Tag Archives: tinggal di jeddah

(Baru) Setahun di Jeddah

3 Mei

Tanggal 2 Mei kemarin tepat satu tahun saya tinggal di Jeddah. Baru satu tahun! Belum apa-apa dibanding teman-teman saya disini. Mereka ada yang sudah lima tahun, sepuluh tahun, bahkan ada yang sudah 30 tahun! Artinya sejak saya belum lahir pun sudah disini..

Wow.. subhanallah… bayangkan sudah berapa kali beliau Haji dan Umroh? tak terhitung mungkin..

Kalau saya ditanya orang “Betah ga, Son, tinggal di Jeddah?”

“Betah bangeet… mau di Afrika, di Alaska, di Singapura saya juga pasti betah kok.. asal suami di samping..” Ihiiiy… alhamdulillah.

Terus kalau kalau ada yang bilang “Di Arab kan panas, berdebu, pasir doang, aturan ketat, nggak bebas..bla..bla..bla..”

Halo..memangnya kita mau tinggal di tengah gurun gitu? terus kalau aturannya ketat memang kenapa? takut dikit-dikit dipancung, dipotong tangan… dst..dst..??

Plis deh. Kalau kita berbuat baik kenapa takut? Lagipula bagi saya tidak ada ruginya kalau kita kemana-mana pakai Abaya, baju tertutup, bahkan cadar.

Tapi kalau merasa keberatan dengan baju abaya hitam, silahkan saja mencoba jalan-jalan di tempat umum di Jeddah memakai tanktop dan hotpant. Dijamin langsung digelandang Polisi Syariah. hehe..
Menurut saya, dengan memakai baju tertutup keberlangsungan hidup kita sebagai manusia, terutama muslimah masih sangat normal, kok. Bahkan jauh lebih baik bagi kita. Begitulah.

Alhamdulillah satu tahun ini bagi saya menyenangkan. Saya jadi benar-benar banyak belajar bagaimana menjadi istri yang baik bagi suami, ibu yang baik bagi anak, karena saya harus sangat mandiri disini. Tanpa saudara, tetangga (karena di flat yang dulu dan sekarang tetangga orang asing, belum pernah orang Indonesia). Jadi apa-apa harus sendiri.

Lalu, sudah ke mana saja saya selama setahun ini? Sudah banyak, sih. Tapi rasanya masih banyak juga tempat-tempat menarik yang belum saya kunjungi di Saudi ini. Saya belum ke Madinah dan Thaif. Dua kota bersejarah, dan saya benar-benar ingin bisa kesana. Selama ini kendala memang karena jarak dua kota itu sangat jauh. Dari kota Jeddah bisa sampai 3-5 jam naik kendaraan pribadi, dan ke Thaif 3 jam. Perlu waktu 2 hari semalam, karena harus ada jeda istirahat supaya tidak lelah mengemudi.

Setelah membuka-buka koleksi foto saya di komputer, inilah rekaman hasil ‘petualangan’ saya di bumi para nabi ini.

1. Mall of Arabia

Hah? kok Mall? ya, begitulah. Pertama saya diajak jalan-jalan suami, adalah untuk berbelanja. Lagipula, Jeddah ini memang terkenal dengan kota SuperMall. Banyak Mall-Mall besar. Ada Mall of Arabia, Hera Mall, Andalus Mall, dan lain-lain. Ukurannya? Besar. Yang jelas melelahkan lah kalau kita mengelilinginya.

Beristirahat sebentar, setelah lelah jalan-jalan menjelajahi Mall of Arabia

Baca lebih lanjut

Iklan

Jeddah, Cuaca, dan Cadar

12 Jul

Dua bulan lebih seminggu sudah menikmati tinggal di negri asing ini. Bulan pertama adalah bulan perjuangan. Bulan kedua bulan perjuangan juga, bulan ketiga, keempat dan seterusnya. Hehehe.. intinya disini memang penuh perjuangan.. (karena hidup itu adalah perjuangan.. :mrgreen: )

Sungguh saya tidak menyangka di awal-awal sampai di sini ternyata bakalan 3 kali bertemu dokter (kecuali dokter kandungan). Padahal seumur-umur saya sakit, di Indonesia paling parah demam berdarah. Jadi harus cek darah untuk disuntik. Nah, disini saya sampai lupa berapa kali disuntik. Entah itu ambil sampel darah, suntikan antibiotik, sampai infus.

Kata dokter yang saya temui, dengan bahasa Inggris aksen Arab “It’s because the different weather here. In Indonesia, there is too much air, but here, only a little air. So, viruses everywhere..

Yup, bersyukur dokter disini paham bahasa Inggris, sulit dibayangkan kalau bisanya bahasa Arab. kalau konsultasi gimana yaa..? 🙂 Dokter disini juga baik-baik. Dan alhamdulillah dapat dokter perempuan, dokter umum, maupun dokter kandungan. Lumayan, lebih leluasa..

Tiga kali demam membuat saya sempat benar-benar sedih. Kondisi hamil, hanya berdua dengan suami, dan keduanya membutuhkan saya yang sehat. Padahal, cuaca disini… subhanallah. Jika tanpa AC, badan yang panas semakin tidak karuan karena semakin kering dan panas. Jika menghidupkan AC, memakai selimut berlapis pun kedinginan. Subhanallah…

Tapi alhamdulillah memiliki suami luar biasa. Ketika sakit, meskipun lelah bekerja, suami sabar sekali merawat dan memenuhi kebutuhan saya. Makan, minum obat, dan pekerjaan rumah sementara dihandle suami.. (hiks.. terharu… )

dan masa-masa itu terlewati. Insya Allah bulan kedua sehat walafiat.. Alhamdulillah…. Hanya perlu banyak minum air putih, tidur cukup, dan makan teratur. Sehat seterusnya, aamiiin…insya Allah……..

inilah penampakan saya saat tiba-tiba saja diminta masuk Emergency Room, karena suhu badan tinggi, bibir biru dan menggigil kedinginan ketika periksa

akhirnya merasakan diinfus juga 😀

tapi tidak sampai opname, hanya diminta menunggu sampai infus habis..

Ah, semoga bisa menjadi pengalaman berharga. Betapa sehat itu nikmaaat luaaarrbiiaassaa…

Itu tentang cuaca dan kesehatan disini. Yang lain masih banyak lagi.. Salah satunya adalah busana. Nyaman juga, akhirnya, disini saya memakai cadar saudara-saudara! inilah penampakannya : Baca lebih lanjut

Hidup Baru di Jeddah

11 Mei

Alhamdulillah, puji syukur pada Allah yang menyampaikan saya pada hari ke sepuluh tinggal di tanah para nabi ini. Kenapa baru hari ke sepuluh saya menulis? karena memang sedang menyesuaikan diri dengan di sini. Menyesuaikan dengan kehidupan rumah tangga yang setelah hampir satu setengah tahun menikah baru saya alami juga (dan inilah trend yang disebut menikah dahulu, berumah tangga kemudian. hehe). Benar-benar tinggal berdua dengan suami, di rumah sendiri, bersama calon buah hati yang sudah 4 bulan di rahim saya. Ah.. akhirnya…

Sempat merasakan tidak percaya juga saya sampai di negri orang. Meninggalkan Sukoharjo, dan Solo, tempat saya dari lahir, kanak-kanak, hingga menemukan jodoh.. Berproses menemukan jati diri.. 24 tahun… Meninggalkan orang-orang yang menemani saya berproses dalam waktu yang cukup lama. Tapi saya lega, sebab bersama suami, it’s more than enough 🙂

Jujur, ini perjalanan terjauh saya. Seumur-umur, sebelumnya, terjauh adalah Jakarta!! hahaha… ke Bali? belum pernah. Jadi ini memang ekstrim. Ke-ekstriman yang luar biasa. Alhamdulillah…

Penyesuaian diri dengan cuaca, makanan, bahasa, budaya, orang-orang… semoga saya bisa, insya Allah. Sebab nantinya saya pun akan membimbing anak-anak saya untuk beradaptasi dengan lingkungan di sini. Jadi, ibunya belajar dulu dooong….. Semangat!!!! Pasti Bisaaa!!!!!!!!!

%d blogger menyukai ini: