itu, akhirnya dia berusaha menjadi istri yang baik, Ibu yang baik, pengusaha yang baik, teman dan sahabat yang baik, binaan yang baik, Murobbi yang baik. Hamba Allah yang baik.

“Ya, kalau itu mah semua pengen, yang tentang dunianya mana??!”

Loh, istri, ibu, dan seterusnya itu kan profesi dunia. Betul tidak?

Bisa jadi dengan menjadi pengusaha yang baik, akhirnya dia mudah untuk umroh berkali-kali, Haji saat masih muda, dan sebagainya.

Bisa juga, dengan menjadi sahabat yang baik, dia akan dimudahkan jalannya untuk ke Baitullah, karena kebaikannya.

Jadi mimpi itu tidak melulu target mobil mewah, rumah mewah, tanah berlimpah, harta, kuliah tinggi dan sebagainya.

Mimpi tidak melulu dengan bahasa yang sama dimiliki orang lain. Tafsir mimpi kita berbeda. Hanya kita sendiri, dan Allah lah yang tahu.

Lagipula, urusan umur siapa yang tahu. Mengejar mimpi duniawi saja (dengan harapan menunggu sukses untuk konsen beribadah) sama juga bohong. Sebab, maut tak bisa menunggu. Dunia dan akhirat harus seimbang.

Bermimpilah, dan kejar mimpi duniawimu. Tapi ingatlah, finish untuk mimpimu masih belum terlihat,  sedangkan maut adalah kepastian.

Jadi tetaplah seimbangkan akhiratmu, ujung dari segala mimpi..

Satu Tanggapan to “Sang Pemimpi”

  1. katacamar Maret 21, 2013 pada 10:17 am #

    banyak cita-cita dengan asesoris yang bagus dan gemerlap semua berakhir di batu nisan, maka ketika cita-cita sederhana dengan hiasan puncak akhirat itu sudah cukup lebih berarti, itu cita-cita yang sebenarnya bagi setiap nafas yang ingin kembali ke tempat yang benar… (bersyukurlah)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: