Tag Archives: gelisah

Musibah Menurut Islam ; Ujian atau Hukuman dari Allah?

8 Jun

Ada yang bertanya, bagaimana membedakan musibah itu ujian, atau hukuman dari Allah untuk kita? Saat kita mengalami sesuatu yang sulit, apa yg sebaiknya kita lakukan? introspeksi atau bersabar dan berharap ujian itu menaikkan level kita?

Sungguh, keduanya benar. Hanya penerapannya yg berbeda. Misal, saat kita mengemudi dan ugal-ugalan. Senggol sana sini, mengebut, mengabaikan rambu-rambu lalu kita menabrak.

Layakkah kita mengatakan bahwa itu adalah ujian dari Allah untuk menaikkan level kita? Baca lebih lanjut

Iklan

Menangkal Virus Liberalisme ;Kenapa Harus Malu Menjadi Muslim?

19 Feb

Di banyak kesempatan, saya mendapati orang yang berusaha terlalu keras untuk terlihat pintar, cerdas dan berwibawa di mata orang.

Kemudian yang dilakukannya adalah berkata dengan mengambil sumber-sumber filsuf Barat, mengambil contoh kasus dari kasus di Eropa, Amerika.

Di lain kesempatan lagi, saya dapati teman mengunggulkan negara maju yang sama sekali tidak mencampur adukkan agama, tapi lihat betapa maju mereka. Betapa disiplin mereka.

Setelah puas, masih kurang rasanya jika belum mencoba membandingkan dengan negara muslim, yang sebagian besar warganya muslim, tapi attitude? Teknologi? ah sudahlah… paparnya. Padahal mereka ini seorang muslim. Kenapa?

Kontras dengan hal ini, saat beberapa orang mencoba menjelaskan secara ilmiah tentang suatu kasus dengan merujuk pada ilmuwan Islam, pada ayat Al Quran, pada sunnah Rasulullah, pada keyakinan spiritual yang diyakininya, maka cap yang disematkan adalah : “Alaah, bawa-bawa agama lo.”

“Sok ngerti agama aje…”

“Sok suci..”

“Jual agama..”

“Agama itu urusan kita dengan Tuhan saja Bung.”

Waduh..

Kenapa begitu? Seolah dengan kebarat-baratan lalu terlihat hebat. Seolah Buku-buku dari Barat tadi sudah jauh lebih layak dijadikan rujukan, seolah filsuf Barat yang namanya saja susah diingat sudah jauh melebihi Rasulullah.

Saya merasakan ada yang keliru disini. Rujukan pemikiran kenapa jadi diatur-atur?

Apa salahnya seseorang yang kesehariannya memang telah akrab dengan kitab sucinya sendiri, setiap hari dan setiap saat dia beraktivitas adalah memang bertujuan ibadah, lalu tanpa dipaksakan dia membawa identitas ke Islamannya.

Tanpa dipaksakan artinya, ya tidak dibuat-buat.

Pakaiannya berjilbab rapi untuk perempuan, misalkan. Atau untuk laki-laki memelihara jenggot, jidatnya hitam (yang ini juga alami loh, bukan karena sujudnya dilama-lamain terus jadi hitam. Tanya deh bapak-bapak :mrgreen: ), lalu sebagian ada yang celana di atas mata kaki.

Itu dari segi penampilan. Dari segi perkataan, dia sering mengucapkan kata-kata “Insya Allah, Alhamdulillah, Subhanallah, Masya Allah, dsb..” dibanding kata-kata umum yang menerjemahkan kata-kata tersebut.

Dari segi tingkah laku, dia lebih menjaga jarak dengan lawan jenis, lebih pendiam, atau yang lainnya.

Dibuat-buat? Sok sokkan gitu? Tidak. Sama halnya dengan orang yang tadi, yang setiap saat yag dibacanya buku-buku Barat, atau tontonannya film Barat. Coba amati, kadang dia bisa ceplas ceplos ‘nyeletuk’ dalam bahasa gaul barat juga kan?

Begitulah. Ini soal kebiasaan dan keyakinan, yang secara sadar dan tidak sadar terimplementasikan pada dirinya.

Okelah, bagaimana dengan attitude? amalan dengan orang lain?

Well, kita sebagai muslim memang jika sungguh tertanam dengan benar ilmu yang dipelajari, maka dia akan disiplin, ramah, menjaga kebersihan, baik kepada tetangga, dermawan dan hal-hal positif lain seperti yang dicontohkan Rasulullah..

Lalu bagaimana jika ada yang belum?

Salah Islamnya, gitu? Baca lebih lanjut

Sebelum Dia Halal Bagimu

13 Agu
kartun-ikhwan-akhwat-lucu kartun pasangan halal-kartun suami istri

Bersabarlah, karena dia akan berbuah manis 🙂

Sungguh menarik jika membahas tentang pernikahan. Tapi bagi saya, lebih menarik adalah membahas waktu-waktu menjelang hari H pernikahan.

Menarik, karena jangka waktu antara khitbah-menikah itu penuh warna.

Ada pusing karena persiapan ini itu menjelang pernikahan,

Ada deg-degan karena tak lama lagi sudah tidak sendiri,

Ada rasa canggung, malu-malu dan grogi ketika harus berkomunikasi dengan si dia, calon pendamping kita.

Ada rasa syukur tak terkira, karena selangkah lagi akan menghadapi salah satu ketentuanNya yang telah lama dinanti..

Waw.. masya Allah rasanya 🙂

Berbagai cerita juga saya dapat dari sahabat saya tentang perasaan mereka menjelang pernikahan. Apalagi, sahabat-sahabat saya ini juga sebagian besar tidak melalui proses pacaran sebelumnya. Kebayang kan bagaimana menariknya cerita mereka? :mrgreen:

Di antara rasa yang nano-nano tadi, ada satu hal yang bagi saya begitu penting; Menjaga interaksi dengan sang calon.

Sungguh, meskipun jarak antara khitbah dan nikah kami waktu itu hanya berjarak satu minggu, tapi rasanya godaan itu begitu besarnya. Saya berpikiran, apalagi mereka yang jaraknya begitu lama. Rasanya gimana ya?

Apa sih godaan-godaan itu?

Banyak. Di antaranya berkhalwat, saling mengirim kata-kata yang belum pantas (sayang, kangen)

memanggil ‘Bunda/ayah’, atau kalau katanya ingin Islami ya Ummi/Abi sebelum waktunya, kalimat-kalimat ‘gombal’ dan pujian untuk menggoda..

Benar-benar disinilah celah setan untuk menghancurkan ibadah kita. Disinilah dibutuhkan ketegasan dari salah satu pihak, atau keduanya untuk membatasi komunikasi dan interaksi.

Disinilah sepenuhnya hati kita jaga, untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan.

Apa jaminan kita akan disampaikan usia hingga penghulu mengatakan “SAH..SAH..”

Apa jaminan bahwa tidak ada halangan saat hari H?

Jangan sampai semua yang semestinya bisa segera kita raih dengan penuh kebarokahan, tak lama lagi, hanya butuh sedikiiiit saja kesabaran, menjadi hambar tak bermakna, karena itu semua telah kita lakukan sebelum halal.

Dan apapun yang dilakukan sebelum itu dihalalkan, pasti ada rasa tidak tenang di hati. Betul tidak?

Ah.. sungguh sayang sekali, ‘makanan lezat’ yang sudah terhidang untuk ‘berbuka puasa’ sebentar lagi, menjadi hambar karena kita sudah tidak begitu lapar, sudah mencicipi sebelum waktunya.

Tahanlah lisanmu untuk mengatakan hal-hal yang belum waktunya.

Tahanlah jarimu untuk tidak mengetikkan kata-kata yang masih haram kau keluarkan.

Tahanlah dirimu, badanmu untuk tidak menyentuh hal-hal yang masih belum menjadi hakmu.

Sedikit lagi, semua akan menjadi begitu indah dan barokah jika kau bisa memenangkan godaan-godaan itu.

Jika kau ingin memuliakan calon ibu/ayah dari anak-anakmu, muliakan dia sejak sebelum menikah. Dengan menjaga hatinya, dan kehormatannya hingga saat itu tiba.

wallahua’lam bishowab.

Semoga bermanfaat 🙂

Sang Pemimpi

21 Mar

Saya ini bukan tipe pemimpi, saya sadar betul.

Jika ada yang bertanya apakah yang telah saya ‘lakukan’ hingga saya mencapai semua fase ini? saya hanya menjawab simpel, ini semua karena Allah..

Kadang saya berpikir, begitu gencarnya training motivasi, buku-buku motivasi, yang mewajibkan setiap orang untuk memiliki mimpi besar. Karena dengan begitu -katanya- mimpi kita akan membawa kita ke arah kesuksesan.

Percaya? ya, saya percaya itu. Karena saya lihat ternyata sudah banyak mereka yang membuktikan. (pastilah ya, membuktikan dulu, baru bisa memotivasi orang lain)

Hingga akhirnya saya jumpai banyak yang memasang impiannya di tembok kamarnya, di ruang kerjanya, di buku agendanya, dimanapun. Juga tak kalah banyak yang memasangnya di jejaring sosial. Membolehkan publik mengetahui mimpi-mimpinya.

Saya? seingat saya, saya tidak pernah memvisualisasikan mimpi saya.

Sering saya berpikir, kenapa saya seperti ini? apakah saya salah? Kadang juga terbesit “Apakah manusia yang bukan pemimpi seperti saya ini tercela? berdosa?”

Saya ingat, sejak saya SMA, hingga kuliah, saat saya sudah ‘memiliki jati diri’.. di setiap perkenalan tentang cita-cita, saya menyampaikan, bahwa cita-cita saya adalah ‘Ibu dan Istri yang baik’. Titik.

Itu saja. Tak bisa untuk dibelokkan, di iming-imingi apapun. Itu target saya. Saklek.

Ketika yang lain bermimpi untuk ke Baitullah, Haji, traveling ke Mekkah, apakah saya juga? Baca lebih lanjut

Ukhti, Kemana Jilbab Panjangmu Pergi?

2 Feb

Terdiam beberapa saat, seakan tak percaya. Saya mendapatinya di jejaring sosial setelah sekian lama tak bersua. Memandangi fotonya, mengamati wajahnya yang masih dengan senyum yang sama seperti dulu. Tapi, ada yang berbeda..

Tubuhnya kini nampak terlihat jelas lekuknya. Bagaimana tidak? hanya tertutup penutup kepala seadanya, tak sampai ke dada. Jubah panjang kini berubah menjadi celana panjang. Longgar pun tidak. Aurat tak tertutup sempurna.

Saya berkali-kali bertanya, ada apa?? Apa yang telah kau alami saudariku..?

Beban berat apa yang telah menjadikanmu menanggalkan hijab syar’i itu..?

Kecewa pada manusia? komunitas? padaku?

Saya masih ingat dengan jelas betapa anggunnya engkau dulu.. Senyum yang bersahaja, tutur kata yang lembut dan menentramkan, asma Allah yang sering kau ucap, semuanya terasa semakin lengkap dengan balutan kesederhanaan yang terpancar dari rapihnya hijabmu.

Kemana semua itu?

Kemana jilbab panjang, dan hijab syar’i mu?

Apakah tertelan oleh aktivitas dunia yang mengukungmu?

Apakah tertelan oleh kejamnya cibiran manusia yang juga penuh hina itu?

Apakah tertelan oleh kecintaan pada lawan jenis, yang belum tentu halal untukmu? Baca lebih lanjut

Lajang tak perlu galau!

10 Des

Kalau ditanya, apa masa-masa terberat untuk ‘hati’ ? Kalau jawaban saya adalah : masa-masa menunggu pinangan (vulgar ya? hehe :mrgreen: ).

Bagaimana tidak, waktu kan tidak bisa di ‘pause’. Berjalan terus menerus, diikuti usia yang selanjutnya berganti bilangan. Target menikah 23 lewat, 24 lewat, 25, 26 dan seterusnya.

Sedangkan teman-teman, bahkan adik tingkat satu per satu telah menemukan (atau ditemukan? ) jodohnya. Orang tua sudah mulai rajin bertanya, tetangga apalagi. Lebaran yang harusnya bahagia, malah membuat murung karena setiap bertemu orang keluar kalimat tanya yang semua intinya adalah : “Kok masih sinlgle mbak?”. Dalem.

Belum lagi godaan-godaan yang muncul. Ditelepon setiap hari oleh bekas-bekas partner waktu masih di kampus, SMS menanyakan kabar dan sering berlanjut percakapan tidak penting, tawaran dari kanan kiri yang nggak tahu itu serius apa cuma sindiran, dan sebagainya.

Begitulah. Btw, pengalaman pribadi saya? mm.. tenang, tidak semuanya. Saya menikah di usia 23 tahun, jadi tidak ada target yang terlewat. hehe :mrgreen:

Tapi setidaknya itulah gambaran singkat gejolak hati yang dialami lajang masa kini.

Padahaal… Setelah saya menikah sekarang, kalau dipikir-pikir, ternyata banyak hal yang seharusnya membuat saat-saat masih menunggu itu produktif. Banyak hal yang seharusnya diketahui dan dipelajari jauh-jauh hari sebelum menikah.

Sungguh, pernikahan bukan sekedar bertemu kekasih halal, lalu dapat sopir halal, berduaan halal, sayang-sayangan halal, mesra-mesraan di wall facebook dan twitter halal, pasang relationship ‘married with’ sudah boleh, foto berdua, dan sebagainya.

Menikah bukan sekedar hal remeh temeh yang bisa dipamerkan di media sosial, bukan se simpel itu. Sayangnya, ini yang akhirnya menghantui para lajang di luar sana. Terbitlah galau menggelora.

Stop Galau..

Stop Galau..

Ada keluarga mertua, ada tanggung jawab terhadap masyarakat, penyesuaian karakter. Dan yang sangat penting, ada anak yang merupakan amanah dari Allah yang harus kita jaga sebaik mungkin.

Baca lebih lanjut

Skenario, Peran dan Cerita

25 Jul

Saya ingin bercerita tentang kisah beberapa wanita.

Yang pertama adalah Bu Im (nama samaran). Beliau berusia sekitar 36 tahun. Orangnya bersemangat, ceplas ceplos, dan apa adanya. Beliau telah menikah dan dikaruniai seorang putri. Usia putrinya 3 tahun, yang lahir setelah 10 tahun pernikahan. Bayangkan, menunggu selama itu. Subhanallah. Beliau dan suami menjalani bisnis yang cukup sukses.

Kedua, sebut saja Mbak Supirah (nama palsu). Beliau buruh pabrik. Wanita berusia 33 tahun, yang lugu dan polos. Belum menikah. Beberapa kali sudah mencoba untuk dijodohkan dengan ikhwan, tapi si Ikhwan selalu mundur dengan alasan tidak siap menerima Istri yang harus kerja shift-shift an, tanpa hari libur. Mbak Supirah sudah coba dibujuk untuk mencari mata pencaharian lain, karena rejeki Allah bisa dari berbagai cara. Dan tentu saja, supaya tidak ada lagi penghalang baginya untuk mendapat jodoh. Tapi beliau tidak mau, karena masih harus membiayai orang tua, dan adiknya yang sudah dewasa, tapi hanya mengandalkannya.

Yang ketiga, Baca lebih lanjut

%d blogger menyukai ini: