Archive | curhat RSS feed for this section

Guilty.. ; Dosa Berbuat Maksiat

17 Apr

Hukuman paling menyakitkan bagi seseorang yang berbuat dosa adalah

rasa tidak bersalah telah melakukan dosa tersebut…

Pernah membaca sekilas kalimat di atas.

dan membuat benar-benar termenung..

Maknanya dalam sekali. Sesaat setelah membaca, maka reaksi saya adalah mengingat-ingat, pernahkah saya merasakan hukuman itu?

Artinya, suatu hari yang sendirian dan hanya ada saya di situ, pernahkah saya melakukan sebuah maksiat yang saya merasa nyaman dengannya dan tak masalah dengannya..

Sesak, sungguh.

Salah satu tanda hidayah dicabut adalah hilangnya rasa malu, dan rasa bersalah ketika berbuat dosa.

Karena rasa bersalah dan malu memberi kesempatan pelaku untuk berpikir kembali dan merenung, sedang jika ini sudah tak ada, maka setan akan menimbulkan kenyamanan yang semu dan terus menerus, yang membuatnya jatuh dan jatuh ke dalam lembah dosa lebih dalam lagi. Naudzubillah…

Hingga akhirnya, tidak hanya sendirian, dosa itu akan dilakukan terang-terangan. Merasa bangga atas sebuah dosa. Mempengaruhi orang melakukan dosa yang sama, lalu jadilah itu rantai dosa..

QS AL Hijr

39. Iblis berkata, “ Tuhanku, oleh karena Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, aku pasti akan jadikan kejahatan terasa indah bagi mereka di bumi, aku akan menyesatkan mereka semuanya,

40. Kecuali hamba-hamba-Mu yang terpilih di antara mereka.”

Hidayah memang anugerah dari Allah yang harus kita jaga. Kita jemput, kita usahakan..

Karena entah kapan akhir usia kita, tentu kita ingin saat itu adalah saat sedang cinta-cinta nya pada Allah.

seperti seorang pemuda yang sedang dimabuk cinta

insya Allah…

Kabulkan.. Ya Rabb…

Sang Pemimpi

21 Mar

Saya ini bukan tipe pemimpi, saya sadar betul.

Jika ada yang bertanya apakah yang telah saya ‘lakukan’ hingga saya mencapai semua fase ini? saya hanya menjawab simpel, ini semua karena Allah..

Kadang saya berpikir, begitu gencarnya training motivasi, buku-buku motivasi, yang mewajibkan setiap orang untuk memiliki mimpi besar. Karena dengan begitu -katanya- mimpi kita akan membawa kita ke arah kesuksesan.

Percaya? ya, saya percaya itu. Karena saya lihat ternyata sudah banyak mereka yang membuktikan. (pastilah ya, membuktikan dulu, baru bisa memotivasi orang lain)

Hingga akhirnya saya jumpai banyak yang memasang impiannya di tembok kamarnya, di ruang kerjanya, di buku agendanya, dimanapun. Juga tak kalah banyak yang memasangnya di jejaring sosial. Membolehkan publik mengetahui mimpi-mimpinya.

Saya? seingat saya, saya tidak pernah memvisualisasikan mimpi saya.

Sering saya berpikir, kenapa saya seperti ini? apakah saya salah? Kadang juga terbesit “Apakah manusia yang bukan pemimpi seperti saya ini tercela? berdosa?”

Saya ingat, sejak saya SMA, hingga kuliah, saat saya sudah ‘memiliki jati diri’.. di setiap perkenalan tentang cita-cita, saya menyampaikan, bahwa cita-cita saya adalah ‘Ibu dan Istri yang baik’. Titik.

Itu saja. Tak bisa untuk dibelokkan, di iming-imingi apapun. Itu target saya. Saklek.

Ketika yang lain bermimpi untuk ke Baitullah, Haji, traveling ke Mekkah, apakah saya juga? Baca lebih lanjut

Curahan Hati Perantau

11 Mar

Tinggal, dan menetap di perantauan memang memiliki banyak kesan. Apalagi di luar negeri. Saya memang baru sepuluh bulan tinggal di Saudi. Masih belum apa-apa dibanding teman-teman saya yang sudah bertahun-tahun tinggal disini. Tapi sedikit banyak saya sudah cukup mengenal dan terbiasa dengan budaya dan kebiasaan orang-orang Arab. Sayangnya saya masih belum bisa bahasa Arab. Kebanyakan saya menggunakan bahasa Inggris untuk komunikasi. Saat periksa di Rumah Sakit, atau bertemu orang di Mall.

Kenapa memilih Jeddah, Saudi Arabia? Sebenarnya selain memang rejekinya di sini, insya Allah, saya dan suami dulu memilih untuk memberanikan diri menetap di Saudi karena dekat dengan Baitullah. Ya, itulah yang membuat kami yakin. Siapa sih, yang tidak kepengin umroh kapan saja. Tanpa memikirkan harus mengeluarkan biaya puluhan juta. Bahkan hanya ditempuh seperti jarak Solo-Jogja. Itupun dengan harga bensin yang sangat murah, jika dengan kendaraan pribadi. Haji, tanpa memusingkan antrian bertahun-tahun. Meskipun saya juga belum berani haji, karena tahun kemarin  baru beberapa minggu melahirkan, kemudian kalaupun haji, akan membawa serta Haniya yang masih sangat kecil. Belum lagi kalau mau menambah anak. Umroh kemarin saja saya sudah tidak tega mengajak Haniya berpanas-panasan, dan berdesak-desakan. Apalagi nantinya pasti menambah momongan.

Tapi saya tetap sangat bersyukur, bisa mengunjungi Baitullah, tempat yang menjadi impian setiap muslim. Sebuah hal yang sangat tidak terbayangkan sebelumnya. Terlepas dari masalah cuaca yang lumayan ekstrim disini.

jeddah-view-kota jeddah

Senja, dari balik jendela flat baru kami

view-jeddah-kota jeddah-jeddah view

Pagi hari, dari jendela flat baru, sisi yang lain

Baca lebih lanjut

When I’m Going to 25

29 Des

Mumpung lagi ulang tahun, posting dobel ah.. hehe :mrgreen:

25 tahun. Dulu, saat masih kecil, membayangkan orang yang usianya 25, apalagi 25 ke atas, rasanya tuaa sekali. Bayangan saya kalau di lukiskan, ibu-ibu, dengan rambut dikucir ke belakang seadanya, memakai blus, rok span, wajah lebih ke paruh baya, wanita ‘dewasa’ banget lah pokoknya. haha… 😆

Sekarang setelah merasakannya, ternyata kenyataannya saya masih merasa dan terlihat seperti 17 tahun tuuh.. qiqiqi

Apalagi untuk orang yang beruntung bisa menempuh pendidikan hingga bangku kuliah seperti saya ini, 27 tahun pun rasanya masih oke tuh jalan-jalan dengan teman, makan di warung bersama-sama, ngomongin film..di tambah lagi kawan-kawan saya yang di usia 25-26 baru jadi sarjana.. (ups maaf…. 😛 )

Jadi persepsi saya sekarang otomatis berubah.. Bahwa usia 25 masih belum terlalu tua, secara fisik, maksudnya.. (actually.. :mrgreen: )

Di usia ini alhamdulillah, meskipun merasa seperti masih ABG saja, saat ini saya sudah memiliki suami dan satu orang putri. Ibu-ibu doong? iya.. saya memang sudah menjadi ibu.. tapi ‘ibu-ibu’ bukan kata lain dari tua kan? haha teteep… 😆

Alhamdulillah juga, dua target dalam hidup saya terpenuhi. Menikah di usia 23 tahun dan memiliki anak di usia 24 tahun. Ini target yang rahasia, sebenarnya. Hanya Allah, saya, dan guru ngaji saya yang tahu, dulu. Karena rahasia, maka tidak ada beban publik untuk mengejarnya. Jadi ketika itu terpenuhi, rasa syukur ini luar biasa. Banyak akhwat-akhwat yang mengoarkan target menikah umur sekian, tapi ketika terus menerus terlewatkan, saya yakin dia akan mengalami yang saya sebut tadi, ‘beban publik’. Sehingga niat menikah bukan lagi untuk ibadah, dan menjaga kehormatan, tapi lebih kepada supaya terbebas dari pertanyaan :”Mbak..katanya usia sekian mau nikaah, kok belum..?” Aw.. dalem..

Selama 24 tahun saya hidup, dimulai dari 29 Desember 1986 lalu, di bu Bidan dekat rumah, banyak sekali yang saya alami. Meski memori itu sepotong-sepotong saja saya ingat, kecuali yang terdokumentasikan.

Masa kecil, termasuk anak yang.. mm.. saya lupa..haha :mrgreen: yang jelas bahagia. Suka bermain boneka barbie, rumah-rumahan, bola bekel, panjat pohon hingga baju robek. ..hihi

SD, termasuk murid yang lumayan pandai (ehem)., lugu, polos, baik hati.. (yes! 😀 ) imut..

SMP, Baca lebih lanjut

Hari-hari yang Mendebarkan

30 Sep

Tinggal beberapa hari lagi, insya Allah. Atau mungkin.. beberapa jam lagi? seminggu, dua minggu? wallahu’alam…

Yang jelas, beberapa hari ini, saya dan suami bertanya-tanya.. “Si kecil lahir kapan, ya..” 🙂

Campur aduk rasanya saat-saat ini.  Kadang terpikirkan, “Ternyata, manusia itu untuk memasuki babak baru dalam hidup harus melewati masa-masa yang menegangkan ya..”

Contoh saja, saat kita SD, melihat anak SMP jadi kepengen, tapi untuk menuju SMP harus melewati Ujian Nasional. Sekolah bagus ataukah tidak, ditentukan di ujian itu.. Saat menanti hasil, rasanya menegangkan. Tapi mau tidak mau harus dilewati.

Begitu pula dari SMP ke SMA, SMA ke kuliah. Kuliah menuju sarjana..

Dari lajang ke menikah juga sama,. Melewati masa menegangkan menuju sampai melewati Aqad.. Selalu seperti itu. Subhanallah..

Dan sekarang, untuk menjadi seorang ibu, bisa  menimang bayi buah cinta dengan suami, yang merupakan perpaduan kami berdua juga harus melewati saat-saat menegangkan. Persalinan. Kapan waktunya, hanya Allah yang tahu. Tapi insya Allah terbaik menurutNya.. aamiin..

Sekarang usia kehamilan saya sudah menginjak minggu ke 38. Sudah bulan ke sembilan. Wow.. mengandung selama 9 bulan ternyata luar biasa. Setelah melewati masa-masa mual sampai bulan ke empat, tidak doyan makan, pusing seperti orang masuk angin, ditambah jauh dari suami (hehe..lengkap sudah) hingga akhirnya menginjak trimester ke dua yang dihadapkan dengan cuaca Jeddah, bolak-balik rumah sakit karena demam tinggi, dan sekarang sampailah di trimester ke 3. Perut sudah membesar, kaki dan tangan kesemutan, pegal-pegal, hanya tinggal berdua dengan suami, apa-apa sendiri. Ah..luar biasa.. Baca lebih lanjut

Menjadi Wanita

31 Mar

wahai manusia..

bayangkan jika tidak ada wanita yang bersedia menjadikan rahimnya tempatmu sebelum nyawa ditiupkan kepadamu, sebelum dunia menyambutmu..

bayangkan jika mereka malas dan enggan untuk merasakan betapa payahnya mengandung, betapa sakitnya melahirkan, betapa lelahnya merawatmu…

bayangkan jika mereka memilih untuk tetap langsing dan menarik selamanya, tanpa pernah menjadi gemuk dan tidak menarik ketika kau di rahimnya..

sebuah perenungan..

merasakan kondisi raga yang seakan asing… 24 tahun memilikinya, tapi belum pernah sepayah ini. alangkah luar biasanya..

jika mungkin bisa memilih, dan memotong waktu.. maka waktu antara pernikahan, dan memiliki anak bisa dilewatkan saja. bayangan memiliki bayi mungil yang keluar dari rahim kita, tidak sabar rasanya..

tapi bukan itu, ada rasa yang mengagumkan dari proses ini. menyadarinya hadir, meski dengan kepayahan, terselip rasa bangga. “aku akan menjadi ‘ibu’ dari dia yang nanti kusebut ‘anakku’…” merasakan denyut jantungnya, tendangannya, geli-geli kecil karena gerakannya, mengamati hari per hari pertumbuhannya.. Baca lebih lanjut

Sejak Anugerah itu Hadir

19 Feb

Tepat setahun pernikahan kami, saya menyadari, bahwa sedang ada yang tumbuh di rahim saya.

Alhamdulillah. Anugerah luar biasa. Hingga bulan ke dua ini saya begitu menikmatinya (menikmati mual yang tak kunjung hilang, salah satunya. hehe).

Begitu nikmat, begitu bahagia. Hingga semua website-website tentang ibu hamil saya kunjungi. Mengamati artikel tentang perkembangan janin dari minggu ke minggu.

Di awal-awal begini, rasanya masih belum begitu menyadari bahwa saya sedang mengandung. Kecuali haid yang tidak lagi datang, selera makan bertambah, rasa kantuk yang semakin sering (lebih sering dari saat belum hamil..hehe.. hebat, kan? 🙂 ), dan tentu saja, yang sekarang sedang saya nikmati : m.u.a.l. Baca lebih lanjut

%d blogger menyukai ini: