Arsip | kritik RSS feed for this section

Gak Usah Bawa-bawa Agama!

24 Jul

Bro: “Bray…”

Bray: “Naon bro?”

Bro: “Jangan bawa-bawa agama bray”

Bray: “Apanya?”

Bro: “Ya semuanyalah. Elu mah dikit-dikit bawa agama, dikit-dikit bawa agama, sampe-sampe urusan nyo blos aja masih aja bawa-bawa agama”

Bray: “Gitu ya bro?”

Bro: “Iya, ribet bray! Makanya udah gak usah bawa-bawa agamalah bray”

Bray: ”Ya udah sok atuh kasih tau ini Islam agama gw mesti ditaro dimana?”

Bro: “Maksudnya?” Baca lebih lanjut

Iklan

Bersikap Dewasa dalam Berjejaring Sosial

25 Apr

Kita menyebutnya Jejaring Sosial. Ada blog, twitter, facebook, dan sebagainya. Kalau jaman dulu ada friendster, tapi sejak facebook muncul, pelan-pelan orang meninggalkannya.
Saya mengamati, polanya sama. Hanya orang-orang tertentu memiliki akun friendster, lalu mewabah, sampai anak kecil pun punya. Akhirnya friendster pun ramai dengan akun-akun, dan aktifitas yang sangat tidak penting. “kok cuma nge view sih, coment dong..”
“Eh, coment aku balik ya..” begitu seterusnya.

Lalu, orang-orang yang melihat friendster mulai tidak sehat, dengan banyaknya akun ‘aneh’ dan nama-nama aneh, akhirnya pelan-pelan orang-orang tertentu beralih ke facebook. Supaya berbeda, lebih ‘tenang’, aktifitas sosial juga nyaman. Tapi apa yang terjadi? tetap saja, akhirnya facebook pun mewabah. Setiap orang memilikinya. Dari ustadz, hingga anak SD. Cuman memang hingga sekarang, facebook masih tetap diminati. Mungkin karena ternyata aplikasinya terus menerus berkembang.

Saya tidak ingin membahas tentang detail facebook, twitter dan sebagainya. Tapi saya ingin menyoroti tentang fungsinya.

Kalau saya tanya, untuk apa anda menggunakan jejaring sosial tersebut? Jawabannya saya pikir sebenarnya semua sama : Sosialisasi.
Walaupun kemudian prakteknya untuk berbisnis, berdakwah, meneror, eksistensi, pamer, dan sebagainya, tapi kerucutnya adalah sosialisasi bukan?

Sebab nantinya anda akan menambah banyak teman, mengirimi permintaan pertemanan, menerima permintaan pertemanan, seputar itu. Intinya berhubungan dengan orang lain.

Dan dalam berjejaring sosial tentu -meski tidak bertemu langsung- tetap ada interaksi sosial, dan tentu ada aturannya. Ya, ada aturan, meski tidak tertulis, ada norma dan etika yang harus dipahami oleh setiap orang. Karena ini adalah jejaring sosial. Ada kepentingan orang lain yang masuk. Bukan cuma kita berinteraksi dengan diri sendiri, tapi juga orang lain. Kecuali anda memprivate seluruh kiriman yang anda buat, khusus untuk anda sendiri.

Apakah anda berpikir seperti ini?

Baca lebih lanjut

Akhwat Galau

24 Agu

Tiba-tiba ingin menuliskan ini. Sebenarnya sudah sejak lama mengamati, tapi baru terketuk sekarang.

Ketika pagi ini saya login facebook dan mendapati wall dipenuhi dengan para lajang (akhwat) yang mengupdate status tentang pernikahan.

Ah, tema itu. Tema sensitif. Tema yang cukup menarik bagi para lajang.

Mereka memang tidak langsung mengatakan “Aku pengen nikah, looh..”

Tapi mereka memang mengemasnya sedemikian rupa, sehingga tidak langsung mengarah ke maksud di atas.

Akhwat galau, ya, saya menyebutnya begitu. Bahasa masa kini, siy. Kalo jaman dulu mungkin lebih halus ‘akhwat gelisah’.  Tapi karena biar up to date, saya menyebutnya fenomena akhwat galau :mrgreen:.

Di satu sisi saya merasa kasihan pada mereka. Saya pun sempat merasakannya. Sudah lulus, sudah bekerja, apa lagi? Ditambah lagi, dikejar usia..

Tapi di sisi lain, saya heran. Heran, bukankah status-status mereka dibaca para ikhwan juga? Apakah tidak malu mengumbar keinginan suci, seolah-olah mengatakan “Hei, kalian laki-laki lajang, kumohon bacalah statusku, aku ingin menikah, tapi belum ada yang melamarku..Baca lebih lanjut

Perempuan

14 Agu

Pernah mengamati artis-artis di televisi yang dimanajeri ibunya? Ada yang aneh tidak?

Saya merasa itu aneh sekali. Bukankah setiap ibu berharap kehormatan dan keselamatan anak gadisnya, ya? Sebab seorang ibu bertanggung jawab lebih untuk mendidik putri-putrinya, agar kelak menjadi wanita yang pandai menjaga kehormatan dirinya sendiri, suami, dan anak-anaknya. Itu yang saya pahami.

Kontras, dengan barusan yang saya dengar. Berprofresi sebagai teman belajar siswa sekolah memang memiliki ‘amal sampingan’. Njagani anak didik. Bukan hanya soal akademis, tapi kadang sampingannya adalah teman curhat.

Seorang ibu dari murid saya beberapa waktu yang lalu mengeluhkan kekhawatirannya pada saya. Tentang putrinya.”Mbak Sonia, ibu bener-bener khawatir sama Nurul, kalau Les di pondok jangan sampai mukanya keliatan orang banyak ya. Diusahakan menghadap ke arah yang jarang ada orang..”

Iya, ibu itu khawatir anaknya yang sengaja disekolahkan di sebuah Pesantren ternama di Solo, menjadi fitnah bagi lawa jenisnya. Alasanya jelas, memang putrinya tersebut cantik. Sungguh cantik. Saya saja yang juga perempuan benar-benar takjub dengan kecantikan si adek ini. Apalagi ikhwan? (kalo cowok iya nggak ya, soalnya si adek berjilbab rapih) Hmm.. Subhanallah..

Sang ibu sudah merasa benar-benar ingin menjaga putrinya, supaya tidak mendatangkan fitnah, yang jelas akan merusak masa depan anaknya, keluarganya juga.

Beda dengan yang sekarang sering kita jumpai. Ibu malah ‘mengkomersilkan’ putrinya. Dijadikan mesin pencetak uang, bahkan tulang punggung keluarga. Miris.

Sebab moral sebuah masyarakat, tergantung bagaimana kondisi perempuan di wilayah tersebut”  Sebuah hal yang sangat saya yakini kebenarannya.

Hingga saya temui juga sebuah petikan “Mendidik seorang laki-laki, artinya mendidik laki-laki itu sendiri. Mendidik satu orang perempuan, artinya kamu telah mendidik satu generasi.” Baca lebih lanjut

Merah = Marah ?

2 Apr

” Berjuang tanpa Kekerasan”
tulisan yang tercetak pada kertas A4 putih yang tertempel di bagian belakang motor kader partai yang berbasis massa terbanyak di Solo itu benar-benar saya baca berulang-ulang. Dalam hati, saya tertawa saja… Bagaimana tidak? seharian tadi perjalanan yang mengiringi saya dari rumah sampai ke rumah lagi benar-benar melatih kesabaran saya. Sampai akhirnya, saya membuat keputusan, daripada ‘muring-muring’ ga jelas, dan memberikan tatapan mata sinis tanda terganggu ke mereka hanya menambah kejengkelan saya, dan itu pun sia-sia, lebih baik saya mengikuti saja mereka, sambil mencoba untuk berpikir. Meski kadang agak prihatin juga dengan gaya para ‘pangeran merah’ itu, yang… ah… speechless.
Ya, saya mencoba berpikir dan menganalisa. Hingga akhirnya muncul pertanyaan-pertanyaan  di kepala saya.
“Apa sih yang ada dalam pikiran mereka sekarang? bangga, keren, menang, mempesona, atau apa..?”
yah, mungkin iya. Tapi, pada siapa, dan kenapa? wallahu’alam bishowab.
Saya hanya kasihan saja dengan orang-orang yang merasa terdzolimi dengan kekacauan kecil ini. Baca lebih lanjut

%d blogger menyukai ini: