Tag Archives: Islam

Musibah Menurut Islam ; Ujian atau Hukuman dari Allah?

8 Jun

Ada yang bertanya, bagaimana membedakan musibah itu ujian, atau hukuman dari Allah untuk kita? Saat kita mengalami sesuatu yang sulit, apa yg sebaiknya kita lakukan? introspeksi atau bersabar dan berharap ujian itu menaikkan level kita?

Sungguh, keduanya benar. Hanya penerapannya yg berbeda. Misal, saat kita mengemudi dan ugal-ugalan. Senggol sana sini, mengebut, mengabaikan rambu-rambu lalu kita menabrak.

Layakkah kita mengatakan bahwa itu adalah ujian dari Allah untuk menaikkan level kita? Baca lebih lanjut

Iklan

Last seen : Unknown..

30 Apr

image

Kadang kita lupa..

Di saku kita, di rumah kita, ada jawaban dari segala resah..

Ada penawar dari kerasnya hati. Ada petunjuk cinta dari yang sangat mencintai kita..

Tp selama ini kita dibuat lalai darinya.

Kita biarkan dia usang berdebu di sudut lemari.
Kita biarkan dia tertinggal di tumpukan buku yg tak tersentuh..

Kita hanya tau isinya soal wajib puasa di bulan Ramadhan, selebihnya apa lagi?

Ya, kita hapal beberapa. Tp tak tau maksud kandungannya..

Baca lebih lanjut

Syariat Islam Bikin Ribet??

30 Apr

Quran Surat Yunus 44 - Manusia menzalimi diri sendiri

Pertama,, Allah membuat aturan menjaga pandangan bagi laki2 dan menutup aurat bagi perempuan. Dan keduanya wajib menjaga hijab dalam pergaulan..

lalu, Allah melarang keras manusia mendekati zina. Mendekati saja dilarang.. apalagi melakukan?

lalu, jika melanggar, Allah memberi aturan hukuman bagi mereka yg telah melakukan perzinaan…

Allah jelaskan bahwa qishas (hukuman) yg ada adalah untuk menjamin kelangsungan hidup manusia..

Jadi kira2 begitu tahapannya..

Untuk apa Allah buat aturan beruntun seperti itu? Utk membuat manusia sengsara? Susah? Ribet?

Baca lebih lanjut

Guilty.. ; Dosa Berbuat Maksiat

17 Apr

Hukuman paling menyakitkan bagi seseorang yang berbuat dosa adalah

rasa tidak bersalah telah melakukan dosa tersebut…

Pernah membaca sekilas kalimat di atas.

dan membuat benar-benar termenung..

Maknanya dalam sekali. Sesaat setelah membaca, maka reaksi saya adalah mengingat-ingat, pernahkah saya merasakan hukuman itu?

Artinya, suatu hari yang sendirian dan hanya ada saya di situ, pernahkah saya melakukan sebuah maksiat yang saya merasa nyaman dengannya dan tak masalah dengannya..

Sesak, sungguh.

Salah satu tanda hidayah dicabut adalah hilangnya rasa malu, dan rasa bersalah ketika berbuat dosa.

Karena rasa bersalah dan malu memberi kesempatan pelaku untuk berpikir kembali dan merenung, sedang jika ini sudah tak ada, maka setan akan menimbulkan kenyamanan yang semu dan terus menerus, yang membuatnya jatuh dan jatuh ke dalam lembah dosa lebih dalam lagi. Naudzubillah…

Hingga akhirnya, tidak hanya sendirian, dosa itu akan dilakukan terang-terangan. Merasa bangga atas sebuah dosa. Mempengaruhi orang melakukan dosa yang sama, lalu jadilah itu rantai dosa..

QS AL Hijr

39. Iblis berkata, “ Tuhanku, oleh karena Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, aku pasti akan jadikan kejahatan terasa indah bagi mereka di bumi, aku akan menyesatkan mereka semuanya,

40. Kecuali hamba-hamba-Mu yang terpilih di antara mereka.”

Hidayah memang anugerah dari Allah yang harus kita jaga. Kita jemput, kita usahakan..

Karena entah kapan akhir usia kita, tentu kita ingin saat itu adalah saat sedang cinta-cinta nya pada Allah.

seperti seorang pemuda yang sedang dimabuk cinta

insya Allah…

Kabulkan.. Ya Rabb…

ODOJ, Komunitas Anti Mainstream

5 Mei

Ini komunitas memang anti mainstream.
Komunitas kok menggalakkan anggotanya tilawah sehari 1 Juz! Aneh kan?

Mbok ya komunitas itu yg hepi hepi.. yg bikin fun gitu loh. Mana grupnya dipisah lagi laki-laki dan perempuan. Mana ada anak muda yg tertarik? qiqiqi

Ya begitulah..
Tapi jangan salah loh, faktanya, beberapa bulan ODOJ dimulai, membernya sudah puluhan ribu. Tersebar dari seluruh Indonesia, bahkan juga seluruh dunia (nyampe Jeddah juga buktinya ^_^).

Sebagai anggota, sy memang merasakan betapa dulu rasanya mustahil bisa konsisten menjaga tilawah sehari 1 juz, dan sekarang jd lumayan terbiasa. Alhamdulillah. Baca lebih lanjut

Dampak Negatif Dosa dan Maksiat

20 Apr

Malam itu kami selesai mendengarkan Taujih dari Ust. Mardani Ali Sera, jubir PKS yang khusus kami undang, mumpung beliau sedang menjadi pembimbing umroh.

Dengan nampan yang agak besar, kami melahap ayam bakar dan nasi kabsah yang super enak bersama-sama. Satu nampan untuk ber enam. Budaya amal-jama’i di Saudi yang satu ini memang asyik. Apalagi kalau sambil ngerumpi. hehe

Tapi insya Allah selama saya bersama ibu-ibu sholehah ini, ngerumpi santai pun padat berisi. Ghibah atau nggosip tidak ada sama sekali dalam kamus kami. Bisa dicek, atau disadap (niat banget :mrgreen: ).

Malam itu kami ngobrol, mulai dari berat badan (ups hihi),anak, sampai ke soal ibadah.

“Tahu nggak, kalo selama ini kita tuh ngga sadar, kalo maksiat itu berdampak langsung ke diri kita.” Seorang al-ukh memunculkan pembicaraan yang menarik. Baca lebih lanjut

Menangkal Virus Liberalisme ;Kenapa Harus Malu Menjadi Muslim?

19 Feb

Di banyak kesempatan, saya mendapati orang yang berusaha terlalu keras untuk terlihat pintar, cerdas dan berwibawa di mata orang.

Kemudian yang dilakukannya adalah berkata dengan mengambil sumber-sumber filsuf Barat, mengambil contoh kasus dari kasus di Eropa, Amerika.

Di lain kesempatan lagi, saya dapati teman mengunggulkan negara maju yang sama sekali tidak mencampur adukkan agama, tapi lihat betapa maju mereka. Betapa disiplin mereka.

Setelah puas, masih kurang rasanya jika belum mencoba membandingkan dengan negara muslim, yang sebagian besar warganya muslim, tapi attitude? Teknologi? ah sudahlah… paparnya. Padahal mereka ini seorang muslim. Kenapa?

Kontras dengan hal ini, saat beberapa orang mencoba menjelaskan secara ilmiah tentang suatu kasus dengan merujuk pada ilmuwan Islam, pada ayat Al Quran, pada sunnah Rasulullah, pada keyakinan spiritual yang diyakininya, maka cap yang disematkan adalah : “Alaah, bawa-bawa agama lo.”

“Sok ngerti agama aje…”

“Sok suci..”

“Jual agama..”

“Agama itu urusan kita dengan Tuhan saja Bung.”

Waduh..

Kenapa begitu? Seolah dengan kebarat-baratan lalu terlihat hebat. Seolah Buku-buku dari Barat tadi sudah jauh lebih layak dijadikan rujukan, seolah filsuf Barat yang namanya saja susah diingat sudah jauh melebihi Rasulullah.

Saya merasakan ada yang keliru disini. Rujukan pemikiran kenapa jadi diatur-atur?

Apa salahnya seseorang yang kesehariannya memang telah akrab dengan kitab sucinya sendiri, setiap hari dan setiap saat dia beraktivitas adalah memang bertujuan ibadah, lalu tanpa dipaksakan dia membawa identitas ke Islamannya.

Tanpa dipaksakan artinya, ya tidak dibuat-buat.

Pakaiannya berjilbab rapi untuk perempuan, misalkan. Atau untuk laki-laki memelihara jenggot, jidatnya hitam (yang ini juga alami loh, bukan karena sujudnya dilama-lamain terus jadi hitam. Tanya deh bapak-bapak :mrgreen: ), lalu sebagian ada yang celana di atas mata kaki.

Itu dari segi penampilan. Dari segi perkataan, dia sering mengucapkan kata-kata “Insya Allah, Alhamdulillah, Subhanallah, Masya Allah, dsb..” dibanding kata-kata umum yang menerjemahkan kata-kata tersebut.

Dari segi tingkah laku, dia lebih menjaga jarak dengan lawan jenis, lebih pendiam, atau yang lainnya.

Dibuat-buat? Sok sokkan gitu? Tidak. Sama halnya dengan orang yang tadi, yang setiap saat yag dibacanya buku-buku Barat, atau tontonannya film Barat. Coba amati, kadang dia bisa ceplas ceplos ‘nyeletuk’ dalam bahasa gaul barat juga kan?

Begitulah. Ini soal kebiasaan dan keyakinan, yang secara sadar dan tidak sadar terimplementasikan pada dirinya.

Okelah, bagaimana dengan attitude? amalan dengan orang lain?

Well, kita sebagai muslim memang jika sungguh tertanam dengan benar ilmu yang dipelajari, maka dia akan disiplin, ramah, menjaga kebersihan, baik kepada tetangga, dermawan dan hal-hal positif lain seperti yang dicontohkan Rasulullah..

Lalu bagaimana jika ada yang belum?

Salah Islamnya, gitu? Baca lebih lanjut

%d blogger menyukai ini: