Tag Archives: ilmu

Karena ilmu mu bukan untukmu sendiri

12 Agu

Seorang murid saya bercerita pada saya suatu sore, tentang kakeknya yang baru saja meninggal.

“Mbak Sonia, kakek saya itu ga suka dijenguk pas beliau kritis, soalnya semakin banyak yang njenguk, beliau merasa semakin banyak yang nyokorke (mencela)”

“Lho kok bisa, dek?” saya tanya penasaran. Bukannya orang sakit kalo dijenguk itu untuk didoakan? hmm..

“Lha kakek saya sering merasa dikunjungi banyak orang, mbak, trus mereka ngetawain gitu. Padahal aslinya sepi, mbak..”

Astaghfirullah.. kasihan sekali. Saat-saat terakhir kan seharusnya saat kita paling dekat dengan Allah. Ini malah diserang ketakutan luar biasa.

“Keluarganya apa nggak ngajiin, atau menenangkan kakekmu, dek?”

Kemudian, jawab murid saya, “Istrinya ga pernah sholat, mbak. Anak-anaknya juga ga pernah. Ngaji juga ga pernah. Katanya kalo disuruh ngaji di dekat kakek, ntar aja, disetelin kaset aja.”

kasihan… Padahal kata adek les saya itu, kakeknya dulu rajin sholat, rajin ngaji. Haji pula. Tapi, saat menjelang kematian beliau, saat beliau terkapar tak berdaya menjelang ajal, tidak ada satupun keluarga yang menenangkan hanya sekedar menuntun membaca istighfar.. Tidak ada yang mengaji di dekatnya, untuk mengusir rasa ketakutan ketika  sang malaikat maut bersiap-siap menjemput.

Akhirnya kemudian saya berpikir, sangat berpikir..

Keindahan Islam bukan hanya milik satu orang, dua orang, diri sendiri saja.. Ilmu itu tidak akan selesai hanya pada kita saja. Tapi juga hak orang-orang di sekitar kita.

Kisah sang kakek tadi barangkali jadi pelajaran untuk saya. “Sampaikan walau hanya satu ayat.” Jangan menunggu kita sempurna baru kita berdakwah, tapi berdakwahlah maka ilmumu akan lebih sempurna.

Bukankah salah satu cara menanam sebuah ilmu di hati kita, adalah dengan membaginya dengan orang lain? Mungkin suatu saat kita bisa salah, tapi suatu saat kita bisa diingatkan orang lain. Asal niat kita membagi itu adalah baik. Insya Allah.

Bahkan hal yang lebih parah lagi, kata murid saya itu lagi, setelah sang kakek wafat, yang terjadi adalah perebutan harta warisan oleh anak-anaknya! Baca lebih lanjut

Iklan

Hari ini, sebelum mengeluh..

23 Feb

Hari ini sebelum kamu mengatakan kata-kata yang tidak baik,
Pikirkan tentang seseorang yang tidak dapat berbicara sama sekali!

Sebelum kamu mengeluh tentang rasa dari makananmu,
Pikirkan tentang seseorang yang tidak punya apapun untuk dimakan!

Sebelum kamu mengeluh tidak punya apa-apa
Pikirkan tentang seseorang yang meminta-minta dijalanan!

Sebelum kamu mengeluh bahwa kamu buruk,
Pikirkan tentang seseorang yang berada pada tingkat yang terburuk didalam hidupnya!

Sebelum kamu mengeluh tentang suami atau istrimu,
Pikirkan tentang seseorang yang memohon kepada Allah untuk diberikan teman hidup!
Baca lebih lanjut

Untuk sebuah kebersamaan

25 Jan

Keimanan benar-benar telah mengikat hati para hamba Allah dalam kasih sayang yang menggetarkan. Saya memang salah satu pengagum berat pada yang namanya ukhuwah, kebersamaan. Dan saya paling menghindari kesendirian. Sendiri itu menyakitkan. Walaupun kadang ada ruang dimana kita butuh sendiri, dan menyepi, memikirkan diri sendiri.

Dalam buku Salim A Fillah ‘Saksikan Bahwa Aku Seorang Muslim’ yang saya baca di Bab Kebersamaan, ada beberapa makna kebersamaan : Bersaudara, dan Berjuang.

Bersaudara.. secara otomatis orang akan melakukan apapun untuk saudaranya. Bersedia membantu, mendengarkan, memberi nasehat, memberi sekedar senyum saat bertemu saudaranya. Kalau saya sering mengistilahkan ‘menghancurkan tembok-tembok besar yang menghalangi’. Itulah saudara. Saat sudah tidak ada sekat, sudah saling memahami, sudah bisa membantu tanpa diminta..

Coba tengok hadits ini

“Allah ’Azza wa Jalla Berfirman, “Mereka yang saling mencintai karena keagunganKu mempunyai mimbar-mimbar dari cahaya yang diinginkan oleh para Nabi dan para Syuhada” (HR At Tirmidzi dari Mu’adz ibn Jabal)

Subhanallah.. siapa yang tidak pengin?? Mimbar-mimbar dari cahaya…

Saya baru saja memberi sedikit petuah kepada saudari saya

“ukhti, anti mungkin bisa risau dengan hasil akademis yang anti capai, tapi cobalah untuk tidak berlarut-larut. Karena mungkin sebentar lagi anti akan terjebak dengan egoisme pribadi. Segeralah anti bersama dengan saudara anti, dan bantulah mereka sebisa mungkin, bermanfaatlah bagi mereka. Maka anti akan segera bangkit… Buat apa jadi orang hebat kalau tidak bermanfaat bagi orang lain?” (tausiyah ini memang hasil perenungan saya beberapa kali. Dan cukup manjur). Jika setiap orang berusaha bermanfaat bagi orang lain, maka siapa yang akan merasa kekurangan?

Baca lebih lanjut

Manusia Aneh

23 Jan

Suatu kali Rasulullaah SAW pernah bersabda, ‘Berbahagialah al-ghuraba, berbahagialah orang yang aneh ini.’
Siapa sih orang aneh di sini? Yaitu orang-orang yang  mencoba menimbulkan perbaikan ketika manusia sudah rusak. Mereka itu adalah al-insaan, manusia-manusia yang saleh, yang jumlahnya sedikit, di tengah-tengah manusia yang durhaka kepada Allah SWT.

‘Islam mulai dengan aneh, dan kembali lagi dengan aneh seperti permulaannya. Berbahagialah orang-orang yang aneh itu!’, bunyi sebuah hadits dari Ibnu Qayyim Al Jauziyah.

Benar sekali. Cerita-cerita tentang nabi maupun siroh yang sering kita dengar, bahwa permulaan adanya nabi adalah perlunya ’orang-orang aneh’ yang dijadikan pembawa pesan kebaikan, pesan bahwa kejahiliyahan yang sedang melanda umat kebanyakan adalah tidak benar.

Ya jelas dia aneh, karena saat yang lain berlomba dengan kemaksitan, yang lain berlomba dengan dunia, dia membawa berita serta ajaran yang sangat berlawanan dengan yang selama ini dijalankan.

Al-Ghuraba biasanya muncul di luar arus kebiasaan. Mereka mengatakan dengan benar apa yang benar, dan menegaskan yang salah apa yang salah, tanpa takut resiko menghadang. Ketika banyak manusia kehilangan identitasnya, mereka menunjukkannya. Ketika banyak manusia tidak memiliki pedoman, pribadi al-ghuraba menunjukkan tuntunan yang jelas.

Kalau semuanya ditarik ke jaman sekarang, kadang orang tidak berharap menjadi manusia yang menentang arus hanya karena mengamankan posisi atau kedudukan kemanusiaan dia. Pemikiran bahwa beban sosial yang akan dia hadapi membuat dia enggan untuk ’berbeda’. Baca lebih lanjut

Tabayyun

20 Des

Tabayyun adalah mengecek kebenaran suatu berita, agar tidak simpang siur dan menimbulkan fitnah. Setiap usaha utk membelokkan kebenaran dianggap fitnah, jadi yang namanya gosip, walaupun gak berbahaya, tetap saja fitnah, dan ini lebih kejam dari pembunuhan, jadi masalah ini sangat sensitif dalam Islam.

Suatu ketika, Abdullah bin Ubay, seorang pemuka kaum di Madinah yang merasa ‘tersingkir’ akibat keberadaan Nabi Muhammad saw. pernah berkata-kata buruk tentang umat Islam. Dia bicara di depan para pendukungnya yang tidak lebih dari 10 orang.

Zaid bin Arqam, yang waktu itu belum baligh (masih anak-anak), kebetulan lewat dan mendengarnya. Karena masih anak2, dia dibiarkan saja oleh Abdullah bin Ubay dan konco-konconya.

kemudian Zaid bin Arqam datang kepada Rasulullah saw. dan menyampaikan kata-kata buruk Abdullah bin Ubay tersebut. Rasulullah saw. memberikan 3 pertanyaan :
1. “Mungkin kamu marah padanya?” Zaid menjawab “tidak”
2. “Mungkin kamu tidak jelas mendengarnya?” Zaid menjawab “tidak”
3. “Mungkin ada kata-katanya yang kamu lupa?” Zaid kembali menjawab “tidak”
Disini ada pelajaran penting, tiga pertanyaan di atas mewakili tiga kemungkinan penyebab kesalahpahaman di tubuh umat. Tiga kemungkinan itu adalah :
1. Tidak objektifnya orang yang mendengar berita, mungkin karena marah, sedih, atau perasaan-perasaan subjektif lainnya, sehingga ia menanggapi suatu berita tidak sebagaimana mestinya. Itu sebabnya Rasulullah bertanya apakah Zaid sedang marah kepada Abdullah bin Ubay.
2. Pendengar tidak mendengar seluruh kata-kata sang pembicara (mungkin karena hanya sepintas lalu atau ada suara ribut di sekitarnya), sehingga makna yang ia tangkap pun sangat berbeda. Itu sebabnya Rasulullah bertanya apakah Zaid mendengar kata-kata Abdullah bin Ubay dengan sangat jelas atau hanya samar-samar.
3. Pendengar tidak mendengar seluruh kata-katanya si pembicara, hingga maknanya bisa sangat berubah. Kalimat “aku benci pada perbuatan dia” sangat berbeda dengan kalimat “aku benci pada dia”. Karena itu Rasulullah bertanya apakah ada kata-kata Abdullah bin Ubay yang lupa ia sampaikan kepada Rasulullah.
Zaid menjawab ketiga pertanyaan dengan mantap. Rasulullah saw. mengenal anak itu sebagai anak yang jujur. Tapi apa yang beliau lakukan selanjutnya? apakah beliau mengutus orang utk memenggal leher Abdullah bin Ubay?
Baca lebih lanjut

%d blogger menyukai ini: