Tag Archives: jodoh

Jejak-jejak Kelam di Dunia Maya

5 Mei

Bismillahirrahmanirrahim..

Saya baru saja mencoba menjodohkan teman.. tapi belum berhasil. ada pelajaran yang bisa diambil..

Buat para jomblo, nih. Sebelum minta tolong dicarikan pasangan, pastikan bahwa tidak memiliki ‘jejak kelam’ yang masih tertinggal di dunia maya.

Karena penyelidikan via akhi ‘gugel’ ini sudah lazim dilakukan.

Bukan soal ‘penyelidikan via gugel ini memenuhi syariat atau tidak’. Itu bukan kapasitas saya menjelaskan.

Tapi ya ini soal ‘niat ga cari jodoh yang baik?’

Kalau memang berniat cari yang sholihah/sholeh, terus akun twitter masih penuh “papah-mamah” an sama orang, gimana tuh?

Kalau berniat cari jodoh yang sholih/sholihah, terus dunia maya masih tersebar foto sama mantan dempet-dempetan rangkul-rangkulan..
Gimana tuh?

“Jangan lihat masa lalunya.. bisa aja dia udah tobat..”

Oke. Tapi tobatnya ya yang kaffah dong.

Pastikan ‘papah mamah’ sudah dihapus.

Lupa passwordnya?
Yah itulah mudharat pacaran. Baru kerasa sekarang?

Ngga kepikiran kan dulu pas ‘papah mamah’ an, kalau itu akan jadi ‘prasasti’ di dumay..
Dan menghalangi dapat jodoh yang baik?

Berproses via perantara memang tidak gampang.
Bagi yang menjadi perantara, maupun yang diproses..
Baca lebih lanjut

Happy 2nd Anniversary for us :)

5 Feb

Tanggal ini, dua tahun yang lalu..

Alhamdulillah, ternyata kami telah melalui hari-hari yang luar biasa selama 2 tahun lamanya.. bersama..

Dan kini, di tengah kami sudah ada putri kecil yang lucu, yang menambah lengkap seluruh rasa syukur yang ada..

Semoga tetap sakinah, selamanya.. aamiiiin…..

Jeddah, 6 Februari 2012

Semoga sakinah selamanya, yaaa... 🙂

Akhwat Galau

24 Agu

Tiba-tiba ingin menuliskan ini. Sebenarnya sudah sejak lama mengamati, tapi baru terketuk sekarang.

Ketika pagi ini saya login facebook dan mendapati wall dipenuhi dengan para lajang (akhwat) yang mengupdate status tentang pernikahan.

Ah, tema itu. Tema sensitif. Tema yang cukup menarik bagi para lajang.

Mereka memang tidak langsung mengatakan “Aku pengen nikah, looh..”

Tapi mereka memang mengemasnya sedemikian rupa, sehingga tidak langsung mengarah ke maksud di atas.

Akhwat galau, ya, saya menyebutnya begitu. Bahasa masa kini, siy. Kalo jaman dulu mungkin lebih halus ‘akhwat gelisah’.  Tapi karena biar up to date, saya menyebutnya fenomena akhwat galau :mrgreen:.

Di satu sisi saya merasa kasihan pada mereka. Saya pun sempat merasakannya. Sudah lulus, sudah bekerja, apa lagi? Ditambah lagi, dikejar usia..

Tapi di sisi lain, saya heran. Heran, bukankah status-status mereka dibaca para ikhwan juga? Apakah tidak malu mengumbar keinginan suci, seolah-olah mengatakan “Hei, kalian laki-laki lajang, kumohon bacalah statusku, aku ingin menikah, tapi belum ada yang melamarku..Baca lebih lanjut

Menjadi Mak Comblang, Kenapa Tidak?

19 Mei

Bahagia, rasanya. Akhir-akhir ini mendengar beberapa kawan mulai beranjak meninggalkan masa lajang mereka. Alhamdulillah. Akhirnya fase penting akan mereka lalui juga.

Dan yang lebih membahagiakan lagi, ada dari mereka memang sengaja saya kenalkan. haha… mak comblang, ceritanya 🙂 . Baguslah. Meski saya yakin, dan saya percaya, tanpa saya kenalkan pun, jikalau mereka memang berjodoh, pasti juga akan dipertemukan. Entah kenal sendiri, atau dari orang lain. Tapi lumayan, lah, bisa menjadi ikhtiar dari pertemuan penting mereka.

Awalnya dua sahabat saya ini ‘secara iseng’ saya perkenalkan. Iseng bukan, ya? tapi, suatu peristiwa di kamar saya yang imut di Solo, ketika itu saya sedang online, dan chating dengan si akhwat. Pembicaraan standar. Provokasi dari yang sudah menikah, pada yang belum menikah. hehehe.. dan jujur ini memang hobi saya. Sebab, saya yakin mereka itu, yang lajang itu butuh motivasi untuk melangkah. Apalagi kawan akhwat saya satu ini. Yang terkenal super cuek.

Saat sedang asyiknya berchat-chat ria, datanglah sebuah SMS mendarat di HP saya.. “Bismillah… Son, kalau ada teman akhwat yang sudah siap menikah, minta tolong dikenalkan ya. Semoga ini bisa jadi ikhtiar untuk menuju niat baik itu.”  Aha! saya pikir, kenapa tidak? kenapa harus jauh-jauh searching teman akhwat yang mau dikenalkan kalau saat ini saya berada di tengah-tengah dua orang yang memenuhi syarat untuk dipertemukan.

Sama-sama lajang, ingin menikah dan siap menikah, lulusan sarjana, sudah sama-sama bekerja, domisili kota juga tidak terlalu jauh. Klaten dan Solo.

Hm… singkat cerita, Baca lebih lanjut

Saat ini hanya ada ‘kita’

17 Mei

Beginilah berumah tangga. Jika anda membayangkan sebuah romantisme sejati, ada laki-laki, ada perempuan, ada cinta, ada ikatan, ada kepercayaan, ada kesetiaan.. Rumah tangga.

Ketika dulu saya hanya bisa berimajinasi, membayangkan, memprediksikan, dan inilah akhirnya saatnya.

Merencanakan berdua, merasakan pahit manis berdua, bercanda berdua… It’s more than relationship, right… Sebab nantinya juga akan ada buah cinta, yang juga akan dibesarkan, dididik, dibina, dicintai, berdua….

di Mall of Arabia

di Mall of Arabia

Semoga Allah senantiasa memberi barokah atas keluarga kami, menaungi dengan cahayaNya, memperkuat ikatannya,.. selamanya.. aamiin… 🙂

Perbedaan Laki-laki dan Perempuan jika berbuat salah

24 Okt
perbedaan laki perempuan jika berbuat salah-kartun ikhwan akhwat lucu-kartun suami istri

klik gambar untuk memperjelas 🙂

Bagi anda yang telah menikah, mungkin sering mengalami ini. Saat suami atau istri melakukan kesalahan, tetap saja akhirnya suami yang meminta maaf 😀

Ilustrasi di atas bukan sebuah pembenaran, melainkan hasil pengamatan. Potongan cerita nya pun bukan atas inspirasi saya pribadi, tapi saya dapatkan di sebuah forum jejaring sosial, yang kemudian saya dapati pada kehidupan saya. Untuk lebih menghayati, saya sesuaikan, dengan ilustrasi keluarga muslim.

Anda juga mengalaminya?

Sekali lagi, ini bukan pembenaran. Jika anda juga mengalaminya, ada baiknya mulai sedikit menyesuaikan dan memahami. Laki-laki dan perempuan adalah dua makhluk yang berbeda, bahkan bertentangan. Namun dibuat bukan untuk saling menentang, tapi saling melengkapi. Baca lebih lanjut

Cinta (halal) Jarak Jauh

12 Okt

Fenomena unik. Harusnya ini memang saya tulis sejak dulu. Tapi, baru sekarang bisa saya ‘tumpahkan’, karena nampaknya kok makin populer saja.. 🙂

Pasti para pembaca heran kenapa ada label ‘halal’ di judul saya. Alasan saya hanya satu. Sorotan atau pengamatan saya sama sekali tidak berlaku untuk cinta yang tidak halal (pacaran, HTS, tunangan, pesan2an, dll) tapi hanya berlaku untuk cinta yang telah diresmikan dalam ikatan suci yang bernama ‘pernikahan’. Sebab, cinta tanpa ikatan pernikahan hanyalah nafsu. Mutlak nafsu. Jadi jarak jauh kek, jarak dekat kek, kalau yang dipakai hanya nafsu yang ada ya cuma ‘rasa bersalah’, ‘kepalsuan’ dan dosa. Sama sekali tidak ada kenyamanan (tentram) disana.

Tidak usah membahas terlalu panjang untuk cinta (haram) jarak jauh, tapi kita bahas saja cinta (halal) jarak jauh. 🙂

Beberapa saat yang lalu saya menghadiri walimahan atau pesta pernikahan teman sekelas saya kuliah. Ceritanya, teman saya ini juga akan bergabung dalam komunitas pelaku LDR (Long Distance Relationship). Sebab dia akan kembali ke Kalimantan, sedang istrinya masih harus kuliah di Solo. Alhasil, mereka hanya akan bertemu ketika sang istri libur semester.

Sebagai senior dalam kasus ini (bulan ini saya genap 8 bulan LDR-an dengan suami), saya mencoba membagi kisah dengan si ‘adik’, istri teman saya yang bakalan berpisah sementara setelah baru 2 minggu menikah (mirip juga dengan saya). Baca lebih lanjut

%d blogger menyukai ini: