Tag Archives: artikel

Be A Wise Mother : Bintik merah pada bayi setelah demam?

30 Sep

Berkali-kali saya menemukan cerita dari para Ibu yang mengeluhkan bayinya muncul bintik merah di tubuhnya pasca demam. Dan tidak hanya sekali dua kali juga yang akhirnya si Ibu panik, ke Dokter, dan oleh dokter diberi obat macam-macam.

Ada yang diagnosa campak, dikasihlah obat campak dan antibiotik.

Ada yang ke dokternya ketika masih demam, lalu diberi anti biotik, setelah minum anti biotik, demam si anak turun. Tapi muncul bintik-bintik merah. Oleh dokter dibilang alergi anti biotik, dan dikasihlah resep alergi.

Mendengar yang seperti itu, saya benar-benar kasihan. Bayi yang usianya belum juga satu tahun harus minum obat kimia bermacam-macam. Dan yang parah lagi, bisa jadi obat itu sama sekali tidak dibutuhkan sang bayi.

Belajar dari pengalaman saya beberapa bulan yang lalu, Haniya demam secara tiba-tiba. Siangnya Haniya masih sangat ceria. Makan dan bermain seperti biasanya. Tapi sore setelah saya mandikan, tiba-tiba badan Haniya panas. Saya cek setiap beberapa menit nampaknya demamnya semakin naik. Hingga akhirnya saya lihat Haniya memang mulai merasa tidak nyaman. Baca lebih lanjut

Memangnya kalo nggak pacaran, kenapa sih?

19 Okt

Penasaran saya.

Wara wiri di jejaring sosial membuat saya jadi melihat ‘timbul tenggelamnya’ status anak muda jaman sekarang.

Status disini bukan postingan, tapi status yang berupa ‘in relationship with, engaged with, married with,..” ato bahasa Indonesianya “berpacaran dengan, bertunangan dengan, menikah dengan..”

apa ya yang dibanggakan oleh orang yang di fb nya terpampang “berpacaran dengan fulan/fulanah” (di luar kasus mereka yang sebenarnya sudah menikah, tapi ingin lebih asyik sengaja memasangnya sebagai ‘berpacaran’).

Apakah bangga, apakah keren, apakah terlihat lebih laku daripada mereka yang memasang status ‘lajang’, dengan usia yang masih belasan ato dua puluhan? hmm.. apakah seperti itu membanggakan?

Kalo saya justru menganggap itu bahan olok2an saja. Bayangkan, kalau sebulan statusnya berubah-rubah, lajang-berpacaran-lajang-berpacaran dst.. dengan nama yang berbeda-beda pula. Beuh… kayak piala aja digilir…

Dan seluruh dunia tau (minimal orang-orang di daftar friendlistnya), kalo si A sudah “BEKAS” nya si B, si C, si D,…

itu membanggakankah?hmm…….

Sungguh, besar sekali efek yang ditimbulkan media, infotainment, sinetron, film, majalah. Yang berkali-kali memblow up pasangan yang berpacaran, yang digambarkan enak-enak, ada yang memberi perhatian, menemani kemana-mana, ‘yank-yank’ an di wall, biar seluruh dunia tahu,, (haduh….)

Ini penyakit menurut saya. Bukan perkara pacaran yang ada batasannya ataukah masih nggak neko2, kalo pada yang pengen beralasan. Tapi ini masalah etika, moral dan kebiasaan.

Apa yang anda pikirkan tentang pacaran?

berduaan.Boncengan.  Gandengan. Cium-an. Pegang-pegangan. Peluk-pelukan. dan yang sampai pada batas maksimal adalah : mamah-papah an (lebih dari panggilan, tentunya)

astaghfirullah….

Tidak heran kalau baru saja teman saya, seorang bidan memberi kesaksian langsung pada saya : Baca lebih lanjut

Sekedar Puasa?

10 Agu

Apa yang anda lakukan jika mendapati sebuah toko mengadakan diskon besar-besaran? Obral berlipat lebih murah dari harga semula? anda pasti akan menyerbunya, bukan?

Itulah perumpamaan bulan Ramadhan. Yang biasanya ibadah bernilai 10 derajat pahala, dilipatkan menjadi 10 kali lipat (artinya sekali ibadah di bulan ini, sama dengan 10 kali ibadah yang sama di bulan lain).

Hmm.. menggiurkan! apalagi iming-iming DoorPrize Lailatul Qadar, yang jika kita mendapatkannya, pahalanya sama dengan ibadah 1000 bulan!! berapa tahun itu? 1000 dibagi 12 = 83 tahun!! , hanya dengan satu malam, euy.. subhanallah.. Siapa yang tidak kepengen, ya?

Saya sejenak berpikir, kalau Ramadhan adalah bulan untuk melipatkan pahala, kenapa Allah tidak menyediakan juga bulan melipatkan dosa? maka saya pun menyadari, Allah Maha Pengasih. Kasih sayang dan CintaNya tidak akan habis, meski seluruh makhluk memintanya. Sungguh, ini adalah salah satu bukti cinta Allah pada manusia.

Maka sia-sia sekali manusia yang tidak mengetahui ini.

Ramadhan hakikatnya bukan hanya sekedar berlapar-lapar dahaga. There are more wonderful things that only can be realized by a thinking people. Hanya orang-orang yang berpikir yang menyadarinya. Bahwa Ramadhan bukan menahan haus dan lapar, kawan!!

Merasa banyak dosa? minta ampunlah!!

Merasa banyak harapan dan cita-cita? berdoalah!!

Merasa kurang beruntung? Berpuasalah!! dan rasakan penderitaan orang-orang yang tidak lebih beruntung darimu!

Merasa sendirian? Sholat berjama’ahlah di masjid, rasakan betapa banyak saudaramu!!

Merasa miskin? bersedekahlah..!!

Di bulan ini Allah akan memberimu LEBIH!

Sebab yang sedang memberi janji padamu bukan seorang caleg yang butuh dukungan, atau capres yang ingin berkuasa. Tapi Allah, yang Maha Memiliki Segalanya, yang janjiNya adalah keniscayaan.

Barang siapa berpuasa pada bulan Ramadhan dan mengetahui batas-batasnya dan ia menjaga diri dari segala apa yang patut dijaga, dihapuskanlah dosa yang sebelumnya.(HR. Ahmad dan Baihaqi)

Jadi, tetap ingin hanya ‘Sekedar Puasa’?

*Ditulis di tengah malam menjelang 1 Ramadhan 1431 H

Merah = Marah ?

2 Apr

” Berjuang tanpa Kekerasan”
tulisan yang tercetak pada kertas A4 putih yang tertempel di bagian belakang motor kader partai yang berbasis massa terbanyak di Solo itu benar-benar saya baca berulang-ulang. Dalam hati, saya tertawa saja… Bagaimana tidak? seharian tadi perjalanan yang mengiringi saya dari rumah sampai ke rumah lagi benar-benar melatih kesabaran saya. Sampai akhirnya, saya membuat keputusan, daripada ‘muring-muring’ ga jelas, dan memberikan tatapan mata sinis tanda terganggu ke mereka hanya menambah kejengkelan saya, dan itu pun sia-sia, lebih baik saya mengikuti saja mereka, sambil mencoba untuk berpikir. Meski kadang agak prihatin juga dengan gaya para ‘pangeran merah’ itu, yang… ah… speechless.
Ya, saya mencoba berpikir dan menganalisa. Hingga akhirnya muncul pertanyaan-pertanyaan  di kepala saya.
“Apa sih yang ada dalam pikiran mereka sekarang? bangga, keren, menang, mempesona, atau apa..?”
yah, mungkin iya. Tapi, pada siapa, dan kenapa? wallahu’alam bishowab.
Saya hanya kasihan saja dengan orang-orang yang merasa terdzolimi dengan kekacauan kecil ini. Baca lebih lanjut

%d blogger menyukai ini: