Tag Archives: pendidikan

Perempuan

14 Agu

Pernah mengamati artis-artis di televisi yang dimanajeri ibunya? Ada yang aneh tidak?

Saya merasa itu aneh sekali. Bukankah setiap ibu berharap kehormatan dan keselamatan anak gadisnya, ya? Sebab seorang ibu bertanggung jawab lebih untuk mendidik putri-putrinya, agar kelak menjadi wanita yang pandai menjaga kehormatan dirinya sendiri, suami, dan anak-anaknya. Itu yang saya pahami.

Kontras, dengan barusan yang saya dengar. Berprofresi sebagai teman belajar siswa sekolah memang memiliki ‘amal sampingan’. Njagani anak didik. Bukan hanya soal akademis, tapi kadang sampingannya adalah teman curhat.

Seorang ibu dari murid saya beberapa waktu yang lalu mengeluhkan kekhawatirannya pada saya. Tentang putrinya.”Mbak Sonia, ibu bener-bener khawatir sama Nurul, kalau Les di pondok jangan sampai mukanya keliatan orang banyak ya. Diusahakan menghadap ke arah yang jarang ada orang..”

Iya, ibu itu khawatir anaknya yang sengaja disekolahkan di sebuah Pesantren ternama di Solo, menjadi fitnah bagi lawa jenisnya. Alasanya jelas, memang putrinya tersebut cantik. Sungguh cantik. Saya saja yang juga perempuan benar-benar takjub dengan kecantikan si adek ini. Apalagi ikhwan? (kalo cowok iya nggak ya, soalnya si adek berjilbab rapih) Hmm.. Subhanallah..

Sang ibu sudah merasa benar-benar ingin menjaga putrinya, supaya tidak mendatangkan fitnah, yang jelas akan merusak masa depan anaknya, keluarganya juga.

Beda dengan yang sekarang sering kita jumpai. Ibu malah ‘mengkomersilkan’ putrinya. Dijadikan mesin pencetak uang, bahkan tulang punggung keluarga. Miris.

Sebab moral sebuah masyarakat, tergantung bagaimana kondisi perempuan di wilayah tersebut”  Sebuah hal yang sangat saya yakini kebenarannya.

Hingga saya temui juga sebuah petikan “Mendidik seorang laki-laki, artinya mendidik laki-laki itu sendiri. Mendidik satu orang perempuan, artinya kamu telah mendidik satu generasi.” Baca lebih lanjut

Iklan

Selamat Hari Guru . . .

26 Nov

Guru. kata yang bermakna. Bukan karena bapak saya yang juga seorang guru. Atau bukan juga karena saya yang seorang guru les. tapi.. makna itu. Saya jadi teringat guru-guru yang berkesan bagi saya. Guru SD saya, SMP sampe SMA. Mungkin dari sekian puluh, hanya beberapa yang berkesan.

Saya kurang tau kenapa saya mengenang beberapa dari beliau. Tapi kalau saya coba mengkategorikan mereka, saya hanya mengingat guru yang bagi saya tidak hanya formalitas untuk mengajar. Tapi lebih dari itu. Ya, ternyata menjadi seorang guru yang mengesankan tidak mudah. Bagaimana mengajar bukan hanya formalitas keseharian saja. Hanya datang, mengulas beberapa materi, bel berbunyi, selesai.

Tapi, murid menunggu sebuah nilai yang lebih dari sekedar itu semua. Moral, motivasi, support, cerita lucu. Tentang yang terakhir, saya jadi ingat guru SMA saya. Beliau memang memiliki keunikan dari yang lain. Beliau wanita yang sangat lucu. Seperti sebuah tradisi saja, beliau memiliki cerita yang ‘turun temurun’. Kakak kelas saya (yang juga kebetulan kakak kandung saya, hehehe) mengatakan Baca lebih lanjut

%d blogger menyukai ini: