Tag Archives: wanita

Ukhti, Kemana Jilbab Panjangmu Pergi?

2 Feb

Terdiam beberapa saat, seakan tak percaya. Saya mendapatinya di jejaring sosial setelah sekian lama tak bersua. Memandangi fotonya, mengamati wajahnya yang masih dengan senyum yang sama seperti dulu. Tapi, ada yang berbeda..

Tubuhnya kini nampak terlihat jelas lekuknya. Bagaimana tidak? hanya tertutup penutup kepala seadanya, tak sampai ke dada. Jubah panjang kini berubah menjadi celana panjang. Longgar pun tidak. Aurat tak tertutup sempurna.

Saya berkali-kali bertanya, ada apa?? Apa yang telah kau alami saudariku..?

Beban berat apa yang telah menjadikanmu menanggalkan hijab syar’i itu..?

Kecewa pada manusia? komunitas? padaku?

Saya masih ingat dengan jelas betapa anggunnya engkau dulu.. Senyum yang bersahaja, tutur kata yang lembut dan menentramkan, asma Allah yang sering kau ucap, semuanya terasa semakin lengkap dengan balutan kesederhanaan yang terpancar dari rapihnya hijabmu.

Kemana semua itu?

Kemana jilbab panjang, dan hijab syar’i mu?

Apakah tertelan oleh aktivitas dunia yang mengukungmu?

Apakah tertelan oleh kejamnya cibiran manusia yang juga penuh hina itu?

Apakah tertelan oleh kecintaan pada lawan jenis, yang belum tentu halal untukmu? Baca lebih lanjut

Iklan

Lahiran Normal, apa Caesar??

4 Okt

Kalau ada teman, sodara, atau kerabat yang melahirkan, orang pasti bertanya : Lahirnya normal apa operasi, mbak?

Jujur, saya pun salah satu yang sering ingin tahu. Apakah secara tidak sadar orang akan mengkotak-kotakkan golongan ‘normal’ dan ‘tidak normal’, saya kurang tahu. Yang pasti, saya iri mendengar mereka yang bisa melahirkan dengan proses normal.

“Hebat! tangguh! bukan wanita biasa!” pikir saya. Bagaimana tidak? dia bisa menahan sakit ‘yang katanya’ luar biasa itu berjam-jam, bahkan berhari-hari. Dia bisa merasakan buah hati yang dia kandung 9 bulan keluar langsung dari rahimnya , bahkan melihat si bayi masih merah, masih membawa sisa-sisa dari isi rahimnya yang masih melekat. Mendengar tangisannya pertama kali. Uh.. Iri..

Kadang pun saya berpikir, apakah kata ‘melahirkan’ juga berlaku untuk mereka yang menempuh cara operasi? Apa saya bisa disebut sudah ‘susah payah’ melahirkan Haniya? Apa pahalanya sama?  Baca lebih lanjut

Skenario, Peran dan Cerita

25 Jul

Saya ingin bercerita tentang kisah beberapa wanita.

Yang pertama adalah Bu Im (nama samaran). Beliau berusia sekitar 36 tahun. Orangnya bersemangat, ceplas ceplos, dan apa adanya. Beliau telah menikah dan dikaruniai seorang putri. Usia putrinya 3 tahun, yang lahir setelah 10 tahun pernikahan. Bayangkan, menunggu selama itu. Subhanallah. Beliau dan suami menjalani bisnis yang cukup sukses.

Kedua, sebut saja Mbak Supirah (nama palsu). Beliau buruh pabrik. Wanita berusia 33 tahun, yang lugu dan polos. Belum menikah. Beberapa kali sudah mencoba untuk dijodohkan dengan ikhwan, tapi si Ikhwan selalu mundur dengan alasan tidak siap menerima Istri yang harus kerja shift-shift an, tanpa hari libur. Mbak Supirah sudah coba dibujuk untuk mencari mata pencaharian lain, karena rejeki Allah bisa dari berbagai cara. Dan tentu saja, supaya tidak ada lagi penghalang baginya untuk mendapat jodoh. Tapi beliau tidak mau, karena masih harus membiayai orang tua, dan adiknya yang sudah dewasa, tapi hanya mengandalkannya.

Yang ketiga, Baca lebih lanjut

Karena Merawat Bayi bukan Ilmu Pasti ; Tips Merawat Anak

17 Jan

3 bulan lebih saya menjadi ibu. Sejauh ini, benar-benar menarik. Saya masih ingat suatu hari, sebelum berangkat ke Jeddah, ayah mertua saya mengatakan “Kamu kan sarjana, jadi pasti ndak masalah merawat bayi sendirian tanpa bantuan orang lain..” Saat itu kalimat tersebut cukup menguatkan saya, yang nantinya akan benar-benar sendiri, hanya dengan suami di negeri orang. Ya, saya kan sarjana, pasti bisa.

Tapi kemudian sekarang saya memikirkannya lagi, apa hubungan antara sarjana dan merawat bayi? Saya lulusan matematika sains, bukan kebidanan, atau psikologi, atau mungkin keperawatan.
Apa lalu hubungan dengan ilmu saya dan merawat bayi?
Sebenarnya ini sama dengan ketika saya pertama awal-awal menikah. Saat suami sudah berada di negeri orang, praktis saya sering sendirian terlibat interaksi dengan keluarga besar suami. Saat itu saya merasa tenang, karena : saya kan sarjana, harusnya mudah bersosialisasi dengan hal dan orang-orang baru. Ya, padahal saya kan sarjana sains matematika, bukan sosial politik atau sosiologi.
Artinya, pendidikan bukan hanya perkara ilmu yang sebidang dengan spesialisasi kita, tapi juga kemampuan-kemampuan yang lain. Kemampuan-kemampuan alami yang dimiliki karena sering berinteraksi dengan orang yang juga tenang, sering dituntut memecahkan masalah, mencari solusi cepat, dan lebih realistis. Alhamdulillah, dulu selain kuliah saya juga ikut organisasi, jadi dalam beberapa masalah bisa mencoba tenang, bahkan malah tidak menganggapnya sebagai masalah.

Dan ternyata itu semua penting sekarang. Jelas, merawat anak pertama sendirian, tanpa baby sitter, asisten rumah tangga, tanpa punya tetangga juga, benar-benar hal baru. Tapi ibarat kuis ataupun ujian semester saat kuliah, jadwal sudah ditetapkan, tinggal bagaimana kita persiapkan diri menuju hari H. Belajar, mencari referensi, bertanya ke orang yang juga sudah ujian. Sama, sebelum akhirnya praktek merawat bayi, ada waktu untuk belajar. Googling, baca artikel, melihat video cara memandikan, menenangkan, cara menyusui, dan sebagainya.
Meskipun banyak juga hal-hal spontan yang terjadi. Tapi kan kita sudah punya modal awal, tenang. Baru kemudian saat sempat kita cari di internet solusinya. Pasti banyak pembahasannya.
Tersedia, lengkap, dan tinggal membaca.
Nampaknya saya setuju saat ada di sebuah forum, mengatakan bahwa “Salah satu alat doraemon yang terealisasi adalah -mesin tahu segalanya- dengan wujud yang ada sekarang : google
hahaha.. :mrgreen:
Iya, mau tanya permasalahan apapun bisa tanya google. Sampai-sampai, saya menyebut Haniya memiliki eyang satu lagi setelah eyang-eyang di Solo : Eyang Gugel. Karena setiap mengalami hal baru dengan Haniya, saya langsung konsultasi ke Eyang Gugel. Dan pasti ada. Alhamdulillah.. Yah, walaupun jelas, terkait takdir Allah tidak bisa ditanyakan di Google. Meski saya pernah menemukan orang menemukan blog saya karena menulis kata kunci : Siapa jodoh Tr* S*b*k** Baca lebih lanjut

Hari-hari yang Mendebarkan

30 Sep

Tinggal beberapa hari lagi, insya Allah. Atau mungkin.. beberapa jam lagi? seminggu, dua minggu? wallahu’alam…

Yang jelas, beberapa hari ini, saya dan suami bertanya-tanya.. “Si kecil lahir kapan, ya..” 🙂

Campur aduk rasanya saat-saat ini.  Kadang terpikirkan, “Ternyata, manusia itu untuk memasuki babak baru dalam hidup harus melewati masa-masa yang menegangkan ya..”

Contoh saja, saat kita SD, melihat anak SMP jadi kepengen, tapi untuk menuju SMP harus melewati Ujian Nasional. Sekolah bagus ataukah tidak, ditentukan di ujian itu.. Saat menanti hasil, rasanya menegangkan. Tapi mau tidak mau harus dilewati.

Begitu pula dari SMP ke SMA, SMA ke kuliah. Kuliah menuju sarjana..

Dari lajang ke menikah juga sama,. Melewati masa menegangkan menuju sampai melewati Aqad.. Selalu seperti itu. Subhanallah..

Dan sekarang, untuk menjadi seorang ibu, bisa  menimang bayi buah cinta dengan suami, yang merupakan perpaduan kami berdua juga harus melewati saat-saat menegangkan. Persalinan. Kapan waktunya, hanya Allah yang tahu. Tapi insya Allah terbaik menurutNya.. aamiin..

Sekarang usia kehamilan saya sudah menginjak minggu ke 38. Sudah bulan ke sembilan. Wow.. mengandung selama 9 bulan ternyata luar biasa. Setelah melewati masa-masa mual sampai bulan ke empat, tidak doyan makan, pusing seperti orang masuk angin, ditambah jauh dari suami (hehe..lengkap sudah) hingga akhirnya menginjak trimester ke dua yang dihadapkan dengan cuaca Jeddah, bolak-balik rumah sakit karena demam tinggi, dan sekarang sampailah di trimester ke 3. Perut sudah membesar, kaki dan tangan kesemutan, pegal-pegal, hanya tinggal berdua dengan suami, apa-apa sendiri. Ah..luar biasa.. Baca lebih lanjut

Dapur

19 Jul

Cuma ilustrasi 🙂

Ibu rumah tangga, dan dapur.

Dua hal yang berkaitan erat, saya pikir. Kenapa? karena apalah arti seorang housewife, jika setiap hari beli makanan di luar? :mrgreen: logis, kan?

Kalau ada yang pernah menonton serial barat ‘Desperate Housewife‘, yang konflik pembuat ‘desperate‘ nya hanya berputar masalah pria, selingkuh, cerai, dan sejenisnya. Bagi saya, kenapa tidak ada yang mengangkat masalah ‘dapur’? hehe…

Tapi urusan dapur ini menarik, kok. Desperate mungkin sedikit, kalau idealisme kita mengatakan setiap hari menu makanan itu harus berbeda-beda dan bervariasi, dan enak, dan suami suka. Tapi realitanya (ah, sudah jadi ibu-ibu tetap terbentur idealita dan realita), realitanya bahan makanan menipis. Sedangkan di Jeddah ini tidak seperti di Indonesia sana.

Di Indonesia, setiap pagi, sebelum memasak, kita bisa ke pasar, atau ke warung, ngobrol dengan ibu-ibu, membicarakan harga sayur, menu makanan, basa basi tentang anaknya yang sedang sekolah, ngrumpiin tetangga… (ups, ga boleh ya?) sambil belanja, tentunya..

Disini semua itu cuma mimpi. Belanja harus sekalian untuk 2 minggu atau sebulan, itupun harus naik taksi ke tempat jauh. Ke Mall, atau toko Indonesia yang lengkap. Kalau butuh bawang putih atau bawang merah, dan bahan-bahan umum nitip suami yang pulang kerja. Yap, disini memang tidak biasa wanita keluar sendirian. Berbeda, memang. Baca lebih lanjut

Menjadi Wanita

31 Mar

wahai manusia..

bayangkan jika tidak ada wanita yang bersedia menjadikan rahimnya tempatmu sebelum nyawa ditiupkan kepadamu, sebelum dunia menyambutmu..

bayangkan jika mereka malas dan enggan untuk merasakan betapa payahnya mengandung, betapa sakitnya melahirkan, betapa lelahnya merawatmu…

bayangkan jika mereka memilih untuk tetap langsing dan menarik selamanya, tanpa pernah menjadi gemuk dan tidak menarik ketika kau di rahimnya..

sebuah perenungan..

merasakan kondisi raga yang seakan asing… 24 tahun memilikinya, tapi belum pernah sepayah ini. alangkah luar biasanya..

jika mungkin bisa memilih, dan memotong waktu.. maka waktu antara pernikahan, dan memiliki anak bisa dilewatkan saja. bayangan memiliki bayi mungil yang keluar dari rahim kita, tidak sabar rasanya..

tapi bukan itu, ada rasa yang mengagumkan dari proses ini. menyadarinya hadir, meski dengan kepayahan, terselip rasa bangga. “aku akan menjadi ‘ibu’ dari dia yang nanti kusebut ‘anakku’…” merasakan denyut jantungnya, tendangannya, geli-geli kecil karena gerakannya, mengamati hari per hari pertumbuhannya.. Baca lebih lanjut

%d blogger menyukai ini: