Tag Archives: curhat

My Blog’s anniversary : 5 tahun sudah saya ‘mblogging..

3 Mar

Tanggal 28 Februari kemarin saya dapat notifikasi dari wordpress. Ternyata saya sudah registrasi blog ini 5 tahun yang lalu!

Dan setelah saya cek, ternyata benar, postingan pertama ‘Hello world’ saya masih ada, dan belum saya hapus. hehe..

Wow, lima tahun itu lama juga loh. Artinya dari saya umur 21 tahun sampai usia 26 tahun.

Dari saya masih mahasiswi idealis, aktivis, tukang gelisah, penuh semangat dengan jiwa ‘pemberontak’, hingga sekarang menjadi istri sekaligus ibu dari satu putri dan tinggal sangat jauh dari kampung halaman.

Ajaib, ya? hehe.. :mrgreen:

Sedikitpun saya tidak berniat untuk menghapus atau berpindah ke lain blog. Biarlah tulisan-tulisan saya dulu menjadi kenangan yang kadang ada manis, kadang ada pahitnya juga.

Karena disitu banyak juga komentar-komentar dari sahabat, yang dengan membacanya saja tiba-tiba saya serasa kembali hadir di masa itu. Bahkan kadang saya saja lupa, bahwa saya pernah merasakan itu semua. Ah.. what a wonderful moment..

Ternyata lima tahun itu cukup untuk saya mengalami beberapa fase.

Fase mahasiswi aktivis idealis, lalu mahasiswi tingkat akhir yang pusing dengan skripsi, sarjana yang terjun ke dunia baru, wanita lajang yang galau karena belum menikah (ahahaha :mrgreen: ).. Baca lebih lanjut

Iklan

Ukhti, Kemana Jilbab Panjangmu Pergi?

2 Feb

Terdiam beberapa saat, seakan tak percaya. Saya mendapatinya di jejaring sosial setelah sekian lama tak bersua. Memandangi fotonya, mengamati wajahnya yang masih dengan senyum yang sama seperti dulu. Tapi, ada yang berbeda..

Tubuhnya kini nampak terlihat jelas lekuknya. Bagaimana tidak? hanya tertutup penutup kepala seadanya, tak sampai ke dada. Jubah panjang kini berubah menjadi celana panjang. Longgar pun tidak. Aurat tak tertutup sempurna.

Saya berkali-kali bertanya, ada apa?? Apa yang telah kau alami saudariku..?

Beban berat apa yang telah menjadikanmu menanggalkan hijab syar’i itu..?

Kecewa pada manusia? komunitas? padaku?

Saya masih ingat dengan jelas betapa anggunnya engkau dulu.. Senyum yang bersahaja, tutur kata yang lembut dan menentramkan, asma Allah yang sering kau ucap, semuanya terasa semakin lengkap dengan balutan kesederhanaan yang terpancar dari rapihnya hijabmu.

Kemana semua itu?

Kemana jilbab panjang, dan hijab syar’i mu?

Apakah tertelan oleh aktivitas dunia yang mengukungmu?

Apakah tertelan oleh kejamnya cibiran manusia yang juga penuh hina itu?

Apakah tertelan oleh kecintaan pada lawan jenis, yang belum tentu halal untukmu? Baca lebih lanjut

Lahiran Normal, apa Caesar??

4 Okt

Kalau ada teman, sodara, atau kerabat yang melahirkan, orang pasti bertanya : Lahirnya normal apa operasi, mbak?

Jujur, saya pun salah satu yang sering ingin tahu. Apakah secara tidak sadar orang akan mengkotak-kotakkan golongan ‘normal’ dan ‘tidak normal’, saya kurang tahu. Yang pasti, saya iri mendengar mereka yang bisa melahirkan dengan proses normal.

“Hebat! tangguh! bukan wanita biasa!” pikir saya. Bagaimana tidak? dia bisa menahan sakit ‘yang katanya’ luar biasa itu berjam-jam, bahkan berhari-hari. Dia bisa merasakan buah hati yang dia kandung 9 bulan keluar langsung dari rahimnya , bahkan melihat si bayi masih merah, masih membawa sisa-sisa dari isi rahimnya yang masih melekat. Mendengar tangisannya pertama kali. Uh.. Iri..

Kadang pun saya berpikir, apakah kata ‘melahirkan’ juga berlaku untuk mereka yang menempuh cara operasi? Apa saya bisa disebut sudah ‘susah payah’ melahirkan Haniya? Apa pahalanya sama?  Baca lebih lanjut

Curahan Hati Perantau

11 Mar

Tinggal, dan menetap di perantauan memang memiliki banyak kesan. Apalagi di luar negeri. Saya memang baru sepuluh bulan tinggal di Saudi. Masih belum apa-apa dibanding teman-teman saya yang sudah bertahun-tahun tinggal disini. Tapi sedikit banyak saya sudah cukup mengenal dan terbiasa dengan budaya dan kebiasaan orang-orang Arab. Sayangnya saya masih belum bisa bahasa Arab. Kebanyakan saya menggunakan bahasa Inggris untuk komunikasi. Saat periksa di Rumah Sakit, atau bertemu orang di Mall.

Kenapa memilih Jeddah, Saudi Arabia? Sebenarnya selain memang rejekinya di sini, insya Allah, saya dan suami dulu memilih untuk memberanikan diri menetap di Saudi karena dekat dengan Baitullah. Ya, itulah yang membuat kami yakin. Siapa sih, yang tidak kepengin umroh kapan saja. Tanpa memikirkan harus mengeluarkan biaya puluhan juta. Bahkan hanya ditempuh seperti jarak Solo-Jogja. Itupun dengan harga bensin yang sangat murah, jika dengan kendaraan pribadi. Haji, tanpa memusingkan antrian bertahun-tahun. Meskipun saya juga belum berani haji, karena tahun kemarin  baru beberapa minggu melahirkan, kemudian kalaupun haji, akan membawa serta Haniya yang masih sangat kecil. Belum lagi kalau mau menambah anak. Umroh kemarin saja saya sudah tidak tega mengajak Haniya berpanas-panasan, dan berdesak-desakan. Apalagi nantinya pasti menambah momongan.

Tapi saya tetap sangat bersyukur, bisa mengunjungi Baitullah, tempat yang menjadi impian setiap muslim. Sebuah hal yang sangat tidak terbayangkan sebelumnya. Terlepas dari masalah cuaca yang lumayan ekstrim disini.

jeddah-view-kota jeddah

Senja, dari balik jendela flat baru kami

view-jeddah-kota jeddah-jeddah view

Pagi hari, dari jendela flat baru, sisi yang lain

Baca lebih lanjut

Renungan di Seperempat Abad Saya

29 Des

saatnya bermuhasabah...

Suatu hari ada yang mengatakan iri pada kehidupan saya. Menikah, memiliki anak, dan sudah menginjakkan kaki di Baitullah. Saya termenung. Sejenak merasa sangat  tertohok. Bukan bangga, ataupun merasa lebih, tapi justru saya tersadar seketika itu. Baca lebih lanjut

Sejak Anugerah itu Hadir

19 Feb

Tepat setahun pernikahan kami, saya menyadari, bahwa sedang ada yang tumbuh di rahim saya.

Alhamdulillah. Anugerah luar biasa. Hingga bulan ke dua ini saya begitu menikmatinya (menikmati mual yang tak kunjung hilang, salah satunya. hehe).

Begitu nikmat, begitu bahagia. Hingga semua website-website tentang ibu hamil saya kunjungi. Mengamati artikel tentang perkembangan janin dari minggu ke minggu.

Di awal-awal begini, rasanya masih belum begitu menyadari bahwa saya sedang mengandung. Kecuali haid yang tidak lagi datang, selera makan bertambah, rasa kantuk yang semakin sering (lebih sering dari saat belum hamil..hehe.. hebat, kan? 🙂 ), dan tentu saja, yang sekarang sedang saya nikmati : m.u.a.l. Baca lebih lanjut

Saya malu, ukhti…

7 Des

Saya benar-benar malu pada nya. Ketika saya terpuruk, dan protes pada nasib, Allah mempertemukan saya dengan akhwat  ini.

Kadang saya berpikir “Ya, Allah.. saya hanya ingin segera bertemu dengan suami saya. Secepatnya. Toh, bumi akan tetap berputar jika kami segera bertemu.. tapi kenapa Kau siksa kami dengan jarak dan waktu ini,.. Ya Rabb..”

hmm.. rintihan putus asa, yang tidak berguna ternyata. Dibandingkan akhwat yang saya temui, saya jaaauh lebih beruntung. Ada batas waktu. Dan ruang.

Sebenarnya saya tidak tega untuk menuliskan ini. Tapi padanya, saya merasa malu. Padanya, saya merasa saya bukan orang yang bersyukur.

Ketika saya mengatakan 3 bulan itu sangat lama, dia mengatakan “Hidup ini singkat, ukh..” ya… betapa tidak bersyukurnya saya..

Saya masih memiliki hitungan bulan, hari, tanggal.. untuk bertemu lagi dengan belahan hati saya. Saya masih bisa mendengar suaranya, menatap wajahnya meski terbatasi layar, merencanakan masa depan yang masih bisa kami tatap, merasakan kehadirannya..nyata..

hm.. saya tetap tidak berani menuliskannya, ternyata..

“Terima kasih, ukhti.. kau membuatku merasa lebih menghargai nikmat ini….” Baca lebih lanjut

%d blogger menyukai ini: