Tag Archives: fenomena sosial

REUNI

20 Nov

Whatsapp memberikan satu hal yang dulu sangat susah dilakukan, menjadi mudah. 

Reuni. 

Teman SD-SMP-SMA-Kuliah-Organisasi dll bisa ngobrol lagi, dan nostalgia lagi di grup whatsapp. 

Senang? Iya. Karena sejenak kita melupakan segala keruwetan hidup yang kita hadapi, untuk kembali merasa muda. 

Kawan yang belasan-bahkan mungkin puluhan- tahun tak bertemu, hilang kabar, muncul kembali. 

Dengan kondisi yang barangkali jauh beda dengan dulu. Walau ada juga yang masih sama. 

Disitulah asyiknya. Sambil membayangkan dulu kita pernah seruangan bersama, mengalami moment yang sama, mengenal orang-orang yang sama. 

Saya sendiri tergabung dengan beberapa grup alumni. SD-SMP-SMA (sudah left)-Kuliah-BEM-Akhwat angkatan-LDK-PMR apalagi ya.. Banyak kan? 

Reuni menjadi menyenangkan jika disitu diisi dengan kawan-kawan yang memang dulunya nyambung, akrab, bagus chemistry nya. 

Reuni akan tidak nyaman kalau ada satu orang atau mungkin sekelompok orang yang dulu memang tidak nyambung dengan kita, mendominasi, dan tidak baik chemistry nya. 

Itulah mengapa ada satu grup yang saya tulis left. 

Lagipula, hamba Allah yang hina ini saat itu sedang ingin mengamalkan ayatNya yang ini 

 “Apabila engkau (Muhammad) melihat orang-orang memperolok-olokkan ayat-ayat Kami, maka tinggalkanlah mereka hingga mereka beralih ke pembicaraan lain. Dan jika setan benar-benar menjadikan engkau lupa (akan larangan ini), setelah ingat kembali janganlah engkau duduk bersama orang-orang yang zalim.”

(QS. Al-An’am: Ayat 68)

Karena begitulah. Hehe. (Maaf ya teman-teman yang mungkin baca) 
Tapi ada juga hal-hal lain yang tidak baik bisa terjadi disana. 

Contoh : mengungkap masa lalu yang seharusnya dilupakan. Si A mantannya si B, misal. Padahal keduanya telah menikah dengan orang lain. 

Sungguh, inilah salah satu mudharat yang bisa terjadi saat reuni. (Alhamdulillaaaah saya ngga ada sejarah begituan)

Ini adalah pembicaraan yang mungkin menarik bagi sebagian orang, tapi menyebalkan bagi saya. 

Di grup sekolah mungkin ada yang mengangkat tema itu. Sebaiknya skip saja pembicaraan seperti itu. Bagi saya itu aib, yang tak seharusnya diungkit kembali. Hehe piss..

Begitulah. 

Reuni memang asyik di awal-awal. Seharusnya menjadi pengingat kita bahwa ada satu hal yang tak mungkin : kembali ke masa lalu. 

Mengenangnya bisa, tapi kembali tak bisa. 

Dan.. Bahwa kita semakin menua. Usia kita tak lagi sama dengan saat-saat bersama alumni-alumni itu. 

Dulu SMP usia saya 12-14 tahun. Lulus 2001. Sekarang? Hitung sendiri. Huhu.. 

Jadi memang kudu sadar diri. Kita tak selamanya muda. Kita menua, dan itu cepat sekali… 

Banyak-banyak menabung untuk kehidupan selanjutnya. Jadi semoga semakin hari menjadi hamba Allah yang semakin baik.. Aamiiin Ya Rabb.. 

Hidup yang Sebenarnya; Sebuah Fenomena Sosial di Sekitar Kita

11 Nov

This is the real life. Inilah hidup yang sebenarnya.” Hm.. tapi, benarkah? kalimat yang sering saya dengar dari orang yang selesai bercerita tentang kisah yang keras. Identik dengan kepalsuan, kemaksiatan, kebodohan, kejahatan.

Itukah ‘hidup’ yang sebenarnya?

Kenapa tidak setelah bercerita tentang kejujuran, keimanan, kepedulian, lalu diikuti kalimat “itulah hidup..”

Mata saya terbuka, pandangan saya yang dulu benar-benar sempit, menjadi sangat luas sejak remaja tanggung itu menceritakan semuanya pada saya.

Hidup di lingkungan yang hanif, meski tidak terlalu agamis, tapi ‘terpelajar’ saya pikir. Membuat cakrawala saya tentang ‘hidup’ itu lumayan lurus. Padahal dulu saya kira ini sudah sangat ‘rusak’ atau kata orang ‘real life’. Tapi saya salah. Salah besar.

Remaja yang belum genap 17 tahun itu polos sekali bercerita pada saya, tentang temannya yang tinggal di sebuah kos-kosan yang sekamar ditinggali dua pasang muda mudi! Bayangkan, satu kamar kos, ditinggali 2 perempuan, dan dua laki-laki.

Laki-laki pertama pengangguran, laki-laki kedua sebentar lagi jadi guru. Dan dua remaja putri adalah siswa SMK.. Anda kaget? saya kaget jika anda tidak kaget.

“..Astaghfirullah.. apa-apaan ini…. 😦 ” batin saya.

Tinggal sekamar dengan status ‘tidak menikah’ itu saja sudah mengerikan. Apalagi sekamar dua pasang. Haduh…. naudzubillahimindzalik…

Ini belum apa-apa. Remaja tanggung yang belum genap 17 tahun ini pun bercerita pada saya, yang tidak sanggup meninggalkan pacarnya yang masih kelas 1 SMA, karena dialah yang telah ‘memerawani’ ceweknya. Hmm… anda pasti paham kata yang saya beri tanda kutip tadi.

Dan cerita itu cukup membuat saya istighfar berkali-kali.. “Ya Rabb…. apa ini..?”

Masih banyak cerita yang saya peroleh dari remaja tanggung ini, sebenarnya. tapi menuliskannya sudah cukup membuat dada saya sesak. Baca lebih lanjut

%d blogger menyukai ini: