Idul Fitri di Jeddah, Saudi Arabia

29 Jul

Masih syawal, belum begitu terlambat untuk menulis tentang Idul Fitri disini. Hehe

Alhamdulillah, Ramadhan tahun ini masih Allah beri kesempatan untuk melewatinya. Karena jatuh di bulan Juni-Juli, maka perlahan Ramadhan di Saudi akan semakin turun suhunya, karena semakin menjauhi musim panas.

Beda ketika 4 tahun lalu, saat masih berada di ujung musim panas. Suhu terendah 30an derajat, tahun ini suhu terendah 26 an derajat. Cukup bersahabat. Alhamdulillah ‘ala kulli hal.

Namun, ini pun berarti, Haji akan semakin beranjak mendekati musim panas, masya Allah. Semoga Allah mudahkan yang akan segera berhaji, dan semoga (pastinya) pemerintah Saudi sangat memperhatikan ini juga. aamiin..

Lebaran tahun ini adalah lebaran ke tiga saya rasakan sejak tinggal di Saudi, karena 2012 saya menjalaninya di Indonesia.

Beda? hmmm,, Idul Fitri di manapun sama.

Eid (disini kami menyebutnya), Idul Fitri, di Indonesia kita menyebutnya dimanapun sama. Di belahan dunia manapun.

Pada pagi harinya kita akan mendengar takbir, tahmid bersautan, orang berduyun-duyun menuju ke lapangan atau tempat terbuka, orang akan bersama-sama dalam satu ‘pemimpin/imam’ melakukan gerakan sholat yang sama, menghadap arah yang sama, bacaan yang sama, setelah itu dilanjutkan khotbah yang meski dengan bahasa berbeda-beda, tapi dengan isi yang sama. Mengajak kita pada ketundukan, keistiqomahan.

Masya Allah, Allahu Akbar. Walillailhamd.

Hati-hati kita dalam ketundukan yang sama, meski raga kita ada di Indonesia, Saudi Arabia, Jepang, Cina, Rusia, dll.

begitulah, Islam, agama yang sempurna ini.

Jadi, itulah yang saya rasakan ketika berada di tengah-tengah Ibu-Ibu Jeddah yang juga akan melaksanakan sholat ‘Eid.

Berada di tengah orang-orang Arab, namun tak merasa asing

Berada di tengah orang-orang Arab, namun tak merasa asing

Meskipun saya belum fasih berbahasa mereka, tapi saya merasa bukan orang asing disitu.

Dalam Islam pun, tidak ada yang namanya perbedaan kasta, kita semua sama. Anda ingin berada di barisan berapapun dalam sholat, tidak ada perbedaan. Anda orang Arab, orang Asia, orang Eropa? semua bisa berada di barisan yang sama.

Jadi, Islam sama sekali menyingkirkan rasisme dalam beragama. Seperti saat selesai sholat, seorang Ibu di samping saya mungkin memperhatikan Haniya yang ikut sholat dari awal hingga akhir, lalu menyalami Haniya, sambil tersenyum berucap “‘Eid Mubarak..” masya Allah.

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di sisi  Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”

QS Al Hujurat 13

Berbangsa-bangsa dan bersuku-suku, inilah yang menyebabkan kita memiliki budaya, adat, kebiasaan, dan kesepakatan yang berbeda. Sekali lagi, perbedaan ini adalah untuk saling mengenal, bukan untuk saling menindas satu sama lain.

Di Saudi, saat saya sholat ‘Eid kemarin, banyak yang berbagi bingkisan kecil. Yang saya jumpai, anak-anak kecil dibagikan permen dan aksesoris. Hampir setiap keluarga membagi-bagikan permen. Kultur disini memang khas, untuk sebuah ‘celebration’, biasa membagi-bagikan permen atau halawa, sesuatu yang manis sebagai simbol berbagi kebahagiaan.

Anak-anak berlarian kesana kemari, menunggu sholat dimulai. Dengan pakaian-pakaian pesta untuk perempuan, dan laki-laki beberapa memakai gamis terusan. Ibu-Ibu tentu saja dengan jilbab dan abaya hitam, beberapa dilengkapi cadar.

Setelah sholat dan khotbah usai, ada lagi yang unik. Balon-balon yang dipasang di pagar lantai dua, oleh seorang ‘panitia’ mungkin ya, dilepas dan menjadi rebutan anak-anak dan Ibu-ibu yang ingin memberikan pada putranya. Menarik bagi saya, karena ini cukup baru. Dan unik..

Haniya berhasil dapat satu balon

Haniya berhasil dapat satu balon

Berebutan balon yang dilepas

Berebutan balon yang dilepas

Haniya berhasil mendapatkan satu balon, tapi setelah itu ada anak-anak Arab yang memberi satu lagi untuk Haniya. Jadi pulang sholat membawa oleh-oleh permen, aksesoris, dan balon. Hehe..

Setelah selesai, semua pulang ke rumah masing-masing.

Sesuai sunnah, berjalan ke rumah dengan melewati jalan yang berbeda

Sesuai sunnah, berjalan ke rumah dengan melewati jalan yang berbeda

Yeey, alhamdulillah dapat souvenir. hehe

Yeey, alhamdulillah dapat souvenir. hehe

Barangkali masyarakat Saudi akan melanjutkan berkumpul dengan keluarga ke taman atau tempat rekreasi, kalau kami, memilih kembali pulang ke rumah dan bersilaturahim dengan keluarga di Solo melalui telepon.

Dan kemudian menyambut liburan Ayahnya Haniya yang dapat libur 5 hari setelah Idul Fitri.

Ah, nikmatnya masih dipertemukan Ramadhan dan Idul Fitri tahun ini.

Taqabalallahu minna wa minkum. Kullu ‘am wa antum bi khoir. Semoga Allah selalu menjaga kita, dan keluarga kita agar tetap teguh di jalanNya. aamiin..🙂

Satu Tanggapan to “Idul Fitri di Jeddah, Saudi Arabia”

  1. katacamar Juli 30, 2015 pada 6:51 am #

    Taqabalallahu minna wa minkum. Kullu ‘am wa antum bi khoir. Semoga Allah selalu menjaga kita, dan keluarga kita agar tetap teguh di jalanNya. aamiin..🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: