Tag Archives: bayi

My Baby Becomes a Toddler!

24 Okt

Usia Haniya sudah satu tahun lebih 3 minggu. Alhamdulillah.

Artinya sudah bertransisi dari ‘baby’ menjadi ‘toddler’. Makin hari kejutan-kejutan yang kami hadapi makin asyik. Mulai dari meniru kata-kata yang saya ucap, bisa merespon pertanyaan dengan menggeleng dan mengangguk, berkomentar terhadap acara TV dengan bahasanya, meniru gerakan-gerakan yang saya ajarkan.

Masya Allah.. Ajaib.

Sejauh ini alhamdulillah Haniya termasuk anak yang mudah makannya. Apa saja mau. Dan lebih menyukai masakan yang masaknya tidak ribet. Ini yang saya suka :mrgreen: .

Nampak lebih dewasa 🙂

Baca lebih lanjut

Lahiran Normal, apa Caesar??

4 Okt

Kalau ada teman, sodara, atau kerabat yang melahirkan, orang pasti bertanya : Lahirnya normal apa operasi, mbak?

Jujur, saya pun salah satu yang sering ingin tahu. Apakah secara tidak sadar orang akan mengkotak-kotakkan golongan ‘normal’ dan ‘tidak normal’, saya kurang tahu. Yang pasti, saya iri mendengar mereka yang bisa melahirkan dengan proses normal.

“Hebat! tangguh! bukan wanita biasa!” pikir saya. Bagaimana tidak? dia bisa menahan sakit ‘yang katanya’ luar biasa itu berjam-jam, bahkan berhari-hari. Dia bisa merasakan buah hati yang dia kandung 9 bulan keluar langsung dari rahimnya , bahkan melihat si bayi masih merah, masih membawa sisa-sisa dari isi rahimnya yang masih melekat. Mendengar tangisannya pertama kali. Uh.. Iri..

Kadang pun saya berpikir, apakah kata ‘melahirkan’ juga berlaku untuk mereka yang menempuh cara operasi? Apa saya bisa disebut sudah ‘susah payah’ melahirkan Haniya? Apa pahalanya sama?  Baca lebih lanjut

Be A Wise Mother : Bintik merah pada bayi setelah demam?

30 Sep

Berkali-kali saya menemukan cerita dari para Ibu yang mengeluhkan bayinya muncul bintik merah di tubuhnya pasca demam. Dan tidak hanya sekali dua kali juga yang akhirnya si Ibu panik, ke Dokter, dan oleh dokter diberi obat macam-macam.

Ada yang diagnosa campak, dikasihlah obat campak dan antibiotik.

Ada yang ke dokternya ketika masih demam, lalu diberi anti biotik, setelah minum anti biotik, demam si anak turun. Tapi muncul bintik-bintik merah. Oleh dokter dibilang alergi anti biotik, dan dikasihlah resep alergi.

Mendengar yang seperti itu, saya benar-benar kasihan. Bayi yang usianya belum juga satu tahun harus minum obat kimia bermacam-macam. Dan yang parah lagi, bisa jadi obat itu sama sekali tidak dibutuhkan sang bayi.

Belajar dari pengalaman saya beberapa bulan yang lalu, Haniya demam secara tiba-tiba. Siangnya Haniya masih sangat ceria. Makan dan bermain seperti biasanya. Tapi sore setelah saya mandikan, tiba-tiba badan Haniya panas. Saya cek setiap beberapa menit nampaknya demamnya semakin naik. Hingga akhirnya saya lihat Haniya memang mulai merasa tidak nyaman. Baca lebih lanjut

My Curious Baby

11 Jun

Dia ingin tahu segalanya. Apa yang saya pegang, apa yang ada di dapur, kenapa air itu basah, laptop ada gambarnya, semuanya.

Mungkin masa-masa sekarang adalah masa-masa perkenalan. She wants to know everything. Jadi biarkan dia menjelajah, memegang, atau memainkan sesuatu. Yang penting keamanan tetap dijaga. Dari Listrik, benda tajam, ataupun yang barang-barang yang masih panas.

Haniya sedang mengamati boneka Ontanya yg kakinya tinggal dua 🙂

Seperti kebanyakan ‘curious baby’ yang lain, Haniya juga semakin dilarang maka barang itu semakin terlihat menarik. Benar saja, selama ini benda-benda seperti colokan listrik, pisau, tissue benar-benar cukup bisa membuat Haniya merangkak dengan kecepatan penuh setiap pandangan matanya menangkap tiga benda tadi. Karena memang tiga benda ini belum pernah saya ijinkan untuk dia pegang. Walaupun beberapa kali kecolongan, tiba-tiba mendapati mulut Haniya penuh tissue. 😆

Handphone? Laptop? Jangan ditanya. Wajarlah kalau akhirnya seorang ibu memiliki handphone ‘seadanya’. Sebab harus siap dibanting, dikunyah, dipukul-pukulkan ke tembok. Tidak heran juga kalau keyboard laptop akhirnya agak macet di beberapa huruf, dan mouse yang harus segera dipensiunkan. :mrgreen:

Bahkan teman saya, yang memiliki bayi laki-laki harus merelakan laptopnya untuk istirahat. Hihi.. namanya juga anak-anak. Mereka tidak peduli berapapun harga barang itu, apakah permata atau batu biasa, kalau bisa dibanting ya dibanting. Begitulah. :mrgreen:

Namun ada sisi positif juga bagi kita orang tua. Tidak perlu membelikannya mainan yang mahal-mahal, cukup sediakan saja benda apapun yang menarik bagi si kecil. Entah itu kardus bekas, atau kaleng kerupuk, atau apapun yang bisa dimainkan bayi (dan tidak chewable, eh, kunyah-able. atau apalah itu, pokoknya tidak mudah dikunyah :mrgreen: ), dan cukup bisa membuatnya duduk tenang selama beberapa menit.

Apalagi Baca lebih lanjut

Ibu dan Komentar Negatif pada Bayinya

16 Mei

Mothers are special

Kalau diambil kesimpulan, apa yang sebenarnya paling meresahkan para ibu yang memiliki bayi?

Kesehatan bayinya kah? bayi menangis kah?

hmm.. saya kira masing-masing ibu sebenarnya punya solusi bagi bayinya sendiri. Berdasarkan naluri seorang ibu, kontak batin, dan rasa ‘cinta’ ibu terhadap bayinya membuat masalah-masalah pada bayi dirasa masih teratasi bagi ibu, dan tidak membuat ibu gelisah.

Tapi, ada yang jauh lebih meresahkan seorang ibu, yaitu : pendapat orang tentang bayinya!

Ya, riset membuktikan (halah padahal pengamatan dan pengalaman pribadi :mrgreen: ) ibu akan merasa tidak tenang setelah mendengar orang berkomentar negatif terhadap bayinya. Sesepele apapun itu. Dan dampaknya jauh lebih ‘meresahkan’ daripada ketika ibu mendapati sendiri bayinya sakit, gangguan tidur, dll.

Contoh saja, ketika bertemu orang. Awalnya si Ibu merasa yakin bayinya sehat,   pertumbuhan baik, berat badan ideal. Tapi, orang melihat bayinya berkomentar “Eh, umur berapa ini, sudah bisa guling-guling belum? Belum? wah.. padahal juga gak terlalu gemuk, ya?” Baca lebih lanjut

Waktu yang tak berulang..

25 Apr

Sekitar sepekan yang lalu saya baru mengetahui bahwa putri kecil saya mulai tumbuh gigi. Suprise rasanya. Wah.. bayi mungilku sudah besar. Berlebihan sih, untuk mengatakan bahwa dia sudah besar.
Tapi rasanya tetap benar-benar takjub.
Bulan ini memang Haniya sudah saya perkenalkan dengan makanan, karena usianya sudah menginjak 6 bulan. Kombinasi antara MPASI (Makanan Penunjang ASI) dan BLW (Baby Led Weaning). Walaupun Haniya belum sanggup untuk duduk sendiri, tapi saya tetap mengusahakan untuk BLW. Saya pikir, daripada dia mengigiti sembarang benda, lebih baik buah-buahan saja. Begitu.
Bukan cuma gigi yang tumbuh, tapi Haniya juga mulai mengangkat pantatnya ketika tengkurap. Artinya dia mulai belajar untuk merangkak dan duduk..
Waw..
Mengamati sejak dia mulai miring, kemudian tengkurap, guling-guling, lalu sekarang mulai akan merangkak semuanya alami..
Bayi sebenarnya tahu kapan dia harus melalui semua tahap itu. Saya yakin itu.
Saya melihatnya ketika Haniya mulai menaruh-naruh kepalanya ke sisi samping tubuhnya saat dia tengkurap. Saya pikir “Ini anak ngapain.. apa mau merasakan kerasnya lantai atau karpet?”
Dan dia terus mengulanginya.
Beberapa kali mencoba, tangan mulai dia angkat, lalu kakinya mendorong hingga tubuhnya berbalik. Hap. Dari posisi tengkurap sukses balik menjadi telentang.
Alami! ya.. Subhanallah.
Sempat dulu saya mengira bahwa bayi belajar seperti kita, melihat, atau memahami teori dulu, baru praktek. Tapi dengan melihat Haniya, saya paham, itu namanya insting.
Jadi, ibu-ibu, jangan khawatir kalau melihat umur sekian bayi kita belum ini atau itu.. Sebab artinya memang dia belum ingin. Dan belum saatnya. Tetap saja beri perhatian yang cukup, suasana lingukungan yang ceria, motivasi, serta reward setiap berhasil melakukan sesuatu. Dia pasti akan berlatih dengan instingnya.. benar-benar Maha Besar Allah dengan segala ciptaanNya..

Dan masa-masa ini, tidak akan pernah bisa kita ulang. Saat ini mungkin Haniya baru bisa mengoceh “Abbuw wa..wa..wa..” tapi suatu saat dia bisa berbeda pendapat dengan kita tentang hidup.

Saat ini dia baru berlatih untuk merangkak, suatu hari nanti dia akan menjelajah dunia dengan pasangan hidupnya, teman-temannya..

Saat ini dia hanya bisa tertawa dengan hiburan yang kita beri, tapi nanti dia mungkin akan membuat kita menangis terharu karena prestasi-prestasinya..

Singkatnya menjadi orang tua. Baca lebih lanjut

Bayi Rewel (?)

1 Apr

Kalau saya ditanya apakah Haniya termasuk bayi yang rewel? Maka dengan tegas, cepat, keras, saya akan menjawab : TIDAK.

Ya, selama ini saya amat PD untuk mengatakan bahwa Haniya tidak pernah rewel. Waktu sakit? habis imunisasi? biasa saja. Sungguh, tidak pernah sedikit pun saya menganggap bahwa Haniya sedang rewel. Haniya itu selalu tenang, ceria, bermain seperti biasa.

Kalaupun kadang merengek-rengek saat saya sedang memasak, bersih-bersih, itu tandanya dia hanya sedang mengajak berkomunikasi saja. Wajar, Haniya kan belum bisa ngomong. Jadi hanya itu yang bisa dia lakukan.

Kalau diterjemahkan rengekannya, kira-kira begini : “Ibu.. main terus dong, jangan bersih-bersih..” atau “Ibu..itu ngapain di dapur, kok lama.. Haniya mau main lagi..” begitu. Dengan nada yang sama yang Haniya keluarkan saat merengek.

Kalau sudah begitu, paling saya tinggal menyanyikan lagu kesukaannya yang langsung dibalas dengan tawa ceria, atau menghampiri lalu mencium gemas pipinya, memberi Haniya ‘pegangan’ untuk bermain, kemudian melanjutkan kembali aktifitas saya. Alhamdulillah selama ini berhasil.

Kalau belum berhasil membuatnya tenang, tinggal disusui sebentar. Kalau mengantuk, pasti langsung tertidur. Begitu setiap hari.

Lihat, Haniya selalu ceria kok.. 🙂

Sempat, atau sering malah, saya merasa khawatir juga kalau saat-saat harus mengajak keluar. Belanja, pengajian, ke dokter, atau umroh misalnya. Sebelum berangkat saya sudah ‘parno’ dan deg-degan sendiri. “Kalau nanti Haniya rewel gimana?” “Kalau nanti nangis terus ga berhenti-berhenti gimana?” “Kalau..kalau.. bla..bla..”

Padahal, kenyataannya, Haniya enjoy. Di mobil tidur, di Mall anteng, di RS tenang, bahkan yang paling saya khawatirkan waktu umroh kemarin, “Gimana kalau waktu sholat Jum’at jama’ah di Masjidil Haram Haniya nangis, teriak-teriak. Seluruh masjidil Haram dengar, trus  bikin imamnya lupa bacaan, kacau jum’atannya. Padahal kan disiarkan langsung di berbagai negara?” eh.. lebay abis ya? :mrgreen: hihi..

Benar, belum apa-apa saya khawatir. Dan tahu tidak, sodara-sodara? Haniya malah tertawa-tawa waktu sholat Jum’at. Saya baringkan di depan saya, Haniya malah sibuk sendiri. Mungkin senang karena di hadapannya banyak orang yang sedang kompak mengerjakan gerakan sholat.

Apalagi waktu thawaf. Cuaca paanas..berdesak-desakan, saya nya yang khawatir setengah mati, melihat Haniya disikut-sikut bule-bule berbadan besar, ee.. Haniyanya tidur puleees di gendongan saya, meski keringat mengucur deras di wajahnya dan dari balik jilbabnya, bahkan wajah imutnya memerah karena panas. Subhanallah anak ini..

Dan kalau saya renungkan, sebenarnya bukan bayinya yang rewel. Tapi ibunya. Kenapa? Ini beberapa analisa saya. Baca lebih lanjut

%d blogger menyukai ini: