Tag Archives: agama

Anak Mirip Siapa?

24 Nov

Pertanyaan yang tak jarang muncul ketika melihat dua buah hati kami. Walaupun -tak jarang juga- bukan pertanyaan yang muncul melainkan pernyataan. 

“Waaah… Bapaknya banget ya..” dan itu semacam otomatis saat melihat keduanya. 

Nampaknya saya senasib dengan Ibu-Ibu yang baper kalo belum ada yang menyebut anaknya mirip dirinya. Palingan nanti cuma keluar kalimat menghibur diri “Tapi ini telinganya mirip saya loh. Lihat…” 😀

Ya begitulah.. Seni dalam memiliki buah hati. 

Jadi ingat saya pernah menulis di sini menjelang kelahiran Haniya. Rasa penasaran saya pada wajah sulung kami. 

Dan taraaa.… No wonder, no need DNA test, emang asli sodara sodara.. Haniya semacam copy paste Bapaknya. Hahahaha… *pasrah

Mewakili banget ya.. 

Nah, yang edisi ke dua ini yang -walau banyak yang bilang mirip abis sama bapaknya- tapi banyak moment yang membuat saya merasa dia mirip saya kok. Hehe

Bukankah banyak yang bilang “Kalau jodoh itu mirip ya biasanya…” 

Nah itulah yang membuat pada akhirnya soalan ‘anak mirip siapa’ ini menjadi debat able.  Karena  katanya jodoh mirip kok, ya anaknya jadi mirip di keduanya toh.. 😀

Tapi ada satu hal yang saya juga sedikit percaya, karena banyak buktinya. Anak pertama biasanya mirip Bapaknya, anak kedua mirip Ibunya, anak seterusnya random, acak. Ini menurut pengamatan saya lho yaaa… Ini juga debat able sih. Ngga harus percaya, karena ngga ilmiah. 😀 

Dan ini semacam seni, atas sebuah kepasrahan manusia pada penciptaNya. 

Membentuk rupa manusia adalah kuasa Allah. Belum ada teknologi apapun yang membuat manusia sanggup menentukan seperti apa wajah keturunannya. 

“Allahlah yang menjadikan bumi untukmu sebagai tempat menetap dan langit sebagai atap dan membentukmu lalu memperindah rupamu serta memberimu rezeki dari yang baik-baik. Demikianlah Allah, Tuhanmu, Mahasuci Allah, Tuhan seluruh alam.”

(QS. Ghafir: Ayat 64)

Masya Allah ya. Sampe hal sedetail ini Allah tulis di kitabNya. 

Jadi memiliki anak dengan rupa bagaimanapun, tetaplah mereka ini amanah yang dititipkan pada kita. 

Bukan kuasa kita untuk menentukan rupa fisik nya. Tapi adalah kewajiban kita, menentukan rupa akhlaknya. 

Berikhtiar terbaik, dan berdoa terbaik lalu tawakal.. 

Semoga Allah mampukan kita mendidik anak-anak kita. Aamiin.. 

Musibah Menurut Islam ; Ujian atau Hukuman dari Allah?

8 Jun

Ada yang bertanya, bagaimana membedakan musibah itu ujian, atau hukuman dari Allah untuk kita? Saat kita mengalami sesuatu yang sulit, apa yg sebaiknya kita lakukan? introspeksi atau bersabar dan berharap ujian itu menaikkan level kita?

Sungguh, keduanya benar. Hanya penerapannya yg berbeda. Misal, saat kita mengemudi dan ugal-ugalan. Senggol sana sini, mengebut, mengabaikan rambu-rambu lalu kita menabrak.

Layakkah kita mengatakan bahwa itu adalah ujian dari Allah untuk menaikkan level kita? Baca lebih lanjut

Guilty.. ; Dosa Berbuat Maksiat

17 Apr

Hukuman paling menyakitkan bagi seseorang yang berbuat dosa adalah

rasa tidak bersalah telah melakukan dosa tersebut…

Pernah membaca sekilas kalimat di atas.

dan membuat benar-benar termenung..

Maknanya dalam sekali. Sesaat setelah membaca, maka reaksi saya adalah mengingat-ingat, pernahkah saya merasakan hukuman itu?

Artinya, suatu hari yang sendirian dan hanya ada saya di situ, pernahkah saya melakukan sebuah maksiat yang saya merasa nyaman dengannya dan tak masalah dengannya..

Sesak, sungguh.

Salah satu tanda hidayah dicabut adalah hilangnya rasa malu, dan rasa bersalah ketika berbuat dosa.

Karena rasa bersalah dan malu memberi kesempatan pelaku untuk berpikir kembali dan merenung, sedang jika ini sudah tak ada, maka setan akan menimbulkan kenyamanan yang semu dan terus menerus, yang membuatnya jatuh dan jatuh ke dalam lembah dosa lebih dalam lagi. Naudzubillah…

Hingga akhirnya, tidak hanya sendirian, dosa itu akan dilakukan terang-terangan. Merasa bangga atas sebuah dosa. Mempengaruhi orang melakukan dosa yang sama, lalu jadilah itu rantai dosa..

QS AL Hijr

39. Iblis berkata, “ Tuhanku, oleh karena Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, aku pasti akan jadikan kejahatan terasa indah bagi mereka di bumi, aku akan menyesatkan mereka semuanya,

40. Kecuali hamba-hamba-Mu yang terpilih di antara mereka.”

Hidayah memang anugerah dari Allah yang harus kita jaga. Kita jemput, kita usahakan..

Karena entah kapan akhir usia kita, tentu kita ingin saat itu adalah saat sedang cinta-cinta nya pada Allah.

seperti seorang pemuda yang sedang dimabuk cinta

insya Allah…

Kabulkan.. Ya Rabb…

Gak Usah Bawa-bawa Agama!

24 Jul

Bro: “Bray…”

Bray: “Naon bro?”

Bro: “Jangan bawa-bawa agama bray”

Bray: “Apanya?”

Bro: “Ya semuanyalah. Elu mah dikit-dikit bawa agama, dikit-dikit bawa agama, sampe-sampe urusan nyo blos aja masih aja bawa-bawa agama”

Bray: “Gitu ya bro?”

Bro: “Iya, ribet bray! Makanya udah gak usah bawa-bawa agamalah bray”

Bray: ”Ya udah sok atuh kasih tau ini Islam agama gw mesti ditaro dimana?”

Bro: “Maksudnya?” Baca lebih lanjut

ODOJ, Komunitas Anti Mainstream

5 Mei

Ini komunitas memang anti mainstream.
Komunitas kok menggalakkan anggotanya tilawah sehari 1 Juz! Aneh kan?

Mbok ya komunitas itu yg hepi hepi.. yg bikin fun gitu loh. Mana grupnya dipisah lagi laki-laki dan perempuan. Mana ada anak muda yg tertarik? qiqiqi

Ya begitulah..
Tapi jangan salah loh, faktanya, beberapa bulan ODOJ dimulai, membernya sudah puluhan ribu. Tersebar dari seluruh Indonesia, bahkan juga seluruh dunia (nyampe Jeddah juga buktinya ^_^).

Sebagai anggota, sy memang merasakan betapa dulu rasanya mustahil bisa konsisten menjaga tilawah sehari 1 juz, dan sekarang jd lumayan terbiasa. Alhamdulillah. Baca lebih lanjut

Sebelum Dia Halal Bagimu

13 Agu
kartun-ikhwan-akhwat-lucu kartun pasangan halal-kartun suami istri

Bersabarlah, karena dia akan berbuah manis 🙂

Sungguh menarik jika membahas tentang pernikahan. Tapi bagi saya, lebih menarik adalah membahas waktu-waktu menjelang hari H pernikahan.

Menarik, karena jangka waktu antara khitbah-menikah itu penuh warna.

Ada pusing karena persiapan ini itu menjelang pernikahan,

Ada deg-degan karena tak lama lagi sudah tidak sendiri,

Ada rasa canggung, malu-malu dan grogi ketika harus berkomunikasi dengan si dia, calon pendamping kita.

Ada rasa syukur tak terkira, karena selangkah lagi akan menghadapi salah satu ketentuanNya yang telah lama dinanti..

Waw.. masya Allah rasanya 🙂

Berbagai cerita juga saya dapat dari sahabat saya tentang perasaan mereka menjelang pernikahan. Apalagi, sahabat-sahabat saya ini juga sebagian besar tidak melalui proses pacaran sebelumnya. Kebayang kan bagaimana menariknya cerita mereka? :mrgreen:

Di antara rasa yang nano-nano tadi, ada satu hal yang bagi saya begitu penting; Menjaga interaksi dengan sang calon.

Sungguh, meskipun jarak antara khitbah dan nikah kami waktu itu hanya berjarak satu minggu, tapi rasanya godaan itu begitu besarnya. Saya berpikiran, apalagi mereka yang jaraknya begitu lama. Rasanya gimana ya?

Apa sih godaan-godaan itu?

Banyak. Di antaranya berkhalwat, saling mengirim kata-kata yang belum pantas (sayang, kangen)

memanggil ‘Bunda/ayah’, atau kalau katanya ingin Islami ya Ummi/Abi sebelum waktunya, kalimat-kalimat ‘gombal’ dan pujian untuk menggoda..

Benar-benar disinilah celah setan untuk menghancurkan ibadah kita. Disinilah dibutuhkan ketegasan dari salah satu pihak, atau keduanya untuk membatasi komunikasi dan interaksi.

Disinilah sepenuhnya hati kita jaga, untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan.

Apa jaminan kita akan disampaikan usia hingga penghulu mengatakan “SAH..SAH..”

Apa jaminan bahwa tidak ada halangan saat hari H?

Jangan sampai semua yang semestinya bisa segera kita raih dengan penuh kebarokahan, tak lama lagi, hanya butuh sedikiiiit saja kesabaran, menjadi hambar tak bermakna, karena itu semua telah kita lakukan sebelum halal.

Dan apapun yang dilakukan sebelum itu dihalalkan, pasti ada rasa tidak tenang di hati. Betul tidak?

Ah.. sungguh sayang sekali, ‘makanan lezat’ yang sudah terhidang untuk ‘berbuka puasa’ sebentar lagi, menjadi hambar karena kita sudah tidak begitu lapar, sudah mencicipi sebelum waktunya.

Tahanlah lisanmu untuk mengatakan hal-hal yang belum waktunya.

Tahanlah jarimu untuk tidak mengetikkan kata-kata yang masih haram kau keluarkan.

Tahanlah dirimu, badanmu untuk tidak menyentuh hal-hal yang masih belum menjadi hakmu.

Sedikit lagi, semua akan menjadi begitu indah dan barokah jika kau bisa memenangkan godaan-godaan itu.

Jika kau ingin memuliakan calon ibu/ayah dari anak-anakmu, muliakan dia sejak sebelum menikah. Dengan menjaga hatinya, dan kehormatannya hingga saat itu tiba.

wallahua’lam bishowab.

Semoga bermanfaat 🙂

Lajang tak perlu galau!

10 Des

Kalau ditanya, apa masa-masa terberat untuk ‘hati’ ? Kalau jawaban saya adalah : masa-masa menunggu pinangan (vulgar ya? hehe :mrgreen: ).

Bagaimana tidak, waktu kan tidak bisa di ‘pause’. Berjalan terus menerus, diikuti usia yang selanjutnya berganti bilangan. Target menikah 23 lewat, 24 lewat, 25, 26 dan seterusnya.

Sedangkan teman-teman, bahkan adik tingkat satu per satu telah menemukan (atau ditemukan? ) jodohnya. Orang tua sudah mulai rajin bertanya, tetangga apalagi. Lebaran yang harusnya bahagia, malah membuat murung karena setiap bertemu orang keluar kalimat tanya yang semua intinya adalah : “Kok masih sinlgle mbak?”. Dalem.

Belum lagi godaan-godaan yang muncul. Ditelepon setiap hari oleh bekas-bekas partner waktu masih di kampus, SMS menanyakan kabar dan sering berlanjut percakapan tidak penting, tawaran dari kanan kiri yang nggak tahu itu serius apa cuma sindiran, dan sebagainya.

Begitulah. Btw, pengalaman pribadi saya? mm.. tenang, tidak semuanya. Saya menikah di usia 23 tahun, jadi tidak ada target yang terlewat. hehe :mrgreen:

Tapi setidaknya itulah gambaran singkat gejolak hati yang dialami lajang masa kini.

Padahaal… Setelah saya menikah sekarang, kalau dipikir-pikir, ternyata banyak hal yang seharusnya membuat saat-saat masih menunggu itu produktif. Banyak hal yang seharusnya diketahui dan dipelajari jauh-jauh hari sebelum menikah.

Sungguh, pernikahan bukan sekedar bertemu kekasih halal, lalu dapat sopir halal, berduaan halal, sayang-sayangan halal, mesra-mesraan di wall facebook dan twitter halal, pasang relationship ‘married with’ sudah boleh, foto berdua, dan sebagainya.

Menikah bukan sekedar hal remeh temeh yang bisa dipamerkan di media sosial, bukan se simpel itu. Sayangnya, ini yang akhirnya menghantui para lajang di luar sana. Terbitlah galau menggelora.

Stop Galau..

Stop Galau..

Ada keluarga mertua, ada tanggung jawab terhadap masyarakat, penyesuaian karakter. Dan yang sangat penting, ada anak yang merupakan amanah dari Allah yang harus kita jaga sebaik mungkin.

Baca lebih lanjut

%d blogger menyukai ini: