Menangkal Virus Liberalisme ;Kenapa Harus Malu Menjadi Muslim?

19 Feb

Di banyak kesempatan, saya mendapati orang yang berusaha terlalu keras untuk terlihat pintar, cerdas dan berwibawa di mata orang.

Kemudian yang dilakukannya adalah berkata dengan mengambil sumber-sumber filsuf Barat, mengambil contoh kasus dari kasus di Eropa, Amerika.

Di lain kesempatan lagi, saya dapati teman mengunggulkan negara maju yang sama sekali tidak mencampur adukkan agama, tapi lihat betapa maju mereka. Betapa disiplin mereka.

Setelah puas, masih kurang rasanya jika belum mencoba membandingkan dengan negara muslim, yang sebagian besar warganya muslim, tapi attitude? Teknologi? ah sudahlah… paparnya. Padahal mereka ini seorang muslim. Kenapa?

Kontras dengan hal ini, saat beberapa orang mencoba menjelaskan secara ilmiah tentang suatu kasus dengan merujuk pada ilmuwan Islam, pada ayat Al Quran, pada sunnah Rasulullah, pada keyakinan spiritual yang diyakininya, maka cap yang disematkan adalah : “Alaah, bawa-bawa agama lo.”

“Sok ngerti agama aje…”

“Sok suci..”

“Jual agama..”

“Agama itu urusan kita dengan Tuhan saja Bung.”

Waduh..

Kenapa begitu? Seolah dengan kebarat-baratan lalu terlihat hebat. Seolah Buku-buku dari Barat tadi sudah jauh lebih layak dijadikan rujukan, seolah filsuf Barat yang namanya saja susah diingat sudah jauh melebihi Rasulullah.

Saya merasakan ada yang keliru disini. Rujukan pemikiran kenapa jadi diatur-atur?

Apa salahnya seseorang yang kesehariannya memang telah akrab dengan kitab sucinya sendiri, setiap hari dan setiap saat dia beraktivitas adalah memang bertujuan ibadah, lalu tanpa dipaksakan dia membawa identitas ke Islamannya.

Tanpa dipaksakan artinya, ya tidak dibuat-buat.

Pakaiannya berjilbab rapi untuk perempuan, misalkan. Atau untuk laki-laki memelihara jenggot, jidatnya hitam (yang ini juga alami loh, bukan karena sujudnya dilama-lamain terus jadi hitam. Tanya deh bapak-bapak:mrgreen: ), lalu sebagian ada yang celana di atas mata kaki.

Itu dari segi penampilan. Dari segi perkataan, dia sering mengucapkan kata-kata “Insya Allah, Alhamdulillah, Subhanallah, Masya Allah, dsb..” dibanding kata-kata umum yang menerjemahkan kata-kata tersebut.

Dari segi tingkah laku, dia lebih menjaga jarak dengan lawan jenis, lebih pendiam, atau yang lainnya.

Dibuat-buat? Sok sokkan gitu? Tidak. Sama halnya dengan orang yang tadi, yang setiap saat yag dibacanya buku-buku Barat, atau tontonannya film Barat. Coba amati, kadang dia bisa ceplas ceplos ‘nyeletuk’ dalam bahasa gaul barat juga kan?

Begitulah. Ini soal kebiasaan dan keyakinan, yang secara sadar dan tidak sadar terimplementasikan pada dirinya.

Okelah, bagaimana dengan attitude? amalan dengan orang lain?

Well, kita sebagai muslim memang jika sungguh tertanam dengan benar ilmu yang dipelajari, maka dia akan disiplin, ramah, menjaga kebersihan, baik kepada tetangga, dermawan dan hal-hal positif lain seperti yang dicontohkan Rasulullah..

Lalu bagaimana jika ada yang belum?

Salah Islamnya, gitu? Jadi kalo ada yang penampilannya Islami, lalu attitude nya masih kurang bagus, dicopot sekalian jilbabnya, cukur jenggotnya?

Bukan, tapi ini soal individunya.

Setiap individu mengaplikasikan pemahamannya secara berbeda-beda. Manusia satu dan manusia yang lain memiliki kepala masing-masing. Jangan disama ratakan..

Saat kita menemui satu orang dengan penampilan yang sudah Islami lalu perilakunya bermasalah, lalu kita sama ratakan seluruh orang yang berpenampilan sama juga begitu?

Jika seorang wanita tidak berjilbab dia berperilaku buruk, apa seluruh wanita tidak berjilbab juga berperilaku buruk? Begitulah cara berpikirnya.

Islam adalah keyakinan pribadi, tapi tak salah juga jika identitas ke-Islaman itu diaplikasikan secara menyeluruh. Bukan hanya diatas sajadah saja.

Intinya, saya ingin menjelaskan bahwa ke-Islaman kita bukanlah sesuatu yang memalukan. Justru jadikan ini baik, dan jadikan kebanggaan.

Dengan begitu, membawa identitas ke Islaman artinya kita sedang berusaha menjadikan diri kita layak untuk dilihat sebagai seorang Muslim, umatnya Rasulullah.

Saat kita akan berbuat tidak baik, malulah pada Allah, malulah pada penampilan kita, malulah kita karena sedang ‘mendustai’ diri sendiri.

Dengan membawa identitas ke-Islaman, maka kita ingin orang melihat bahwa Islam itu baik, dan itu membuat kita berlomba-lomba berbuat baik.

Soal pahala, biarlah Allah yang menilai.

Jangan malu lagi tilawah ditengah orang lalu lalang. Bukankah itu baik?

Jangan malu lagi menutup aurat dengan rapi bagi muslimah. Bukankah itu baik?

Jangan malu lagi diajak pacaran tidak mau. Bukankah itu baik?

Jadi, kenapa harus malu menjadi Muslim?

im-a-muslim-im-proud

I’m Muslim and I’m Proud.

2 Tanggapan to “Menangkal Virus Liberalisme ;Kenapa Harus Malu Menjadi Muslim?”

  1. Harbun G. Subekti Maret 4, 2014 pada 1:29 pm #

    Betul nih,…
    Kita bangga karena kita benar!!!

    Semangat!!!

  2. hj rini salmiarni salman st Maret 28, 2014 pada 6:53 am #

    LAA TAHZAN,JANGAN BERSEDIH KALAU DIUJI OLEH ALLAH S.W.T.THANKS.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: