Tag Archives: sosial

Jejak-jejak Kelam di Dunia Maya

5 Mei

Bismillahirrahmanirrahim..

Saya baru saja mencoba menjodohkan teman.. tapi belum berhasil. ada pelajaran yang bisa diambil..

Buat para jomblo, nih. Sebelum minta tolong dicarikan pasangan, pastikan bahwa tidak memiliki ‘jejak kelam’ yang masih tertinggal di dunia maya.

Karena penyelidikan via akhi ‘gugel’ ini sudah lazim dilakukan.

Bukan soal ‘penyelidikan via gugel ini memenuhi syariat atau tidak’. Itu bukan kapasitas saya menjelaskan.

Tapi ya ini soal ‘niat ga cari jodoh yang baik?’

Kalau memang berniat cari yang sholihah/sholeh, terus akun twitter masih penuh “papah-mamah” an sama orang, gimana tuh?

Kalau berniat cari jodoh yang sholih/sholihah, terus dunia maya masih tersebar foto sama mantan dempet-dempetan rangkul-rangkulan..
Gimana tuh?

“Jangan lihat masa lalunya.. bisa aja dia udah tobat..”

Oke. Tapi tobatnya ya yang kaffah dong.

Pastikan ‘papah mamah’ sudah dihapus.

Lupa passwordnya?
Yah itulah mudharat pacaran. Baru kerasa sekarang?

Ngga kepikiran kan dulu pas ‘papah mamah’ an, kalau itu akan jadi ‘prasasti’ di dumay..
Dan menghalangi dapat jodoh yang baik?

Berproses via perantara memang tidak gampang.
Bagi yang menjadi perantara, maupun yang diproses..
Baca lebih lanjut

Sepenggal Firdaus; Indonesia.

21 Apr

Saudara2 sekalian, saya mempunyai sebuah imajinasi. Seandainya seluruh penduduk bumi ini diberi pilihan. Di negara manakah mereka ingin menjalani hidup. Saya ingin mereka mencatat tebal-tebal bahwa mereka ingin hidup di Indonesia. Sebab Indonesia adalah sepenggal firdaus di muka bumi. Dan oleh karena itu, setiap orang memimpikan  suatu saat untuk bisa menjalani hidup dinegeri ini.

Itulah cuplikan dari pidato Anis Matta di Semarang tanggal 19 April 2013 kemarin. Sangat dalam maknanya. Terlebih, didengar oleh saya, yang sedang tidak sedang berada di Indonesia.

Saat Anis Matta baru mengucapkan tiga kalimat pertama saja, saya sudah tahu beliau akan menyampaikan apa. Ah.. itukah yang semua orang rasakan? bukan hanya saya saja ternyata.

Memang baru Saudi Arabia, negara yang saya tinggali selain Indonesia. Tapi dari cerita teman yang hidup di luar negeri, dan pernah mengunjungi beberapa negara, selalu sama. Semua kriteria tempat tinggal yang nyaman adalah Indonesia. Alamnya, musimnya, makanannya, penduduknya, semuanya.

Saudi Arabia memang memiliki Mekkah dan Madinah, tempat impian semua muslim. Tapi hanya untuk kunjungan, bukan tempat tinggal. Jika diberi rizki lebih dari Allah, dan bisa bolak balik ke Mekkah dan Madinah, tetap saja inginnya tinggal di Indonesia.

Lalu, apa yang kurang dari Indonesia?  Baca lebih lanjut

Skenario, Peran dan Cerita

25 Jul

Saya ingin bercerita tentang kisah beberapa wanita.

Yang pertama adalah Bu Im (nama samaran). Beliau berusia sekitar 36 tahun. Orangnya bersemangat, ceplas ceplos, dan apa adanya. Beliau telah menikah dan dikaruniai seorang putri. Usia putrinya 3 tahun, yang lahir setelah 10 tahun pernikahan. Bayangkan, menunggu selama itu. Subhanallah. Beliau dan suami menjalani bisnis yang cukup sukses.

Kedua, sebut saja Mbak Supirah (nama palsu). Beliau buruh pabrik. Wanita berusia 33 tahun, yang lugu dan polos. Belum menikah. Beberapa kali sudah mencoba untuk dijodohkan dengan ikhwan, tapi si Ikhwan selalu mundur dengan alasan tidak siap menerima Istri yang harus kerja shift-shift an, tanpa hari libur. Mbak Supirah sudah coba dibujuk untuk mencari mata pencaharian lain, karena rejeki Allah bisa dari berbagai cara. Dan tentu saja, supaya tidak ada lagi penghalang baginya untuk mendapat jodoh. Tapi beliau tidak mau, karena masih harus membiayai orang tua, dan adiknya yang sudah dewasa, tapi hanya mengandalkannya.

Yang ketiga, Baca lebih lanjut

Bersikap Dewasa dalam Berjejaring Sosial

25 Apr

Kita menyebutnya Jejaring Sosial. Ada blog, twitter, facebook, dan sebagainya. Kalau jaman dulu ada friendster, tapi sejak facebook muncul, pelan-pelan orang meninggalkannya.
Saya mengamati, polanya sama. Hanya orang-orang tertentu memiliki akun friendster, lalu mewabah, sampai anak kecil pun punya. Akhirnya friendster pun ramai dengan akun-akun, dan aktifitas yang sangat tidak penting. “kok cuma nge view sih, coment dong..”
“Eh, coment aku balik ya..” begitu seterusnya.

Lalu, orang-orang yang melihat friendster mulai tidak sehat, dengan banyaknya akun ‘aneh’ dan nama-nama aneh, akhirnya pelan-pelan orang-orang tertentu beralih ke facebook. Supaya berbeda, lebih ‘tenang’, aktifitas sosial juga nyaman. Tapi apa yang terjadi? tetap saja, akhirnya facebook pun mewabah. Setiap orang memilikinya. Dari ustadz, hingga anak SD. Cuman memang hingga sekarang, facebook masih tetap diminati. Mungkin karena ternyata aplikasinya terus menerus berkembang.

Saya tidak ingin membahas tentang detail facebook, twitter dan sebagainya. Tapi saya ingin menyoroti tentang fungsinya.

Kalau saya tanya, untuk apa anda menggunakan jejaring sosial tersebut? Jawabannya saya pikir sebenarnya semua sama : Sosialisasi.
Walaupun kemudian prakteknya untuk berbisnis, berdakwah, meneror, eksistensi, pamer, dan sebagainya, tapi kerucutnya adalah sosialisasi bukan?

Sebab nantinya anda akan menambah banyak teman, mengirimi permintaan pertemanan, menerima permintaan pertemanan, seputar itu. Intinya berhubungan dengan orang lain.

Dan dalam berjejaring sosial tentu -meski tidak bertemu langsung- tetap ada interaksi sosial, dan tentu ada aturannya. Ya, ada aturan, meski tidak tertulis, ada norma dan etika yang harus dipahami oleh setiap orang. Karena ini adalah jejaring sosial. Ada kepentingan orang lain yang masuk. Bukan cuma kita berinteraksi dengan diri sendiri, tapi juga orang lain. Kecuali anda memprivate seluruh kiriman yang anda buat, khusus untuk anda sendiri.

Apakah anda berpikir seperti ini?

Baca lebih lanjut

Curahan Hati Perantau

11 Mar

Tinggal, dan menetap di perantauan memang memiliki banyak kesan. Apalagi di luar negeri. Saya memang baru sepuluh bulan tinggal di Saudi. Masih belum apa-apa dibanding teman-teman saya yang sudah bertahun-tahun tinggal disini. Tapi sedikit banyak saya sudah cukup mengenal dan terbiasa dengan budaya dan kebiasaan orang-orang Arab. Sayangnya saya masih belum bisa bahasa Arab. Kebanyakan saya menggunakan bahasa Inggris untuk komunikasi. Saat periksa di Rumah Sakit, atau bertemu orang di Mall.

Kenapa memilih Jeddah, Saudi Arabia? Sebenarnya selain memang rejekinya di sini, insya Allah, saya dan suami dulu memilih untuk memberanikan diri menetap di Saudi karena dekat dengan Baitullah. Ya, itulah yang membuat kami yakin. Siapa sih, yang tidak kepengin umroh kapan saja. Tanpa memikirkan harus mengeluarkan biaya puluhan juta. Bahkan hanya ditempuh seperti jarak Solo-Jogja. Itupun dengan harga bensin yang sangat murah, jika dengan kendaraan pribadi. Haji, tanpa memusingkan antrian bertahun-tahun. Meskipun saya juga belum berani haji, karena tahun kemarin  baru beberapa minggu melahirkan, kemudian kalaupun haji, akan membawa serta Haniya yang masih sangat kecil. Belum lagi kalau mau menambah anak. Umroh kemarin saja saya sudah tidak tega mengajak Haniya berpanas-panasan, dan berdesak-desakan. Apalagi nantinya pasti menambah momongan.

Tapi saya tetap sangat bersyukur, bisa mengunjungi Baitullah, tempat yang menjadi impian setiap muslim. Sebuah hal yang sangat tidak terbayangkan sebelumnya. Terlepas dari masalah cuaca yang lumayan ekstrim disini.

jeddah-view-kota jeddah

Senja, dari balik jendela flat baru kami

view-jeddah-kota jeddah-jeddah view

Pagi hari, dari jendela flat baru, sisi yang lain

Baca lebih lanjut

Hidup Baru di Jeddah

11 Mei

Alhamdulillah, puji syukur pada Allah yang menyampaikan saya pada hari ke sepuluh tinggal di tanah para nabi ini. Kenapa baru hari ke sepuluh saya menulis? karena memang sedang menyesuaikan diri dengan di sini. Menyesuaikan dengan kehidupan rumah tangga yang setelah hampir satu setengah tahun menikah baru saya alami juga (dan inilah trend yang disebut menikah dahulu, berumah tangga kemudian. hehe). Benar-benar tinggal berdua dengan suami, di rumah sendiri, bersama calon buah hati yang sudah 4 bulan di rahim saya. Ah.. akhirnya…

Sempat merasakan tidak percaya juga saya sampai di negri orang. Meninggalkan Sukoharjo, dan Solo, tempat saya dari lahir, kanak-kanak, hingga menemukan jodoh.. Berproses menemukan jati diri.. 24 tahun… Meninggalkan orang-orang yang menemani saya berproses dalam waktu yang cukup lama. Tapi saya lega, sebab bersama suami, it’s more than enough 🙂

Jujur, ini perjalanan terjauh saya. Seumur-umur, sebelumnya, terjauh adalah Jakarta!! hahaha… ke Bali? belum pernah. Jadi ini memang ekstrim. Ke-ekstriman yang luar biasa. Alhamdulillah…

Penyesuaian diri dengan cuaca, makanan, bahasa, budaya, orang-orang… semoga saya bisa, insya Allah. Sebab nantinya saya pun akan membimbing anak-anak saya untuk beradaptasi dengan lingkungan di sini. Jadi, ibunya belajar dulu dooong….. Semangat!!!! Pasti Bisaaa!!!!!!!!!

Remaja dan Membaca

15 Nov

Mampir ke toko buku, ingatan saya jadi kembali ke masa-masa remaja. Masa-masa masih sekolah di SMP dan SMA. Dulu, saya senang sekali berkunjung ke persewaan buku setiap hari Sabtu, pulang sekolah. Kenapa hari Sabtu? karena bisa meminjam buku 2 hari dengan bayaran sehari. Hari Minggu persewaan libur.
Saya memang penggemar komik dan novel. Bukan novel percintaan atau teenlit. Saya tidak selera.
Saya suka komik jepang jadul yang tokohnya masih lugu-lugu. Bukan komik jepang sekarang, yang diwakili ‘nakayoshi’, dengan ‘ciuman dan pelukan’ sebagai tema utama. Kebanyakan. Tokohnya pun tidak berkarakter. Tidak menarik.
Saya juga suka novel-novel remaja lucu. Kalo jaman dulu ada Lupus, Olga, yang konyol, tapi humornya cerdas. Saya suka.
Dulu masa-masa remaja saya memang hanya seputar sekolah, persewaan buku, dan rumah teman. Belum ada facebook, twitter, Mall, dan sebagainya. Kuper ya? memang. Dan saya bangga 🙂
Setidaknya, meski bukan aktifis rohis, saya jauh dari gaya hidup hedonis, cewe-cewe gaul, nongkrong di Mall, kenalan sama cowok, kencan, dsb. Alasan simpel : uang jajan saya terbatas. Jadi, gimana mau nongkrong di Mall ato ke internet terus-terusan? 🙂 alhamdulillah…
Bisa dibilang, saya dulu ‘kutu buku’. Saya senang membaca. Meski bukan sejenis Harry Potter maupun Lord of the Ring, ato science fiction yang njelimet dan tebal, tapi waktu luang saya sibuk dengan membaca.

remaja dan membaca-remaja alay

remaja dan pilihan pola pikir nya 🙂

Kadang, saya membayangkan, jika saya remaja di jaman sekarang, apakah saya juga seperti ABG-ABG yang saya amati di facebook itu. Dengan bahasa alay yang susah dimengerti, yang membacanya membutuhkan konsentrasi penuh untuk mengartikan. Apakah juga akan memasang pose alay di foto profil, yang benar-benar membuat wajahnya sama satu sama lain. Melihatnya saja saya capek. Apalagi yang foto. Bibirnya dimonyong-monyongin gitu. Memang ngga PeDe ya dengan wajah asli?hihihi 😀
Ah,.. saya yakin tidak. Sampai kapan pun, saya senang menjadi diri saya sendiri. Dengan identitas yang lain, yang tidak sama dengan kebanyakan. Seperti sekarang. Insya Allah..

Apa yang remaja sekarang alami, kadang saya juga tidak mengerti. Mungkin setiap masa sama, mereka terbagi menjadi bermacam-macam jenis. Nah, yang sering terlihat adalah mereka yang mayoritas. Mereka yang semakin lama semakin banyak. Entah karena takut dikatakan ‘berbeda’ sendiri, takut kehilangan komunitas, takut dicap kuper, ngga gaul, akhirnya membuat mereka seperti bunglon. Mereka beranjak menyerupai kawan-kawan yang lain. Padahal barangkali mereka pun tidak mengerti dengan apa yang mereka dapatkan dari yang mereka lakukan.

Menjadi ‘asing’ memang tidak mudah. Disaat teman-teman yang lain pulang sekolah jalan-jalan ke Mall, memasang foto alay di fb, menulis dengan bahasa alay di SMS ataupun di internet, nongkrong di tempat-tempat tak jelas, mereka mampir ke toko buku atau persewaan buku.

Tempat yang asing. Ya, toko buku atau persewaan buku. Nampaknya dua tempat ini sangat ‘aneh’ bagi remaja. Kecuali mereka yang tidak teramat memperdulikan eksistensi, kebutuhan untuk diperhatikan, ataupun ‘pengakuan’.

Level yang semakin parah adalah jika sudah sampai pada pengakuan kalau punya pacar itu hebat. Ini yang paling memprihatinkan. Mereka berlomba-lomba menjadi seperti yang lain, agar diperhatikan lawan jenis, dan mendapat pasangan.

Level terparah, adalah jika tidak berbuat macam-macam dengan pacarnya, maka mereka ‘aneh’.
Hmm… tidak heran kalau banyak ditemui di jejaring sosial status mereka paling tidak pasti ‘berpacaran dengan’ atau ‘in relationship with’. Dengan foto-foto adegan berpelukan, cium pipi, diumbar ke publik. Naudzubillah..
Baca lebih lanjut

%d blogger menyukai ini: