Tag Archives: haniya

Mengajarkan Bahasa Pada Haniya

8 Des

Banyak yang kaget saat tahu bahwa Haniya hanya bisa berbahasa Inggris ketika kami boyongan ke Solo Februari kemarin. 

Rata-rata bertanya :”Sudah sekolah ya?” 

Saya jawab “Belum..” dan mereka makin kaget lagi. Hehe. 

Jika ditanya alasannya kenapa, saya akan berterus terang, bahwa ini memang pilihan kami sebagai orang tua. 

Jadi, sejarahnya kenapa Haniya kami biasakan berbahasa Inggris sehari-hari, adalah saat kami masih menetap di Saudi, Haniya full bersama saya dan Ayahnya di rumah. 

Saya memang aktif mengajaknya berkomunikasi sejak bayi, sejak Haniya belum paham pun, saya sudah mengajaknya berdialog. 

Saat itu saya ajak berbicara dengan bahasa Indonesia. Selanjutnya saya perkenalkan video, tapi dalam bahasa Inggris. 

Karena video dalam bahasa Indonesia kurang bervariasi, dan Haniya jarang tertarik jika berbahasa Indonesia. Akhirnya saya pilihkan video-video bahasa Inggris. 

Haniya selalu bisa fokus jika video berbahasa Inggris. 

Selain itu, di rumah kami juga ada TV yang juga terdapat kartun, tapi berbahasa Arab 😀

Lengkaplah, Haniya menyerap tiga bahasa. Indonesia, Inggris, dan Arab. 

Kalau ada yang komentar “Kok banyakan nonton video sih, kasian kan anaknya…” emm.. Mari dibahas di lain episode. Karena penjelasan bukan disini. Hihi

Mungkin karena itulah, di usia 2 tahun Haniya berbicara di bahasa apa? Yak, bahasa planet. 

Jadi Haniya gayanya berbicara seperti biasa, tapi yang keluar “Pici pici… ¥&*%@*@&+/…….” 

Satu dua kata bisa dimengerti. Tapi kalau ngomel, menyampaikan kalimat ya itu, ruwet. 😀

Akhirnya, setelah saya melakukan pengamatan, dan ini terjadi di beberapa anak teman saya di Saudi yang memang multi bahasa, Haniya terjadi ‘bingung bahasa’. 

Dengan pertimbangan : agar kelak Haniya bisa lebih dekat berinteraksi dengan multi negara, kami lebih mudah mengarahkan karena banyak buku dalam berbahasa Inggris, sarana Video bahasa Inggris lebih variatif, akhirnya kami putuskan Haniya fokus di bahasa Inggris saja. 

“Emang Bapak Ibunya kalau ngomong bahasa apaan?” 

Emm.. Kalau ada yang bertanya begitu, jawaban kami ya : bahasa Indonesia. Hanya alhamdulillah, dikit-dikitlah kami berdua bisa berhasa Inggris. 

Sejak itu, kami fokus mengajak komunikasi Haniya dengan bahasa Inggris. 

Jadilah, Haniya berbahasa Inggris sehari-hari, dengan menyerap melalui tayangan video nya lalu mempraktekkannya bersama kami. 

Anak seusia Haniya yang saat itu 2 tahunan memiliki fokus dan indra pendengaran yang tajam. Jadi setiap detail kata yang dia dengar Haniya perhatikan. Beda dengan kita yang mungkin mendengar sekilas atau sebagian besar saja. Tapi anak-anak tidak, mereka serap kata perkata. Detail. 

Karena itulah, hati-hati memberi tontonan atau berbicara di depan mereka. 

Sejak kami putuskan fokus berbahasa Inggris, Haniya cepat sekali perkembangannya. Walau masih dengan lafal yang cadel, belum jelas tapi dia paham percakapan aktif, bahkan melebihi kami. Hehe

Beberapa kali kami dibuat keki, karena ternyata kami salah mengucapkan vocabulary bahasa Inggris. 

Misal : “Haniya, where is the scissors?”(Saya membacanya ‘sissors’)

Haniya nampak kebingungan. Saya ulangi lagi, “Where is the sissors, Haniya?” 

Tetap kebingungan. 

Lalu saya menemukan sendiri gunting nya. “This one, Haniya. Sissoors!”

“It is not sissors, Ibu. It is scissors” (Haniya ucapkan sisser)

Oh. Iyakah? Lalu saya cek ke gugel translate. Ternyata saya yang salah, Haniya yang tepat. Malunyaa… Hahaha

Lain hari saya cek ke Ayahnya. “Ayah, coba ini apa in English?” “Sissors” 

“Salah. Apa Haniya?” 

“Scissors, Ayah..” 

Ayah melongo. Cek ke gugel translet tak percaya. Dan kami tertawa. *memendam malu*

Itu cuma satu dari sekiaaan banyak pengalaman unik ketika mengajari Haniya berbahasa. 

Masih banyak sebenarnya yang ingin saya ceritakan tentang pengalaman berbahasa Haniya. 

Bagaimana Haniya akhirnya sangat fasih berbahasa Inggris, berjumpa dengan orang asing dan membuat kaget mereka, lalu pindah ke Indonesia, masa transisi, hingga sekarang Haniya mampu fasih juga berbahasa Indonesia. 

Saya tulis di part selanjutnya saja ya. Bersambung. 🙂 

Iklan

Idul Fitri di Jeddah, Saudi Arabia

29 Jul

Masih syawal, belum begitu terlambat untuk menulis tentang Idul Fitri disini. Hehe

Alhamdulillah, Ramadhan tahun ini masih Allah beri kesempatan untuk melewatinya. Karena jatuh di bulan Juni-Juli, maka perlahan Ramadhan di Saudi akan semakin turun suhunya, karena semakin menjauhi musim panas.

Beda ketika 4 tahun lalu, saat masih berada di ujung musim panas. Suhu terendah 30an derajat, tahun ini suhu terendah 26 an derajat. Cukup bersahabat. Alhamdulillah ‘ala kulli hal.

Namun, ini pun berarti, Haji akan semakin beranjak mendekati musim panas, masya Allah. Semoga Allah mudahkan yang akan segera berhaji, dan semoga (pastinya) pemerintah Saudi sangat memperhatikan ini juga. aamiin..

Lebaran tahun ini adalah lebaran ke tiga saya rasakan sejak tinggal di Saudi, karena 2012 saya menjalaninya di Indonesia.

Beda? hmmm,, Idul Fitri di manapun sama.

Eid (disini kami menyebutnya), Idul Fitri, di Indonesia kita menyebutnya dimanapun sama. Di belahan dunia manapun.

Pada pagi harinya kita akan mendengar takbir, tahmid bersautan, orang berduyun-duyun menuju ke lapangan atau tempat terbuka, orang akan bersama-sama dalam satu ‘pemimpin/imam’ melakukan gerakan sholat yang sama, menghadap arah yang sama, bacaan yang sama, setelah itu dilanjutkan khotbah yang meski dengan bahasa berbeda-beda, tapi dengan isi yang sama. Mengajak kita pada ketundukan, keistiqomahan. Baca lebih lanjut

A Lesson from Memories

16 Jan

Ternyata perlu juga sering-sering membuka album foto saat anak kita baru lahir, dan di usia masih terhitung bulanan. Bahkan mungkin saat sang anak masih ada dalam kandungan. Memperhatikannya dan membandingkannya dengan sekarang.

Subhanallah, ternyata waktu telah memberikan jejak padanya.

Salah satu dokumentasi saya, video saat Haniya 4 bulan

Salah satu dokumentasi saya, video saat Haniya 4 bulan. Kaget, ternyata Haniya pernah selucu ini ^_^

Itu yang saya rasakan saat membuka kembali file-file video dan foto Haniya kala masih usia 4 bulan, sebulan, 21 hari, bahkan saat masih dalam rahim saya yang membuat perut saya terlihat sangat besar.

Hahaha.. wow, ternyata perut saya pernah sebesar itu. Bandingkan sekarang saya yang sudah kurus lagi seperti saat masih gadis. :mrgreen:

Waktu yang benar-benar tidak bisa diberhentikan walau sedetik pun. Waktu yang telah merubahnya dari bayi yang sungguh tidak berdaya, hingga menjadi gadis kecil yang lugu, dan menggemaskan. Oh.. my little girl grows up so fast.. hiks.. Baca lebih lanjut

My Baby Becomes a Toddler!

24 Okt

Usia Haniya sudah satu tahun lebih 3 minggu. Alhamdulillah.

Artinya sudah bertransisi dari ‘baby’ menjadi ‘toddler’. Makin hari kejutan-kejutan yang kami hadapi makin asyik. Mulai dari meniru kata-kata yang saya ucap, bisa merespon pertanyaan dengan menggeleng dan mengangguk, berkomentar terhadap acara TV dengan bahasanya, meniru gerakan-gerakan yang saya ajarkan.

Masya Allah.. Ajaib.

Sejauh ini alhamdulillah Haniya termasuk anak yang mudah makannya. Apa saja mau. Dan lebih menyukai masakan yang masaknya tidak ribet. Ini yang saya suka :mrgreen: .

Nampak lebih dewasa 🙂

Baca lebih lanjut

Lahiran Normal, apa Caesar??

4 Okt

Kalau ada teman, sodara, atau kerabat yang melahirkan, orang pasti bertanya : Lahirnya normal apa operasi, mbak?

Jujur, saya pun salah satu yang sering ingin tahu. Apakah secara tidak sadar orang akan mengkotak-kotakkan golongan ‘normal’ dan ‘tidak normal’, saya kurang tahu. Yang pasti, saya iri mendengar mereka yang bisa melahirkan dengan proses normal.

“Hebat! tangguh! bukan wanita biasa!” pikir saya. Bagaimana tidak? dia bisa menahan sakit ‘yang katanya’ luar biasa itu berjam-jam, bahkan berhari-hari. Dia bisa merasakan buah hati yang dia kandung 9 bulan keluar langsung dari rahimnya , bahkan melihat si bayi masih merah, masih membawa sisa-sisa dari isi rahimnya yang masih melekat. Mendengar tangisannya pertama kali. Uh.. Iri..

Kadang pun saya berpikir, apakah kata ‘melahirkan’ juga berlaku untuk mereka yang menempuh cara operasi? Apa saya bisa disebut sudah ‘susah payah’ melahirkan Haniya? Apa pahalanya sama?  Baca lebih lanjut

Be A Wise Mother : Bintik merah pada bayi setelah demam?

30 Sep

Berkali-kali saya menemukan cerita dari para Ibu yang mengeluhkan bayinya muncul bintik merah di tubuhnya pasca demam. Dan tidak hanya sekali dua kali juga yang akhirnya si Ibu panik, ke Dokter, dan oleh dokter diberi obat macam-macam.

Ada yang diagnosa campak, dikasihlah obat campak dan antibiotik.

Ada yang ke dokternya ketika masih demam, lalu diberi anti biotik, setelah minum anti biotik, demam si anak turun. Tapi muncul bintik-bintik merah. Oleh dokter dibilang alergi anti biotik, dan dikasihlah resep alergi.

Mendengar yang seperti itu, saya benar-benar kasihan. Bayi yang usianya belum juga satu tahun harus minum obat kimia bermacam-macam. Dan yang parah lagi, bisa jadi obat itu sama sekali tidak dibutuhkan sang bayi.

Belajar dari pengalaman saya beberapa bulan yang lalu, Haniya demam secara tiba-tiba. Siangnya Haniya masih sangat ceria. Makan dan bermain seperti biasanya. Tapi sore setelah saya mandikan, tiba-tiba badan Haniya panas. Saya cek setiap beberapa menit nampaknya demamnya semakin naik. Hingga akhirnya saya lihat Haniya memang mulai merasa tidak nyaman. Baca lebih lanjut

Mengenang Ramadhan Kemarin

15 Jul

Malam itu sepajang yang saya lihat adalah lautan manusia. Mereka mondar mandir tak tentu arah. Crowded, sumpek. Tapi hati saya benar-benar takjub, bahagia.

Bangunan megah itu kini di depan saya. Bangunan yang sebelumnya hanya saya lihat di gambar, televisi, atau buku oleh-oleh dari suami waktu mudik ke Indonesia.
Segera saya SMS orang rumah. Singkat, karena saya bingung apalagi yang harus saya sampaikan. “Masjidil Haram!”
Subhanallah. Rasanya itu kayak.. bisa lihat masjidil Haram secara langsung. :mrgreen:
Sempat berpikir : “Is it real? am I dreaming?”
Bagaimana tidak? Baca lebih lanjut

%d blogger menyukai ini: