Tag Archives: remaja

Remaja dan Membaca

15 Nov

Mampir ke toko buku, ingatan saya jadi kembali ke masa-masa remaja. Masa-masa masih sekolah di SMP dan SMA. Dulu, saya senang sekali berkunjung ke persewaan buku setiap hari Sabtu, pulang sekolah. Kenapa hari Sabtu? karena bisa meminjam buku 2 hari dengan bayaran sehari. Hari Minggu persewaan libur.
Saya memang penggemar komik dan novel. Bukan novel percintaan atau teenlit. Saya tidak selera.
Saya suka komik jepang jadul yang tokohnya masih lugu-lugu. Bukan komik jepang sekarang, yang diwakili ‘nakayoshi’, dengan ‘ciuman dan pelukan’ sebagai tema utama. Kebanyakan. Tokohnya pun tidak berkarakter. Tidak menarik.
Saya juga suka novel-novel remaja lucu. Kalo jaman dulu ada Lupus, Olga, yang konyol, tapi humornya cerdas. Saya suka.
Dulu masa-masa remaja saya memang hanya seputar sekolah, persewaan buku, dan rumah teman. Belum ada facebook, twitter, Mall, dan sebagainya. Kuper ya? memang. Dan saya bangga 🙂
Setidaknya, meski bukan aktifis rohis, saya jauh dari gaya hidup hedonis, cewe-cewe gaul, nongkrong di Mall, kenalan sama cowok, kencan, dsb. Alasan simpel : uang jajan saya terbatas. Jadi, gimana mau nongkrong di Mall ato ke internet terus-terusan? 🙂 alhamdulillah…
Bisa dibilang, saya dulu ‘kutu buku’. Saya senang membaca. Meski bukan sejenis Harry Potter maupun Lord of the Ring, ato science fiction yang njelimet dan tebal, tapi waktu luang saya sibuk dengan membaca.

remaja dan membaca-remaja alay

remaja dan pilihan pola pikir nya 🙂

Kadang, saya membayangkan, jika saya remaja di jaman sekarang, apakah saya juga seperti ABG-ABG yang saya amati di facebook itu. Dengan bahasa alay yang susah dimengerti, yang membacanya membutuhkan konsentrasi penuh untuk mengartikan. Apakah juga akan memasang pose alay di foto profil, yang benar-benar membuat wajahnya sama satu sama lain. Melihatnya saja saya capek. Apalagi yang foto. Bibirnya dimonyong-monyongin gitu. Memang ngga PeDe ya dengan wajah asli?hihihi 😀
Ah,.. saya yakin tidak. Sampai kapan pun, saya senang menjadi diri saya sendiri. Dengan identitas yang lain, yang tidak sama dengan kebanyakan. Seperti sekarang. Insya Allah..

Apa yang remaja sekarang alami, kadang saya juga tidak mengerti. Mungkin setiap masa sama, mereka terbagi menjadi bermacam-macam jenis. Nah, yang sering terlihat adalah mereka yang mayoritas. Mereka yang semakin lama semakin banyak. Entah karena takut dikatakan ‘berbeda’ sendiri, takut kehilangan komunitas, takut dicap kuper, ngga gaul, akhirnya membuat mereka seperti bunglon. Mereka beranjak menyerupai kawan-kawan yang lain. Padahal barangkali mereka pun tidak mengerti dengan apa yang mereka dapatkan dari yang mereka lakukan.

Menjadi ‘asing’ memang tidak mudah. Disaat teman-teman yang lain pulang sekolah jalan-jalan ke Mall, memasang foto alay di fb, menulis dengan bahasa alay di SMS ataupun di internet, nongkrong di tempat-tempat tak jelas, mereka mampir ke toko buku atau persewaan buku.

Tempat yang asing. Ya, toko buku atau persewaan buku. Nampaknya dua tempat ini sangat ‘aneh’ bagi remaja. Kecuali mereka yang tidak teramat memperdulikan eksistensi, kebutuhan untuk diperhatikan, ataupun ‘pengakuan’.

Level yang semakin parah adalah jika sudah sampai pada pengakuan kalau punya pacar itu hebat. Ini yang paling memprihatinkan. Mereka berlomba-lomba menjadi seperti yang lain, agar diperhatikan lawan jenis, dan mendapat pasangan.

Level terparah, adalah jika tidak berbuat macam-macam dengan pacarnya, maka mereka ‘aneh’.
Hmm… tidak heran kalau banyak ditemui di jejaring sosial status mereka paling tidak pasti ‘berpacaran dengan’ atau ‘in relationship with’. Dengan foto-foto adegan berpelukan, cium pipi, diumbar ke publik. Naudzubillah..
Baca lebih lanjut

Iklan

Hidup yang Sebenarnya; Sebuah Fenomena Sosial di Sekitar Kita

11 Nov

This is the real life. Inilah hidup yang sebenarnya.” Hm.. tapi, benarkah? kalimat yang sering saya dengar dari orang yang selesai bercerita tentang kisah yang keras. Identik dengan kepalsuan, kemaksiatan, kebodohan, kejahatan.

Itukah ‘hidup’ yang sebenarnya?

Kenapa tidak setelah bercerita tentang kejujuran, keimanan, kepedulian, lalu diikuti kalimat “itulah hidup..”

Mata saya terbuka, pandangan saya yang dulu benar-benar sempit, menjadi sangat luas sejak remaja tanggung itu menceritakan semuanya pada saya.

Hidup di lingkungan yang hanif, meski tidak terlalu agamis, tapi ‘terpelajar’ saya pikir. Membuat cakrawala saya tentang ‘hidup’ itu lumayan lurus. Padahal dulu saya kira ini sudah sangat ‘rusak’ atau kata orang ‘real life’. Tapi saya salah. Salah besar.

Remaja yang belum genap 17 tahun itu polos sekali bercerita pada saya, tentang temannya yang tinggal di sebuah kos-kosan yang sekamar ditinggali dua pasang muda mudi! Bayangkan, satu kamar kos, ditinggali 2 perempuan, dan dua laki-laki.

Laki-laki pertama pengangguran, laki-laki kedua sebentar lagi jadi guru. Dan dua remaja putri adalah siswa SMK.. Anda kaget? saya kaget jika anda tidak kaget.

“..Astaghfirullah.. apa-apaan ini…. 😦 ” batin saya.

Tinggal sekamar dengan status ‘tidak menikah’ itu saja sudah mengerikan. Apalagi sekamar dua pasang. Haduh…. naudzubillahimindzalik…

Ini belum apa-apa. Remaja tanggung yang belum genap 17 tahun ini pun bercerita pada saya, yang tidak sanggup meninggalkan pacarnya yang masih kelas 1 SMA, karena dialah yang telah ‘memerawani’ ceweknya. Hmm… anda pasti paham kata yang saya beri tanda kutip tadi.

Dan cerita itu cukup membuat saya istighfar berkali-kali.. “Ya Rabb…. apa ini..?”

Masih banyak cerita yang saya peroleh dari remaja tanggung ini, sebenarnya. tapi menuliskannya sudah cukup membuat dada saya sesak. Baca lebih lanjut

%d blogger menyukai ini: