Tag Archives: pernikahan

Jejak-jejak Kelam di Dunia Maya

5 Mei

Bismillahirrahmanirrahim..

Saya baru saja mencoba menjodohkan teman.. tapi belum berhasil. ada pelajaran yang bisa diambil..

Buat para jomblo, nih. Sebelum minta tolong dicarikan pasangan, pastikan bahwa tidak memiliki ‘jejak kelam’ yang masih tertinggal di dunia maya.

Karena penyelidikan via akhi ‘gugel’ ini sudah lazim dilakukan.

Bukan soal ‘penyelidikan via gugel ini memenuhi syariat atau tidak’. Itu bukan kapasitas saya menjelaskan.

Tapi ya ini soal ‘niat ga cari jodoh yang baik?’

Kalau memang berniat cari yang sholihah/sholeh, terus akun twitter masih penuh “papah-mamah” an sama orang, gimana tuh?

Kalau berniat cari jodoh yang sholih/sholihah, terus dunia maya masih tersebar foto sama mantan dempet-dempetan rangkul-rangkulan..
Gimana tuh?

“Jangan lihat masa lalunya.. bisa aja dia udah tobat..”

Oke. Tapi tobatnya ya yang kaffah dong.

Pastikan ‘papah mamah’ sudah dihapus.

Lupa passwordnya?
Yah itulah mudharat pacaran. Baru kerasa sekarang?

Ngga kepikiran kan dulu pas ‘papah mamah’ an, kalau itu akan jadi ‘prasasti’ di dumay..
Dan menghalangi dapat jodoh yang baik?

Berproses via perantara memang tidak gampang.
Bagi yang menjadi perantara, maupun yang diproses..
Baca lebih lanjut

Sebelum Dia Halal Bagimu

13 Agu
kartun-ikhwan-akhwat-lucu kartun pasangan halal-kartun suami istri

Bersabarlah, karena dia akan berbuah manis 🙂

Sungguh menarik jika membahas tentang pernikahan. Tapi bagi saya, lebih menarik adalah membahas waktu-waktu menjelang hari H pernikahan.

Menarik, karena jangka waktu antara khitbah-menikah itu penuh warna.

Ada pusing karena persiapan ini itu menjelang pernikahan,

Ada deg-degan karena tak lama lagi sudah tidak sendiri,

Ada rasa canggung, malu-malu dan grogi ketika harus berkomunikasi dengan si dia, calon pendamping kita.

Ada rasa syukur tak terkira, karena selangkah lagi akan menghadapi salah satu ketentuanNya yang telah lama dinanti..

Waw.. masya Allah rasanya 🙂

Berbagai cerita juga saya dapat dari sahabat saya tentang perasaan mereka menjelang pernikahan. Apalagi, sahabat-sahabat saya ini juga sebagian besar tidak melalui proses pacaran sebelumnya. Kebayang kan bagaimana menariknya cerita mereka? :mrgreen:

Di antara rasa yang nano-nano tadi, ada satu hal yang bagi saya begitu penting; Menjaga interaksi dengan sang calon.

Sungguh, meskipun jarak antara khitbah dan nikah kami waktu itu hanya berjarak satu minggu, tapi rasanya godaan itu begitu besarnya. Saya berpikiran, apalagi mereka yang jaraknya begitu lama. Rasanya gimana ya?

Apa sih godaan-godaan itu?

Banyak. Di antaranya berkhalwat, saling mengirim kata-kata yang belum pantas (sayang, kangen)

memanggil ‘Bunda/ayah’, atau kalau katanya ingin Islami ya Ummi/Abi sebelum waktunya, kalimat-kalimat ‘gombal’ dan pujian untuk menggoda..

Benar-benar disinilah celah setan untuk menghancurkan ibadah kita. Disinilah dibutuhkan ketegasan dari salah satu pihak, atau keduanya untuk membatasi komunikasi dan interaksi.

Disinilah sepenuhnya hati kita jaga, untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan.

Apa jaminan kita akan disampaikan usia hingga penghulu mengatakan “SAH..SAH..”

Apa jaminan bahwa tidak ada halangan saat hari H?

Jangan sampai semua yang semestinya bisa segera kita raih dengan penuh kebarokahan, tak lama lagi, hanya butuh sedikiiiit saja kesabaran, menjadi hambar tak bermakna, karena itu semua telah kita lakukan sebelum halal.

Dan apapun yang dilakukan sebelum itu dihalalkan, pasti ada rasa tidak tenang di hati. Betul tidak?

Ah.. sungguh sayang sekali, ‘makanan lezat’ yang sudah terhidang untuk ‘berbuka puasa’ sebentar lagi, menjadi hambar karena kita sudah tidak begitu lapar, sudah mencicipi sebelum waktunya.

Tahanlah lisanmu untuk mengatakan hal-hal yang belum waktunya.

Tahanlah jarimu untuk tidak mengetikkan kata-kata yang masih haram kau keluarkan.

Tahanlah dirimu, badanmu untuk tidak menyentuh hal-hal yang masih belum menjadi hakmu.

Sedikit lagi, semua akan menjadi begitu indah dan barokah jika kau bisa memenangkan godaan-godaan itu.

Jika kau ingin memuliakan calon ibu/ayah dari anak-anakmu, muliakan dia sejak sebelum menikah. Dengan menjaga hatinya, dan kehormatannya hingga saat itu tiba.

wallahua’lam bishowab.

Semoga bermanfaat 🙂

Happy 2nd Anniversary for us :)

5 Feb

Tanggal ini, dua tahun yang lalu..

Alhamdulillah, ternyata kami telah melalui hari-hari yang luar biasa selama 2 tahun lamanya.. bersama..

Dan kini, di tengah kami sudah ada putri kecil yang lucu, yang menambah lengkap seluruh rasa syukur yang ada..

Semoga tetap sakinah, selamanya.. aamiiiin…..

Jeddah, 6 Februari 2012

Semoga sakinah selamanya, yaaa... 🙂

Hari-hari yang Mendebarkan

30 Sep

Tinggal beberapa hari lagi, insya Allah. Atau mungkin.. beberapa jam lagi? seminggu, dua minggu? wallahu’alam…

Yang jelas, beberapa hari ini, saya dan suami bertanya-tanya.. “Si kecil lahir kapan, ya..” 🙂

Campur aduk rasanya saat-saat ini.  Kadang terpikirkan, “Ternyata, manusia itu untuk memasuki babak baru dalam hidup harus melewati masa-masa yang menegangkan ya..”

Contoh saja, saat kita SD, melihat anak SMP jadi kepengen, tapi untuk menuju SMP harus melewati Ujian Nasional. Sekolah bagus ataukah tidak, ditentukan di ujian itu.. Saat menanti hasil, rasanya menegangkan. Tapi mau tidak mau harus dilewati.

Begitu pula dari SMP ke SMA, SMA ke kuliah. Kuliah menuju sarjana..

Dari lajang ke menikah juga sama,. Melewati masa menegangkan menuju sampai melewati Aqad.. Selalu seperti itu. Subhanallah..

Dan sekarang, untuk menjadi seorang ibu, bisa  menimang bayi buah cinta dengan suami, yang merupakan perpaduan kami berdua juga harus melewati saat-saat menegangkan. Persalinan. Kapan waktunya, hanya Allah yang tahu. Tapi insya Allah terbaik menurutNya.. aamiin..

Sekarang usia kehamilan saya sudah menginjak minggu ke 38. Sudah bulan ke sembilan. Wow.. mengandung selama 9 bulan ternyata luar biasa. Setelah melewati masa-masa mual sampai bulan ke empat, tidak doyan makan, pusing seperti orang masuk angin, ditambah jauh dari suami (hehe..lengkap sudah) hingga akhirnya menginjak trimester ke dua yang dihadapkan dengan cuaca Jeddah, bolak-balik rumah sakit karena demam tinggi, dan sekarang sampailah di trimester ke 3. Perut sudah membesar, kaki dan tangan kesemutan, pegal-pegal, hanya tinggal berdua dengan suami, apa-apa sendiri. Ah..luar biasa.. Baca lebih lanjut

Akhwat Galau

24 Agu

Tiba-tiba ingin menuliskan ini. Sebenarnya sudah sejak lama mengamati, tapi baru terketuk sekarang.

Ketika pagi ini saya login facebook dan mendapati wall dipenuhi dengan para lajang (akhwat) yang mengupdate status tentang pernikahan.

Ah, tema itu. Tema sensitif. Tema yang cukup menarik bagi para lajang.

Mereka memang tidak langsung mengatakan “Aku pengen nikah, looh..”

Tapi mereka memang mengemasnya sedemikian rupa, sehingga tidak langsung mengarah ke maksud di atas.

Akhwat galau, ya, saya menyebutnya begitu. Bahasa masa kini, siy. Kalo jaman dulu mungkin lebih halus ‘akhwat gelisah’.  Tapi karena biar up to date, saya menyebutnya fenomena akhwat galau :mrgreen:.

Di satu sisi saya merasa kasihan pada mereka. Saya pun sempat merasakannya. Sudah lulus, sudah bekerja, apa lagi? Ditambah lagi, dikejar usia..

Tapi di sisi lain, saya heran. Heran, bukankah status-status mereka dibaca para ikhwan juga? Apakah tidak malu mengumbar keinginan suci, seolah-olah mengatakan “Hei, kalian laki-laki lajang, kumohon bacalah statusku, aku ingin menikah, tapi belum ada yang melamarku..Baca lebih lanjut

Menjadi Mak Comblang, Kenapa Tidak?

19 Mei

Bahagia, rasanya. Akhir-akhir ini mendengar beberapa kawan mulai beranjak meninggalkan masa lajang mereka. Alhamdulillah. Akhirnya fase penting akan mereka lalui juga.

Dan yang lebih membahagiakan lagi, ada dari mereka memang sengaja saya kenalkan. haha… mak comblang, ceritanya 🙂 . Baguslah. Meski saya yakin, dan saya percaya, tanpa saya kenalkan pun, jikalau mereka memang berjodoh, pasti juga akan dipertemukan. Entah kenal sendiri, atau dari orang lain. Tapi lumayan, lah, bisa menjadi ikhtiar dari pertemuan penting mereka.

Awalnya dua sahabat saya ini ‘secara iseng’ saya perkenalkan. Iseng bukan, ya? tapi, suatu peristiwa di kamar saya yang imut di Solo, ketika itu saya sedang online, dan chating dengan si akhwat. Pembicaraan standar. Provokasi dari yang sudah menikah, pada yang belum menikah. hehehe.. dan jujur ini memang hobi saya. Sebab, saya yakin mereka itu, yang lajang itu butuh motivasi untuk melangkah. Apalagi kawan akhwat saya satu ini. Yang terkenal super cuek.

Saat sedang asyiknya berchat-chat ria, datanglah sebuah SMS mendarat di HP saya.. “Bismillah… Son, kalau ada teman akhwat yang sudah siap menikah, minta tolong dikenalkan ya. Semoga ini bisa jadi ikhtiar untuk menuju niat baik itu.”  Aha! saya pikir, kenapa tidak? kenapa harus jauh-jauh searching teman akhwat yang mau dikenalkan kalau saat ini saya berada di tengah-tengah dua orang yang memenuhi syarat untuk dipertemukan.

Sama-sama lajang, ingin menikah dan siap menikah, lulusan sarjana, sudah sama-sama bekerja, domisili kota juga tidak terlalu jauh. Klaten dan Solo.

Hm… singkat cerita, Baca lebih lanjut

Saat ini hanya ada ‘kita’

17 Mei

Beginilah berumah tangga. Jika anda membayangkan sebuah romantisme sejati, ada laki-laki, ada perempuan, ada cinta, ada ikatan, ada kepercayaan, ada kesetiaan.. Rumah tangga.

Ketika dulu saya hanya bisa berimajinasi, membayangkan, memprediksikan, dan inilah akhirnya saatnya.

Merencanakan berdua, merasakan pahit manis berdua, bercanda berdua… It’s more than relationship, right… Sebab nantinya juga akan ada buah cinta, yang juga akan dibesarkan, dididik, dibina, dicintai, berdua….

di Mall of Arabia

di Mall of Arabia

Semoga Allah senantiasa memberi barokah atas keluarga kami, menaungi dengan cahayaNya, memperkuat ikatannya,.. selamanya.. aamiin… 🙂

%d blogger menyukai ini: