Tag Archives: refleksi

Sang Pemimpi

21 Mar

Saya ini bukan tipe pemimpi, saya sadar betul.

Jika ada yang bertanya apakah yang telah saya ‘lakukan’ hingga saya mencapai semua fase ini? saya hanya menjawab simpel, ini semua karena Allah..

Kadang saya berpikir, begitu gencarnya training motivasi, buku-buku motivasi, yang mewajibkan setiap orang untuk memiliki mimpi besar. Karena dengan begitu -katanya- mimpi kita akan membawa kita ke arah kesuksesan.

Percaya? ya, saya percaya itu. Karena saya lihat ternyata sudah banyak mereka yang membuktikan. (pastilah ya, membuktikan dulu, baru bisa memotivasi orang lain)

Hingga akhirnya saya jumpai banyak yang memasang impiannya di tembok kamarnya, di ruang kerjanya, di buku agendanya, dimanapun. Juga tak kalah banyak yang memasangnya di jejaring sosial. Membolehkan publik mengetahui mimpi-mimpinya.

Saya? seingat saya, saya tidak pernah memvisualisasikan mimpi saya.

Sering saya berpikir, kenapa saya seperti ini? apakah saya salah? Kadang juga terbesit “Apakah manusia yang bukan pemimpi seperti saya ini tercela? berdosa?”

Saya ingat, sejak saya SMA, hingga kuliah, saat saya sudah ‘memiliki jati diri’.. di setiap perkenalan tentang cita-cita, saya menyampaikan, bahwa cita-cita saya adalah ‘Ibu dan Istri yang baik’. Titik.

Itu saja. Tak bisa untuk dibelokkan, di iming-imingi apapun. Itu target saya. Saklek.

Ketika yang lain bermimpi untuk ke Baitullah, Haji, traveling ke Mekkah, apakah saya juga? Baca lebih lanjut

My Blog’s anniversary : 5 tahun sudah saya ‘mblogging..

3 Mar

Tanggal 28 Februari kemarin saya dapat notifikasi dari wordpress. Ternyata saya sudah registrasi blog ini 5 tahun yang lalu!

Dan setelah saya cek, ternyata benar, postingan pertama ‘Hello world’ saya masih ada, dan belum saya hapus. hehe..

Wow, lima tahun itu lama juga loh. Artinya dari saya umur 21 tahun sampai usia 26 tahun.

Dari saya masih mahasiswi idealis, aktivis, tukang gelisah, penuh semangat dengan jiwa ‘pemberontak’, hingga sekarang menjadi istri sekaligus ibu dari satu putri dan tinggal sangat jauh dari kampung halaman.

Ajaib, ya? hehe.. :mrgreen:

Sedikitpun saya tidak berniat untuk menghapus atau berpindah ke lain blog. Biarlah tulisan-tulisan saya dulu menjadi kenangan yang kadang ada manis, kadang ada pahitnya juga.

Karena disitu banyak juga komentar-komentar dari sahabat, yang dengan membacanya saja tiba-tiba saya serasa kembali hadir di masa itu. Bahkan kadang saya saja lupa, bahwa saya pernah merasakan itu semua. Ah.. what a wonderful moment..

Ternyata lima tahun itu cukup untuk saya mengalami beberapa fase.

Fase mahasiswi aktivis idealis, lalu mahasiswi tingkat akhir yang pusing dengan skripsi, sarjana yang terjun ke dunia baru, wanita lajang yang galau karena belum menikah (ahahaha :mrgreen: ).. Baca lebih lanjut

A Lesson from Memories

16 Jan

Ternyata perlu juga sering-sering membuka album foto saat anak kita baru lahir, dan di usia masih terhitung bulanan. Bahkan mungkin saat sang anak masih ada dalam kandungan. Memperhatikannya dan membandingkannya dengan sekarang.

Subhanallah, ternyata waktu telah memberikan jejak padanya.

Salah satu dokumentasi saya, video saat Haniya 4 bulan

Salah satu dokumentasi saya, video saat Haniya 4 bulan. Kaget, ternyata Haniya pernah selucu ini ^_^

Itu yang saya rasakan saat membuka kembali file-file video dan foto Haniya kala masih usia 4 bulan, sebulan, 21 hari, bahkan saat masih dalam rahim saya yang membuat perut saya terlihat sangat besar.

Hahaha.. wow, ternyata perut saya pernah sebesar itu. Bandingkan sekarang saya yang sudah kurus lagi seperti saat masih gadis. :mrgreen:

Waktu yang benar-benar tidak bisa diberhentikan walau sedetik pun. Waktu yang telah merubahnya dari bayi yang sungguh tidak berdaya, hingga menjadi gadis kecil yang lugu, dan menggemaskan. Oh.. my little girl grows up so fast.. hiks.. Baca lebih lanjut

Skenario, Peran dan Cerita

25 Jul

Saya ingin bercerita tentang kisah beberapa wanita.

Yang pertama adalah Bu Im (nama samaran). Beliau berusia sekitar 36 tahun. Orangnya bersemangat, ceplas ceplos, dan apa adanya. Beliau telah menikah dan dikaruniai seorang putri. Usia putrinya 3 tahun, yang lahir setelah 10 tahun pernikahan. Bayangkan, menunggu selama itu. Subhanallah. Beliau dan suami menjalani bisnis yang cukup sukses.

Kedua, sebut saja Mbak Supirah (nama palsu). Beliau buruh pabrik. Wanita berusia 33 tahun, yang lugu dan polos. Belum menikah. Beberapa kali sudah mencoba untuk dijodohkan dengan ikhwan, tapi si Ikhwan selalu mundur dengan alasan tidak siap menerima Istri yang harus kerja shift-shift an, tanpa hari libur. Mbak Supirah sudah coba dibujuk untuk mencari mata pencaharian lain, karena rejeki Allah bisa dari berbagai cara. Dan tentu saja, supaya tidak ada lagi penghalang baginya untuk mendapat jodoh. Tapi beliau tidak mau, karena masih harus membiayai orang tua, dan adiknya yang sudah dewasa, tapi hanya mengandalkannya.

Yang ketiga, Baca lebih lanjut

Anak ; Amanah dan Investasi

29 Mei

Anak itu investasi. Jadi wajar kalau saya, sebagai seorang ibu, begitu concern soal moral.

Bisakah kita membayangkan dua puluh tahun ke depan, tiga puluh tahun ke depan, apa yang terjadi dengan teknologi internet? gaya hidup anak muda? bahasa, gaya berpakaian?

Orang tua kita mungkin tidak terpikirkan sama sekali bahwa sekarang melihat video bisa di sembarang tempat melalui alat kecil bernama HP ato Ipad. Padahal dulu mereka nonton saja harus di bioskop. Atau kalau kaya dikit bisa menonton melalui piringan hitam dan kaset video.

Mereka juga tidak menyangka kalau berkomunikasi lintas negara bisa semudah sekarang. Dimanapun, kapanpun, bahkan bisa face to face. Sedang mereka dulu menunggu berminggu-minggu hanya sekedar bisa tahu kabar saudara mereka di luar pulau.

Jadi, bagaimana nanti dengan anak kita?

Kaget rasanya membaca tweet seorang aktivis liberal mengatakan “Sering ditanya, kalau anak anda gay, lesbian, Ahmadiyah dst, apakah anda akan biarkan. Jawaban saya pasti, ya, akan saya biarkan.”

Naudzubillahimindzalik.

Bersyukur saya tidak memiliki bapak seperti dia. Bahkan seorang anak pun sebenarnya ‘ingin’ di arahkan mana yang benar, mana yang salah. Mana yang Haq dan mana yang Bathil. Oleh siapa? orang tuanya sendiri.

Madrasah pertama seorang anak sebenarnya adalah orang tuanya. Bukan pesantren ataupun sekolah. Itu adalah penunjang, bukan utama. Pendidikan moral, akhlak, aqidah, bersikap jujur dan tanggung jawab, anak dapatkan dari orang tuanya.

mendidik anak - kartun keluarga Islam - Islamic family cartoon

Anak adalah harta berharga 🙂

Itulah mengapa sebenarnya pola pengasuhan terbaik bukan pada ‘seberapa sering nasihat diberikan pada anak’, tapi pada ‘seberapa baik teladan orang tua pada anak’.

Kelak, ‘anak yang sholeh yang mendoakan kedua orang tuanya’ adalah salah satu amal yang tidak akan terputus ketika kita sudah meninggal. Itulah investasi kita. Investasi akhirat. Pahalanya mengalir, meski kita sudah tidak bisa beramal. Kebaikannya akan menambah berat timbangan kita di Yaumul Hisab.

Anak juga amanah. Mereka dititipkan pada kita, untuk dimintai pertanggung jawaban nantinya. Baguskah pemeliharaannya, halalkah nafkah yang diberikan padanya.. Berat? memang. Tapi hasilnya manis, jika kita serius menjaganya.

Mungkin Baca lebih lanjut

Bersikap Dewasa dalam Berjejaring Sosial

25 Apr

Kita menyebutnya Jejaring Sosial. Ada blog, twitter, facebook, dan sebagainya. Kalau jaman dulu ada friendster, tapi sejak facebook muncul, pelan-pelan orang meninggalkannya.
Saya mengamati, polanya sama. Hanya orang-orang tertentu memiliki akun friendster, lalu mewabah, sampai anak kecil pun punya. Akhirnya friendster pun ramai dengan akun-akun, dan aktifitas yang sangat tidak penting. “kok cuma nge view sih, coment dong..”
“Eh, coment aku balik ya..” begitu seterusnya.

Lalu, orang-orang yang melihat friendster mulai tidak sehat, dengan banyaknya akun ‘aneh’ dan nama-nama aneh, akhirnya pelan-pelan orang-orang tertentu beralih ke facebook. Supaya berbeda, lebih ‘tenang’, aktifitas sosial juga nyaman. Tapi apa yang terjadi? tetap saja, akhirnya facebook pun mewabah. Setiap orang memilikinya. Dari ustadz, hingga anak SD. Cuman memang hingga sekarang, facebook masih tetap diminati. Mungkin karena ternyata aplikasinya terus menerus berkembang.

Saya tidak ingin membahas tentang detail facebook, twitter dan sebagainya. Tapi saya ingin menyoroti tentang fungsinya.

Kalau saya tanya, untuk apa anda menggunakan jejaring sosial tersebut? Jawabannya saya pikir sebenarnya semua sama : Sosialisasi.
Walaupun kemudian prakteknya untuk berbisnis, berdakwah, meneror, eksistensi, pamer, dan sebagainya, tapi kerucutnya adalah sosialisasi bukan?

Sebab nantinya anda akan menambah banyak teman, mengirimi permintaan pertemanan, menerima permintaan pertemanan, seputar itu. Intinya berhubungan dengan orang lain.

Dan dalam berjejaring sosial tentu -meski tidak bertemu langsung- tetap ada interaksi sosial, dan tentu ada aturannya. Ya, ada aturan, meski tidak tertulis, ada norma dan etika yang harus dipahami oleh setiap orang. Karena ini adalah jejaring sosial. Ada kepentingan orang lain yang masuk. Bukan cuma kita berinteraksi dengan diri sendiri, tapi juga orang lain. Kecuali anda memprivate seluruh kiriman yang anda buat, khusus untuk anda sendiri.

Apakah anda berpikir seperti ini?

Baca lebih lanjut

When I’m Going to 25

29 Des

Mumpung lagi ulang tahun, posting dobel ah.. hehe :mrgreen:

25 tahun. Dulu, saat masih kecil, membayangkan orang yang usianya 25, apalagi 25 ke atas, rasanya tuaa sekali. Bayangan saya kalau di lukiskan, ibu-ibu, dengan rambut dikucir ke belakang seadanya, memakai blus, rok span, wajah lebih ke paruh baya, wanita ‘dewasa’ banget lah pokoknya. haha… 😆

Sekarang setelah merasakannya, ternyata kenyataannya saya masih merasa dan terlihat seperti 17 tahun tuuh.. qiqiqi

Apalagi untuk orang yang beruntung bisa menempuh pendidikan hingga bangku kuliah seperti saya ini, 27 tahun pun rasanya masih oke tuh jalan-jalan dengan teman, makan di warung bersama-sama, ngomongin film..di tambah lagi kawan-kawan saya yang di usia 25-26 baru jadi sarjana.. (ups maaf…. 😛 )

Jadi persepsi saya sekarang otomatis berubah.. Bahwa usia 25 masih belum terlalu tua, secara fisik, maksudnya.. (actually.. :mrgreen: )

Di usia ini alhamdulillah, meskipun merasa seperti masih ABG saja, saat ini saya sudah memiliki suami dan satu orang putri. Ibu-ibu doong? iya.. saya memang sudah menjadi ibu.. tapi ‘ibu-ibu’ bukan kata lain dari tua kan? haha teteep… 😆

Alhamdulillah juga, dua target dalam hidup saya terpenuhi. Menikah di usia 23 tahun dan memiliki anak di usia 24 tahun. Ini target yang rahasia, sebenarnya. Hanya Allah, saya, dan guru ngaji saya yang tahu, dulu. Karena rahasia, maka tidak ada beban publik untuk mengejarnya. Jadi ketika itu terpenuhi, rasa syukur ini luar biasa. Banyak akhwat-akhwat yang mengoarkan target menikah umur sekian, tapi ketika terus menerus terlewatkan, saya yakin dia akan mengalami yang saya sebut tadi, ‘beban publik’. Sehingga niat menikah bukan lagi untuk ibadah, dan menjaga kehormatan, tapi lebih kepada supaya terbebas dari pertanyaan :”Mbak..katanya usia sekian mau nikaah, kok belum..?” Aw.. dalem..

Selama 24 tahun saya hidup, dimulai dari 29 Desember 1986 lalu, di bu Bidan dekat rumah, banyak sekali yang saya alami. Meski memori itu sepotong-sepotong saja saya ingat, kecuali yang terdokumentasikan.

Masa kecil, termasuk anak yang.. mm.. saya lupa..haha :mrgreen: yang jelas bahagia. Suka bermain boneka barbie, rumah-rumahan, bola bekel, panjat pohon hingga baju robek. ..hihi

SD, termasuk murid yang lumayan pandai (ehem)., lugu, polos, baik hati.. (yes! 😀 ) imut..

SMP, Baca lebih lanjut

%d blogger menyukai ini: